Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
42. Sakit Kepala


__ADS_3

Mendengar omongan Budi sontak tanpa aba-aba Poppy mencubit lengan Budi.


Budi mengaduh kesakitan, “ Aduh…..ampun sakit.”


Poppy melepaskan cubitannya.


Budi meniup-niup lengannya yang habis dicubit.


“Galak amet sama calon suami,” kata Budi.


“Habis Pak Budi tadi nakal, ngomong yang nggak-nggak,” Poppy protes.


“Loh…..kan bener. Belum bisa peluk dan cium orangnya, peluk dan cium sapu tangannya dulu,” kata Budi dengan rasa tak bersalah.


Poppy mencubit Budi lagi.


“Aduh anak sholeh…..mama kamu galak amat, sih? Om habis dicubitin,” Budi mengeluh.


“Nak, ommu ini nakal, ngegodain mama terus,” Poppy mengadu sambil mengusap-usap perutnya.


Seolah-olah mendengar perkataan kedua orang yang menyayanginya, Anak sholeh bergerak-gerak, terlihat perut bagian atas Poppy menonjol dan Budi melihatnya.


“Itu barusan apa?” tanya Budi kaget.


Poppy tersenyum sambil mengusap- usap perutnya.


“Nak, tuh om Budi nanya, barusan apa?” Poppy mengajak ngobrol anaknya.


Lalu anak soleh bergerak lagi dan perut Poppy menonjol di bagian lain.


“Wah, om baru tahu kalau kamu bisa bergerak-gerak seperti itu,” kata Budi dengan takjub.


“Tapi sayang om tidak bisa merasakan gerak-gerakmu,” kata Budi dengan nada sedih.


“Nanti kalau ke dokter Pak Budi boleh ikut. Nanti Pak Budi bsa lihat langsung anak sholeh dari layar monitor.”


Budi senang mendengarnya.


“Benarkah boleh ikut?” tanya Budi dengan tidak percaya.


Poppy mengangguk sambil tersenyum.


“Tapi nggak boleh ngintip,” seru Poppy.


“Ngapain ngintip kelihatannya cuma sedikit. Nanti saja kalau sudah halal bisa ngelihat semuanya,” jawab Budi dengan cuek.


Tiba-tiba Poppy memukul lengan Budi.


Plak…


“Dasar mesum,” seru Poppy dengan wajah pura-pura marah.


“Iiiihhhh tadi cubit sekarang mukul, bilang aja mau pegang-pagang calon suami,” kata Budi dengan jahil.


Poppy langsung pasang muka marah dan melipat tangan di depan.


“Udah ah jangan ngambek aja, kita terusin makannya. Tuh sate dan tongsengnya sudah dingin,” Budi membujuk Poppy.


Akhirnya Poppy menurut lalu memakan makanannya sampai habis.


Budi makan sambil tersenyum melihat bumil makan dengan lahap. Setelah mereka selesai makan Budi menyuruh Poppy untuk menunggu di meja sementara Budi membayar semua makanannya.


Ketika Budi kembali ke meja, Poppy mengatakan kalau kepalanya sakit.


“Sakit sekali?” tanya Budi dengan cemas.


“Lumayan sakitnya,” jawab Poppy.


Budi mengambil tas Poppy lalu diselempangkan dengan menyilang di bahunya. Lalu mengambil kunci mobil di saku celananya dengan sengaja hanya dipegang di tangannya. Dan tanpa aba-aba Budi menggedong Poppy.

__ADS_1


Poppy memekik kaget.


“Pak Budi malu,” bisik Poppy.


Dengan tenang Budi menggendong Poppy ke mobil. Poppy memalingkan wajahnya ke dada Budi. Ia malu dilihat orang lain. Semua orang di rumah makan itu melihat mereka. Termasuk Sarah dan Egar. “Hadeuh romantisnya,” komentar Sarah.


Sampai di tempat mobil Budi membuka kunci mobil dengan menggunakan remote.


“Saya bantu, pak. Yang mana mobilnya?” kata petugas parkir.


“Mercy yang berwarna hitam,” jawab Budi.


Petugas parkir langsung membukakan pintu mobil yang dimaksud.


“Terima kasih, pak,” ucap Budi.


Dengan hati-hati Budi menurunkan Poppy ke dalam mobil dan menaruh tas Poppy di atas pangkuan Poppy. Setelah memberikan uang sebesar sepuluh ribu Budi masuk ke dalam mobil.


“Pak Budi, saya malu dilihatin orang,” kata Poppy.


“Katanya sakit kepala,” Budi memasang seat beltnya.


Setelah menyalakan mesin mobil Budi menoleh ke Poppy.


“Sudah pasang seat belt belum? Atau mau dipasangin?” Budi melihat Poppy belum memasang seat belt.


Poppy menggeleng kepalanya cepat-cepat dipasangnya seat belt.


Budi tertawa melihat Poppy yang ketakutan.


Lalu Budi mengendarai mobil meninggalkan rumah makan. Budi menyalakan radio dan salah satu stasiun radio memasang lagu  D’Masiv Cinta Ini Membunuhku. Kebetulan pas mobil sedang berhenti karena  lampu merah Budi ikut menyanyi sambil bergaya. Poppy menahan tawanya melihat tingkah Budi.


Kau membuatku berantakan


Kau membuatku tak karuan


Kau membuatku tak berdaya


Bagaimana caranya untuk


Meruntuhkan kerasnya hatimu?


Kusadari, ku tak sempurna


Ku tak seperti yang kau inginkan


Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku?


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku


Bagaimana caranya untuk


Meruntuhkan kerasnya hatimu?


Kusadari, ku tak sempurna


Ku tak seperti yang kau inginkan


Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku?


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku, wo-uh

__ADS_1


Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku?


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku


Wo-uh-uh, hu-uh, ha-ah


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku


( D’Masiv : Cinta Ini Membunuhku )


Bahkan lampu hijau sudah menyala Budi masih saja tetap bernyanyi dengan serius. Tak terasa sampailah mereka di hotel yang di tuju.


“Ibu, masih sakit nggak kepalanya?” tanya Budi ketika hendak turun check in.


“Kenapa? Mau ngegendong lagi?” tanya Poppy sambil melotot.


“Boleh kalau masih sakit kepalanya,” jawab Budi.


“Ih….Pak Budi lama-lama modus,” seru Poppy.


“Kok dibilang modus? Namanya juga sayang sama calon istri masa dibilang modus,” Budi protes.


“Pokoknya saya nggak mau di gendong,” tegas Poppy.


“Iya-iya. Tunggu jangan turun dulu saya bukakan pintunya dulu,” kata Budi.


Setelah Budi membukakan pintu Poppy keluar dari mobil.


“Masih sakit nggak kepalanya?” tanya Budi khawatir karena iya melihat muka Poppy yang agak pucat.


“Sedikit. Tapi nggak apa-apa,” jawab Poppy.


Budi berjalan di sebelah Poppy berjaga-jaga takut terjadi apa-apa dengan Poppy. Sesampainya di lobby Budi menuntun Poppy untuk duduk di sofa.


“Saya check in dulu. Ibu tunggu di sini.”


Poppy menganguk. Budi meninggalkan Poppy sendiri di sofa lobby hotel. Ketika Budi sedang berbicara dengan resepsionis, sesekali Budi melihat ke Poppy. Wanita itu sedang memijat-mijat dahinya dengan tangannya dan wajahnya terlihat pucat.


Ya Alloh, dia kenapa? bisik Budi dalam hati.


Setelah selesai check in Budi menghampiri Poppy.


“Masih sakit?”


Poppy menganggukan kepalanya.


“Bisa ditinngal dulu sebentar? Saya mau mengambil barang di mobil.”


Poppy mengganggukkan kepalanya.


Budi menghampiri resepsionis, entah apa yang dibicarakannya. Budi menunjuk ke Poppy dan resepsionis menggangguk mengerti.


Lalu Budi mengajak seorang bell boy untuk mengikutinya ke tempat pakkir.


Setelah mengambil barang Budi menghampiri Poppy. Perlahan Budi membantu Poppy untuk bangun lalu memapah Poppy. Selama di dalam liff Poppy mengeluh pusing.


“Sabar ya, sebentar lagi,” bisik Budi,


Budi mempererat rangkulannya. Tak lama kemudian sampai di lantai yang di tuju. Budi memapah Poppy menuju kamar Poppy. Dan membantu Poppy berbaring.


“Sholat dulu. Tayamum saja, sholatnya sambil tidur.”


“Connecting door jangan dikunci dan biarkan terbuka. Saya takut ibu kenapa-kenapa.”

__ADS_1


Poppy menggangguk.


Terdengar suara ketukan dari kamar Budi, Budi masuk ke kamarnya melalui connecting door.


__ADS_2