Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
46. Bidadari Surga.


__ADS_3

Budi menjawab telepon dari ayahnya.


“Assalamualaikum ayah.”


“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh. Bagaimana kabarmu sehat?”


“Alhamdullilah Budi sehat, yah.”


“Syukurlah kalau kamu sehat. Bagaimana keadaan Nak Poppy?”


“Alhamdullilah panasnya sudah turun.”


“Budi, sebenarnya apa yang terjadi sampai Nak Poppy sakit?”


“Nggak ada apa, yah. Hanya saja sewaktu makan siang Budi bertemu dengan Sarah.”


“Sarah teman kuliahmu?”


“Iya, ayah. Dan yang parahnya lagi Sarah itu sekertaris kontraktor yang akan membangun hotel milik Poppy.”


“Ayah mengerti sekarang. Ayah harap kamu jaga perasaan Nak Poppy, ibu hamil itu perasaannya sangat sensitive. Jangan sampai dia merasa tersaingi oleh Sarah.”


“Iya ayah.”


“Jaga Nak Poppy baik-baik.”


“Baik ayah.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam warohmatulloh wabarotatuh.”


Budi menutup teleponnya. Budi langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju. Setelah itu Budi kembali ke kamar Poppy dan tidur di sebelah tempat tidur Poppy. Kebetulan kamar Poppy tempat tidurnya double bed, sehingga Budi bisa tidur di kamar Poppy.


Budi sedang tertidur pulas sayup-sayup ia mendengar suara orang membangunkannya.


“Pak Budi bangun sudah waktunya sholat subuh.”


Dengan mata yang terasa berat Budi berusaha membuka matanya.


Seorang wanita cantik di sebelahnya sedang tersenyum padanya. Wanita itu menggunakan pakaian tidur yang panjang dan rambutnya di tutupi oleh jilbab instant. Benar-benar bidadari surga. Kemudian Budi tertidur lagi.


“Pak Budi jangan tidur lagi, ini sudah waktunya sholat subuh,” panggil wanita itu.


Dengan mata yang masih mengantuk Budi kembali membuka matanya, dilihat wanita itu sedang tersenyum manis kepadanya. Ah senyumnya seperti ia kenal. Senyumnya mirip seperti senyum mamanya anak sholeh. Heh???


Mamanya anak sholeh?? Bu Poppy?? Cepat-cepat Budi  bangun dari tempat tidurnya.


“Bu Poppy?” tanya Budi dengan linglung. Ia melihat Poppy sedang berdiri di sebelah tempat tidurnya.


“Pak Budi kenapa?” tanya Poppy kaget, Budi bangun tiba-tiba seperti melihat sesuatu.


“Tadi Bu Poppy yang bangunin saya?” tanya Budi .


“Iya. Adzan subuh sudah berkumandang dari tadi. Kita sholat subuh dulu,” kata Poppy.

__ADS_1


Budi mengusap wajahnya dengan kasar.


“Pak Budi kenapa?” tanya Poppy kebingungan melihat Budi seperti orang linglung.


“Tadi ada bidadari cantik yang memanggil-manggil nama saya,” kata Budi dengan serius.


“Nggak usah ngegombal deh. Udah sana wudhu dulu. Kita sholat subuh,” kata Poppy sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


Dengan langkah gontai Budi masuk ke kamarnya dan wudhu di kamar mandi kamarnya.


Setelah sholat subuh berjamaah Budi masuk ke kamarnya dan melanjutkan tidur. Matanya masih terasa ngantuk.


Bahkan ia lupa mengecek keadaan Poppy. Sementara Budi tidur Poppy hanya menonton TV sambil mengemil kue. Jam enam Budi bangun dan ia mencuci mukanya agar lebih segar. Budi menghampiri Poppy di kamarnya.


Diletakkan telapak tangannya diatas dahi Poppy.


“Sudah tidak panas lagi,” kata Budi.


Budi menarik kursi mendekati tempat tidur Poppy, lalu ia duduk di sebelah tempat tidur Poppy.


“Masih pusing dan sakit kepala nggak?” tanya Budi.


“Sudah berkurang,” jawab Poppy.


“Alhamdullilah. Kuat nggak kalau kita pulang hari ini?”


“Mudah-mudahan kuat,” jawab Poppy.


“Ibu tidur saja di mobil. Nanti kalau sudah sampai saya bangunin,” kata Budi.


“Tadi mama dan mamih menelepon,” kata Poppy.


“Nanya kapan pulangnya,” lanjut Poppy.


“Terus ibu jawab apa/”


“Belum tau kapan pulangnya. Pak Budinya bobo lagi,” jawab Poppy.


Budi menghela nafas.


“Ya sudah, nggak apa-apa,” kata Budi.


Budi melihat jam ponselnya, sudah waktunya sarapan.


“Mau sarapan dimana mau di kamar atau di dinning room?” tanya Budi.


“Mau di dinning room,” jawab Poppy.


“Kuat jalannya nggak?” tanya Budi.


“Kuat Pak Budi.”


“Ya sudah. Sekarang mandi dulu terus kita sarapan,” kata Budi.


Poppy mengangguk lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Budi meninggalkan kamar Poppy menuju ke kamarnya dan  menutup connecting door.

__ADS_1


Setelah mandi Budi kembali menuju ke kamar Poppy. Diketuknya connecting doornya.


“Masuk,” jawab Poppy.


Budi membuka connecting door. Terlihat mamanya anak sholeh sedang berdandan menggunakan lipstik. Ia terlihat cantik sekali menggunakan tunik abu-abu muda dan celana panjang abu-abu tua. Serta kerudung senada dengan warna tuniknya.


“Cantik,” kata Budi.


“Nggak usah ngegombal deh,” seru Poppy.


“Nggak ngegombal, cuma memuji calon istri,” kata Budi.


“Sama aja,” kata Poppy.


“Sarapannya di kamar aja, yah,” kata Budi.


“Loh kenapa?” tanya Poppy bingung.


“Saya nggak mau calon istri saya dilirik laki-laki lain,” jawab Budi.


“Siapa yang mau ngelirik saya? Memangnya mereka tidak melihat perut saya yang sebesar ini,” Poppy protes.


“Tapi kenyataannya banyak laki-laki yang melirik ibu. Tambah besar kehamilan ibu, tambah membuat ibu semakin cantik,” kata Budi.


Poppy menghela nafas.


“Pak Budi, nggak akan ada yang berani mendekati saya. Mereka mengira Pak Budi itu suami saya,” ujar Poppy.


“Udah ah, jangan ngadi-ngadi lagi, Ini kasihan anak sholehnya sudah kelaparan,” kata Poppy.


“Iya. Jangan lupa dibawa obatnya,” kata Budi.


“Siap Pak Budi,” jawab Poppy. Ia pun mengambil plastik obat yang di simpan diatas meja.


Merekapun keluar melalui pintu kamar Budi. Mereka jalan beriringan menuju dinning room.


Dinning room nampak ramai oleh tamu hotel yang sedang sarapan. Kebanyakan dari mereka adalah para pria. Seperti yang Budi katakan banyak pria yang menatap Poppy, sehingga membuat Poppy menjadi risih. Sehingga Poppy tidak berani jauh-jauh dari Budi.


.


.


.


.


.


.


.


Budi... Budi.... untung bukan noni-noni Belanda yang ngebangunin.


Ntar sore diterusin lagi. Tapi kalau nggak ketiduran, ya.

__ADS_1


__ADS_2