
“Assalamualikum,” ucap Poppy.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Bu Femi dan Bu Melly.
“Poppy kangen sama mama dan mamih,” Poppy memeluk kedua perempuan paruh baya itu.
“Kamu sudah sembuh belum?” Bu Melly memegang dahi Poppy.
“Udah dong,” jawab Poppy.
“Ayo kita makan makan dulu. Mamih dan mama sudah masak untuk kalian berdua. Ajak Budinya masuk,” kata Bu Melly.
“Pak Budi,” panggil Poppy
“Ya,” jawab Budi.
“Ayo masuk kita makan dulu,” ajak Poppy.
“Sebentar bu, saya panaskan mobil dulu dan masukin barang-barang saya ke mobil,” jawab Budi.
“Eh…..Poppy, kamu masih saja memanggil Budi dengan sebutan “Pak”?” tegur Bu Melly.
“Iya,” jawab Poppy.
“Kamu tuh bagaimana sih? Masa sama tunangan sendiri seperti sama rekan kerja saja,” seru Bu Melly.
“Udah kebiasaan, ma,” kata Poppy.
“Budi juga masih memanggil kamu masih dengan sebutan Ibu," tegur Bu Melly.
“Kan sudah kebiasaan,” kata Poppy sekali lagi.
Bu Melly menghela nafas.
“Budi, sini,” Bu Melly memanggil Budi.
Budi menghampiri Bu Melly.
“Iya, bu?”
“Mulai sekarang kamu jangan panggil Poppy pakai sebutan Bu. Panggil dia Poppy. Jangan pakai bu. Ingat itu!” seru Bu Melly.
“Iya, bu.”
“Jangan panggil saya ibu, tapi panggil saya mama,” kata Bu Melly.
“Iya….ma,” jawab Budi dengan kagok.
“Dan panggil saya mamih,” kata Bu Femi.
“Iya…..mamih,” jawab Budi dengan kagok juga.
“Ah…..bagus.”
“Poppy, kamu tidak boleh panggil Budi dengan sebutan Pak Budi. Kamu panggil Budi dengan sebutan Aa atau Akang atau Abang. Terserah kamu mau panggil apa, tapi jangan sebut dia Pak,” tegur Bu Melly.
Poppy memandang Budi.
“Pak Budi mau dipanggil apa?” tanya Poppy dengan wajah bingung.
“Terserah Poppy, mau panggil saya apa?” kata Budi sambil tersenyum melihat Poppy yang kebingungan.
__ADS_1
“Udah panggil sayang aja,” kata Pak Rahadian yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah dan di ikuti oleh Pak Brata di belakangnya.
“Eh ada papih dan papa. Tumben nggak kerja,” kata Poppy sambil menyalami Pak Rahadian dan Pak Brata.
Budi juga menyalami Pak Rahadian dan Pak Brata.
“Nah, kalau ini panggil papih dan papa,” Bu Femi menunjuk ke Pak Rahadian dan Pak Brata.
“Ini ada apa? Ngeributin masalah nama panggilan di depan rumah?” tegur Pak Brata.
“Ini Poppy dan Budi sudah mau nikah, masih saja panggilannya seperti ke rekan kerja saja,” jawab Bu Melly.
“Memang mereka rekan kerja. Jadi wajar mereka terbiasa memanggilnya begitu,” kata Pak Brata.
“Ya, tapi kan mereka sudah mau menikah. Masa seterusnya panggil seperti itu,” seru Bu Melly.
Pak Brata menghela nafas.
“Udah Budi-Poppy ikuti saja apa mau mama kalian. Nanti mama kalian keburu ill fell,” kata Pak Brata.
“Terus Poppy mesti panggil apa?” tanya Poppy yang masih kebingungan.
“Tadi kan papih sudah kasih tau, panggil sayang aja,” celetuk Pak Rahadian.
“Udah ah, ngebahas panggilan tidak ada habisnya. Ayo kita makan dulu,” ajak Bu Femi.
“Budi biar urusan mobil serahin saja ke Ilham. Budi makan saja,” seru Bu Melly.
“Iya, ma,” jawab Budi.
Kemudian Bu Melly, Bu Femi, Pak Rahadian dan Pak Brata masuk ke dalam rumah.
Budi mendekati Poppy, “Manggilnya yang nyaman aja menurut Poppy.”
“Hmm…..kayanya manggil Aa boleh juga,” kata Poppy.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Budi.
Tiba-tiba Pak Rahadian memanggil Poppy dan Budi.
“Hei…… kalian nggak lapar apa? Malah ngobrol saja di teras.”
“Lapar, pih,” jawab Poppy.
“Ayo A kita makan,” ajak Poppy.
Budi tersenyum bahagia mendengar panggilan Poppy, rasanya adem kalau mendengarnya.
Poppy jalan beriringan masuk ke dalam rumah.
“Mih, belanjaan siapa banyak begini?” tanya Pak Rahadian menunjuk ke plastik yang berjejer di meja ruang keluarga.
“Itu belanjaan Poppy, oleh- oleh dari Bandung. Papih mau?” jawab Poppy.
“Kamu beli oleh-oleh segini banyaknya mau bagikan ke siapa?” tanya Pak Rahadian bingung melihat oleh-oleh yang Poppy beli banyak sekali.
“Buat papih sama mamih, buat papah dan mamah, buat papah dan mamahnya Aa Budi, buat Teh Rima dan Odie, buat orang-orang di kantor,” jawab Poppy.
Tiba-tiba….
“Assalamualaikum,” Reno masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di belakangnya ada Rima yang mengikutinya dari belakang.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” balas semua orang.
“Eh… calon pengantin datang,” sapa Pak Rahadian.
Reno dan Rima menyalami semua orang yang ada di ruangan itu.
“Ah…. Kebetulan Rima datang ayo kita makan dulu,” ajak Bu Melly.
“Ayo Budi makan dulu,” ajak Bu Melly.
“Iya, ma,” jawab Rima dan Budi berbarengan.
Semuanya berkumpul di meja makan dan makan siang bersama-sama.
Setelah makan Budi mengajak Poppy untuk sholat.
“Kita sholat berjamaah, ya,” ajak Budi.
Poppy mengangguk lalu ia mengikuti Budi berjalan ke musolah.
Bu Melly dan Pak Brata memperhatikan keduanya.
“Mereka berdua sudah terlalu dekat. Semestinya cepat dinikahkan agar tidak menjadi fitnah,” kata Bu Melly ke Pak Brata.
“Mau bagaimana lagi, ma. Masih harus menunggu Poppy melahirkan.”
“Lagi pula,, papa percaya Budi bisa menjaga Poppy dengan baik. Dia tidak akan berbuat macam-macam kepada Poppy,” kata Pak Brata.
“Semoga saja, Budi bisa menjaga anak kita dengan baik,” kata Bu Melly.
“Aamiin yra.”
Setelah selesai sholat Budi pamit pulang.
“Aa jangan lupa ini oleh-olehnya buat mama dan papa Aa Budi,” kata Poppy memberikan oleh-oleh sekantong plastik besar.
“Ci yeee, sekarang panggilnya Aa Budi bukan Pak Budi lagi,” goda Reno.
“Biarin,” seru Poppy sambil mengikuti Budi keluar dari rumah.
“Uhuy…. Aa Budi……,” teriak Reno menggoda adiknya.
.
.
.
.
.
.
-udah diganti, ya nama panggilannya.
-ntar malam diterusin lagi kalau ngak cape.
-yang menunggu pernikahan Budi dan Poppy harap sabar.
__ADS_1
-author nggak bakalan mengulur cerita, soale author ngak sabar untuk up novel yang baru.
-kalau up barengan ntar author dimarahin sama orang-orang rumah, gara-gara seharian cuma duduk di depan laptop. 😁