
Budi dan Poppy sedang menunggu pesanan mereka datang.
Tiba-tiba ada seorang menghampiri mereka dan menyapa Budi, “ Hai Budi, apa kabar?”
Seorang perempuan cantik tinggi semampai dengan penampilan yang elegant sedang tersenyum di samping Budi. Budi tersenyum sumeringah melihat perempuan itu.
“Oh….hai Sarah,” Budi berdiri dan menyalami perempuan itu.
“Apa kabarnya, Bud?”
“Baik, Sar,” mereka masih saja berjabat tangan cukup lama.
Poppy memperhatikan keduanya.
Budi sadar belum memperkenalkan Poppy.
“Oh ya, Sar, kenalin calon istriku. Namanya Poppy.”
Poppy berdiri dan menyalami Sarah. Sarah terkejut melihat calon istri Budi dalam keadaan hamil.
“Calon istri?” tangan Sarah memperagakan perut Poppy yang besar.
“Oh….itu. Panjang ceritanya, Sar,” kata Budi seolah mengerti maksud Sarah.
“Katanya kamu di Australia, kok sekarang udah ada di Bandung?” tanya Budi.
“Ya, sudah pulanglah, Bud. Mau ngapain lama-lama di sana?” jawab Sarah.
“Kirain mau nikah sama bule,” kata Budi.
“Nggak ah, gantengan juga cowok Indonesia. Ya kan, Pop,” ujar Sarah.
“Budi itu kasihan Poppy berdiri terus, suruh duduk Bud,” Sarah menunjuk perut Poppy.
Budi baru sadar Poppy ikut berdiri.
“Ibu duduk aja,” Budi menarikkan kursi untuk Poppy. Poppy pun menurut.
Sarah melihat cara Budi memperlakukan Poppy dengan lembut.
“Wah….Budi sekarang sudah bisa move on,” komentar Sarah.
“Oh jelas, makanya mau cepat-cepat nikah,” balas Budi.
“Kapan nikahnya, Bud?” Sarah penasaran.
“Secepatnya setelah anak sholeh lahir.”
“Anak sholeh?” Sarah bingung.
“Oh…. bayi dalam kandungan Poppy saya panggil anak sholeh.”
“Oh….Budi so sweet. Sungguh beruntung Poppy mendapatkan Budi,” puji Sarah.
“Sar….duduk, Sar. Kamu nggak pegel pakai sepatu hak tinggi tapi berdiri terus,” Budi menunjuk ke sepatu Sarah.
“Pegel, Bud.”
“Ya, duduklah.”
Sarah duduk di sebelah Poppy.
Akhirnya pesanan makanan datang.
“Sar…kamu sama siapa ke sini?” Budi merasa Sarah seperti datang sendiri.
“Sama bos,” jawab Sarah.
“Mana bosnya nggak kelihatan?”
“Lagi sholat di masjid seberang.”
__ADS_1
“Kamu nggak ikut sholat?”
“Nggak lagi halangan.”
“Eh…. bos aku datang,” Sarah melambaikan tangannya ke seorang pria. Kemudian pria itu menghampiri mereka.
“Sudah dapat tempatnya, Sar?” tanya pria itu ketika mendekat.
“Belum, pak,” jawab Sarah.
Pria itu mengerutkan dahinya.
“Dari tadi kamu ngapain aja?” tanya pria itu dengan kesal.
“Ngobrol pak sama teman lama.”
“Oh ya pak. Kenalin teman kuliah saya Budi dan ini calon istrinya Poppy.”
“Egar,” pria itu menyalami Budi.
Poppy berdiri dan ketika Egar mau menyalami Poppy, Poppy membalasnya hanya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Melihat Poppy yang sedang hamil tiba-tiba Egar sadar akan sesuatu.
“Budi dari Rangga’s Hotel & Resto?” tanya Egar.
“Iya, kok tau?” Budi bingung.
“Saya temannya Ferdinan. Kita janji bertemu nanti sore,” kata Egar.
“Oh…. jadi Pak Egar ini kontraktor temannya Ferdinan?”
“Iya, betul pak.”
“Wah….kebetulan sekali.”
“Iya….pak. Tapi saya masih belum bisa membicarakan proyek dengan Pak Budi sekarang. Karena saya masih harus bertemu klien,” kata Egar.
“Kalau begitu saya permisi dulu, ada yang harus saya bicarakan dengan Sarah,” Egar pamit.
“Oh silahkan Pak egar.”
“Ayo Sa,” ajak Egar.
“Budi Poppy aku ke sana dulu, ya,” Sarah pergi mengikuti Egar.
Akhirnya Poppy dan Budi dapat menikmati makanannya.
“Pak Budi, Sarah mantan pacar, ya?” tanya Poppy sambil makan tongsengnya.
Budi menoleh ke Poppy. Poppy dengan tenang mengunyah makanannya.
‘Kenapa ibu berpikiran demikian?” Budi menatap Poppy.
“Kelihatan dari wajah Pak Budi, Pak Budi begitu bahagia melihat Sarah,” kata Poppy dengan tenang.
Budi menghela nafas, sepertinya wanita di depannya sedang cemburu. Nampak bulir air mata Poppy mulai meluncur di pipi Poppy.
“Mungkin sekarang Pak Budi sudah menyesal telah melamar saya,” suara Poppy sudah mulai terdengar serak.
Budi berdiri dan pindah duduknya ke sebelah Poppy.
“Kata siapa saya menyesal?” Budi agak sedikit emosi Poppy mengatakan demikian.
“Begini aja, kita batalkan saja niat kita bekerjasama dengan Egar,” usul Budi.
Poppy menoleh ke Budi.
“Toh kita belum menandatangani kontrak apapun. Kita cari kontraktor yang lain. Di Bandung masih banyak kontraktor yang mau bekerjasama dengan kita. Bagaimana?”
“Atau kalau ibu takut saya bertemu Sarah, saya tidak akan ke Bandung. Biar urusan hotel di Bandung saya serahkan pada Jaka dan Zaki.”
__ADS_1
“Kalaupun saya harus ke Bandung, ibu harus ikut. Bagaimana? Deal kan?”
Poppy mengerjab-ngerjabkan matanya sambil memandangi Budi.
“Apa yang harus saya lakukan untuk meyakinkan kalau saya sangat mencintai ibu?” tanya Budi pelan-pelan.
“Kalau saya menikahi ibu hanya untuk harta, pasti sudah saya ambil uang pembangunan hotel ini. Karena tidak ada satu orangpun yang tau termasuk pengacara dan Pak Rahadian.”
“Uang itu Pak Rangga titipkan kepada saya dan disimpan di rekening saya di bank.”
“Saya juga tidak mengerti maksud Pak Rangga. Sewaktu saya tanya untuk apa, Pak Rangga menjawab titip untuk pembangunan hotel yang baru.”
“Sewaktu Pak Rangga sudah tidak ada saya bilang ke Pak Rahadian ada uang milik Pak Rangga di rekening saya sebesar …….. untuk
pembangunan hotel yang baru.”
“Pak Rahadian juga tidak mau menerima uang itu, beliau hanya berkata gunakan uang itu seperti apa yang almarhum katakan.”
Poppy hanya diam mendengar apa yang Budi katakan.
“Saya tidak menyesal telah melamar ibu hanya karena bertemu dengan Sarah. Sarah itu masa lalu saya. Masa depan saya ibu dan anak sholeh.”
“Apa tadi ibu tidak mendengar kalau Sarah mengatakan saya sudah move on?’
“Saya mendengar,” kata Poppy.
“Terus menurut ibu bagaimana?”
Poppy menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Entahlah saya bingung,” jawab Poppy.
Budi menghela napas.
“Coba ibu lihat interaksi antara Pak Egar dan Sarah.”
Poppy melihat kearah Sarah dan Egar. Mereka terlihat begitu dekat, bahkan sangat dekat. Mereka lebih mirip seperti sepasang kekasih
daripada seperti bos dengan karyawannya.
Poppy menoleh ke Budi.
“Bagaimana menurut pengamatan ibu?”
“Mereka lebih mirip seperti sepasang kekasih,” jawab Poppy.
“Mereka mirip kita kan?” tanya Budi.
Poppy mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersipu malu.
“Sudah sekarang jangan menangis lagi. Nanti disangka orang saya melakukan KDRT kepada istri saya atau saya sedang membujuk pacar saya untuk menggugurkan kandungan,” kata Budi.
Mendengar omongan Budi, sontak saja Poppy kaget dan melotot ke Budi.
“Makanya jangan nangis lagi. Hapus air matanya,” Budi memberikan sapu tangannya ke Poppy.
Poppy menghapus air matanya dengan sapu tangan pemberian Budi.
“Sapu tangannya saya pulangin kalau sudah dicuci,” Poppy memasukkan sapu tangan Budi ke dalam tasnya.
“Nggak dipulangin juga nggak apa-apa. Simpan saja, nanti kalau kangen sama saya kan bisa peluk-peluk dan cium-cium sapu tangan saya,” kata Budi dengan tenang.
.
.
.
Biasanya habis nongkrong di tukang sayur suka dapat ide.
Tapi ini udah beberapa hari nongkrong di tukang sayur tapi masih aja belum dapat ide. Jadi aja ceritanya ngaco kemana-mana.
__ADS_1