Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
24.Kaulah Segalanya .


__ADS_3

Poppy berjalan keluar dari cafe dengan perasaan sedih. Dia malu dihina di depan orang banyak. Kalau saja suaminya masih hidup hal seperti ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan di cap sebagai janda gatel oleh Tantri. Tiba-tiba ia merasa rindu pada suaminya. Air matanya tidak dapat terbendung lagi. Ingin rasanya ia mengadu pada suaminya dan menangis sejadi-jadinya di makam suaminya.


Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil.


“Pop, kita makan dulu, ya. Elo mau makan dimana?” Farah berjongkok di luar mobil.


“Gue  mau ke Kang Rangga. Gue kangen suami gue,” lirih Poppy sambil bersedih.


“Gue temani, ya. Tapi gue bawa mobil sendiri. Kan nggak mungkin mobil gue ditinggalin di sini, entar gue pulang naik apa?” kata Farah.


“Iya, nggak apa-apa,” jawab Poppy.


Sementara itu Reva masih berdiri di belakang mobil, sambil sibuk mengirimkan chat dan melaporkan  apa yang terjadi pada Budi.


Pak Budi : Titip, Bu Poppy, ya Rev. Kalau terjadi sesuatu bertahu saya.


Pak Budi : Bu Poppy sudah makan belum, Rev?


Reva : Belum, Pak. Kan tadi waktu mau pesan makanan Bu Tantri keburu datang. Sekarang Ibu mau ke makam Pak Rangga. Ibu lagi menangis.


Pak Budi : Bujuk suruh makan dulu, baru ke makam. Nanti Ibu sakit.


Reva : Kelihatannya Ibu memang sakit, Pak. Sudah beberapa hari ini muka ibu pucat.


Budi kaget membaca chat Reva. Mukanya pucat? Apa jangan-jangan selama ini dia tidak mau makan. Dengan cepat Budi menelepon Poppy.


“Assalamualaikum, Pak Budi.”


“Waalaikumsalam. Bu Poppy sedang apa?”


Budi berpuara-pura tidak mengetahui kejadian di café.


“Saya mau ke makam Akang Rangga.”


Suara Poppy terdengar sedih.


“Ibu sudah makan belum?”


“Belum. Nanti saja setelah dari makam.”


“Makan siang dulu baru ke makam.”


“Nanti aja. Saya mau makan rujak Mpok Leha.”


Budi mendengarnya langsung kebingungan. Gawat dia belum makan tapi sudah mau makan rujak, bisik Budi di dalam hati.


“Ibu tidak boleh makan rujak Mpok Leha, kalau belum makan.”


“Pak Budi nggak usah mengatur saya. Saya mau makan apa bukan urusan Pak Budi. Saya sakit juga bukan urusan Pak Budi. Pak Budi cukup mengurus perusahaan saya. Tidak usah mencampuri urusan pribadi saya!”


Poppy langsung menutup telepon dan menangis. Hatinya benar-benar sedih. Dia sebenarnya tidak berniat mengatakan itu kepada Budi. Tapi pikirannya sedang kacau karena kejadian tadi. Ditambah lagi Budi lebih mementingkan perusahaannya daripada meluangkan waktu untuknya.


Semua orang terdiam mendengar pembicaraan Poppy dengan Budi.


“Pak Ilham, kita ke makam sekarang,” perintah Poppy.


“Reva, cepat masuk ke mobil. Atau kamu saya tinggalkan di sini?” seru Poppy.

__ADS_1


Reva cepat-cepat masuk ke dalam mobil.


Poppy menoleh ke arah Farah.


“Farah, loe mau ikut gue atau nggak?” tanya Poppy.


“Gue ikut. Kita konvoi, ya,” jawab Farah dan langsung bergegas ke mobilnya.


Poppy langsung menutup pintu mobilnya dan mobilpun meluncur di jalan raya.


Selama dalam perjalanan Poppy menutup mata. Sebenarnya kepalanya terasa sakit sekali karena belum makan. Akhir-akhir ini dia makannya hanya sedikit, bahkan jarang makan siang karena Budi sering ada di Bandung jadi tidak ada yang menemani makan siang.


Sesampainya di makam Rangga, Poppy menangis dengan terseduh-seduh. Melampiaskan rasa sakit di hatinya. Namun terasa sakit kepalanya semakin berat dan pandangannya mulai kabur. Ia hanya mendengar suara Farah dan Reva yang berteriak memanggil namanya. Ia langsung tidak sadarkan diri.


Reva berusaha menghubungi Budi, namun tidak diangkat juga. Sepertinya Budi sedang sibuk menghubungi seseorang. Reva menghubungi semua keluarga Poppy menggunakan ponsel Poppy. Ia beruntung karena ponsel Poppy tidak dikunci. Tiba-tiba terdengar suara ponsel Reva berdering terlihat dilayar tertulis Pak Budi. Cepat-cepat Reva menjawab teleponnya.


“Assalamualaikum Reva. Ada apa?”


Budi langsung to the point.


“Waalaikumsalam, Pak Budi. Ibu pingsan, Pak.”


“Apa??? Ibu pingsan dimana?”


Terdengar suara Budi yang panik.


“Di makam, Pak. Sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit.”


“Nanti kalau sudah sampai kamu kirim lokasi rumah sakitnya, ya! Saya masih di tol Cikampek. Tolong kamu urus semuanya, ya! Kalau ada apa-apa kamu telepon saya.”


“Baik, Pak.”


“Assalamualaikum.”


Budi menutup teleponnya.


“Mbak Reva kita ke rumah sakit mana?” tanya Ilham.


“Yang terdekat saja, Pak,” jawab Reva.


“Baik, Mbak.”


Mobilpun meluncur menuju ke rumah sakit.


****


Mobil yang dikemudikan oleh Budi masuk ke tempat parkir rumah sakit. Satu setengah jam yang lalu Reva mengirim lokasi rumah sakit. Dan sekitar dua puluh menit yang lalu Reva mengirim nomor kamar inap Poppy. Serta Reva memberitahu kalau Poppy menuntahkan semua makanan dan minuman yang telah


ditelan tidak ada yang masuk sedikitpun. Budi langsung menuju kamar inap Poppy, ia membawa banyak oleh-oleh khas Bandung untuk Poppy. Berhubung Poppy di rawat di kamar VVIP jadi Budi bebas untuk masuk.


Budi membuka pintu kamar inap sambil mengucapkan salam,


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” semua menjawab salam Budi sambil menoleh ke arah Budi.


“Alhamdullilah Pak Budi sudah sampai. Bagaimana Pak Budi, apakah semuanya lancar?” tanya Pak Brata.

__ADS_1


“Alhamdullilah semuanya lancar, Pak,” jawab Budi.


“Wah…. Pak Budi bawa apa? Oleh-oleh, ya? Banyak amat oleh-olehnya,” seru Iva berbinar melihat Budi kantong plastik besar yang isinya penuh.


“Ini untuk, oleh-oleh untuk Bu Poppy. Kalau ada yang Iva mau ambil saja,” jawab Budi dan meletakkan bungkusan plastik itu di atas meja.


“Saya tidak mau oleh-oleh dari Pak Budi. Kalau ada yang ingin dibicarakan nanti saja di kantor. Saya sudah ngantuk mau tidur,” Poppy memiringkan badannya dan memunggungi semua orang.


Budi termenung mendengar perkataan Poppy. Pak Rahadian menghampiri Budi dan menepuk bahu Budi.


“Kalau ada masalah selesaikan baik-baik, jangan pakai emosi. Wanita ingin dimengerti bukan harus mengerti,” kata Pak Rahadian sambil memberi tanda pada semua orang yang di dalam ruangan agar keluar dari ruangan itu.


Memberi waktu Budi dan Poppy untuk berbicara menyelesaikan kesalahpahaman


diantara mereka.


Budi berjalan mendekati tempat tidur Poppy.


“Assalamualaikum, Bu Poppy,” sapa Budi


“Waalaikumsalam,” Poppy menjawab dengan ketus dengan posisi yang masih memunggungi Budi.


“Maafkan saya, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Ibu. Semua saya lakukan untuk melindungi Ibu dan Anak Sholeh. Saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kalian.”


Terlihat Poppy mengusap air matanya yang mengalir di pipi.


“Bagi saya, Bu Poppy dan Anak Sholeh adalah segalanya. Saya sayang Bu Poppy dan saya sayang Anak Sholeh. Kalianlah pemacu semangat saya untuk bekerja lebih keras lagi, agar kalian dapat hidup bahagia.”


Terdengar suara isak tangis Poppy.


“Saya tidak pernah meninggalkan Ibu dan saya sangat mencintai Ibu.”


”Maafkan saya.”


“Assalamualaikum.”


Budi berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


“Pak Budi……,” panggil Poppy dengan menangis.


“Apakah Pak Budi tahu betapa beratnya hari-hari saya selama Pak Budi pergi?” tanya Poppy sambil menangis.


Budi berbalik menghadap Poppy.


“Saya tahu,” jawab Budi dengan perasaan sedih.


“Dan apakah Pak Budi tahu hari ini saya menerima lagi penghinaan dengan menyebutkan saya janda gatal?” Poppy terus menangis.


“Saya tahu. Saya mengetahui semuanya. Tolong jangan diteruskan lagi. Itu semua membuat saya sedih karena tidak bisa melindungi Bu Poppy,” air mata Budi mengalir. Budi menghampiri Poppy.


“Maafkan saya,” ingin rasanya Budi memeluk wanita yang rapuh ini. Namun ia harus menahannya karena Poppy bukan mahromnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bacanya sambil dengerin lagu Ruth Sahanaya; Kaulah Segalanya.


__ADS_2