
Setelah makanan Poppy habis Budi memberikan obat dan vitamin dari dokter. Budi membuka obat satu persatu dan diletakannya di telapak tangan Poppy. Poppy meminumnya satu persatu.
“Jangan tiduran dulu kalau baru makan,” kata Budi.
Ia menaruh bantal di punggung Poppy.
“Enak nggak kalau punggungnya di kasih bantal?” tanya Budi yang sedang mengatur Poppy yang nyaman untuk Poppy.
Poppy menyender pada bantal di punggungnya.
“Enak,” jawab Poppy.
Budi duduk kembali sambil menonton TV.
Poppy menoleh ke pria itu. Terlihat raut wajah letih dari pria itu.
“Pak Budi,” panggil Poppy.
“Hmm,” Budi menoleh ke Poppy.
“Terima kasih, ya sudah mau mengurusi saya. Pasti Pak Budi kecapean,” ucap Poppy.
“Tidak, bu. Saya senang bisa mengurus ibu dan anak sholeh,” elak Budi.
“Saya jadi tidak enak sudah merepotkan Pak Budi,” kata Poppy.
Budi menggeser kursinya mendekati Poppy. Sambil tersenyum dipandangnya
wajah cantik yang pucat itu.
“Tidak usah merasa tidak enak. Saya lakukan itu semua karena cinta.”
“Saya akan lakukan apa saja demi wanita yang saya cintai dan demi anak yang saya sayangi.”
“Jadi jangan merasa tidak enak, nikmati saja semua perhatian dan kasih sayang yang saya berikan.”
“Hm,” Budi menatap Poppy agar Poppy mengerti apa yang iya katakan.
Poppypun mengangguk.
“Alhamdullilah,” ucap Budi.
“Sekarang nonton lagi. Nanti bobonya kalau sudah sholat Isya,” kata Budi.
Poppypun menggangguk.
Tiba-tiba terdengar suara telefon dari ponsel Budi. Tertera tulisan Mama di layar ponselnya.
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh. Budi sehat?’
“Alhamdullilah Budi sehat, ma.”
“Nak Poppy sehat?”
Budi diam.
“Halo Bud. Budi…..."
Bu Tiara memangggil Budi.
“Bu Poppy sakit, ma.”
__ADS_1
Bu Tiara kaget.
“Nak Poppy sakit apa, Bud?”
Terdengar suara Bu Tiara yang sedang cemas.
“Poppy sakit kepala, pusing dan panas. Tadi sudah ke dokter kandungan tensinya rendah.”
“Budi…. Orang hamil tidak boleh sampai sakit panas. Bahaya ke bayinya.”
“Budi tau, ma. Budi juga tidak mau Poppy sakit. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah terjadi.”
Suara Budi terdengar sedih.
“Bagaimana dengan bayinya?”
“Alhamdullilah anak sholeh dalam keadaan sehat.”
“Alhamdullilah kalau bayinya sehat.”
“Sekarang Nak Poppy masih panas?”
“Tadi sudah minum obat, sebentar Budi cek dulu.”
Budi menghampiri Poppy dan meletakkan telapak tangannya ke kening Poppy.
“Sudah agak mendingan.”
“Bud, kenapa tidak dirawat di rumah sakit?”
“Dokter kandungannya tidak menyuruh. Cuma kalau nanti panasnya terus menerus naik, baru dibawa ke UGD.”
“Ya sudah, Budi jaga Nak Poppy baik-baik,ya. Di cek terus keadaannya. Kalau perlu Budi tidut di kamar Nak Poppy. Pokoknya Nak Poppy tidak
“Iya, ma. Calon menantu mama nggak bakalan Budi tinggalin.”
“Ya sudah, sekarang mama mau ngomong sama Poppy.”
Budi memberikan ponselnya kepada Poppy.
“Mama mau ngomong,” kata Budi.
Poppy mengambil ponselnya Budi.
“Assalamualaikum tante.”
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh. Gimana sekarang keadaan Nak Poppy?”
“Alhamdullilah sudah mendingan, tadi sudah makan obat dan vitamin.”
“Terus kata dokter penyebabnya apa?”
“Kata dokter, Poppy kecapean dan banyak pikiran.”
“Nak Poppy disuruh apa sama Budi? Sampai kecapean dan banyak pikiran.”
“Saya nggak disuruh apa-apa kok sama Pak Budi. Malah Pak Budi yang kecapean ngurusin saya yang sedang sakit.”
“Ya sudah, kalau Budi nakal bilang sama tante. Nanti tante jewer kupingnya.”
Mendengar perkataan Bu Tiara, Poppy menahan ketawa.
“Iya, tante,”
__ADS_1
“Ya sudah, Nak Poppy istirahat lagi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarohkatuh,”
Poppy mengakhiri telepnnya, lalu mengembalikan ponsel Budi.
Poppy senyum-senyum melihat Budi.
“Kenapa senyum-senyum aja?” tanya Budi bingung.
“Nggak kenapa-napa.” jawab Poppy.
Poppy mengusap perutnya.
“Nak, kata nenek kalau om Budi nakal sama mama akan nenek jewer kupingnya.”
Budi kaget mendengarnya.
Mama lebih sayang sama calon menantunya daripada anaknya, bisik Budi dalam hati.
“Anak sholehnya jangan diajarin ngomong begitu, dong. Nanti dia mengangka kalau ayahnya ini orang yang jahat,” Budi protes.
“Iya deh, ayahnya anak sholeh orangnya baik,” ralat Poppy sambil mengusap perutnya.
“Ayo kita siap-siap sholat isya. Saya wudhu dulu,” ajak Budi.
Poppy menganguk. Budi masuk ke dalam kamarnya. Tak Budi kembali dengan menggunakan sarung dan kopeyah.
Sedangkan Poppy sudah siap dengan menggunakan mukena dan duduk di kursi.
Budi menggelar sajadah di depan kursi tempat Poppy duduk. Merekapun sholat berjamaah bersama. Setelah selesai sholat, ponsel Poppy berdering tertulis Mama pada ponselnya. Poppy bingung ketika mamanya menelepon.
“Angkat saja,” kata Budi.
“Assalamualaikum, ma.”
Ternyata Bu Melly menanyakan keadaan Poppy, karena Bu Tiara memberitahunya kalau Poppy sedang sakit. Setelah Bu Melly selesai menelepon, ponsel Poppy kembali berdering, dilayar ponselnya tertulis Mamih, Bu Femi menelepon Poppy. Sama seperti Bu Melly, Bu Femi menelepon untuk menanyaan keadaan Poppy. Bu Femi bilang dia tahu dari Bu Tiara.
Lagi-lagi mama yang memberitahu, bisik Budi di dalam hati.
Jam di pergelangan Budi sudah menunjukkan pukul delapan sudah waktunya Budi menemui Pak Egar. Poppy masih berbicara dengan Bu Femi. Budi memberi isyarat bahwa ia akan pergi menemui Pak Egar.
Poppy menjawab dengan anggukan. Budi keluar melalui pintu kamarnya, menuju ke
coffee shop. Jam setengah sepuluh Budi sudah kembali. Budi langsung menuju ke kamar Poppy. Bumil itu sedang tertidur pulas. Budi menyentuh dahi Poppy. “Alhamdullilah panasnya sudah turun,” kata Budi pelan-pelan. Lalu Budi kembali ke kamarnya untuk ganti baju dan bersih- bersih. Suara ponselnya berdering tertulis di layarnya Ayah. Budi menghela nafas.
.
.
.
.
.
.
bersambung
sambungannya besok lagi. author mau menjalankan tugas negara.
yang nggak sabar menunggu halal sabar ya, sebentar lagi juga halal.
__ADS_1
kan sudah tujuh bulan lebih.