
Tiba-tiba Reno muncul di depan pintu ruang tamu.
“Rima minta lamarannya diundur, karena tidak enak kepada paman dan bibinya,” Reno duduk di samping Budi.
“Mereka sedang mempersiapkan untuk melamar Poppy,” lanjut Reno.
“Tapi kamu dengan pedenya nyela pengen duluan melamarnya,” kata Pak Brata dengan kesal.
“Tapi kan Budi sudah diperbolehkan kalau Reno yang duluan yang melamar Rima,” kata Reno dengan perasaan tidak bersalah.
“Itu karena dia tidak enak hati sama kamu. Kamu itu kakaknya Poppy, dengan terpaksa dia harus mengalah,” papar Pak Rahadian.
“Reno kamu itu sudah dewasa, sudah hampir tiga puluh lima tahun, tapi pas mau nikah kelakuankamu persis seperti ABG labil,” kata Pak Brata dengan kesalnya.
“Sudah, pak. Biar saya ngelamarnya hari Kamis saja. Jadi Pak Reno ngelamarnya bisa sesuai dengan kemauan Pak Reno,” tutur Budi.
“Hari Kamis besok?” tanya Reno.
“Iya, pak,” jawab Budi.
“Berarti Rima sibuk membantu kamu dan tidak bisa mempersiapkan untuk acara lamaran Rima,” Reno protes.
“Tidak, pak. Saya tidak akan melibatkan teh Rima dan kedua orang tua saya. Karena hantaran saya hanya berupa perhiasan emas, kue dan buah-buahan. Sedangkan untuk hidangan para tamu Bu Poppy akan order dari resto saja,” papar Budi.
Reno diam mendengar perkataan Budi.
“Reno dengerin tuh, mestinya kamu juga seperti Pak Budi jangan merepotkan orang lain. Apalagi merepotkan Bu Tiara dan Pak Aep. Dan jangan mengganggu Pak Budi, dia sibuk dengan hotel dan resto milik Poppy,” kata Pak Brata.
“Poppy kan punya resto jadi bisa order makanannya dari resto, masa Reno harus order makanan dari kantin rumah sakit untuk hidangannya?” sindir Reno.
“Nggak apa-apa, yang penting kamu tidak merepotkan keluarga Pak Budi. Mereka tau beres, tinggal menyambut kedatangan kita,” kata Bu Melly.
“Terus hantarannya siapa yang membeli?” tanya Reno.
“Beli sendiri pakai uang sendiri. Kamu kan dokter spesialis bedah syaraf uang kamu pasti banyak,” jawab Pak Brata.
“Tapi kan Reno tidak tau harus beli apa saja?” Reno kebanyakan alasan.
__ADS_1
“Ajak Rima belanja, suruh pilih dia mau dikasih apa saja. Terus beli cincin,” jawab Bu Melly.
“Jangan lupa kue dan buah untuk tambahan hantarannya,” lanjut Bu Melly.
“Pokoknya kamu harus tunjukan ke Pak Aep dan Bu Tiara bahwa kamu itu calon menantu yang bisa diandalkan,” tegas Pak Brata.
“Siap, bos,” Reno memberikan sikap hormat kepada Pak Brata.
“Reno, pergi dulu. Assalamualaikum,” pamit Reno.
“Waalaikumsalam. Reno, kamu mau kemana?” seru Bu Melly melihat anaknya sulungnya pamit keluar rumah.
“Mau praktek dulu, ma. Cari modal buat nikah,” jawab Reno sambil jalan keluar dari rumah Pak Brata.
Pak Brata cuma mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya.
******
Sepulangnya Budi dari rumah Pak Brata, Budi menceritakan semua rencananya kepada orang tuanya dan Rima.
“Teteh jangan merasa tidak enak. Sekarang yang penting teteh bahagia dan Odie senang punya papa baru,” ujar Budi.
“Terima kasih, Budi,” ucap Rima sambil menitikan air mata.
“Sama-sama, teh,” balas Budi.
“Nanti siapa yang membelikan perhiasan untuk hantarannya?” tanya Bu Tiara sambil memotong kue yang dibawa Budi dari Bandung.
“Budi menyuruh Irma dan Reva yang membelikan perhiasanya. Sama pesan kue, parcel buah dan buket bunga,” Budi mengambil sepotong kue dan memakannya.
“Jangan suka mencampur adukkan urusan kantor dan urusan pribadi, Bud,” saran ayah.
“Nggak apa-apa, yah. Pak Rahadian yang menyuruh,” ujar Budi.
“Oh, ya sudah kalau memang Pak Rahadian yang menyuruh.”
“Mama dan teteh fokus pada acara lamaran teteh,” saran Budi.
__ADS_1
“Mama harus cari catering sama pesan kue,” kata Bu Tiara sambil masuk ke kamarnya.
Tak lama kemudian Bu Tiara keluar sambil membawa ponselnya. Mulailah Bu Tiara sibuk mencari catering dan memesan kue.
*****
Keesokan harinya Budi memanggil Irma dan Reva ke ruangan kerjanya.
“Duduk,” perintah Budi pada Irma dan Reva.
Budi menuliskan sesuatu di kertas.
“Dengarkan baik-baik. Hari ini saya meminta tolong kepada kalian untuk ke toko emas, toko kue, toko buah dan toko bunga. Tolong kalian pesankan kue yang enak dan cantik, parcel buah dan buket bunga yang bagus untuk Bu Poppy. Setelah itu belikan perhiasan emas yang manis untuk Bu Poppy serta belikan cincin untuk melamar. Kalian pesan kue, parcel dan buket bunganya sebelum kaliam membeli perhiasan. Setelah membeli perhiasan kalian langsung kembali ke kantor jangan kemana-mana lagi!!!” perintah Budi.
“Pak, kue, parcel dan buket bunganya untuk kapan?” tanya Irma.
“Untuk besok sore. Sekitar jam tiga saya ambil pesanannya,” jawab Budi.
“Perhiasan emasnya yang seperti apa?” tanya Reva.
“Pokoknya yang sesuai dengan selera Bu Poppy. Kalian pasti tau selera Bu Poppy seperti apa,” jawab Budi.
“Inget ya, perhiasan emasnya belum termasuk dengan cincin untuk melamar,” ujar Budi.
“Tapi pak, kami perginya naik apa?” tanya Irma dengan memasang muka bingung.
“Kalian diantar Ilham, naik mobil Bu Poppy. Sekarang Ilham sudah menunggu di depan,” jawab Budi.
Budi memberikan sebuah kartu dan secarik kertas.
“Bayarnya pakai kartu debit ini dan ini nomor pin nya.”
“Siap, pak,” kata Irma dan Reva dengan serentak.
Mereka langsung keluar dari ruang kerja Budi.
Setelah mematikan computer dan mengambil tas Irma dan Reva langsung pergi meninggalkan kantor.
__ADS_1