
Poppy yang sedang tidur dengan nyenyak terbangun mendengar tangisan bayinya.
“Firas kenapa menangis? Mama masih ngantuk,” kata Poppy dengan suara khas bangun tidur dam mata yang masih mengantuk.
“Firas haus kali, Ma,” kata Budi yang melihat ke belakang dari rear vision mirror.
Poppy tidak langsung menggendong bayinya, ia malah mengambil botol minum dan meminumnya. Suara tangisan Firas tambah kencang.
“Sabar sayang. Mama haus,” kata Poppy lalu menggendong Firas.
Terlihat wajah bayi itu memerah karena menangis kencang.
“Iya, ini susunya,” kata Poppy sambil mengeluarkan sumber ASI anaknya.
Bayi itu langsung melahap sumber ASI nya.
“Kasihan anak Mama, haus ya, Nak?” kata Poppy melihat Firas menyedot dengan lahap.
Poppy menguap sambil melihat keluar jendela.
“Ayah, ini sudah sampai mana?” tanya Poppy pada suaminya.
“Masih di Kerawang,” jawab Budi sambil fokus menyetir mobil.
Poppy memandangi anaknya yang mengenyot sumber ASi alaminya.
“Masih jauh, Nak. Jangan rewel, ya,” kata Poppy mengajak Firas berbicara.
Bayi itu anteng nyusu pada Mamanya sambil menarik-narik kerudung Mamanya.
Tak lama kemudian mobil belok ke kiri memasuki tol Purbaleunyi.
“Mau mampir ke rest area nggak?” tanya Budi sambil menutup kaca jendela setelah membayar tol.
“Nggak Yah. Mamah mau bobo aja, ngantuk,” jawab Poppy sambil menguap.
“Ya sudah kalau nggak mau.”
“Firas bobo lagi, Nak. Kasihan Mamanya masih ngantuk,” kata Budi mengajak ngobrol Firas.
Sepertinya bayi itu menurut pada Ayahnya. Tak lama Firas tidur kembali sehingga Poppy bisa tidur juga.
Karena tol Purbaleinyi tidak terlalu ramai, akhirnya mereka bisa cepat sampai kota Bandung.
Poppy terbangun ketika mobil sedang berhenti di perempatan lampu merah di jalan Pasteur.
“Sudah sampai, Yah?” tanya Poppy dengan suara ciri khas orang bangun tidur.
“Sudah,” jawab Budi.
“Mah, kita lihat pembangunan hotel dulu,” kata Budi.
“Iya,” jawab Poppy yang masih mengantuk.
__ADS_1
“Mama masih ngantuk?” Tanya Budi.
“Iya,” jawab Poppy sambil menguap.
“Ya sudah nanti malam nggak akan Ayah ganggu,” kata Budi sambil senyum-senyum menggoda.
Poppy mendelik ke suaminya.
“Sekarang Ayah ngomong begitu, tapi nanti malam beda lagi,” kata Poppy dengan kesal.
“Nggak boleh galak-galak sama suami, itu dosa,” kata Budi masih samil senyum-senyum menggoda istrinya.
“Terserah Ayah,” kata Poppy sambil menempelkan kepalanya ke kaca pintu mobil lalu memejamkan matanya.
Beruntung perjalanan menuju pembangunan hotel tidak macet, sehingga mereka bisa cepat sampai ke lokasi.
Budi memarkirkan mobil di tempat yang teduh.
“Mama mau ikut turun?” tanya Budi sambil menoleh ke belakang.
“Mau, tapi Firas lagi bobo,” jawab Poppy.
Budi melihat ke belakang jok tempat duduknya. Terlihat Firas sedang tertidur nyenyak di infant car seatnya.
“Ayah ambilkan gendongannya,” kata Budi lalu keluar dari mobil dan membuka bagasi mobil. Tak lama kemudian Budi membuka pintu Poppy dan memberikan gendongan Firas ke Poppy. Dengan perlahan Poppy menggendong Firas
dengan menggunakan gendongan bayi dan memakaikan topi.
Perlahan Poppy keluar dari mobil. Dengan cekatan Budi memayungi anak dan istrinya. Lalu mereka berjalan menuju ke proyek pembangunan hotel. Terlihat ada Egar dan Sarah yang sedang memantau pekerjaan anak buahnya.
“Ada adik bayi,” teriak Sarah yang kegirangan.
Sarah mendekati Poppy melihat Firas yang tertidur di gendongan Poppy. Dengan gemas dicolek-coleknya pipi Firas.
“Iiiiihhhh lutu,” seru Sarah dengan gemas.
“Eh….itu colek-colek pipi bayi. Bersih nggak tangannya?” tegur Egar.
Sarah memandangi jari-jari tangannya. Telapak tangannya memang agak kotor, namun ia menggunakan punggung jari telunjuknya.
“Sarah pakai punggung jari telunjuk,” kata Sarah sambil menunjukkan punggung jari telunjuknya.
“Tetap saja kotor. Pakai hand sanitizer dulu, baru boleh pegang-pegang bayi,” perintah Egar.
Egar mendekati Poppy.
“Apa kabar Bu Poppy?” sapa Egar.
“Baik, Pak Egar,” jawab Poppy.
Sambil cemberut Sarah mengelap tangannya dengan tissue basah, setelah itu ia menyemprot tangannya dengan hand sanitizer.
Poppy tersenyum melihat kelakuan Sarah.
__ADS_1
“Ini udah bersihkan?” Sarah menunjukkan tangannya ke Egar.
Lalu ia melanjutkan kegiatan menoel-noel Firas.
“Mas sini lihat deh. Anaknya Bu Poppy lucu,” kata Sarah menyuruh Egar mendekat.
Egar melihat bayi yang dalam gedongan Poppy.
“Iya lucu,” jawab Egar.
“Aku mau dong yang lucu seperti ini,” pinta Sarah.
“Harus halal dulu, baru bisa punya yang seperti itu,” kata Budi yang tiba-tiba berada di dekat mereka.
“Tuh dengerin,” kata Egar sambil mendorong dahi Sarah dengan telunjuknya.
“Sarah susah diajak nikah. Nggak tau kenapa?”
“Masih mau ngelirik yang ganteng-ganteng kali,” kata Egar.
“Memang mau cari yang bagaimana lagi?” tanya Poppy.
“Ya, nggak yang gimana-gimana. Cuma masih pengen pacaran saja,” jawab Sarah.
"Dosa kalau pacaran terlalu lama," kata Poppy.
"Tuh, dengerin," kata Egar ke Sarah.
“Ayo Pak Budi kita lihat-lihat ke dalam. Biarkan saja para wanita di sini,” ajak Egar.
“Mah, Ayah ke dalam dulu, ya. Mama di sini sama Sarah,” kata Budi.
“Ya, Ayah,” jawab Poppy.
“Sar, titip anak istri saya,” pesan Budi.
“Tenang aja, Bud. Paling nanti bayinya habis dicolek-colek,” kata Sarah.
Kemudian Budi masuk ke dalam proyek meninggalkan Poppy dan Sarah.
Setengah jam kemudian Budi dan Egar datang menghampiri Poppy dan Sarah.
“Sudah lihat-lihatnya, Yah?” tanya Poppy ke suaminya.
“Sudah. Sekarang kita makan siang dulu.”
“Pak Egar kita makan siang dimana?” tanya Budi.
“Saya tau tempat yang nyaman untuk makan siang dan makanannya juga enak.”
“Nanti Pak Budi ikuti mobil saya,” kata Egar.
“Okeh,” kata Budi lalu merangkul istrinya dan menuju ke mobil.
__ADS_1
Merekapun meninggalkan lokasi proyek.