Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
32. Ke Rumah Pak Rahadian 2


__ADS_3

Bu Femi datang menghampiri bersama Poppy.


“Astaga, papih.  Pak Budi itu cape baru datang dari Bandung dan belum makan siang, jangan diajak ngobrol yang serius dulu nanti gemetaran,” seru Bu Femi.


“Ayo Pak Budi kita makan siang dulu,” ajak Bu Femi.


“Papih ayo kita makan. Tadi katanya lapar.”


“Ayo Budi kita makan dulu,” Pak Rahadian mengajak Budi ke ruang makan.


Setelah makan Pak Rahadian dan Budi melanjutkan pembicaraan mereka di ruang keluarga.


“Jadi Reno mau melamar kakak sepupuhmu minggu ini?” tanya Pak Rahadian.


“Hari apa Reno akan melamar Rima?” tanya Pak Rahadian sekali lagi.


“Kalau itu saya kurang tau, pak. Pak Reno tidak menyebutkan hari apa ia akan datang melamar,” jawab Budi.


“Pantesan Brata ngomel terus. Mungkin dia ingin kamu dulu datang melamar, tapi Reno sudah tidak sabar mau ngelamar Rima duluan,” tebak Pak Rahadian.


“Biar tidak apa-apa saya melamarnya sesudah Pak Reno melamar Rima,” ujar Budi.


“Eh…. jangan nanti Brata marah terus lamaran kamu ditolak. Kamu mau ditolak Pak Brata?” tanya Pak Rahadian.


“Nggak mau, pak,” jawab Budi.


“Makanya kamu harus lebih dahulu melamar Poppy,” saran Pak Rahadian.


“Sekarang hari apa?” tanya Pak Rahadian


“Hari Selasa, pak.”


“Berarti kamu harus melamar hari Kamis malam. Bagaimana kamu sanggup nggak?”


“Sanggup, pak,” jawab Budi dengan yakin.


“Untuk hantarannya, kamu bisa menyuruh sekertaris kamu dan sekertaris Poppy yang berbelanja,” usul Pak Rahadian.


“Mih, hantaran untuk melamar bawa apa saja?” tanya Pak Rahadian kepada Bu Femi yang sedang mengupas buah-buahan di meja makan.


“Tergantung perempuannya mau di bawakan apa,” jawab Bu Femi.


“Tapi kalau Poppy jangan dikasih pakaian dan sepatu, karena kepakainya cuma sebentar.”


“Lebih baik untuk Poppy kasih perhiasan saja, selain cincin tunangan,” usul Bu Femi.


“Atau Poppy mau yang lain untuk hantaranya?” tanya Bu Femi ke Poppy.


“Poppy nggak mau apa-apa, mih,” jawab Poppy.

__ADS_1


Pak Rahadian menghela nafas.


“Mih, Poppy ini maunya cepat-cepat dinikahi sama Pak Budinya,” canda Pak Rahadian.


“Benarkan, Poppy?” tebak Pak Rahadian.


Poppy menunduk tersipu malu.


“Papih suka iseng gitu, deh,” seru Bu Femi.


“Tapi kan benar tebakan papih.”


“Budi, udah kamu bawa hantaran emas aja. Nggak usah yang besar-besar yang kecil-kecil aja. Disesuaikan dengan keuangan kamu,” usul Pak Rahadian.


“Terus bawa kue dan buah. Udah beres,” lanjut Pak Rahadian.


“Poppy untuk makanannya, kamu order dari resto saja,” kata Pak Rahadian.


“Baik, pih.”


Pak Rahadian berdiri lalu mendekati Bu Femi.


“Mamih ayo kita ganti baju. Kita ke rumah Brata,” ajak Pak Rahadian.


“Eh…. kita ikut juga?” tanya Bu Femi bingung.


“Iya, kita temani Budi menghadapi Brata. Budi takut ditolak sama Brata,” terang Pak Rahadian.


“Mamih itu kalau dandan lama, udah keburu adzan,” seru Pak Rahadian.


“Poppy, Pak Budi kasih buah. Nanti kalau mau sholat kasih tau musolahnya,” ujar Bu Femi.


“Ya, mih,” Poppy memberikan buah


beserta piring kecil ke Budi.


“Dimakan pak buahnya.”


“Terima kasih,” ucap Budi.


Mereka makan buah sambil menunggu


adzan berkumandang. Setelah adzan berkumandang Poppy dan Budi sholat berjamaah di musolah. Setelah sholat Poppy dan Budi menuju rumah Pak Brata dengan di temani Pak Rahadian dan Bu Femi.


“Assalamualaikum,” Poppy, Budi, Bu Femi dan Pak Rahadian mengucapkan salam berbarengan.


“Waalaikumsalam,” Pak Brata


membalas salam mereka sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Akang dan ceuceu kok datangnya bareng sama Poppy dan Pak Budi?” tanya Pak Brata sambil mengajak tamunya untuk masuk ke ruang tamu.


Budi meletakkan parcel buah dan


kue  di atas meja tamu.


“Sengaja akang dan ceuceu ke sini


untuk menemani Pak Budi,” jawab Pak Rahadian.


“Pak Budi sebetulnya Pak Budi itu anak Pak Aep atau anak Pak Rahadian? Kenapa yang mengantar kamu Pak Rahadian bukan ayahmu Pak Aep?” komentar Pak Brata.


“Tak masalah siapa yang mengantar Budi. Yang penting Budi ke sini punya niat baik,” kata Pak Rahadian.


“Budi to the point aja maksud kamu ke sini untuk apa?” Pak Rahadian mempersilahkan Budi untuk berbicara.


“Saya mohon ijin, hari Kamis malam saya dan keluarga saya akan datang untuk melamar Bu Poppy,” kata Budi.


Pak Brata kaget.


“Kenapa dimajukan  bukan diundur?” tanya Pak Brata dengan tegas.


“Karena jika melamar Poppy mundur, saya takut lamaran saya akan ditolak, pak,” jawab Budi.


“Ini semua gara-gara Reno. Dia tidak mau mengalah sama adiknya,” kata Pak Brata dengan kesal.


“Bukan Reno tidak mau mengalah sama adiknya tapi dia takut Rima keburu direbut orang,” ralat Bu Melly yang tiba datang bersama dengan ART yang membawa nampan berisikan minuman segar. Bu Melly menaruh gelas-gelas minuman ke atas meja. Lalu ikut bergabung.


“Memang Rima sedang dekat laki-laki lain?” tanya Pak Brata kepada Budi.


“Setau saya nggak ada, pak.”


“Apa kesibukan Rima sehari-hari?” tanya Bu Melly.


“Membantu ayah di percetakan milik ayah,” jawab Budi.


“Mendiang suami Rima apa pekerjaannya?” tanya Pak Brata penasaran.


“Perwira angkatan darat,” jawab Budi.


“Suaminya meninggal karena apa?” tanya Bu Melly


“Waktu melalui jembatan, jembatannya ada yang ngebom,” jawab Budi


Mereka semua yang mendengarnya


langsung terkejut.


“Wah …..  berat, Reno harus pintar merebut hati Rima dari mendiang suaminya,” kata Pak Rahadian.

__ADS_1


“Reno ingin menikah dua minggu setelah melamar,” sela Bu Melly.


“Bagaimana mau nikah? Baru mau niat akan melamar saja, Rima susah untuk dihubungi,” seru Pak Brata.


__ADS_2