Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
44. Bayi Dalam Keadaan Sehat.


__ADS_3

Setelah menunggu tiga perempat jam akhirnya giliran Poppy untuk diperiksa.


“Ibu Poppy,” suster memanggil nama Poppy.


“Ya,” Budi memapah Poppy masuk ke ruang periksa.


Seorang wanita setengah baya memakai jas putih dengan name tag Dr RACHEL SPOG menyambut mereka.


“Silahkan duduk, bu,” kata dokter Rachel.


Dokter Rachel memperhatikan kartu kasus Poppy.


“Anak pertama, ya?” tanya dokter Rachel.


“Iya, dok,” jawab Poppy.


“Wah…. jauh-jauh dari BSD diperiksa ke sini,” komentar dokter ketika melihat alamat rumah Poppy.


“Kebetulan kami sedang mengurus bisnis kami di sini, dok,” kata Budi.


“Oke. Ada keluhan, bu? Tensi ibu rendah,” tanya dokter Rachel.


“Kepala saya pusing dan sakit,” jawab Poppy.


“Tadi siang badannya agak hangat, dok,” tambah Budi.


“Oke kita periksa dulu,” sorang suster membimbing Poppy ke tempat tidur untuk di periksa.


“Bapak, bisa lihat dari layar TV,” kata suster.


“Baik sus,” Budi masih duduk di tempat duduknya dan pandangannya tertuju ke TV LED yang menempel di tembok atas dekat dengan kursi dokter.


Setelah memberikan gel pada perut Poppy dokter mulai memaikan alat USG nya.


Budi tercengah melihat anak sholeh yang terlihat di layar TV. Ada rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu melihat calon anak sambungnya tumbuh dengan sehat.


“Bayinya sehat, ya bu. Berat badannya pas, ukuran kepalanya juga normal dan panjangnya normal,” kata doker Rachel sambil memencet keyboard.


“Badan ibunya agak hangat, ya. Kita perisa suhu dulu,” dokter menyelipkan thermometer diketiak Poppy.


“Kita dengarkan detak jantungnya, ya.”


Terdengr kencang suara dug dug dug dug dug dug.


“Jantungnya juga sehat,” kata dokter.


Budi dan Poppy bernafas lega mendengar keterangan dari dokter.


Dokter mengambil thermometer dari ketiak Poppy.


“Hampir tiga puluh delapan derajat suhu tubuhnya. Nanti saya kasih penurun panasnya,” kata dokter Rachel.


Dokter Rachel kembali ke meja kerjanya. Setelah dibersihkan perutnya oleh suster, Poppy kembali ke tempat duduknya di sebelah Budi.


“Apa tidak membahayakan bayi jika suhu tubuhnya tinggi?” tanya Budi dengan cemas.

__ADS_1


“Mudah-mudahan tidak dan cepat turun panasnya,” jawab dokter Rachel sambil menulis resep.


“Apa penyebab sakit kepala, pusing dan panasnya?” tanya Budi lagi.


“Ibunya terlalu cape dan terlalu banyak pikiran,” jawab dokter Rachel.


“Kalau suhu tubuhnya terus menerus naik, langsung bawa ke UGD. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi,” kata dokter Rachel sambil memberikan resep.


“Semoga cepat sembuh, ya bu,” ucap dokter Rachel.


“Aamiin yra,” jawab Budi dan Poppy.


“Terima kasih dokter,” ucap Budi.


Lalu Budi memapah Poppy keluar dari tempat periksa.


“Bayarnya di kasir, ya pak,” kata suster sambil memberikan nota yang harus dibayar.


“Tunggu di sini saya bayar dulu,” kata Budi.


“Bayarnya pakai ini, pak,” Poppy menyerahkan kartu debit miliknya.


Budi ragu untuk mengambilnya.


“Tidak apa-apa, pak. Pak Budi sudah terlalu banyak mengeluarkan uang,” Poppy memberikan alasan.


Dengan berat hati Budi terpaksa menerima kartu debit milik Poppy. Lalu pergi ke loket pembayaran. Tanpa harus menunggu lama Budi sudah kembali. Setelah memberikan bukti pembayaran Budi mengajak Poppy menuju apotik.


“Pakai kartu debit saya untuk membeli obat,” pesan Poppy.


Baru saja Budi hendak ke tempat duduk, nama Poppy dipanggil di loket pembayaran. Budi menghampiri loket pembayaran. Setelah membayar obat Budi kembali duduk di sebelah Poppy.


“Nanti obatnya langsung diminum,ya,” kata Budi.


Poppy hanya mengangguk.


“Mau makan apa sebelum minum obat? “ tawar Budi.


“Hmm…. apa ya yang enak?” Poppy berpikir.


“Atau makan di hotel aja?” Budi memberikan alternatif lain.


“Di hotel aja, biar bisa sambil tiduran dan nonton TV,” jawab Poppy.


“Oke kita order makanan di kamar saja.”


Tak lama kemudian nama Poppy di panggil di tempat pengambilan obat. Setelah mengambil obat Budi mengajak Poppy pulang ke hotel.


“Ganti baju dulu biar enak bobonya,” kata Budi setibanya mereka di kamar hotel.


Budi masuk ke dalam kamarnya menutup connecting door lalu berganti baju.


“Mau makan apa?” tanya Budi setelah mereka berganti baju.


“Mau sop buntut,” jawab Poppy.

__ADS_1


“Minumnya apa?” tanya Budi lagi.


“Jeruk panas aja,” kata Poppy.


“Oke,” Budi menelepon restaurant untuk memesan makanan.


Ketika Budi memesan makanan melalui terdengar sayup-sayup suara adzan magrib dari luar hotel.


“Ayo kita sholat magrib dulu,” ajak Budi setelah memesan makanan.


Lalu mereka sholat magrib berjamaah berdua.


Tak lama setelah mereka sholat magrib terdengar suara pintu kamar Poppy di ketuk.


Budi membuka pintu kamar, seorang pelayan restaurant membawa makanan pesanan mereka.


“Mau makan sendiri atau mau disuapin?” tanya Budi sambil mengosongkan nakas di sebelah tempat tidur Poppy.


“Makan sendiri aja,” jawab Poppy.


Kemudian Budi meletakkan makanan Poppy diatas nakas yang telah ia kosongkan.


“Hati-hati makannya masih panas,” ujar Budi.


“Sambelnya mana?” tanya Poppy yang tidak melihat sambel di piringnya.


“Jangan makan sambel dulu. Nanti kalau sudah sembuh baru boleh makan sambel,” jawab Budi.


“Nanti nggak enak,” Poppy protes.


“Belum dicoba udah bilang nggak enak,” kata Budi.


Poppy menyeruput kuah sop. Tiba-tiba matanya berbinar.


“Enak, Pak Budi,” puji Poppy.


“Alhamdullilah kalau enak. Habiskan,ya makannya,” kata Budi.


“Tapi nasinya sedikit saja,” ujar Poppy.


“Iya, nggak apa-apa.”


Poppy dan Budi makan dengan tenang sambil menonton TV.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung.......


__ADS_2