
Setelah acara tujuh bulan, Poppy mulai sibuk dengan pembangunan hotel baru. Seperti sekarang ini Poppy dan Budi harus berangkat ke Bandung untuk melihat hasil rancangan sang arsitek. Sebetulnya Budi bisa saja pertemuan dengan arsitek dilakukan di BSD tapi agar hasil rancangan sesuai dengan lahan yang ada terpaksa Budi harus mengajak Poppy ke Bandung.
“Kalau kita pulang-pergi ibu sanggup, nggak?” tanya Budi ketika Poppy datang ke kantor membawakan makan siang untuk Budi.
“Nggak apa-apa Pak Budi, saya masih sanggup kalau pulang-pergi,” kata Poppy.
“Saya takut ibu kecapeaan. Takut nanti berimbas ke anak sholeh,” kata Budi dengan khawatir.
“Ya, sudah kalau takut anak sholehnya kenapa-kenapa, kita menginap semalam,” Poppy memberikan solusi.
“Tapi Reva tidak bisa ikut. Karena di kantor lagi banyak pekerjaan,” kata Budi.
“Iya, tidak apa-apa. Kan ada Pak Budi yang menjaga saya,” ujar Poppy.
“Ya sudah. Besok kita berangkat pagi-pagi agar tidak terlalu siang sampainya,” kata Budi sambil mengambil nasi dari rantang.
“Pak Budi mau pakai mobil apa? Biar nanti disiapkan sama Ilham,” tanya Poppy sambil menuangkan lauk-pauk ke piring Budi.
“Terserah ibu. Ibu nyamannya pakai mobil apa?” jawab Budi sambil makan.
“Pakai sedan aja, pak. Kalau pakai MPV kebesaran, kita kan cuma berdua,” kata Poppy sambil makan bareng dengan Budi.
“Atau Pak Budi mau bawa supir?”
“Nggak usah, biar saya nyetir sendiri. Ilham suruh istirahat saja.”
Ketika Budi dan Poppy sedang asyik makan, tiba-tiba Irma membuka pintu ruang kerja Budi.
“Wah asyik lagi makan-makan, nich,” seru Irma yang menongolkan kepalanya di depan pintu.
Poppy menoleh ke belakang.
”Sini Irma, kita makan bareng. Ajak Reva sama Jaka,” Poppy menggerakkan tangannya menyuruh Irma untuk masuk.
“Nggak bu, ma kasih. Saya mau beli baso sama Reva,” tolak Irma.
Mendengar kata-kata baso mata Poppy menjadi berbinar-binar. Poppy membalikkan badannya.
“Beli baso dimana? Saya titip dong,” kata Poppy.
“Boleh, bu,” jawab Irma.
Poppy mengambil uang di dompetnya, lalu menyerahkan dua lembar seratus ribu kepada Irma.
“Kebanyakan, bu,” Irma menyerahkan kembali yang selembar seratus ribu.
“Sekalian bayar yang punya kalian,” terang Poppy.
“Seratus ribu juga udah cukup untuk bertiga,” kata Irma.
“Jaka nggak sekalian dibelikan?” tanya Poppy.
“Jaka lagi pergi makan sama Pak Zaki,” jawab Irma.
Poppy menoleh ke Budi.
” Pak Budi mau?” tanya Poppy.
__ADS_1
“Nggak, ini juga belum habis,” jawab Budi yang sedang fokus ke ponselnya.
Poppy kembali membalikkan badannya ke Irma.
“Udah, belinya buat kita bertiga saja. Pak Budi sudah makan,” kata Poppy.
“Baik, bu,” kata Irma sambil menutup pintu ruangan Budi.
Tapi belum berapa lama Irma balik lagi.
“Bu. Tapi nunggunya agak lama, nggak apa-apa? Saya dan Reva mau makan di tempatnya,” tanya Irma.
“ Iya nggak apa-apa. Saya mau menghabiskan makanan saya dulu,” jawab Poppy.
“Oke.”
Irma kembali menutup pintu ruangan Budi.
“Nggak kekenyangan? Sekarang makan, nanti disambung baso,” tanya Budi.
“Nggak, mereka pasti makannya lama. Jadi ada jeda waktu agar makanannya cepat turun,” jawab Poppy sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Budi hanya geleng-geleng kepala melihat ***** makan Poppy yang besar.
*******
Keesokan harinya Poppy dan Budi pergi ke Bandung berdua. Seperti yang sudah direncanakan mereka berangkat pagi, agar mereka sampainya tidak terlalu siang. Jam sepuluh mereka sudah sampai di kantor Ferdinan. Budi mengatakan ke resepsionis kalau mereka sudah ada janji dengan Pak Ferdinan. Oleh resepsionis mereka di suruh menunggu di ruang tunggu.
Tak lama kemudian Pak Ferdinan datang.
“Selamat siang Pak Budi. Maaf harus menunggu lama,” Ferdinan menyalami Budi.
Kemudian Ferdinan beralih menyapa Poppy.
“Ibu Poppy apa kabar? Sehat, bu?” sapa Ferdinan sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
“Alhamdullilah sehat Pak Ferdinan,” jawab Poppy dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Ferdinan mengajak Budi dan Poppy ke ruang rapat, untuk mempresentasikan hasil rancangannya.
Di dalam ruang rapat sudah ada maket hotel yang akan dibangun. Tanpa membuang waktu Ferdinan langsung mepresentasikan hasil rancangan. Budi dan Poppy mendengarkan apa saja yang sampaikan oleh Ferdinan. Hasilnya Poppy menyukai rancangan hotelnya dan sesuai dengan keinginan Poppy. Sekarang
tinggal mencari kontraktor yang akan membangun hotel.
“Pak Ferdinan, bisa tolong bantu saya untuk mencarikan kontraktor yang akan membangun hotel?” tanya Budi.
“Oh, ada pak. Dia teman saya.”
“Bisa saya bertemu dengannya sekarang?” tanya Budi.
“Sebentar saya hubungi teman saya dulu.”
“Silahkan,” Ferdinan keluar dari ruang rapat untuk menghubungi temannya.
Tak lama kemudian Ferdinan kembali ke ruang rapat.
“Pak Budi kata teman saya, dia bisa bertemu dengan bapak sekitar jam tiga di kantornya.”
__ADS_1
“Ya, tidak apa-apa. Kebetulan kami tidak ada acara lagi.”
Ferdinan memberikan secarik kertas alamat kantor temannya beserta dengan nomor ponselnya.
Kemudian Budi dan Poppy pamit untuk pulang.
Setelah dari kantor Ferdinan, Budi mengajak Poppy untuk makan siang.
“Ibu mau makan apa?” tanya Budi sambil menyetir fokus ke jalan raya.
“Hmm…..mau makan apa, ya?” Poppy coba berpikir.
“Nak….Om Budi nanya kamu mau makan apa?” Poppy mengusap-usap perutnya.
Budi melirik lalu tersenyum melihat Poppy yang sedang mengusap perut besarnya.
“Pak Budi….,” panggil Poppy.
“Hm….ada apa?” Budi melirik sebentar ke Poppy lalu kembali fokus ke jalan.
“Sepertinya enak deh makan tongseng kambing dengan sate kambing,” Poppy mengecap-ngecap mulut seperti sedang menyicipi makanan tersebut.
“Kenapa? Ibu mau tongseng dan sate kambing?”
“Iya, Pak Budi.”
“Coba ibu cari di map, ada tongseng nggak di sekitar sini?”
Poppy langsung membuka ponselnya dan mencari tongseng yang terdekat.
“Ada tapi agak jauh.”
“Nggak apa-apa, yang penting anak sholeh bisa makan tongseng,” kata Budi.
Budi mulai mengarahkan mobil sesuai dengan petunjuk map.
Mereka sampai di tempat penjual tongseng.
“Rame, pak.”
“Nggak apa-apa. Namanya juga jam makan siang,” Budi turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Poppy.
“Ayo, kita makan dulu,” Poppy turun dari mobil dan melihat di sekitarnya banyak mobil yang sedang parkir.
“Penuh pak. Kebagian tempat duduk nggak, ya?” Poppy merasa ragu.
“Pasti kebagian. Nggak mungkinkan mereka seharian duduk di sini,” Budi mengajak Poppy untuk masuk ke dalam rumah makan.
Sesampainya di dalam terlihat meja penuh semua. Akhirnya mereka beruntung mendapatkan meja yang kosong, namun belum dibersihkan. Budi memanggil pelayan untuk disuruh membersihkan meja.
Pelayan datang memberkan daftar menu sambil membersihkan meja.
“Mau makan apa?” tanya Budi sambil melihat daftar menu.
“Tongseng kambing dan sate kambing. Minumnya es kelapa kopyor,” jawab Poppy.
Setelah menulis pesanan Budi menyerahkan ke pelayan.
__ADS_1
Ketika mereka sedang menunggu pesanannya datang tiba-tiba ada yang datang menyapa, “Hai Budi, apa kabar?”