Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
27. Mengajak Menikah.


__ADS_3

Dengan gusar Budi menyetir mobilnya. Perasaan panik, marah dan khawatir bercampur jadi satu. Tapi akal sehatnya harus tetap jalan agar ia bisa menyetir dengan selamat sampai di rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit dan memarkirkan mobil, Budi berjalan cepat menuju kamar inap Poppy. Budi membuka pintu kamar Poppy dan ia tidak melihat Kevin. Di ruangan itu hanya terlihat Poppy dan dokter yang sedang mengatur selang infus.


“Assalamualaikum,” Budi mengucapkan salam sambil menyimpan tas kerjanya di sofa dan menyimpan tas kain yang berisikan tempat makanan di atas meja.


“Waalaikumsalam,” jawab Poppy dan dokter itu.


Dokter itu menoleh ke arah Budi. Dan ternyata dokter itu adalah Reno. Budi menarik nafas lega.


“Kenapa, Bud? Nafasnya kok seperti habis dikejar  hantu?” tanya Reno.


“Saya takut Kevin berbuat macam-macam pada Poppy,” jawab Budi dengan nafas ngos-ngosan.


“Oh….Kevin. Begitu dia melihat saya langsung pamit pergi. Nggak lama kemudian istrinya datang, tapi begitu dia melihat saya langsung kabur ketakutan,” kata Reno dengan tenang.


“Alhamdullilah. Tadi saya sudah panik duluan. Takut Kevin mengganggu Poppy dan takut Tantri tiba-tiba menyusul ke sini,” kata Budi dengan lega.


“Itu istrinya Tantri kok bisa tau, ya kalau suaminya pergi menemui Poppy? Apa punya mata-mata yang mengikuti kemanapun suaminya pergi?” tanya Reno.


“Mungkin juga sih, pak,” jawab Budi.


Budi menghampiri Poppy, “Ibu tidak apa-apa? Bagaimana dengan anak sholeh? Apa dia juga ikut panik?”


“Kami baik-baik saja. Tadi waktu Kevin datang perut rasanya kencang sakit sekali,” jawab Poppy.


“Tadi sekarang sudah tidak lagi,” lanjut Poppy.


Mata Poppy mengarah ke meja sofa.


“Mana siomaynya? Bawa nggak?” tagih Poppy.


“Bawa, sebentar saya ambilkan,” Budi mengambil tempat makanan di dalam tas kain dan di berikan ke Poppy.


Poppy membuka tempat makanan di dalamnya ada siomay yang menggugah selera.


“Jangan dikasih bumbu kacang, ya. Dikasih kecap aja,” kata Budi.


“Iya,” jawab Poppy sambil menyantap siomay.


Reno menghampiri Poppy dan melihat siomay Poppy yang enak.


“Abang tidak dibagi, Pop?” tanya Reno melihat adiknya makan dengan lahap.


“Nggak ini khusus untuk Poppy. Abang makan nasi aja. Sebentar lagi Upi ke sini membawa makanan,” kata Poppy dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Benar saja tak lama kemudian Upi datang membawa makanan yang banyak untuk Budi dan Reno.


“Nah abang dan Pak Budi makan masakan dari rumah,” kata Poppy menunjuk ke rantang yang dibawa Upi.


“Alhamdullilah, abang sudah lapar,” Reno dan Budi langsung cuci tangan.


Dan merekapun makan dengan tenang.


Setelah selesai makan Reno pamit untuk bekerja. Sedangkan Budi memilih bekerja di kamar inap Poppy untuk menemani Poppy.


“Upi, tolong belikan saya jus di kantin. Saya mau jus sirsak. Upi terserah jus apa,” kata Budi sambil memberikan uang selebar seratus ribu kepada Upi.

__ADS_1


“Bu Poppy mau jus apa?” tanya Upi.


“Saya mau juice alpukat,” jawab Poppy.


Lalu Upi pergi menuju kantin rumah sakit. Setelah Upi pergi, Budi mendekati Poppy. Ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Poppy. Budi mengambil nafas panjang.


“Ada apa, Pak Budi?” tanya Poppy.


“Bu, saya sudah memutuskan untuk menikahi ibu. Sepulang kita dari Bandung nanti saya akan melamar ibu,” kata Budi to the point.


Poppy diam memandangi Budi.


“Apa Pak Budi serius dengan apa yang Pak Budi katakan?” tanya Poppy.


“Saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya,” jawab Budi.


“Saya takut nantinya Pak Budi akan menyesal jika menikah dengan saya. Saya ini janda dalam keadaan hamil, usia saya lebih tua dari Pak Budi,” lirih Poppy sambil menunduk dan memainkan selimut.


“Cinta tidak pernah memandang status gadis atau janda. Lebih tua atau lebih muda. Dan saya tidak pernah main-main dengan isi hati saya,” jelas Budi.


“Saya sudah meminta restu pada ayah saya, dan beliau merestui hubungan kita. Ayah menginginkan saya secepatnya minta ijin ke Pak Rahadian dan melamar ibu ke Pak Brata,” lanjut Budi.


Poppy mengangkat wajahnya dan memandangi wajah Budi. Budi tersenyum ke Poppy. Poppy menunduk malu.


“Kita menikah setelah anak sholeh lahir. Tidak apa-apa akad nikah dulu, yang penting sudah halal, sah secara hukum dan agama,” jelas Budi.


Poppy langsung mengangkat wajahnya karena kaget.


“Secepat itu?” tanya Poppy.


“Kenapa? Nggak mau cepat-cepat menikah?” Budi malah balik bertanya sambil senyam senyum.


“Tapi kenapa terburu-buru?” tanya Poppy sekali lagi.


“Kan enak kalau cepat-cepat menikah, bisa dipeluk-peluk. Niat baik harus disegerakan,” jawab Budi masih sambil senyam-senyum.


“Pak Budi mesum,” Poppy memukul Budi dengan bantal.


“Kalau sudah menIkah yang mesum-mesum itu halal dan ibadah. Ibu kan sudah pernah merasakan,” kata Budi dengan menggoda Poppy.


Poppy cemberut mendengar perkataan Budi. Lalu ia mengusap perutnya.


“Lalu bagaimana dengan anak sholeh,” kata Poppy sambil mengusap perutnya yang membuncit.


“Anak Bu Poppy adalah anak saya juga. Kita besarkan dan didik anak sholeh bersama-sama,” jawab Budi dengan penuh keyakinan.


Poppy memandangi dan mengusap-usap perutnya.


“Kamu dengar itu, nak. Om Budi ingin menikahi mama dan menjadikanmu anaknya. Nanti kalau om Budi ingkar janji kita pecat saja dia dan kita usir dari rumah kita,” kata Poppy kepada bayi dalam kandungannya sambil bercanda.


“Iya, kalau om Budi salah. Om Budi siap menerima semua hukumannya,” jawab Budi pasrah.


Tiba-tiba Poppy merintih kesakitan.


“Auww…auww sakit nak, sakit…….,” Poppy merintih kesakitan dan terus mengusap perutnya.

__ADS_1


Melihat Poppy yang merintih kesakitan, Budi menjadi panik.


“Bu…ibu kenapa? Apa yang sakit Astafirullohalazim…..astafirullohalazim……,”ucap


Budi.


Tak lama kemudian rasa sakit diperut Poppypun berkurang. Poppy masih terus mengusap perutnya.


“Anak sholeh marah kalau saya akan mengusir Pak Budi. Anak ini lebih membela om Budi daripada mamanya,” kata Poppy yang tekulai lemah setelah anaknya bergerak tidak bisa diam hingga Poppy merasa kesakitan.


Budi tersenyum.


“Itu berarti anak sholeh lebih sayang kepada om Budi daripada ke mamanya,” ujar Budi.


“IIIhhh curang mamanya yang mengandung, tapi sayangnya ke om Budi,” protes Poppy dengan cemberut.


“Tapi faktanya demikian,” Budi senyum penuh kemenangan.


Upi masuk ke dalam kamar dengan membawa jus yang dipesan, lalu memberikan uang kembalian.


“Upi kalau mau menonton TV nyalakan saja, ini remotenya,” kata Poppy sambil menyodorkan remote TV ke Upi, lalu Upi mengambil remote dari tangan Poppy. Sekarang Upi nampak anteng dengan menonton TV sambil meminum juice.


“Tadi Pak Budi bilang kita akan pergi ke Bandung. Memang ada urusan apa di Bandung?” tanya Poppy sambil menyeruput juicenya.


“Oh…. kita ada janji ketemu dengan arsitek. Ibu sudah ada gambaran konsep  hotel dan resto baru mau seperti apa?” tanya Budi.


Poppy menggelengkan kepalanya.


“Coba mulai sekarang bu pikirkan konsepnya. Nanti kita bicarakan dengan arsiteknya, agar design bangunan hotel dan restonya sesuai dengan yang ibu inginkan,” usul Budi.


“Tapi waktunya sudah mepet, ya?” tanya Poppy dengan kecewa.


“Nggak, saya minta di undur karena ibu sedang sakit,” jawab Budi dengan tenang.


“Nanti malam saja saya cari konsepnya. Kalau sekarang belum ada gambaran,” kata Poppy.


“Tenang saja tidak usah terburu-buru,” ucap Budi.


.


.


.


.


.


.


..


.


Tolong tinggalkan jejak, ya. Like and comment.

__ADS_1


Biar author semangat up nya.


__ADS_2