Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
62. Extra Part Terakhir.


__ADS_3

Sembilan Bulan Kemudian.


“Mah, Mamah yakin mau ke Bandung?” tanya Budi sambil memperhatikan istrinya yang sedang memasukkan baju ke koper.


Perut istrinya sudah sangat besar dan kelihatannya posisi bayi dalam kandungannya sudah berada di bawah.


Ini terlihat dari perut istrinya besarnya di bawah. Budi melihatnya agak ngeri, ia takut istrinya melahirkan tiba-tiba. Ia teringat ketika istrinya hamil anak pertama, baru hamil delapan bulan tapi Firas sudah mendesak untuk keluar. Apalagi sekarang hamil  yang kedua sudah sembilan bulan membuat Budi benar-benar khawatir.


Budi menghela nafas.


“Yakin, Yah. Kan menurut perkiraan dokter Mamah melahirkannya masih seminggu lagi,” jawab Poppy.


“Tapi kan itu menurut dokter. Tapi menurut Allah beda lagi, Mah,” kata Budi.


“Ya sudah, kalau sudah waktunya melahirkan di Bandung juga nggak apa-apa. Yang penting bawa surat rujukan dari dokter spesialis kandungan yang sebelumnya,” jawab Poppy.


“Padahal Papih dan Papah sudah menyanggupi menggantikan kita dalam peresmian hotel baru. Jadi kita tidak usah pergi,” kata Budi.


“Semua orang pergi ke Bandung. Masa kita di rumah saja,” Poppy protes.


Budi menghela nafas.


“Jadi Mamah mau jalan-jalan?” tanya Budi.


“Iya,” jawab Poppy.


“Ya, sudah siap-siapkan baju untuk melahirkan dan baju untuk bayi,” kata Budi.


“Iya, Ayah,” jawab Poppy.


“Jangan lupa baju Firas juga bawa yang banyak. Untuk jaga-jaga kalau saja kita akan lama di Bandung,” kata Budi lagi.


“Iya, Ayah. Semuanya sudah di siapkan,” jawab Poppy.


“Bagus,” Budi mengacungkan jempol.


******


Keesokan harinya Budi dan keluarga kecilnya berangkat ke Bandung pagi-pagi sekali. Kali ini Budi menggunakan mobil MPV premium karena ia harus membawa supir dan pengasuh Firas.


“Mbak, barang-barang Firas tidak ada yang ketinggalan?” tanya Budi pada pengasuh Firas.


“Tidak, Pak. Semua sudah dibawa,” jawab pengasuh Firas.


Lalu Budi beralih ke anaknya.


“Firas, mau duduk sama Ayah, nggak?” tanya Budi.


“Mau,” jawab Firas yang kemudian turun dari pangkuan pengasuhnya lalu berjalan ke Ayahnya.


Budi mengangkat anaknya dan didudukan diatas pangkuannya.


Seperti biasa sebelum pergi Budi menitipkan rumahnya pada penjaga rumahnya.


“Pak Amin, titip rumah,ya,” kata Budi.


“Baik, Pak,” jawab Pak Amin.


“Terima kasih , Pak Amin. Saya pergi dulu,” pamit Budi.


“Ya, Pak.”


“Jalan, Ham,” kata Budi ke Ilham


Mobil MPV Premium itu meluncur meninggalkan rumah Poppy.


Di perjalanan Budi mengusap-usap perut istrinya.


“Sayang tahan ya, tunggu sampai kita sampai ke Bandung,” kata Budi mengajak bicara bayi di dalam kandungan istrinya.


Lalu Budi beralih menggenggam tangan istrinya.


“Mamah kalau kerasa apa-apa bilang, ya,” kata Budi kepada istrinya.


“Iya, Ayah,” jawab Poppy.


“Ayah, dedenya mau keyuwai?” tanya Firas.


Budi tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.


“Kenapa? Aa Firas sudah tidak sabar mau main sama adik bayi?” tanya Budi sambil mengusap kepala anaknya.


“Iya, Aa mau main sama dede,” jawab Firas.


“Firas doakan semoga Mamah dan adik bayi sehat, jadi bisa main sama Aa Firas,” kata Budi.


“Heeh,” Firas menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Tak lama batita itu tertidur dipangkuan Ayahnya.


Poppy mengusap kepala anaknya.


“Mamah bobo dulu. Nanti kalau sudah sampai Ayah bangunkan,” kata Budi.


“Nggak ngantuk, Yah,” jawab Poppy sambil mengusap-usap pangkal kakinya.


“Kenapa kakinya? Sakit?” tanya Budi.


“Nggak tau rasanya lemes, pegel dan sakit,” jawab Poppy.


Mendengar ucapan istrinya Budi menjadi tambah cemas.


“Ya sudah, sini Ayah usap-usap,” kata Budi lalu mengusapi pangkal kaki istrinya.


Tak lama kemudian istrinya tertidur.


Melihat istrinya tidur Budi bisa sedikit tenang.


Untung jalan tol tidak terlalu ramai sehingga mobil bisa meluncur tanpa hambatan.


Pukul setengah sebelas mobil sudah menuju pintu tol Pasteur.


Sesuai dengan yang diperkirakan oleh Budi. Budi membangunkan istrinya.


“Mah…bangun, Mah. Sudah sampai,” kata Budi pelan-pelan sambil menepuk-nepuk pangkal kaki istrinya.


Poppy bangun sambil mengedip-ngedipkan matanya.


“Sudah sampai mana Ayah?” tanya Poppy sambil mengambil tumbler dan meminum isinya.


“Pintu tol Pasteur,” jawab Budi.


“Kakinya masih sakit nggak?” tanya Budi.


“Masih,” jawab Poppy sambil meringis.


“Sakit sekali?” tanya Budi khawatir.


“Nggak terlalu tapi lebih sakit dari yang tadi,” jawab Poppy.


Budi mengusap-usap pangkal kaki istrinya, berharap sakit kaki istrinya bisa segera hilang.


Jalan menuju ke Firas”s Hotel & Resto belum begitu macet, sehingga mereka datang tepat waktu.


Mobil MPV Premium masuk ke dalan Firas’s Hotel & Resto nampak tempat parkir sudah mulai penuh. Sepertinya para tamu sudah mulai datang.


Mobil MPV Premium berhenti di lobby resto. Petugas resto membukakan pintu mobil lalu Budi keluar dari mobil sambil menggendong anaknya yang sedang tidur. Ia juga membantu Poppy keluar dari mobil.


“Bisa jalan nggak?” tanya Budi.


“Bisa, Yah,” kata Poppy.


Budi berjalan masuk ke resto sambil menggendong anaknya dan menuntun istrinya berjalan pelan-pelan.


Melihat Budi dan keluarga kecilnya datang Ibu Femi, Ibu Melly dan Ibu Tiara menghampiri mereka.


“Poppy kenapa, Bud?” tanya Ibu Femi sambil mengambil Firas dari gedongan Budi.


“Sakit pangkal kakinya, Mih,” jawab Budi.


Mendengar jawaban Budi Ibu Femi terkejut.


“Itu tanda-tanda melahirkan,” seru Ibu Femi.


“Budi juga berpikir begitu, Mih,” kata Budi.


“Ya sudah, biar Firas sama Mamih. Kamu ajak Poppy istirahat di kamar,” kata Ibu Femi.


“Iya Mih.”


Budi menghampiri istrinya yang sedang dituntun oleh Ibu Melly dan Ibu Tiara.


“Mah, kita istirahat di kamar ya?” ajak Budi.


“Tapi kan Ayah harus meresmikan hotel dan resto,” kata Poppy.


“Udah biarin, Itu urusan Papah dan Papih,” ujar Budi sambil merangkul lengan istrinya.


“Mah, kami ke kamar ya,” kata Budi pamit ke Ibu Melly dan Ibu Tiara.


“Ya, Bud. Suruh Poppy istirahat dulu,” kata Ibu Melly.


Tiba-tiba Rima datang  mendekati Poppy dan memperhatikan belakang baju Poppy.


“Poppy, coba kamu ke kamar mandi dulu. Lihat ****** ***** kamu,” kata Rima.

__ADS_1


“Nanti saja di kamar, Teh,” kata Budi.


“Harus sekarang hanya untuk memastikan keluar darah atau tidak. Soalnya Teteh lihat ada noda di belakang baju Poppy. Tapi karena warna bajunya gelap jadi saru darah atau bukan,” kata Rima.


Budi ke belakang badan istrinya dan melihat noda yang dimaksud oleh Rima.


Benar saja ia melihat noda yang di maksud oleh Rima.


“Ayo, Mah. Ayah antar ke kamar mandi.”


Budi menuntun istrinya ke kamar mandi resto. Tak lama kemudian Poppy keluar dengan wajah pucat.


“Ayah, ada darah di ****** ***** Mamah,” kata Poppy dengan cemas.


“Kita harus segera ke rumah sakit,” Budi menuntun istrinya untuk duduk dulu.


“Ayah telepon Ilham dulu.”


Budi memencet nomor Ilham.


“Ilham kamu siapkan mobil di depan resto sekarang!” kata Budi.


Lalu Budi mematikan teleponnya.


“Sebentar, Ayah pamit dulu ke Mamah,” kata Budi.


Poppy menganguk.


Budi menghampiri Ibu Melly.


“Mah, Poppy harus ke rumah sakit. Poppy keluar darah,” bisik Budi.


Mendengar ucapan Budi, Ibu Melly menjadi cemas.


“Iya, Bud. Nanti Mama nyusul ke sana. Titip Poppy.”


“Iya, Mah.”


Budi kembali ke tempat Poppy duduk, lalu menuntun Poppy menuju mobil.


******


Lima jam kemudian.


“Sekarang sudah pembukaan sepuluh. Ibu sudah bisa melahirkan sekarang,” kata dokter setelah memeriksa jalan lahir Poppy.


“Saya boleh mendampingi istri saya?” tanya Budi.


“Tentu saja boleh,” jawab dokter.


“Bapak bantu angkat badan ibu pas ngeden.”


“Ikuti istruksi saya, ya,” kata dokter.


Budi mengikuti instruksi dari dokter. Ini adalah pertama kali Budi mendampingi Poppy melahirkan. Karena sewaktu Poppy melahirkan Firas mereka belum menikah, sehingga Budi belum bisa mendampingi Poppy melahirkan.


Kali ini Budi melihat sendiri perjuangan istrinya melahirkan anak mereka.


Dalam beberapa detik lahirlah bayi mereka. Terdengarlah suara tangisan bayi dengan begitu kencang.


“Selamat ya, Bu. Bayinya perempuan,” dokter memberikan bayinya kepada Budi untuk diadzankan.


Dengan meneteskan airmata bahagia Budi mengadzani putri mereka. Setelah diadzani ditaruhnya bayi itu diatas dada istrinya. Bayi mungil itu mencari-cari sumber ASinya.


Budi mengecup kening istrinya dengan begitu dalam.


“Terima kasih ya, sayang sudah mau bersusah payah melahirkan anak kita. I love You.”


Dikecupnya bibir istrinya.


THE END.


.


.


.


.


.


.


udah selesai, ya.


author mau semedi di kandang kelinci mau cari ilham buat bikin novel untuk ikut lomba.

__ADS_1


__ADS_2