
Budi terus mendampingi Poppy selain Poppy masih sakit, juga agar para pria tidak terus memandangi Poppy.
“Pak Budi ada yang salah dengan penampilan saya?” tanya Poppy ketika mereka sedang duduk di meja makan.
Budi memandangi Poppy.
“Nggak ada yang salah,” jawab Budi.
“Tapi kok mereka melihat saya seperti itu?” tanya Poppy dengan polos.
“Itu karena ibu cantik. Mereka terpesona oleh kecantikan ibu,” jawab Budi sambil tersenyum.
“Iiiihhhh gombal,” seru Poppy.
“Kok gombal sih? Serius ibu cantik. Kalau nggak percaya tanya saja ke mereka,” jawab Budi.
“Nggak mau, sama saja cari gara-gara,” kata Poppy.
Entah benar atau tidak yang dikatakan Budi, tapi ketika Budi sedang mengambil kopi dan air minum, sorang pria tampan menghampiri Poppy sambil membawa piring berisi makanan.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya pria itu.
Poppy kaget mendengar yang dikatakan pria itu. Ia melihat di sekitarnya masih banyak meja yang kosong.
“Boleh saya duduk di sini?” tanya pria itu sekali lagi.
“Oh…itu tempat suami saya. Dia sedang mengambil kopi dan air minum untuk saya,” jawab Poppy.
“Oh…..sorry,” lalu pria itu pergi.
Tak lama kemudian Budi datang dengan secangkir kopi dan segelas air putih untuk Poppy minum obat.
“Barusan siapa, bu?” tanya Budi.
“Nggak tau. Minta ijin untuk duduk di situ,” Poppy menunjuk ke bangku Budi.
“Terus kok pergi?” tanya Budi.
“Saya jawab, kalau itu tempat suami saya,” jawab Poppy.
“Udah begitu dia bilang sorry dan pergi deh orangnya.”
Mendengar perkataan Poppy Budi tersenyum, “Kan saya bilang juga apa, ibu itu terlalu cantik,”
Tanpa sengaja pandangan mata Poppy bertemu dengan pria tadi.
Pria itu mengangkat gelasnya dan tersenyum pada Poppy.
Dasar sycophant, bisik Poppy dalam hati.
Poppy meminum obatnya satu persatu, sedangkan Budi menyeruput kopinya.
__ADS_1
“Pak Budi saya cuci tangan dulu, ya,” kata Poppy.
“Perlu diantar nggak?” tanya Budi.
“Nggak usah dekat kok,” jawab Poppy.
“Hati-hati, ya.”
“Ya Pak Budi.”
Poppy berjalan menuju wastafel. Tanpa Poppy ketahui pria tadi mengikuti Poppy, ia menghampiri Poppy cuci tangan di sebelah Poppy.
“Itu suami kamu?” tanya pria itu.
Poppy kaget lalu menoleh ke pria itu.
“Iya,” jawab Poppy.
“Sepertinya nggak tajir, ya?” pertanyaan pria itu seolah-olah meremehkan Budi.
“Kata siapa suami saya tidak tajir? Dia itu pemilik Rangga’s Hotel & Resto. Kalau tidak percaya cari saja di internet,” jawab Poppy lalu meninggalkan pria itu dan kembali ke mejanya dengan kesal.
Poppy melihat cangkir kopi Budi sudah kosong.
“Pak Budi kita kembali ke kamar, ya. Saya belum beres-beres pakaian,” kata Poppy.
“Ibu nggak mau makan apa-apa lagi?” tanya Budi.
“Ya sudah, kita kembali ke kamar,” kata Budi sambil berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Poppy. Merekapun jalan beriringan menuju ke kamar mereka.
******
Poppy membereskan semua barang bawaannya.
“Ada yang pelu saya bantu, bu?” tanya Budi menghampiri Poppy yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
“Nggak ada, ini sudah hampir beres kok,” kata Poppy yang berusaha menutup kopernya.
“Sini saya bantu,” kata Budi yang mengambil alih menutup koper Poppy.
Sementara Budi menutup kopernya, Poppy memeriksa sekelilingnya barangkali ada barang yang ketinggalan. Setelah semua sudah beres Budi memanggil bell boy untuk membawakan barang-barangnya. Sementara itu Budi hanya membawakan tas selempang milik Poppy. Poppy dibiarkan melenggang begitu saja tanpa membawa bawaan apapun.
“Pakai kartu debit saya saja,” kata Poppy menyodorkan kartu debit miliknya ketika hendak check out.
“Tidak usah. Saya pakai uang dari kantor,” kata Budi.
“Ini kan perjalanan dinas bukan perjalanan pribadi,” alasan Budi.
“Ya, sudah,” Poppy memasukkan kembali kartu debitnya.
“Jangan cemberut gitu dong. Senyum,” bisik Budi yang melihat Poppy memasukkan kartu debitnya dengan kecewa.
__ADS_1
“Nanti kartunya dipakai untuk beli oleh-oleh. Ibu mau beli apa?” bisik Budi.
“Boleh beli oleh-oleh?” tanya Poppy dengan berbinar.
Budi tersenyum sambil mengangguk.
Poppy mulai membayangkan mau membeli oleh-oleh apa.
Tak lama kemudian Budi sudah selesai mengurus check out.
“Yuk,” Budi mengajak Poppy menuju ke mobil.
Budi membukakan pintu untuk Poppy, sementara itu bell boy membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
Setelah memberikan tips pada bell boy, Budi masuk ke dalam mobil dan mobilpun meluncur di jalan raya kota Bandung.
Mereka berputar-putar mengelilingi kota Bandung untuk membeli oleh-oleh. Bumil cantik menyebutkan satu-persatu nama kue yang ingin di belinya. Mulai dari roll cake Bawean, brownies Amanda, bolu susu Lembang, bollen Kartika Sari, sus Merdeka, klapppertart, tiramisu, colenak Murdi dan masih banyak lagi.
Budi menggeleng-geleng kepalanya melihat bagasi penuh dengan oleh-oleh. Bumil cantik itu semangat sekali untuk membeli oleh-oleh.
“Masih ada lagi yang mau dibeli?” tanya Budi sebelum masuk ke jalan tol.
Bumil itu menggelengkan kepalanya.
“Sudah semuanya,” kata Poppy.
“Oke, kita siap meluncur,” Budi mengarahkan mobil menuju jalan tol, dan mobilpun meluncur meninggalkan kota Bandung.
Pukul setengah satu mereka sudah sampai di rumah Poppy.
“Eh… ada mama dan mamih,” kata Poppy ketika mobil masuk ke dalam halaman nampak Bu Melly dan Bu Femi sudah menunggu di depan teras rumah Poppy.
Begitu mobil berhenti dan tanpa menunggu Budi membukakan pintu, Poppy langsung keluar dari mobil.
Ia menghampiri dan memeluk mama dan mamihnya.
.
.
.
.
.
.
ini yang terakhir hari ini.
sambungannya besok lagi
__ADS_1