Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
50. Sebuah Lagu Untuk Poppy.


__ADS_3

“Kamu berbohong ya sama saya. Kamu bilang suami kamu pemilik Rangga’s Hotel & Resto, tapi kenapa foto profilnya tidak sama dengan dia,” kata Toriq menunjuk Budi dari jauh.


“Saya tidak berbohong, memang suami saya pemilik Rangga’s Hotel & Resto tapi dia sudah meninggal sekitar lima bulan lebih,” Poppy menyanggah.


“Nah terus dia siapa?” tanya Toriq dengan penuh rasa ingin tau.


“Dia Aa Budi tunangan saya,” jawab Poppy.


“Oh….baru tunangan belum jadi suami. Berarti masih ada kesempatan saya untuk merebut kamu dari dia,” kata Toriq dengan begitu yakin.


Mendengar omongan Toriq membuat Poppy menjadi kaget. Apa maksudnya? Tanya Poppy dalam hati.


“Maksud saya, saya hendak merebut kamu dari tunanganmu yang tidak tajir itu,” jawab Toriq dengan tenang.


What???? Wah bener-bener Sycophant ini orang, kata Poppy dalam hati.


“Coba saja kalau bisa,” kata Poppy.


“Oke siapa takut,” kata Toriq yang seolah-olah merasa tertantang.


“Selama janur kuning belum melengkung, saya tidak akan mundur,” lanjut Toriq.


Poppy bangun dari kursinya dan hendak pergi dari situ.


Namun ditahan oleh Toriq.


“Eh… mau kemana?” Toriq memegang tangan Poppy.


“Lepaskan. Kita bukan mahroom,” seru Poppy dengan nada marah.


“Bukannya bukan, akan tetapi belum. Dan suatu hari nanti kita bisa menjadi suami istri,” Toriq tersenyum melihat Poppy yang kesal. Ia senang karena berhasil menggoda Poppy.


Budi yang melihat Poppy merasa tidak nyaman, langsung menghentikan pembicaraannya dan pamit untuk kembali ke Poppy.


Budi menghampiri Poppy.


“Ada apa, Pop?” tanya Budi.


“Hai….. kamu pasti Budi tunangannya Poppy. Kenalkan saya Toriq rekan seprofesi Reno,” Toriq mengulurkan tangan kepada Budi dan Budi menyalami Toriq.


Toriq belum sempat ngomong apa-apa lagi, karena keburu datang Fardan.


“Aa dipanggil Mama, kita foto sekeluarga dengan pengantin. Teh Poppy juga di suruh ikut.”


Poppy lega mendengar apa yang dikatakan Farhan. Berarti mereka bisa menjauh dari Toriq.


“Permisi saya harus ke depan dulu,” pamit Budi.


“Oh, silahkan,” jawab Toriq.


Budi mengajak Poppy ke tempat pelaminan untuk di foto bersama.


Setelah foto bersama Toriq tidak terlihat lagi batang hidungnya. Poppy bisa bernafas lega.


Budi melihat ada yang janggal dari sikap Poppy.


“Kamu kenapa?” tanya Budi


Poppy menghela nafas lalu menceritakan semua yang terjadi kepada Budi.


Budi geram mendengar cerita Poppy. Tapi ia harus bersabar, karena bagaimanapun juga Poppy tidak bersalah.


“Ya sudah. Aa harap kamu harus berhati-hati. Kalau dia bersaing secara sportif, tidak apa-apa. Tapi yang Aa takutkan dia bersaing secara tidak sehat, dengan cara curang atau dengan cara kasar,” nasehat Budi.


“Iya A,” jawab Poppy.


“Lagi pula kita tidak tau niat dia yang sebenarnya,” kata Budi.


“Poppy jadi takut,” tutur Poppy.


“Kamu kalau kemana-mana harus ditemani, jangan pergi sendiri,” kata Budi.


“Iya A.”


“Nanti kalau ada kesempatan Aa akan membicarakan dengan Pak Reno,” kata Budi.


“Biar kita tau apa niat dia yang sebenarnya.”


Budi melirik jam di pergelangan tangannya waktu sudah menunjukkan jam dua belas lebih.


Sudah waktunya bumil makan.


“Ayo kita makan dulu, kasihan anak sholeh nanti kelaparan,” ajak Budi.


Mereka menuju ke tempat makanan dihidangkan.


“Mau makan apa?” tanya Budi melihat Poppy yang sibuk memilih mau makan apa.

__ADS_1


“Mau lidah sapi,” kata Poppy.


“Aa mau makan apa?”


“Aa nanti ambil hidangan prasmanan aja,” kata Budi.


Budi mengantar Poppy mengambil lidah sapi, setelah itu Poppy menemani Budi mengantri mengambil hidangan prasmanan.


Setelah itu barulah mereka mencari tempat duduk untuk makan.


Ketika mereka sedang makan seorang MC membacakan sebuah request lagu.


“Sebuah request lagu dari dokter Toriq untuk seorang wanita cantik yang bernama Poppy. Judul lagunya adalah Beautiful Girl.”


Dan mulailah sang penyanyi menyanyikan lagu Beautiful Girl dari Jose Mari Chan.


Terdengar percakapan para rekan-rekan Reno yang duduk di dekat Poppy dan Budi.


“Sepertinya dokter Toriq lagi jatuh cinta,” kata seorang wanita cantik.


“Gue denger-denger ceweknya sudah punya suami,” kata wanita cantik yang berambut panjang.


“Bukan punya suami, tapi punya tunangan,” ralat seorang laki-laki tampan yang duduk diantara mereka.


Budi dan Poppy hanya diam saja mendengar percakapan mereka.


Budi merasa geram. Sedangkan Poppy merasa tidak enak kepada Budi tentang percakapan teman-temannya Reno. Semestinya Reno tidak membiarkan rumor itu beredar. Tapi biarkan saja karena mereka tidak tau Poppy yang mana yang dimaksud oleh Toriq.


Beautiful girl, wherever you are


I knew when I saw you, you had opened the door


I knew that I'd love again after a long, long while


I'd love again.


You said "hello" and I turned to go


But something in your eyes left my heart beating so


I just knew that I'd love again after a long, long while


I'd love again.


Refrain : It was destiny's game


For when love finally came on


That you were gone.


Whenever you are, I fear that I might


Have lost you forever like a song in the night


Now that I've loved again after a long, long while


I've loved again.


*Repeat Refrain


Beautiful girl, I'll search on for you


'Til all of your loveliness in my arms come true


You've made me love again after a long, long while


In love again


And I'm glad that it's you


Hmm, beautiful girl.


(Jose Mari Chan : Beautiful Girl)


Setelah lagu Beautiful Girl selesai, MC masih membacakan request lagu.


“Masih request dari dokter Toriq untuk seseorang bernama Poppy dengan lagu berjudul Akad dari Payung Teduh,” kata MC


“Dokter Toriq bener-bener pengen nikah,” seru seseorang


Yang disusul oleh suara siulan fit…fit…..


Suara di salah satu sudut  Ballroom terdengar riuh, mengganggu dokter Toriq. Sedangkan dokter Toriq hanya tertawa dengan senyum bahagia.


Terdengar suara penyanyi pria menyanyikan lagu Akad.


Betapa bahagianya hatiku

__ADS_1


Saat kududuk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini


Adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Sudilah kau menjadi temanku


Sudilah kau menjadi istriku


(Payung Teduh: Akad)


Poppy hanya bisa diam dan membisu. Makanannyapun tidak dimakan. Satu kata yang bisa terucap dari mulutnya yaitu, “Maaf.”


Budi hanya memberi senyuman agar bumil tidak terlalut dalam kesedihan.


“Tidak apa-apa. Bukan salah Poppy,” hibur Budi.


“Ayo dimakan dulu makanannya,” kata Budi.


Tapi bumil itu tetap tidak mau makan. Dengan kesal Poppy meninggalkan makanannya. Ia berjalan menuju ke tempat pengantin. Kebetulan lagi kosong belum ada lagi tamu yang datang. Poppy mendekati Reno. Budi melihat Poppy pergi dalam keadaan marah langsung menyusul ke tempat Reno berdiri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


diterusin besok lagi, ya


__ADS_2