
Keesokan harinya pagi-pagi sekali para Kakek dan Nenek sudah datang. Mereka membawakan makanan yang banyak.
“Wah cucu kakek lagi mandi, ya?” Pak Brata mendekati Poppy sedang memandikan anak sholeh.
“Bisa mandiinnya nggak?” tanya Pak Brata melihat Poppy yang masih takut-takut memandikan bayinya.
“Bisa Pa, lihat di yulupe, jawab Poppy.
Budi menjaga di samping Poppy. Tak lama kemudian acara memandikan anak sholeh telah selesai.
Bu Melly menggedong anak sholeh sudah selesai mandi.
“Ini Ayah dan Mamanya sudah mandi belum?” tanya Bu Melly melihat wajah Poppy dan Budi masih kucel.
“Belum, Ma,” jawab Poppy.
“Sudah sana mandi biar bayinya Mama yang menjaga,” perintah Bu Melly.
“Iya, Ma,” jawab Budi dan Poppy.
Kemudian Budi dan Poppy bergantian mandi.
Setelah mereka mandi, datanglah petugas catering rumah sakit membawa sarapan untuk Poppy.
“Tuh, sarapanya sudah datang. Mamanya makan dulu nanti baru nyusuin bayinya,” kata Bu Melly.
“Ini sarapan ayahnya,” kata Bu Femi sambil menodorkan rantang.
“Ayo ini juga aki dan kakeknya belum sarapan. Tadi bilangnya mau sarapan bareng sama cucunya.” ajak Bu Femi.
“Nanti dulu, Mih. Mau ngajak main cucu dulu,” jawab Pak Rahadian yang sedang asyik mencolek cucunya.
“Ya, sudah. Ayahnya aja yang sarapan dulu. Sini Bud sarapan dulu,” ajak Bu Femi sambil menata sarapan di atas meja.
Budi mendekati Bu Femi yang sedang menata makanan. Lalu mengambil sendiri nasi dan lauk pauknya.
Pak Rahadian melihat Budi, ia jadi ingat tugas yang ia berikan kepada Budi.
“Budi, jadinya siapa nama cucu Papih?” tanya Pak Rahadian.
“Papih, Budi lagi makan sudah ditanyain nama cucu,” tegur Bu Femi.
Budi mengunyah makanan di dalam mulutnya sampai habis. Baru ia menjawab pertanyaan Pak Rahadian.
“Namanya Firas Randi Rahadian,” jawab Budi.
Pak Rahadian mengerutkan keningnya.
“Artinya apa tuh, Bud? “ tanya Pak Brata.
“Firas artinya gigih. Walaupun ketuban sudah pecah anak sholeh begitu berusaha untuk cepat lahir tanpa harus diinduksi.”
“Randi gabungan dari Rangga Budi. Itu mengingatkan anak sholeh mempunyai Papa Rangga dan Ayah Budi.”
“Rahadian untuk menunjukkan kalau anak sholeh adalah keturunan dari keluarga Rahadian,” Budi menerangkan dengan panjang lebar.
Pak Rahadian mengangguk-angguk mengerti.
“Boleh….Papih suka dengan nama yang kamu berikan,” puji Pak Rahadian.
“Budi, kok Papa nggak kebagian?” protes Pak Brata.
“Brata nanti nama kamu bisa untuk nama belakang anaknya Reno,” terang Pak Rahadian.
Namun Poppy juga protes.
“Aa, kenapa Poppy tidak kebagian namanya? Kenapa cuma nama Akang Rangga dan Aa Budi yang dipakai? Poppy kan yang mengandungnya sampai tujuh bulan lebih,” Poppy protes.
Budi menghela nafas.
“Ya sudah, nanti Aa ganti lagi,” kata Budi dengan mengalah.
“Eh…..jangan, sudah bagus itu. Nanti nama Poppy diambil untuk anak kedua,” saran Pak Rahadian.
“Iya deh,” kata Poppy dengan murung.
“Udah, nanti kalau Firas sudah besar kasih dia adik perempuan. Biar bisa pakai nama Poppy,” hibur Bu Femi.
Poppy berpikir sebentar.
“Iya deh, A. Tapi kalau nanti adiknya Firas perempuan pakai nama Poppy, ya?” ujar Poppy.
“Siap Bu Bos,” jawab Budi.
“Sudah sekarang Ayah dan Mama terusin lagi makannya. Ini anaknya keburu nangis,” kata Bu Melly.
Namu tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar.
“Assalamualaikum,” Pak Aep dan Bu Tiara datang.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarukatuh,” jawab semua yang ada di dalam
ruangan.
“Wah…. besan datang. Sini besan masuk kita kumpul-kumpul sama cucu,” kata Pak Brata.
Hari ini kamar inap Poppy menjadi ramai. Seharian para Kakek dan Nenek berada di rumah sakit, menemani cucu mereka yang baru lahir.
Keesokan harinya Poppy dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Dan sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Poppy.
“Ayah, kita mau kemana? Kok tidak seperti jalan pulang ke rumah?” tanya Poppy sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Kita mampir sebentar ke Papanya Firas,” jawab Budi sambil fokus menyetir.
Poppy menoleh ke Budi.
“Kita mau ke Akang Rangga?’ tanya Poppy.
“Iya, sebentar saja kok, nggak lama,” kata Budi dengan tenang.
Tak lama kemudian mereka memasuki areal pemakaman mewah.
Budi memarkirkan mobinya tidak jauh dari makam Rangga.
Budi membukakan pintu Poppy. Dengan hati-hati Poppy keluar dari mobil agar kepala bayi Firas tidak terbentur pintu mobil.
“Sebentar Ayah ambil payung dan kursi dulu,” kata Budi.
Poppy menganguk.
__ADS_1
Budi mengambilkan payung dan kursi lipat di bagasi mobilnya.
Semenjak Budi dekat dengan Poppy, ia menyimpan kursi lipat di mobilnya. Untuk
jaga-jaga apabila Poppy membutuhkan.
Budi membukakan payung dan memayungi Poppy.
“Ayo kita ke Papanya Firas,” ajak Budi.
Poppy berjalan sambil menggendong Firas. Budi berjalan di belakangnya sambil memayungi Poppy dan Firas. Setelah mereka sampai di makam Rangga,
Budi memasangkan kursi lipat untuk Poppy.
“Nyaman nggak duduknya?” tanya Budi dengan cemas. Ia takut Poppy dan Firas terjatuh.
“Udah nyaman kok. Nggak goyang-goyang,” kata Poppy.
“Assalamualaikum,” Poppy mengucapkan salam.
Poppy memulai doanya. Ia mendoakan mantan suaminya. Budi berdiri di sebelahnya sambil terus memayungi Poppy dan bayi Firas.
Setelah selesai berdoa, Poppy menyapa mantan suaminya.
Seolah almarhum mantan suaminya mendengarkan pembicaraannya.
“Akang Poppy datang bersama dengan anak kita Firas dan Aa Budi suami Poppy.”
“Alhamdullilah Firas sudah lahir dengan selamat. Firas dalam keadaan sehat dan dia anak yang kuat.”
“Sekarang Poppy tidak sendiri lagi ada Firas yang menemani Poppy dan Aa Budi yang menjadi imam Poppy.”
“Terima kasih Akang sudah mendampingi Poppy, menyayangi Poppy dan memberikan Poppy anak yang sholeh.”
“Semoga Akang tenang di sana,” kata Poppy dengan berlinang air mata.
“Firas, nanti kalau Firas sudah besar doakan Papa selalu, ya Nak,” diciumnya pipi Firas yang gembul
“Poppy, pulang dulu Kang. Assalamualaikum,” Budi membantu Poppy beranjak dari duduknya.
Budi mengambil kursi lipat. Sebelum pergi Budi mengucapkan salam, “ Assalamualikum Pak Rangga.”
Lalu Budi pergi mengikuti Poppy dari belakang. Merekapun meninggalkan areal pemakaman.
******
Satu Bulan Kemudian.
Di sebuah Ballroom sebuah hotel sedang ada resepsi pernikahan. Ditengah hiruk pikuk tamu yang hadir ada seorang bayi kecil sedang menangis dipangkuan pengasuhnya. Bayi itu merengek tidak berhenti. Pengasuhnya menggendong sambil mengayun-ayunkan badannya agar bayinya itu berhenti menangis.
Bu Femi melihat cucunya sedang merengek di pangkuan pengasuhnya. Kemudian Bu Femi menghampiri.
“Firas kenapa, Mbak? Nangisnya kok tidak berhenti,” tanya Bu Femi sambil mengusap-usap kepala cucunya.
“Kemarin habis divaksin, Bu. Jadinya rewel,” kata pengasuh cucunya.
“Sini Firas sama Enin aja, ya,” Bu Femi mengambil Firas dari gedongan pengasuhnya.
“Biasanya kalau Firas lagi rewel terus di gendong sama Bapak langsung berhenti nangisnya,” kata pengasuh.
“Oh, mau ke Ayah, ya?” tanya Bu Femi.
“Mbak, tolong ambilkan kain flannel Firas satu,” kata Bu Femi.
Dengan sigap pengasuh Firas mengambilkan kain flannel dari tas Firas dan diberikan ke Bu Femi.
“Ayo kita ke Ayah,” Bu Femi membawa Firas mendekati pelaminan.
Budi dan Poppy nampak sibuk menyalami para tamu yang memberikan selamat kepada mereka.
Namun tanpa sengaja Budi melihat Bu Femi menggendong Firas di depan pelaminan. Budi pamit kepada para tamu, lalu ia turun dari pelaminan.
“Firas kenapa, Mih?” tanya Budi melihat anaknya yang sedang merengek dipelukan neneknya.
“Firas rewel, mau sama Ayah katanya,” jawab Bu Femi.
“Oh… mau digendong ayah, ya?” Budi mengangkat Firas dari pelukan Bu Femi.
“Nanti dulu, bajunya dilapisi kain flannel dulu. Biar tidak melukai kulit Firas,” seru Bu Femi.
Bu Femi menutupi baju Budi bagian dada dengan kain flannel.
Setelah itu barulah Budi mendekap Firas di dadanya. Setelah berada di dekapan sang Ayah Firas lebih tenang.
Budi membawa Firas ke atas pelaminan. Melanjutkan menyalami tamu yang
mengucapkan selamat.
Poppy lihat anaknya yang tidur di dekapan suaminya.
“Firas lagi apa?” tanya Budi sambil berbisik.
“Tidur ,” jawab Poppy dengan berbisik.
Sementara itu di atas panggung ada Dicky bersama istrinya Ani menyumbangkan sebuah lagu.
“Untuk adik kami Poppy dan Budi semoga menjadi keluarga sakinah mawadah dan warohmah. Kami akan menyumbangkan sebuah lagu Saat Denganmu.”
Kumemandangi
Jalan-jalan di depan rumahmu
Ingin kuberlari
Dan berharap ada kau di situ
Kuingin jumpa denganmu
Lalu memanggil namamu
Entah mengapa aku rindu?
Kumemandangi
Dinding-dinding di dalam kamarku
Kuingin bermimpi
Dan berharap melihat wajahmu
__ADS_1
Ingin kujumpa dirimu
Lalu menjawab sapamu
Aku juga merasa rindu
Ada yang berbeda saat denganmu
Aku bahagia, aku jatuh cinta
Semua tiba-tiba, uh serasa
Kita terlena dalam asmara
Aku cinta kepadamu juga sayang kepadamu
Hai kau kekasih
'Ku tak mau kehilangan kamu
Dan kau yang tersayang
'Ku tak mau kau tinggalkan daku
Ingin kupeluk dirimu
Kuingin kau pun merayu
Betapa indah segalanya
Ada yang berbeda saat denganmu
Aku bahagia, aku jatuh cinta
Semua tiba-tiba, uh serasa
Kita terlena dalam asmara
Ada yang berbeda saat denganmu
Aku bahagia, aku jatuh cinta
Semua tiba-tiba, uh serasa
Kita terlena dalam asmara, aa-aa
Ingin kupeluk dirimu
Kuingin kau pun merayu
Betapa indah segalanya
Segalanya
Ada yang berbeda saat denganmu
Aku bahagia, aku jatuh cinta
Semua tiba-tiba, uh serasa
Kita terlena dalam asmara
Ada yang berbeda saat denganmu
Aku bahagia, aku jatuh cinta
Semua tiba-tiba, uu-uuh
Kita terlena dalam asmara
( Putut Mahendra dan Rina Wahyu : Saat Denganmu )
THE END
.
.
.
.Terima kasih kepada pembaca yang sudah
berpatisipasi menyumbangkan nama untuk anak sholeh.
.Terima kasih atas kehadirat Allah SWT karena rahmat dan karunianya saya bisa menulis novel perdana saya.
.Terima kasih kepada almarhumah Nanan ( Mama ) yang sudah melahirkan, mendidik, membesarkan dan selalu mendoakan saya sehingga menjadikan saya orang yang berguna.
·Terima kasih kepada Abah ( Papa ) yang selalu mensupport dan mendoakan saya, menjadikan saya orang yang berarti di masyarakat.
·Terima kasih untuk suamiku tercinta yang sudah memberikan dukungan dan yang selalu sabar karena dicuekin.
·Terima kasih untuk anak-anakku tersayang yang selalu sabar dicuekin sama Mimihnya karena kesibukan sehari-hari.
·Terima kasih kepada para pembaca yang sudah mau membaca dan memberikan dukungan pada novel perdana saya ini.
.Terima kasih kepada teman-teman saya yang telah memberikan dukungan :
Gallon
Bude
Refrina ( Cika )
Akha Kudett
Rani Des ( Rani_Ceu Nas )
Al ( Ify bjn )
Dan masih banyak lagi yang tidak bisa
disebutkan satu-satu.
·Terima kasih kepada Manga Toon dan Novel Toon yang sudah memberikan saya kesempatan untuk menulis di platform ini.
. Sampai berjumpa lagi di novel saya yang
selanjutnya.
__ADS_1