Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
57. Extra Part 1.


__ADS_3

Tak terasa sekarang usia Firas sudah 40 hari. Bayi mungil itu tambah hari tambah menggemaskan.


“Ayah, masa nifas Mama sudah selesai. Boleh nggak pasang KB?” tanya Poppy ketika sedang memperhatikan suaminya yang sedang bersiap-siap ke kantor.


Mendengar pertanyaan istrinya Budi menghentikan kegiatannya


dan menghadap ke istrinya.


“Memangnya Mama mau KB apa?”


Poppy berpikir sejenak.


“Paling KB IUD,” jawab Poppy.


Budi menghela nafas.


“Udah Mama jangan KB biar Ayah saja yang KB,” kata Budi.


“Ayah mau KB pakai sarung?” tanya Poppy kaget.


“Bukan sarung tapi KB tanggalan, Ma,” jawab Budi.


Poppy tediam sejenak.


“Ayah kuat nahannya?” tanya Poppy nggak yakin.


Budi menghampiri istrinya dirapihkannya rambut-rambut yang berada di wajah istrinya.


“Kan masih bisa berhubungan kapan saja. Hanya benihnya dibuang di luar. Nanti kalau pas sudah bukan masa subur benihnya bisa di semburkan di dalam. Bagaimana?” Budi menerangkan ke Poppy.


Poppy memandangi wajah suaminya.


“Sampai kapan?’ tanya Poppy.


Budi mengecup bibir istrinya.


“Sampai Firas cukup umur untuk diberi adik,” jawab Budi sambil tersenyum.


“Terserah Ayah aja deh,” Poppy memeluk tubuh suaminya lalu mengecup bibirnya.


Tiba-tiba di luar terdengar suara Firas menangis.


“Anak Ayah suka mengganggu Mamanya kalau sedang berduaan dengan Ayahnya,” protes Poppy.


“Dilihat dulu, siapa tau Firas haus karena habis berjemur,” kata Budi.


Poppy menghela nafas lalu keluar dari kamar.


Dilihatnya Firas sedang menangis digedong oleh pengasuhnya.

__ADS_1


“Firas kenapa Mbak?” tanya Poppy sambil mendekati anaknya.


“Nggak tau, Bu. Tadi setelah berjemur tiba-tiba merengek,” jawab pengasuh Firas.


Poppy mengambil Firas dari gendongan pengasuhnya.


“Adu kasihan anak Mama, haus, ya?”


Bayi itu berhenti menangis sambil sesegukan.


Poppy membawa Firas masuk ke kamarnya.


Budi menghampiri istri dan anaknya.


“Anak Ayah, kenapa?” tanya Budi sambil mengusap kepalanya.


“Sepertinya haus dan ngantuk,” kata Poppy.


“Ya sudah, mimi susu dulu,” kata Budi.


Poppy membawa Firas ke sofa yang berada di kamar itu.


Lalu Poppy menyusui anaknya dengan ASI sambil mengusap- usap kepala anaknya. Benar saja tak berapa lama kemudian Firas tertidur.


Budi yang sudah siap untuk berangkat kerja mendekati istri dan anaknya.


“Tidur?” Budi berbisik.


“Ayah berangkat dulu, ya,” bisik Budi lagi.


Poppy menganguk lalu mencium tangan suaminya. Budi mencium pipi gembil anaknya lalu beralih mengecup bibir istrinya.


“Assalamualaikum,” ucap Budi lalu keluar dari kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Poppy.


******


Hari ini hari Minggu Budi mengajak keluarga kecilnya berkunjung ke rumah Pak Brata. Setiap hari libur Budi mengajak keluarga kecilnya ke rumah kakek dan neneknya Firas. Budi menyelang seling waktu kunjungannya, karena Firas memiliki banyak Kakek dan Nenek.Seperti sekarang waktunya berkunjung ke rumah kel Brata, minggu depan ke rumah Kel Aep dan nanti minggu depannya lagi berkunjung ke rumah kel Rahadian.


“Kalian tidak bulan madu?” tanya Pak Brata ketika Budi dan keluarga kecilnya datang berkunjung.


“Tidak Pa, Firas masih terlalu kecil untuk dibawa kemana-mana,” jawab Budi.


“Ya Firasnya jangan dibawa, titipi di sini saja,” kata Pak Brata.


“Ya nggak bisa, Pa. Firas itu masih ASI,” kata Bu Melly yang tiba-tiba muncul sambil membawa buah manga yang sudah dipotong-potong.


“Kan ASI nya bisa dipompa dan disimpan di kulkas,” seru Pak Brata.

__ADS_1


“Memangnya ASI tidak ada masa expirednya? Kalau masih tersimpan di tempat alaminya tidak ada masa expired. Tapi kalau sudah keluar dari tempat alaminya jadi ada expirednya, Pah,” terang Bu Melly.


“Ya, sudah kalau begitu Firas harus dibawa bersama kalian. Kalian mau bulan madu kemana?” tanya Pak Brata yang tetap ngotot menanyakan tempat Budi dan Poppy berbulan madu.


Budi berpikir sebentar.


“Sepertinya ke Bandung saja Pa yang dekat,” jawab Budi.


Pak Brata menghela nafas.


“Budi, kalau ke Bandung bukannya berbulan madu tapi kerja. Kamu ke sana sama saja ngajak anak istri ikut kamu kerja. Ngecek pembangunan hotel yang di Bandung,” kata Pak Brata.


“Papa ini gimana sih? Punya menantu pebisnis malah dimarah-marahin,” tegur Bu Melly.


“Kalau Budi kerja terus, kapan Papa dapat cucu lagi?” elak Pak Brata.


“Pa, Firas masih bayi. Masih membutuhkan ASI dan perhatian orang tuanya. Masa mau dikasih adik?” komentar Bu Melly.


“Kalau mau punya cucu lagi tungguin anak Reno lahir.”


“Papa kan pengen seperti orang-orang yang punya banyak cucu,” kata Pak Brata dengan wajah sedih.


Bu Melly menghela nafas.


“Kasihan Poppy, Pa. Anak kita itu bukan pabrik anak yang disuruh berproduksi setiap tahun. Nanti tunji, Pa,” terang Bu Melly.


Mendengar kata tunji Pak Brata bingung.


“Apaan tunji, Ma?” tanya Pak Brata.


“Masa Papa nggak tau? Tunji kepanjangan dari setahun hiji, alias setiap tahun hamil,” jawab Bu Melly.


.


.


.


.


.


.


.


Bud, jangan tunji mendingan sebelas bulan satu. 😁


Kayak author dan kakak author jaraknya cuma sebelas bulan.

__ADS_1


Author kemarin bikin extra part gara-gara kesel sama PDAM yang ngak keluar dari sore sampai siang. pokoknya pi ambekeun dah.


__ADS_2