
Mobil MPV premium yang ditumpangi Budi keluar dari pintu tol Pasteur tepat pukul sebelas siang. Budi menoleh ke sebelah terlihat Poppy sedang tertidur dengan pulas. Budi tidak tega membangunkannya.
“Kita kemana dulu, Pak Budi?” tanya Jaka sambil menoleh ke belakang.
“Kita makan dulu, Jak,” jawab Budi.
“Makan dimana, pak?”
“Kita makan bebek goreng Pak H Sodik di jalan Supratman,” kata Budi.
“Ilham kamu tahu jalan Supratman nggak?” tanya Budi.
“Saya tidak hafal jalan-jalan di Bandung, pak,” jawab Ilham.
“Nanti saya tunjukan jalannya. Sekarang lurus saja terus sampai ketemu Gasibu,” kata Budi.
Ilham ngikuti arahan petunjuk yang diberikan Budi. Akhirnya mereka sampai di rumah makan bebek goreing Pak H Sodik.
Budi membangunkan Poppy.
“Bu, bangun. Sudah sampai,” Budi menepuk-nepuk bahu Poppy.
Merasa ada yang menepuk-nepukkan bahunya, Poppy terbangun.
“Ada apa, Pak Budi?” tanya Poppy dengan wajah yang masih ngantuk.
“Kita makan dulu,” jawab Budi.
“Mau sholat di sini atau sholat di hotel?” tanya Budi sambil menunggu mobil berhenti.
“Sebentar lagi sudah bisa check in,” lanjut Budi.
Poppy berpikir dulu sebentar.
“Kita janji ke temu dengan arsiteknya jam berapa?” Poppy malah balik bertanya.
“Agak sore, setelah sholat ashar biar ibu nggak kepanasan,” jawab Budi.
“Sholat di sini aja, biar nanti di hotel tinggal istiirahat,” jawab Poppy sambil bersiap-siap untuk turun.
“Rev, tolong ambilkan mukena ibu,” Budi menunjuk ke pojok jok belakang.
“Ini bu,” Reva memberikan ke Poppy
“Terima kasih,” ucap Poppy.
Setelah mobil berhenti mereka turun dari mobil menuju rumah makan. Karena hari kerja dan jam makan siang rumah bebek H Sodik agak penuh. Mereka tidak bisa mendapatkan meja yang cukup untuk berlima. Terpaksa mereka duduk secara terpisah. Budi duduk berdua dengan Poppy. Sedangkan Jaka, Ilham dan Reva duduk bertiga dan agak terpisah jauh dari Budi dan Poppy.
“Kalian pesan saja apa yang kalian mau,” ucap Budi kepada ketiga stafnya.
Lalu mereka memesan makanan dan setelah makanan datang mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan adzan zuhur berkumandang.
“Saya dan Bu Poppy sholat dulu,” kata Budi.
Budi mengeluarkan beberapa lembar seratus ribu dari dompetnya dan hendak di berikan ke Reva, namun Poppy lebih dahulu memberikan kartu debetnya ke Reva.
“Tolong bayarkan ke kasir. Saya dan Pak Budi makan nasi dan bebek. Minumnya juice jeruk. No PIN seperti biasa,” kata Reva.
Budi melirik ke Poppy.
“Ayo Pak Budi, kita sholat dulu,” ajak Poppy yang berjalan lebih dahulu menuju mushola. Budi langsung mengikuti Poppy dari belakang.
Setelah selesai sholat, mereka langsung menuju hotel.
Seperti biasa Budi memesan kamar yang ada connecting door, untuk memudahkan jika terjadi sesuatu pada Poppy.
“Ibu, sekarang istirahat dulu. Nanti jam tiga akan saya bangunkan,” kata Budi ketika melihat Poppy muncul dari balik connecting door.
__ADS_1
Mendengar ucapan Budi, Poppy menutup kembali connecting door.
Tepat pukul tiga sore alarm Budi berdering, Budi langsung mandi dan bersiap-siap sholat ashar.
Sambil menunggu adzan ashar Budi menelepon Jaka.
“Assalamualaikum,” suara Jaka bangun tidur.
“Waalaikumsalam Jaka, ayo cepetan mandi sebentar lagi kita berangkat.”
“Siap Pak Budi,” suara Jaka khas seperti orang yang masih ngantuk.
“Jangan tidur lagi,” perintah Budi.
“Baik pak,” Jaka menutup teleponnya.
Kemudian Budi mengetuk connecting door.
“Bu….Bu Poppy bangun, bu. Sebentar lagi kita berangkat,” panggil Budi.
Connecting door terbuka, nampak Reva yang membukakan pintu.
“Bu Poppy sedang mandi, pak.” Kata Reva.
“Kamu sudah mandi belum?” tanya Budi.
"Sudah pak. "
“Ya, sudah sekarang siap-siap. Nanti setelah sholat kita berangkat,” ujar Budi.
“Baik, pak,” Reva menutup lagi connecting doornya.
Setelah selesai sholat mereka berangkat ke lokas pembangunan hotel. Budi janjian dengan arsiteknya di lokai.
Sesampainya di lokasi Budi melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan rumah.
“Kita turun, bu,” Budi turun lebih dahulu dari mobil.
Lalu membantu Poppy turun dari mobil.
“Hati-hati, bu,” kata Budi.
Lalu mereka menghampiri pria itu.
“Assalamualaiikum,” Budi dan Poppy megucapkan salam.
“Waalaikumsalam,” balas pria itu.
“Pak Ferdinan?” tanya Budi.
“Iya,” jawab pria itu.
“Perkenalkan saya Budi dari Rangga’s Hotel & Resto,” Budi menyalami pria itu.
“Kenalkan ini Bu Poppy owner Rangga’s Hotel & Resto,” kata Budi.
Pria itu mengulurkan tangan untuk bersalaman, namun Poppy hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Bisa kita mulai sekarang Pak Ferdinan?” tanya Poppy.
“Oh silahkan Bu Poppy,” kata Ferdinan.
Jaka membuka gembok rumah itu, lalu mereka masuk ke halaman.
“Sebenarnya rumah ini bangunan tua dan sudah banyak yang dimakan rayap. Tapi saya suka bentuk bangunannya. Jadi saya rasa rumah ini cukup di renovasi untuk resto. Sementara Bagian garasinya bisa digunakan untuk lobby hotel. Saya ingin bangunan hotelnya disesuaikan dengan bangunan restonya,” Poppy mulai mengutarakan keinginannya dan konsepnya untuk hotel dan resto barunya.
Ferdinan mendengarkan sebaik mungkin, sambil mencatat hal-hal yang diperlukan. Sedangkan Budi hanya mengikuti mereka dari belakang. Sesekali Ferdinan bertanya hal-hal yang kurang ia mengerti. Terkadang Ferdinan berbicara hal yang lucu sehingga membuat Poppy tersenyum simpul dan tertawa. Sedangkan Budi menatap mereka berdua dengan tatapan susah dimengerti.
__ADS_1
“Jaka, muka bos loe serem banget ngeliatin Bu Poppy dan Pak Ferdinan,” bisik Reva.
Jaka melihat ke arah Budi lalu melihat kearah Poppy yang tersenyum karena Pak Ferdinan berbicaranya sambil bercanda.
“Dia lagi cemburu. Noh bos loe dari tadi senyum-senyum dan ketawa terus sama Pak Ferdinan,” kata Jaka.
“Ih… namanya juga orang ngajak bercanda, jadi ya ketawa terus,” Reva protes.
Poppy menoleh ke arah Budi, ia melihat Budi sedang menatapnya tajam. Poppy permisi ke Ferdinan untuk menghampiri Budi.
“Pak Budi, kolam ikannya mendingan dibuat dimana? Di pojok situ atau di sebelah coffee shop?” tanya Poppy baik-baik, ia tau dari raut
wajahnya Budi sedang cemburu.
“Terserah ibu,” jawab Budi dengan dingin.
“Sini deh Pak Budi ikut saya,” ajak Poppy.
Tapi sepertinya Budi enggan ikut dengan Poppy, dia hanya diam saja. Poppy mengaitkan jari tangannya ke lubang ikat pinggang Budi lalu menariknya sambil berjalan. Mau tidak mau Budi ikut maju dan berjalan di sebelah Poppy. Poppy membawa Budi mendekati Ferdinan.
“Maaf ya, Pak Ferdinan. Pak Budi ini selain GM di perusahaan saya, ia juga calon suami saya,” Poppy mencoba untuk menjelaskan.
Ferdinan kaget mendengarnya.
“Oh…. bukankah Bu Poppy istri Pak Rangga?” tanya Ferdinan bingung.
“iya benar saya istri Pak Rangga. Tapi suami saya sudah meninggal empat bulan yang lalu,” jawab Poppy.
“Iya, saya mengerti,” kata Ferdinan.
“Begini Pak Budi, Bu Poppy mau membuat kolam ikan di dekat coffee shop, tapi kalau di buat kolam ikan di dekat coffee shop nantinya akan jadi banyak sampah yang dibuang ke kolam ikan oleh para pengunjung coffee shop. . Terus ibu mau ada beberapa hammock dekat coffee shop, takutnya kalau hammocknya terbalik nanti pengunjung langsung tercebur ke kolam ikan, pak,” terang Ferdinan.
Budi berpikir sebentar.
“Ya sudah kolam ikannya dibuat dekat taman. Terus di taman juga kasih beberapa hammock,” saran Budi.
“Tapi di situ panas, pak. Kasihan nanti yang tidur-tiduran di hammock kepanasan, pak,” protes Ferdinan.
“Biarkan saja, siapa tau mereka mau sekalian berjemur," kilah Budi.
“Oke. Baik, pak.”
Hari sudah semakin gelap. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Mereka mengakhiri pertemuan mereka hari ini.
“Nanti saya kirim draftnya ke email Pak Budi,” kata Ferdinan sebelum pergi.
“Pak Ferdinan kita makan malam dulu,” tawar Poppy.
“Terima kasih, bu. Saya ada janji sama teman saya,” tolak Ferdinan.
“Saya harus pergi sekarang. Assalamualaikum,” pamit Ferdinan.
.
.
.
.
.
.
.
Sorry, kemarin ngak up karena kepala terasa berat.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like and comment jika sudah mampir ke novel author kelas teri.