
Malam hari Budi mengajak Poppy makan malam di restaurant di daerah Dago. Mereka makan malam sambil menikmati pemandangan kota Bandung di malam hari.
“Pak Budi tahu restaurant ini dari mana?” tanya Poppy sambil menikmat steak. Sebelumnya Budi memotong kecil-kecil steak Poppy, sehingga memudahkan Poppy untuk langsung menyantapnya.
“Dari seorang teman, ia merekomendasikan restaurant ini untuk makan malam,” jawab Budi sambil memotong steaknya.
“Pak Budi bilang makan malam dengan siapa ke teman Pak Budi?” tanya Poppy sambil menikmati fruits punch.
“Saya bilang mau mengajak Bu Bos makan malam,” jawab Budi dengan sedikit menekan kata Bu Bos.
Poppy hanya tersenyum mendengarkan jawaban Budi.
Tertengar suara dering ponsel Budi.
“Assalamualaikum, Ma,” salam Budi.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh. Sedang apa Bud?” tanya Bu Tiara.
“Sedang makan malam dengan Bu Poppy, Ma,” jawab Budi.
“Makan malam dengan apa?” tanya Bu Tiara.
“Makan steak, Ma,” jawab Budi.
“Atuh itu bukan makan malam, tapi dinner Budi,” ujar Bu Tiara.
“Sama aja, Ma. Dinner juga makan malam,” jawab Budi sambil minum air putih.
“Iiihh beda, Budi. Kalau makan malam tuh sama sate, ayam goreng, sayur asem, ikan asin, nasi liwet, nasi uduk tempe orek, tempe goreng. Pokoknya makanan Indonesia lah. Tapi kalau makanan western itu baru dinner,” ucap Bu
Tiara panjang lebar.
“Itu kata siapa, Ma?” Budi gemes dari mana mama punya pemikiran seperti itu.
“Kata Farhan dan Fadlan,” jawab Bu Tiara dengan polosnya.
Budi menghela nafas. Adiknya dan adik sepupuhnya memang pemikirannya rada-rada, sampai membedakan antara makan malam dan dinner.
“Itu memang akal-akalan Farhan dan Fadlan, Ma,” kata Budi.
“Oh iya, omong-omong Farhan dan Fadlan. Tadi siang Odie masuk UGD,” kata Bu Tiara.
Budi kaget mendengarnya.
“Odie kenapa Ma?” tanya Budi dengan khawatir.
“Hidungnya kemasukan pilus. Biasa melihat Paman-Pamannya bercanda, pura-pura masukin pilus ke hidung. Odie mengira beneran, jadi dia ikut-ikutan masukin pilus ke hidung,” jawab Bu Tiara.
Budi geram mendengar ulah adik dan adik sepupuh. Mereka kalau bercanda benar-benar keterlaluan.
“Semuanya sudah bisa diatasi. Kebetulan sebelum masuk ke UGD Rima bertemu dengan Nak Reno. Jadi nak Reno yang membantu memanggil dokter THT. Dan Nak Reno juga yang membayar administrasinya. Padahal Rima membawa kartu debit Ayah. Tapi Nak Reno yang duluan mengurus adminitrasi,” terdengar suara Bu Tiara menghela nafas.
“Kata Rima, Nak Reno tidak mau diganti uangnya. Kita jadi hutang budi dengan Nak Reno. Nanti kalau Budi ketemu Nak Reno, ucapkan terima kasih, ya,” kata Bu Tiara.
“Ya, Ma. Akan Budi sampaikan,” jawab Budi.
__ADS_1
“Budi sehat?” tanya Bu Tiara.
“Sehat, Ma. Mama sehat?” Budi balik bertanya.
“Mama sehat. Semuanya sehat,” jawab Bu Tiara.
“Alhamdullilah,” kata Budi.
“Bagaimana keadaan Nak Poppy?” tanya Bu Tiara.
“Alhamdullilah sehat, Ma,” jawab Budi.
“Syukurlah kalau Nak Poppy sehat. Dijaga baik-baik Nak Poppy nya. Jangan sampai terlalu cape,” pesan Bu Tiara.
“Iya, Ma,” jawab Budi.
“Budi kapan pulang?” tanya Bu Tiara.
“Kemungkinan lusa Budi baru pulang. Budi harus survey tempat untuk membuka cabang Rangga’s Hotel & Resto,” jawab Budi.
“Ya sudah, jaga diri baik-baik. Salam ke Nak Poppy, ya. Assalamualaikum,” kata Bu Tiara kemudian menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh,” Budi mematikan sambungan telepon.
Budi menghela nafas.
“Ada apa, Pak Budi? Odie sakit?” tanya Poppy melihat wajah Budi yang terlihat kesal.
"Mama titip salam untuk Bu Poppy," kata Budi.
“Odie masuk UGD. Biasalah ulah Farhan dan Fadlan ngasih contoh yang nggak bener ke Odie,” kata Budi yang masih kesal.
“Untung ketemu dengan Pak Reno di rumah sakit, jadi dibantu oleh Pak Reno. Termasuk biaya administrasi dibayarkan sama Pak Reno. Saya jadi tidak enak dengan Pak Reno.”
“Pak Budi jangan merasa tidak enak dengan Bang Reno. Bang Reno masih bujangan belum menikah, jadi tidak akan ada yang marah atau cemburu kalau Bang Reno membantu Teh Rima,” ucap Poppy dengan tenang.
Budi menoleh ke arah Poppy dengan wajah tanda tanya. Poppy cuma menanggapinya dengan senyuman.
“Pak Budi juga nggak boleh marah kepada Farhan dan Fadlan. Ditegur sih boleh, tapi jangan sampai marah-marah. Dengan masuknya Odie ke UGD, mereka juga sudah menyadari kesalahan mereka. Mungkin mereka akan lebih berhati-hati bercanda di depan Odie,” ucap Poppy yang berusaha menenangkan Budi yang sedang geram kepada adik-adiknya.
“Sekarang untuk meredakan badmood, bagaimana kalau kita makan ice cream coklat? Supaya menetralisir badmood Pak Budi. Besokkan Pak Budi mesti kerja mencari tempat untuk pembangunan cabang Rangga”s Hotel & Resto. Begitu pulang pasti Iapih akan menanyakan apakah Pak Budi sudah menemukan tempatnya atau belum?” kata Poppy panjang lebar.
Budi berpikir sejenak. Ia mencoba mencerna perkataan Poppy. Akhirnya, "Ya, bolehlah ice cream coklat untuk dessert.”
Poppy langsung tersenyum senang. Ia melambaikan tangannya memanggil pelayan.
“Ice cream coklat dua, ya,” kata Poppy begitu pelayan menghampiri mereka.
*******
Pagi ini setelah sarapan Budi dan Poppy mulai mengelilingi kota Bandung. Budi sengaja berangkat setelah jam delapan, agar jalanan tidak terlalu macet.
“Kira-kira Ibu menginginkan berada di tempat yang bagaimana cabang hotel kita ini?” tanya Budi sambil fokus menyetir karena jalanan lumayan padat.
“Saya mau berada di daerah strategis, daerahnya tidak padat dengan bangunan dan suasananya agak cozy dan masih asri,” jawab Poppy sambil mengelus-elus perutnya dengan nyaman.
__ADS_1
“Hmm, agak susah juga mencari tempat seperti itu. Kalaupun ada harganya pasti mahal,” kata Budi sambil berpikir.
“Kita punya dana berapa untuk membuka cabang?” tanya Poppy penasaran.
Budi menyebutkan nominalnya yang membus angka trilyun. Poppy menghela nafas mendengar nominal yang disebutkan Budi. Darimana suaminya mendapatkan uang sebesar itu?
“Apakah dana itu pinjam dari bank?” tanya Poppy berhati-hati, ia takut jawaban dari Budi akan mengecewakan dirinya.
Budi menoleh ke arah Poppy, terlihat Poppy begitu khawatir. Khawatir kalau suaminya itu berhutang pada bank atau berhutang pada investor. Masih lebih baik jika suaminya mendapatkan suntikan dana segar dari Papihnya.
“Oh…Bukan, Bu. Bukan pinjam dari bank dan bukan dari investor.Dan bukan suntikan dana segar dari Pak Rahadian. Ini murni keuntungan yang didapat dari hotel & resto milik Pak Rangga,” ujar Budi seolah-olah bisa membaca pikiran Poppy.
Mendengar jawaban Budi, Poppy bernafas lega sambil mengelus-elus dadanya. Rasanya ia membenarkan jawaban Budi. Suaminya memang seorang pengusaha, tetapi kehidupan suaminya sangat sederhana jika di bandingkan oleh pengusaha lain yang bergerak di bidang yang sama.
Pantas saja mertuanya sangat mendukung pembangunan cabang ini. Berarti ia tidak boleh main-main dalam mencari lokasi untuk cabang baru, harus berada di kawasan strategis dan di tempat yang tepat.
“Kita mencarinya sampai mendapatkan tempat yang tepat, ya Pak Budi. Tidak apa-apa jika hari ini kita belum menemukannya. Besok kita masih bisa mencari lagi. Tidak apa-apa kan kalau pulangnya diundur lagi? Apa Pak Budi
ada urusan kantor yang mendesak?” tanya Poppy dengan begitu semangat.
“Tidak apa-apa, Bu. Biar Pak Zaki dan Jaka belajar mengatasi masalah di kantor. Buat apa Ibu menggaji mereka kalau mereka tidak bisa bekerja,” jawab Budi dengan santai.
“Oke kalau begitu. Mari kita kerja. Semangat!!!” seru Poppy sambil mentinju kepalan tangannya keatas.
Budi tersenyum melihat Poppy yang begitu semangat.
Ternyata rencana tidak sesuai dengan kenyataan. Mencari tempat yang diiinginkan Poppy tidaklah mudah membutuhkan waktu yang lama dan mata yang jeli untu mencarinya. Sampai akhirnya mereka memasuki jalan Dago.
Terlihat Poppy begitu fokus melihat ke kanan dan ke kiri.
“Pak Budi, nanti di depan belok ke kiri, ya,”seru Poppy sambil menunjuk kearah depan.
“Baik, Bu,” jawab Budi sambil menyalakan sein ke kiri.
Budi membelokkan mobil ke kiri. Poppy masih fokus memandang ke arah kanan dan kiri. Tiba-tiba..
“Stop, Pak Budi!” seru Poppy.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang mampir tinggalin jejak, ya!!!!! 😘🥰😍
__ADS_1