Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
43. Ke Dokter Kandungan


__ADS_3

Tak lama kemudian Budi datang sambil menarik koper Poppy.


“Kalau sudah sholat diganti bajunya, biar enak bobonya,” kata Budi.


Poppy menjawabnya hanya dengan mengangguk.


“Kalau mau ganti baju ditutup dulu kamarnya. Saya sholat dulu,” Budi meninggalkan kamar Poppy.


Setelah sholat dan berganti baju Budi masuk ke kamar Poppy. Terlihat bumil itu sedang tidur. Budi mendekati dirabanya dahi Poppy terasa agak panas.


Merasa ada yang memegang keningnya Poppy terbangun.


“Pak Budi?”


Budi tersenyum, “Mau teh manis?”


Poppy mengangguk.


“Sebentar saya buatkan dulu,” Budi membuatkan Poppy teh.


Tak lama kemudian teh manis sudah siap.


“Hati-hati masih panas,” Budi memberikan teh manis ke Poppy.


Budi kelihatannya sedang sibuk dengan ponselnya.


“Pak Budi lagi apa?” tanya Poppy sambil menyeruput teh manisnya.


“Cari dokter kandungan. Kita ke dokter, ya,” kata Budi.


“Tapikan Pak Budi ada janji dengan Pak Egar,” kata Poppy.


“Demi kenyamanan ibu, saya memutuskan untuk tidak bekerjasama dengan Pak Egar,” Budi meletakkan ponselnya dan memdekati Poppy serta menatapnya.


“Baru kenal dengan Sarah, ibu sudah sakit apalagi kalau menjalin kerjasama dengan Pak Egar. Saya takut nanti terjadi apa-apa sama ibu. Resikonya terlalu berat,” kata Budi sambil menatap wanita yang dicintainya.


“Saya tidak apa-apa, saya percaya pada Pak Budi.”


“Nanti ibu uring-uringan terus menerus. Kasihan anak sholeh kalau mamanya uring-uringan terus,” kata Budi.


“Saya tidak akan uring-uringan, percaya sama saya. Sekarang sudah hampir jam tiga sudah waktuya ke kantor Pak Egar,” ujar Poppy.


“Benarkah tidak apa-apa? Tapi kalau ada rasa yang mengganjal atau perasaan tidak enak, tolong bicarakan dengan saya. Kita harus saling terbuka satu sama lain,” kata Budi sambil menatap Poppy.


Ingin rasanya Budi memeluk tubuh yang ringkih di depannya, mengusap rambutnya dan mencium kening dan bibirnya yang pucat. Ah…..Budi benar-benar tidak sabar menunggu saat-saat ia diperbolehkan melakukan itu semua.


“Sekarang Pak Budi siap-siap untuk pergi ke kantor Pak Egar,” kata Poppy.


“Pertemuannya diundur aja,” jawab Budi.


“Kok diundur?” tanya Poppy bingung.


“Kesehatan ibu dan anak sholeh nomor satu. Nanti setelah sholat ashar kita ke rumah sakit,” Budi memencet salah satu nomor costumer service rumah sakit.


“Halo dengan Rumah Sakit Bersalin Melani ada yang bisa saya bantu?”


“Halo selamat siang, bisa tolong hubungkan saya dengan pendaftaran dokter kandungan.”


“Selamat siang. Mau daftar ke dokter kandungan siapa?”


“Yang praktek sore ini dokter siapa saja?”


“Sore ini yang pratek ada dokter Rudi SPOG dan dokter Rachel SPOG.”


“Dokter Rachel saja.”


“Baik. Tunggu sebentar akan saya hubungkan dengan tempat pendaftaran.”


“Baik saya tunggu.”

__ADS_1


Beberapa detik kemudian.


“Hallo selamat siang dengan bagian pendaftaran ada yang bisa saya bantu?”


“Selamat siang, saya mau daftar untuk periksa kandungan ke dokter Rachel.”


“Maaf sebelumnya istri bapak sudah pernah diperiksa oeh dokter Rachel?”


“Tunangan saya belum pernah diperiksa oleh dokter Rachel.”


“Mohon maaf sebelumnya, pendaftaran tidak bisa secara online. Pendaftaran harus secara langsung.”


“Dokter Rachel praktek jam berapa?”


“Dokter Rachel praktek dari jam empat sampai jam tujuh, pak.”


“Oke, saya langsung ke sana. Terima kasih. Selamat siang.”


Budi mengakhiri teleponnya.


Poppy menatap Budi.


“Dokternya praktek jam empat sore. Kita siap-siap, nanti setelah sholat ashar kita berangkat,” kata Budi.


Budi kembali menelepon seseorang.


“Hallo Pak Egar, saya Budi dari Ranggga Hotel & Resto.”


“Ya Pak Budi, ada yang bisa saya bantu?”


“Mengenai pertemuan kita sore ini saya undur.”


“Loh kenapa Pak Budi?”


“Bu Poppy mendadak sakit dan harus segera dibawa ke dokter kandungan sore ini.”


“Boleh, tapi di hotel tempat saya menginap, ya. Karena saya tidak bisa meninggalkan Bu Poppy lama-lama.”


“Baik Pak Budi. Jam berapa saya harus ke sana?”


“Jam delapan di coffee shop.”


“Baik Pak Budi saya akan datang.”


“Terima kasih atas pengertiannya, Pak Egar.”


“Sama-sama, Pak Budi.”


“Selamat siang.”


“Siang, pak.”


Budi mengakhiri pembicaraannya.


“Bagaimana? Apa kata Pak Egar?” tanya Poppy penasaran.


“Kata Pak Egar nggak apa-apa diundur. Dan dia tidak keberatan kalau pertemuannya diadakan di hotel ini.”


“Alhamdullilah,” ucap Poppy.


“Tidak apa-apa kan kalau nanti malam saya tinggal?” tanya Budi sambil menatap Poppy.


“Tidak apa-apa, Pak Budi. Lagi pula pertemuannya masih di hotel ini,” jawab Poppy.


“Saya ganti baju dulu sebentar lagi adzan ashar. Ibu mau berjamaah?”


“Mau. Tapi kalau sambil duduk bolehkan?” tanya Poppy ragu.


“Boleh. Kan sedang sakit.” Jawab Budi.

__ADS_1


“Saya ganti baju dulu sekalian wudhu. Ibu juga ganti baju. Connecting door saya tutup. Nanti kalau saya mau masuk saya ketuk dulu,” Budi kembali ke kamarnya sambil menutup connecting doornya.


Beberapa menit kemudian Budi kembali ke kamar Poppy. Sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok…tok….tok….


“Bu Poppy,” panggil Budi.


Tok…tok….tok….


“Bu Poppy,” sekali lagi Budi memanggil Poppy.


“Ya Pak Budi. Sebentar saya sedang pakai kerudung,” jawab Poppy dengan keras.


Budi menunggu di depan connecting door.


Beberapa menit kemudian.


“Masuk Pak Budi,” panggil Poppy.


Budi membuka connecting door, terlihat Poppy sudah siap dengan memakai mukenah sambil duduk di kursi. Budi menggelar sajadahnya di depan Poppy. Merekapun sholat berjamaah. Setelah selesai sholat mereka langsung pergi ke rumah sakit.


Ketika berjalan keluar kamar Budi berjalan pelan-pelan di. samping Poppy. Tas Poppy diselempangkan di bahunya agar Poppy tidak membawa yang berat-berat. Ketika di dalam liff Budi merangkul bahu Poppy, gerakan  di dalam liff membuat kepala Poppy bertambah sakit. Budi memapah Poppy sampai ke mobil. Budi membukakan pintu untuk Poppy, ia menunggu sampai Poppy duduk dengan nyaman. Lalu tas Poppy ia taruh diatas pangkuan Poppy. Setelah itu barulah Budi masuk ke dalam mobil dan mobilpun melaju menuju Rumah Sakit Bersalin Melani. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit. Budi membantu Poppy keluar dari mobil dan memapahnya ke dalam rumah sakit.


Sesampai di tempat pendaftaran Budi  memapah Poppy ke tempat duduk.


“Tunggu sebentar. Saya daftar dulu,” kata budi.


Poppy mengangguk.


Tak butuh waktu lama untuk mendaftar.


“Dapat nomor empat. Ayo kita ke tempat dokter Rachel,” Budi membantu Poppy berjalan ke tempat ruangan dokter Rachel. Beruntung ruangan dokter Rachel tidak jauh dari tempat pendaftaran. Budi memberikan nomor ke suster yang ada di depan ruangan dokter Rachel.


“Duduk dulu bu. Ditensi dulu,” kata suster.


Suster memperhatikan wajah Poppy.


“Ibu sakit, ya? Mukanya kok pucat?” tanya suster dengan curiga.


“Iya sus. Sakit sekali kepala saya,” jawab Poppy.


“Saya tensi dulu ya,” suster memasang manset tensimeter dipangkal lengan Poppy. Tak lama kemudian keluar hasilnya.


“Tensi ibu rendah,” kata suster.


“Ibu duduk dulu di tempat tunggu. Nanti dipanggil sesuai nomor urut,” lanjut suster.


“Ya, sus,” Budi memapah Poppy ke tempat untung menunggu.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdullilah Oh... My Lady sudah dikontrak.


Silahkan yang mau memberikan vote dan hadiah bunga dan kopi. Atau mau memberi tips juga boleh.


Tapi kalau nggak punya apa-apa cuma bisa kasih komentar dan like juga nggak apa-apa. Apapun bentuk dukungannya Deche ucapkan hatur nuhun.

__ADS_1


__ADS_2