Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
23. Nenek Nyinyir


__ADS_3

Setelah perayaan ulang tahun Pak Rahadian, Budi sibuk dengan pembangunan hotel baru. Pak Rahadian memutuskan  membeli rumah yang dipilih oleh Poppy sebagai lokasi pembangunan hotel. Beralih fungsi dari rumah menjadi hotel tidak gampang dalam mengurus perizinanya. Sehingga Budi harus bolak-balik BSD – Bandung untuk mengurus perizinan. Hal ini membuat Poppy menjadi kesal. Setiap kali ia hendak makan siang bersama dengan Budi, Budi selalu  sedang pergi ke Bandung. Poppy jadi sering uring-uringan membuat karyawannya kebingungan.


“Pak, lain kali kalau mau pergi ke Bandung bilang dulu ke Bu Poppy. Nanti dia cari Bapak. Kasihan lagi hamil, nggak  jadi makan siang gara-gara Pak Budi lagi ke Bandung,” Irma nyerocos panjang lebar ketika Budi menelepon Irma.


Budi menghela nafas.


“Kan bisa suruh Reva nemenin Bu Poppy makan siang,” kilah Budi.


“Bu Poppy tuh mau makan siangnya bareng sama Bapak bukan sama Reva,” terang Irma. Irma bener-bener di bikin pusing oleh ulah  kedua bosnya.


“Kalau saya bilang mau ke Bandung nanti dia mau ikut ke Bandung. Kasihan nanti dia kecapean ikut bolak-balik BSD-Bandung. Saya takut menggangu kandungannya,” ujar Budi. Dia sangat khawatir dengan kandungan Poppy.


“Mendingan Bapak ajak aja deh Bu Poppy, daripada ditinggal dia ngak mau makan siang sama sekali. Terus kalau telepon Ibu diangkat Pak, jangan didiemin aja. Bapak tuh bikin badmood ibu hamil," nasehat Irma.


“Lagi pula tidak ada yang menemani Bu Poppy di hotel. Kalau saya bawa ngurusin perizinan kasihan dia nanti kecapean,” terang Budi.


“Coba kamu bujuk Bu Poppy supaya mau makan. Suruh Ilham beli makanan yang Bu Poppy mau. Atau kalian bertiga temani Bu Poppy makan di luar,” perintah Budi. Budi tidak tau jika sikapnya seperti itu membuat semua orang merasa khawatir dengan kesehatan Bu Poppy. Muka Poppy terlihat agak kurusan dan mukanya sedikit pucat.


Dan beberapa hari kemudian, Poppy datang lagi ke kantornya. Wajah pucatnya mulai terlihat sungguh mengkhawatirkan.


“Bapak masih di Bandung, Bu,” ucap Irma ketika Poppy melihat ruangan Budi kosong.


“Kapan Pak Budi pulang? “ tanya Poppy.


“Pak Budi bilang kalau urusannya lancar, siang ini dia akan pulang,” jawab Irma. Poppy menghela nafas.


“Ya, sudah,” kata Poppy dan kemudian pergi.


“Eh… Bu, tunggu dulu,” panggil Irma.


“Ibu makan siangnya ditemani Reva, ya,” kata Irma.


“Nggak usah,” tolak Poppy sambil pergi.


“Ini perntah dari Pak Budi, Bu,” kata Irma.


Poppy berhenti sebentar.


“Ya sudah. Reva kamu ikut saya,” perintah Poppy sambil berlalu dari ruangan itu.


“Udah cepet sana ikutin Bu Poppy. Dan jangan lupa pastikan dia makan,” ujar Irma sambil memberikan tas Reva kemudian mendorong Reva untuk pergi.


“Iya-iya,”Reva kemudian pergi.


“Hufff….Akhirnya mau juga ditemani Reva,” Irma merasa lega, mengusap dahinya dengan punggung tangannya.


*****


Reva berjalan mengiikuti Poppy dari belakang. Terdengar suara dering ponsel Poppy. Poppy menerima telepon itu sambil berjalan.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Farah,”


“Waalaikumsalam ibu direktur. Apa kabar?”


“Alhmdullilah baik, Farah. Ada apa, nich? Tumben nelepon.”


“Gue mau ngajak loe makan siang sekarang. Bisa nggak?”


“Bisa, dimana?”


“Di café …… di jalan ….. . Gue tunggu sekarang, ya!”


“Oke…. gue kesana sekarang. Eh…. tapi nggak apa-apa kan kalau gue bawa Reva sekretaris gue?”


“Iya nggak apa-apa. Cepetan gue udah lapar, nih.”


“Oke. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Poppy mengakhiri teleponnya.


“Ayo Rev, saya ditunggu teman saya,” ajak Poppy.


Merekapun berjalan menuju tempat parkir mobil, di sana ada Ilham yang sudah siap di dekat mobil.


“Ham, kita ke café …. di jalan …… ,” seru Poppy sambil membuka pintu mobil.


“Baik, Bu,” Reva pun membuka pintu  bagian penumpang.


Mobilpun melaju menuju tempat yang di tuju.


Suasana café siang ini cukup ramai. Poppy agak kesulitan mencari Farah. Terlihat dri jauh seseorang melambai-lambaikan tangan ke arahnya dengan senyuman khas pasta gigi.


“Hai, apa kabar?” sapa Farah sambil cipika cipiki dengan Poppy.


“Kenalin nih Far. Sekertaris gue, Reva,” kata Poppy.


Farah menyalami tangan Reva.


“Bu Direktur beda. Kalau kemana- mana bawa sekertaris,” canda Farah.


“Iiihhh apa sih? Dia disuruh Pak Budi untuk ikut gue,” ralat Poppy.


“Wah…. Pak Budi udah bucin, ya? Sampai Ibu Direktur harus di kawal kemana-mana,” seru Farah.


Mendengar omongan Farah, wajah Poppy langsung berubah menjadi merah karena malu. Ada Reva yang yang mendengarkan omongan Farah. Poppy pasti akan menjadi bahan gunjingan karyawannya.


“Bukan begitu, Farah. Reva jadi mata-mata Pak Budi untuk memastikan gue makan atau tidak?” jelas Poppy

__ADS_1


“Memangnya elo kenapa? Elo mual dan nggak ***** makan?” Farah nampak khawatir melihat Poppy.


“Elo pucet begitu,” kata Farah.


“Ibu nggak mau makan siang kalau nggak sama Pak Budi,” jelas Reva.


“Apa????? Wah Reva kedua bos kamu kena penyakit bucin,” seru Farah.


“Terus sekarang kenapa loe nggak makan siang sama Pak Budi?” tanya Farah penasaran.


“Pak Budi lagi ke Bandung. Dia lagi sibuk ngurusin perizinan hotel, baru,” kata Poppy dengan tidak semangat.


“Sudah, mendingan loe makan sama kita-kita aja, ya nggak Rev?” Reva mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Farah.


Mereka mulai memilih menu makanan. Tiba-tiba……


“Wah…. ada janda gatel, nih,” hina seseorang.


“Mana bodyguard loe? Yang mengancam bakalan nuntun gue. Nggak berani, kan. Ah….. cemen dasar penakut,” sindir Tantri yang sedang berdiri di belakang Reva.


Poppy kesal mendengar omongan Tantri yang menghinanya di depan umum, tapi ia berusaha untuk tidak terpancing.


“Eh…… apa maksud loe ngomong barusan?” bela Farah iya tidak tahan mendengar Tantri yang menghina Poppy.


“Gue nggak ada urusan loe. Urusan gue sama dia, yang mau ngerebut laki gue,” seru Tantri.


“Elo punya buktinya kagak kalau Poppy ngerebut laki loe? Kalau nggak ada buktinya ntar jatuhnya fitnah. Elo  bisa di tuntut pencemaran nama baik.” Jelas Farah panjang lebar.


“Ada, foto waktu mereka janjian berdua di restaurant,” jawab Tantri.


Farah menengok ke arah Poppy.


“Bener Pop, apa yang Tantri katakan?” tanya Farah sambil menatap tajam ke arah Poppy. Kalau benar Poppy pernah makan berdua dengan Kevin, Farah merasa kecewa.


“Iya, Kevin pernah ngajak gue makan siang. Tapi gue nggak sendiri. Gue datang sama Pak Budi. Tapi waktu Tantri datang Pak Budi lagi ditelepon Dimas,” sangkal Poppy.


“Alah paling elo nyuruh bodyguard pura-pura nelepon. Biar loe bisa berduaan sama Kevin,” sindir Tantri.


“Tantri kalau memang mereka ada affair, ngapain juga ketemuan di restaurant Mendingan juga ke hotel langsung check in bisa indehoi-indehoian tanpa ada orang yang meihat, ya nggak?” papar Farah.


“Kok elo jadi belain dia sih? Mentang-mentang elo dekat dengan janda gatel,” protes Tantri.


“Gue cuma meluruskan aja permasalahannya. Biar tidak jadi fitnah,” kata Farah.


“Udah sekarang daripada elo kluyuran, mendingan loe jaga tuh suami loe biar nggak kegatelan ngelihatin cewek. Tahu mantan jadi janda, langsung dideketin,” lanjut Farah lalu bangun dari tempat duduknya.


“Yuk, Poppy- Reva kita pergi dari sini. Gue jadi nggak ***** makan ngelihat nenek nyinyir,” kata Farah sambil mengajak Poppy dan Reva pergi dari café itu.


Ketika Farah hendak keluar dari café, ia membalikkan badannya menghadap ke Tantri.

__ADS_1


“Oh, ya gue lupa bilang kalau Poppy memang lemah. Tapi asal elo tau kalau bodyguard dia bisa menghancurkan usaha Bapak loe dan laki loe. Siap-siap aja loe jadi gelandangan di jalan,” kata Farah sekali lagi  sebelum pergi.


“Gue nggak takut,” teriak Tantri, tapi didalam hatinya ia ketar-ketir takut apa yang dikatakan Farah benar-benar terjadi.


__ADS_2