
Sekarang para tamu dipersilahkan untuk makan dan di hibur oleh para penyanyi. Reno membawakan makanan untuk Odie. Terlihat Odie sangat senang di bawakan makanan oleh Reno. Tak lama kemudian datanglah Rima dan duduk di meja yang sama bersama Reno dan Odie. Budi sedang makan sambil memperhatikan interaksi ketiga dari kejauhan. Mereka seperti keluarga yang bahagia.
“Dlan sejak kapan Teh Rima dekat dengan Pak Reno?” tanya Budi sambil menunjuk dengan dagunya. Fadlan yang sedang menengok ke arah yang ditunjukkan oleh Budi.
“Kayaknya semenjak ketemu di UGD rumah sakit,” jawab Fadlan sambil mengunyak makanan.
“Pak Reno sering datang ke rumah?” tanya Budi penasaran.
“Jarang. Tapi sering nelepon Teh Rima,” jawab Farhan.
“Kok kamu tau?” Budi bingung, darimana Farhan tau? Apa Farhan sering menguping pembicaraan Teh Rima?
“Taulah…kedengeran gitu,” jawab Farhan dengan santai.
“Anak kecil nggak boleh dengerin omongan orang dewasa,” tegur Budi.
“Siapa bilang anak kecil? Kita sudah bisa bikin junior, ya nggak Dlan?” seru Fardan.
Tiba-tiba pletak, dahi Fardan disentil Budi.
“Aduh….., Aa sakit,” pekik Farhan.
“Mulut tuh dijaga. Di depan umum nggak boleh ngomong vulgar,” tegur Budi.
Iva datang dan bergabung dengan mereka sambil mrmbawa makanan.
“Ada apa nich? Dahi Farhan disentil Pak Budi, ya? Baguslah sering-sering aja Pak Budi. Farhan sering mengganggu dan meledek Iva,” timpal Iva.
Tak lama menghampiri Budi.
“Hai Pak Budi, apa kabar?” sapa Tari yang berdiri di sebelah Budi.
“Baik,” jawab Budi singkat.
Farhan dan Fadlan menengok ke arah Tari. Lalu berbisik ke Iva, “Siapa?”
“Sepupuh gue,” jawab Iva santai sambil makan.
“Oh…..,” seru Farhan sambil manggut-manggut.
“Iva, katanya minggu kemarin ke Bandung sama Ua, Teh Poppy dan Pak Budi, ya?” tanya Tari.
“Iya, tau darimana?” tanya Iva acuh-tak acuh.
“Dari SW Iva. Kok ngak ngajak-ngajak Tar, sih?” Tari protes.
“Aku kan ikut Papih kerja, bukannya jalan-jalan,” kilah Iva.
“Betul, Pak Budi?” tanya Tari untuk meyakinkan jawaban Iva.
Budi yang tidak fokus pada obrolan Tari dan Iva, malah balik bertanya, "Kenapa?”
Tari kesal merasa tidak diperhatikan oleh Budi, lalu mengulang kembali pertanyaannya.
“Memang Iva ke Bandung ikut Papihnya kerja?”
“Iya kerja, kerja makan baso,” jawab Budi sambil berdiri.
“Tari duduk di sini,” kata Budi menunjuk ke kursi bekas didudukinya lalu pergi dari situ.
“Iiihhhh Iva bohong….,” Tari protes.
“Memang ikut kerja. Papih, Pak Dimas dan Pak Budi kerja. Kalau aku, Mamih dan Teh Poppy makan baso,” kata Iva enteng.
Tari cemberut, ia kesal tidak bisa ikut ke Bandung bareng Budi.
Budi pindah duduknya, ke meja Rima dan Reno. Hmm melihat Rima, Reno dan Odie duduk bersama rasa seperti melihat keluarga bahagia. Semoga saja kenyataannya seperti itu, bisik Budi dalam hati.
Terdengar suara MC di atas panggung, yang meminta Poppy untuk menyanyi.
“Ibu Direktur diminta untuk menyanyi. Mana ibu direktur?”
Poppy berdiri dan menghampiri MC.
“Oh, ini Ibu Direkturnya? Yang tadi menari-nari? Wah saya benar-benar tidak tau kalau ibu direktur pintar menari," ujar MC panjang lebar.
__ADS_1
Poppy hanya tersenyum.
“Ibu diminta oleh karyawan Ibu untuk bernyanyi. Apa Ibu bersedia?” tanya MC.
“Akan saya coba,” jawab Poppy.
Poppy memulai menyanyi lagu Assalamualaikum Beijing
Assalamualaikum, kekasih hati
Assalamualaikum, pendamping diri
Tak pernah kubayangkan
Kau tawarkan genggaman
Mengobati luka di jiwa
Assalamualaikum, cinta sejati
Assalamualaikum, penghias mimpi
Dari negeri yang jauh
Menelusuri waktu
Reff:
Kasih tak pernah menyerah
Walau ujian datang menyapa
Cinta yang dulu timbulkan luka
Kini purna berganti cahaya
Assalamualaikum, cinta sejati
Assalamualaikum, kekasih hati
Dari negeri yang jauh
Menelusuri waktu
Kasih tak pernah menyerah
Walau ujian datang menyapa
Cinta yang dulu timbulkan luka
Kini purna berganti cahaya
(Assalamualaikum Beijing, Asma Nadia)
Poppy menyanyikan lagu dengan penuh perasaan. Budi terus menatapnya tanpa berkedip. Sesekali Poppy tersenyum kepada Budi ketika mata mereka bertemu satu dengan yang lain.
“Cepat dihalalkan. Nanti direbut orang,” Rima berbisik mendekati Budi.
“Masih hamil, belum boleh dinikahi.Teteh saja duluan,” jawab Budi sambil berbisik ke Rima.
Rima memundurkan sedikit badannnya, ia memandang Budi sambil mengerutkan alisnya. Seolah bertanya siapa?
Budi menunjut ke arah Reno dengan meggunakan dagunya. Rima menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Budi, yang terlihat Reno sedang menemani Odie untuk mengambil kue. Buru-buru Rima memalingkan wajahnya dan mencubit Budi.
“Aduuuhhh aduuuuhhh sakit, Teh. Ampuunn Teh ampuuunnn,” Budi ngaduh kesakitan.
Rima melepaskan cubitannya.
“Tapi maukan sama Pak dokter,?" goda Budi sambil naik turunkan alisnya dan tersenyum tengil.
“Tau ah…..,” Rima memalingkan wajahnya sambil melipat kedua lengannya di depan dada dan pasang wajah cemberut.
“Mama kenapa?” tanya Odie yang baru datang membawa kue bersama Reno lalu melihat wajah mamanya cemberut.
“Mang Budi nakal, Odie. Marahin gih,” keluh Rima dengan wajah sedih
__ADS_1
“Mang Budi nggak boleh nakal, nanti Odie bilangin ke Aki, biar dimalahin,” omel Odie.
Baru saja Budi mau menanggapi omongan Odie tiba-tiba MC memanggil Budi.
“Sekarang gilran Pak Budi menyanyikan sebuah lagu,” seru MC
Budi diam saja di tempatnya duduk tidak bersuara.
“Pak Budi….. mana Pak Budi???? Ada request dari anak buahnya,” ujar MC sambil membaca sepotong kertas di tangannya.
“Ini request dari Irma dan Reva, ayo mana Pak Budi,” panggil MC
Budi tetap diam saja di tempatnya. Sampai terdengar suara Odie menunjuk Budi .
“Ini ada di sini Mang Budinya, lagi ngumpet,” seru Odie dengan keras sambil loncat dan tangan kanannya menunjuk ke arah Budi.
“Odie …ssstttt,” bisik Budi sambil membungkukkan badan dan telunjuknya berada di depan mulutnya, member tanda pada Odie untuk diam.
“Itu Mang Budi dipanggil,” sahut Odie dengan polosnya.
Akhirnya mau-tidak mau Budi berdiri menampakkan dirinya.
“Huuuuuu,” suara riuh penonton yang kecewa.
“Pak Budi nya ngumpet, ya? Malu, ya Pak? Malu sama siapa? Yang meledek pecat saja, Pak! " komentar MC panjang lebar.
Budi diam dan pasang muka dingin. Dan menatap tajam ke Irma dan Reva. Sedangkan Poppy menunggu dengan antusias. Akhirnya mau tidak mau Budi menyanyi lagu Cinta Dalam Hati
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
Budi menyanyikan lagu sambil terbayang kebersamaannya bersama Poppy. Kejadian-kejadian yang mereka lalui bersama.
Telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
“Suit…suit….,” terdengar suara siulan para bawahannya.
reff:
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk aselamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
( Cinta Dalam Hati ; Pasya Ungu )
Budi menyanyikan lagu dengan perasaan seolah-olah dia sedang merasakan semuanya. Poppy mendengarkan dengan terharu hingga mata wanita itu berkaca- kaca dan lalu menangis.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bacanya sambil dengerin lagunya,ya.
Hari ini authornya lagi pengen nyanyi terus.