
Pak Rahadian mengajak keluarganya, Budi dan Dimas untuk makan malam bersama di restaurant hotel. Mereka makan malam dengan suasana kekeluargaan. Tampak Iva yang asyik bercanda bersama Budi dan Dimas sambil menunggu pesanan datang. Sedangkan Poppy hanya memperhatikan mereka saja. Diam-diam Bu Femi memperhatikan menantunya. Terulas senyuman di bibir Poppy melihat tingkah konyol Iva, Budi dan Dimas.
“Mamih lagi lihat apa?” tanya Pak Rahadian yang mengagetkan Bu Femi.
Bu Femi yang sedang memperhatikan Poppy langsung kaget mendengar suara Pak Rahadian.
“Papih iiihhh …….mengagetkan Mamih saja,” seru Bu Femi sambil memukul pelan lengan suaminya.
Pak Rahadian tertawa melihat istrinya yang kaget.
“Poppy,” panggil Pak Rahadian.
“Ya, Pih.”
“Minggu depan Papih mau merayakan ulang tahun di Rangga’s resto,” kata Pak Rahadian.
“Tolong Poppy persiapkan sebaik mungkin.”
“Baik, Pih.”
Tiba-tiba Bu Femi memukul tangan Pak Rahadian.
“Pih menantu kita sedang hamil, jangan di suruh kerja nanti kecapean,” protes Bu Femi.
“Mih, menantu kita itu hamil bukan sakit. Biarkan saja biar dia ada kesibukan,” ujar Pak Rahadian.
“Nggak apa-apa kok, Mih. Nanti juga banyak yang bantu Poppy.”
“Poppy jangan terlalu cape, ya. Jaga kesehatan, kalau sudah cape langsung istirahat,” nasehat Bu Femi.
“iya, Mih,” jawab Poppy.
Setelah kembali selesai makan malam dan semua kembali ke kamarnya masing-masing.
Sementara itu di kamar Pak Rahadian dan Bu Femi,. Ketika Pak Rahadian sedang rebahan di tempat tidur,
“Pih…...,” Bu Femi memiringkan badannya menghadap ke Pak Rahadian.
“Hm.”
“Papih merasa nggak kalau Poppy dan Budi ada apa-apanya?”
“Maksud Mamih?” Pak Rahadian menoleh ke Bu Femi
“Kok Mamih merasa ada sinyal-sinyal cinta antara Poppy dan Budi.”
“Biarkan saja, Mih. Toh mereka sama-sama single,” jawab Pak Rahadian.
“Jadi Papih setuju kalau Poppy punya hubungan dengan Budi?” tanya Bu Femi penasaran.
“Mih, Rangga sudah meninggal. Kita tidak bisa memaksa Poppy untuk tetap setia pada Rangga. Itu tidak adil untuk Poppy. Poppy masih muda dan membutuhkan pendamping tempatnya bersandar. Lagi pula cucu kita sebentar lagi akan lahir, dia akan butuh seseorang untuk dipanggil Ayah,” jelas Pak Rahadian panjang lebar.
“Tapi Budi kan karyawannya Poppy.”
“Tidak masalah. Dia pemuda yang baik, santun, pekerja keras dan taat dalam beribadah. Tidak sia-sia Rangga menitipkan Poppy kepada Budi.”
“Iya sih, Pih. Mamih lihat Budi berasal dari keluarga baik-baik.”
“Oh ya Pih, Mama dan Kakak sepupunya Budi membuatkan kue yang banyak untuk Poppy,” seru Bu Femi.
“Mamih tau darimana?”
“Kata Poppy. Kuenya ada di kamar Poppy. Kuenya enak-enak loh, Pih.”
“Suyukurlah, berarti mereka perhatian ke Poppy.’
“Mudah-mudahan mereka mau menerima Poppy, ya Pih,” kata Bu Femi.
“Aamiin,” jawab Pak Rahadian.
Dan keesokan paginya setelah sarapan mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Keluarga Pak Rahadian dan Dimas kembali ke Jakarta, sedangkan Budi dan Poppy kembali ke Tangerang Selatan.
__ADS_1
******
Pagi-pagi sekali Poppy dan Budi sudah datang ke Rangga’s resto. Hari ini Pak Rahadian akan merayakan ulang tahun di Rangga’s resto. Jadi Rangga’s resto ditutup untuk umum. Hanya hotel saja yang tidak di tutup. Poppy nampak sibuk memperhatikan karyawannya bekerja. Mulai dari pengaturan meja dan kursi, panggung, dekorasi, sound system bahkan mengecek menu makanan yang akan dihidangkan. Untuk kue ulang tahun dan kue-kue lainnya Poppy memilih untuk memesan ke toko kue langganannya. Walaupun segala sesuatunya sudah dikerjaan oleh karyawannya namun Poppy perlu mengawasi apakah segala sesuatunya sudah sesuai dengan rencana.
Ada yang berbeda dari ulang tahun Pak Rahadian sebelumnya, kalau biasanya Pak Rahadian hanya mengundang keluarga dan teman-temannya. Kali ini Pak Rahadian mengundang keluarga dan semua karyawannya. Termasuk karyawan Rangga’s Hotel & Resto serta beberapa orang teman dekat. Dan tidak ketinggal semua keluarga Budi juga diundang termasuk Farhan dan Fadlan juga hadir.
“Terima kasih Pak Aep dan keluarga sudah mau datang ke acara syukuran keluarga kami,” itu yang diucapkan Pak Rahadian ketika menyambut kedatangan Pak Aep sekeluarga.
“Apa kabar, Pak? Sehat? Senang bertemu kembali dengan Bapak dan keluarga,” dan itu yang diucapkan oleh Pak Brata papanya Poppy ketika bertemu Pak Aep Ayahnya Budi.
Reno ikut menyambut kedatangan Pak Aep sekeluarga. “Hallo Odie apa kabar,” ucap Reno ketika melihat batita kecil itu menempel pada Mamanya.
“Apa kabar, Rima?” sapa Reno pada Rima.
“Alhamdullilah, baik Pak Reno,” jawab Rima.
Sedangkan Iva ketika melihat Farhan dan Fadlan, “Kok elo berdua ada di sini? Memangnya siapa yang mengundang?” itu yang pertama kali ditanyakan oleh Iva yang bingung kenapa teman SMA nya datang ke acara ulang tahun papihnya.
“Iva!!!!” tegur Pak Rahadian yang tidak sopan kepada Farhan dan Fadlan.
“Iiii Papih, mereka itu teman SMA Iva,”protes Iva.
“Tetap aja, tidak boleh tidak sopan kepada tamu. Mereka itu adik-adiknya Pak Budi,” terang Pak Rahadian.
“Biarkan saja, Pak. Namanya juga anak-anak,” ujar Pak Aep.
“”Farhan – Fadlan salam dulu ke Pak Rahadian dan Pak Brata!” seru Pak Aep.
Farhan dan Fadlan mencium tangan Pak Rahadian dan Pak Brata.
Poppy mempersilahkan Pak Aep sekeluarga untuk duduk dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Sedangkan Iva meminta Farhan dan Fadlan untuk memainkan alat music mengiringinya bernyanyi. Dengan diringi band yang dimainkan oleh Farhan dan Fadlan, Iva menyanyikan lagu Lollipop Love
Cinta itu indah….
Saat kita senang atau saat susah…….
{**}
Telah memilih dirimu….
Dengan perbedaan yang ada
Namun kita masih bersama…
Iva menyanyi dengan lincahnya dan tubuh menari mengikuti irama. Namun dengan nekadnya Iva mengajak Poppy untuk ikut menari di atas panggung. Ibu hamil cantik itu dengan senang hati menyambut ajakan Iva untuk menari diatas pentas. Setelah melepaskan sepatunya ibu hamil itu ikut menari mengikuti irama.
Kadang aku yang selalu egois
Dan kamu yang slalu tak perduli..i..i..
Dengan sikapku yang tak mau tahu
Dan kamu yang tak bisa tuk mengalah
Reff:
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Tak perduli saat senang dan saat susah
Kita kan selalu menjaga
Oh cinta ini indah
Saat kita bersama
Dan bila bosan benci menghampiri
Cinta kan membawa kita kembali
__ADS_1
Di satu lollipop love, lollipop love
It’s like a lollipop love, lollipop love
{***}
Satu dua kali kita pernah saling membenci…
Ketiga empat kali kita juga saling tak bicara…
Namun tak sanggup ku berlama-lama…
Dengan hari-hari tanpa dirimu…u..u…
Aku butuh teman untuk bicara…
Dan kamu selalu ada tuk mendengar….
Back to reff
{****}
Kadang merah kadang biru….
Kadang hijau dan ungu……
Berwarna warni cinta kita….
It’s like a lollipop, lollipop love..
It’s like a lollipop, lollipop love….
Back to reff
Oh love, lollipop love, lollipop love…
Love love, lollipop love
Oh love, lollipop love….
( Lollipop Love –
Nina Tamam )
Budi yang sedang berbincang-bincang dengan karyawan Pak Rahadian langsung menghentikan perbincanganya ketika melihat Poppy sedang menari bersama Iva dan langsung permisi untuk menghampiri ke depan pentas tempat Poppy menari. Reno yang sedang membantu Odie makan kue tart langsung melotot ketika melihat Poppy sedang menari dengan lincah. Reno memberikan kue tart Odie ke Rima lalu menghampiri Budi. Mereka berdua berdiri di depan panggung dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan menatap tajam kearah Poppy. Poppy hanya tersenyum melihat Reno dan Budi, dan terus menari sampai lagunya selesai.
Setelah lagu selesai Bu Femi langsung menarik daun telinga Iva dan membawanya turun dari panggung. Terdengar suara riuh dari penonton melihat Iva dijewer Bu Femi. Sedangkan Bu Melly menghampiri Poppy dan merangkul Poppy turun dari panggung.
Ketika melewati Reno dan Budi, Poppy hanya nyengir tanpa dosa. Sedangkan Budi dan Reno hanya memperhatikan Poppy yang dirangkul oleh Bu Melly.
“Kamu tidak apa-apa sayang?” Bu Melly membawanya ke tempat duduk di dekat Bu Tiara dan Rima.
“Kenapa kamu nekat ikut menari dengan Iva?” tanya Bu Melly dengan khawatir.
“Nggak apa-apa kok, Ma. Poppy ingin ikut menari dengan Iva,” jawab Poppy tanpa ada rasa bersalah.
Bu Tiara menghela nafas.
“Tapi kamu sedang hamil. Berbahaya untuk janin kalau kamu menari terlalu lincah,” ujar Bu Melly.
Bu Tiara menghampiri Bu Melly.
“Udah kita doakan saja semoga tidak ada apa-apa,” kata Bu Tiara.
Bu Femi menghampiri Poppy.
“Kamu nggak apa-apa sayang?” tanya Bu Femi.
“Poppy nggak apa-apa kok, Mih,” jawab Poppy.
“Iva mentang-mentang ada temannya langsung bikin ulah,” Bu Femi geram.
__ADS_1
“Namanya juga anak-anak, Bu,” bela Bu Tiara.