
Setelah sholat Isya Budi menelepon mamanya.
“Assalamualaikum, ma.”
“Waalaikumsalam, Budi.”
“Gimana dengan urusannya, lancar?”
“Alhamdullilah lancar, ma. Sudah beres tinggal menunggu hasil kerja arsiteknya.”
“Syukurlah.”
“Ma, tadi pagi Pak Reno bilang mau melamar Teh Rima.”
“Kapan Bud? Kok Rima nggak bilang ke mama, ya?”
“Pak Reno bilang minggu depan. Pak Reno udah ngomong ke teteh, tapi tetehnya diam saja nggak ngomong apa-apa.”
“Nanti mama tanya ke teteh. Terus berarti dimundurin dong acara ngelamar Poppy?”
“Nggak apa-apa, mah. Lagi pula Budi belum ke Pak Rahadian.”
“Kapan Budi mau ke Pak Rahadian?”
“Besok sore, ma. Sepulang dari Bandung, Budi mampir dulu ke Pak Rahadian.”
“Jangan lupa beli buat oleh-olehnya. Bolu gulung B***** di jalan Riau enak, beli itu saja. Beli beberapa rasa.”
“Ya, ma.”
Tiba-tiba Poppy masuk ke dalam kamar Budi. Budi memberi tanda untuk tunggu. Poppy duduk di ujung tempat tidur.
“Ya sudah, mama mau bicarakan tentang lamaran teteh ke ayah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” Budi menutup teleponnya lalu duduk di sebelah Poppy.
“Nelepon siapa, Pak Budi?” tanya Poppy.
“Nelepon mama, kasih tau kalau Pak Reno mau datang melamar,” kata Budi.
“Besok temani saya ke Pak Rahadian dan Pak Brata, ya,” pinta Budi.
“Loh katanya papih saja, kok papa juga?" tanya Poppy.
__ADS_1
“Biar sekalian beres. Lagi pula nggak enak sama Pak Brata kalau saya tidak datang, nanti disangka Pak Brata saya cuma main-main,” kata Budi.
“Iya nggak apa-apa. Sekarang telepon sendiri ya papih dan papanya,” Poppy memberikan ponsel miliknya ke Budi.
Dengan perasaan deg-degan Budi menelopon Pak Rahadian dan Pak Brata. Poppy menyuruh Budi untuk menyalakan loudspeaker
Yang pertama Budi telepon adalah Pak Rahadian. Respon Pak Rahadian sangat positif, beliau mengerti maksud Budi.
“Oke, saya tunggu di rumah jam dua. Makan siang di rumah saya,” itu jawaban yang Pak Rahadian berikan.
Tapi respon Pak Brata beda lagi.
“Budi, sebenarnya yang kamu dulu yang
mau ngelamar Poppy atau Reno dulu yang melamar Rima,” Pak Brata benar-benar dibuat bingung oleh ulah Reno ysng mendadak mau melamar Rima.
Budi tidak berani menjawab apa-apa dia hanya diam saja.
“Ya sudah. Kamu mau ke sini jam berapa?” tanya Pak Brata.
“Sekitar jam empat sore, pak,” jawab Budi.
“Oke saya tunggu jam empat sore,” seru Pak Brata.
“Baik, pak. Terima kasih atas waktunya,” ucap Budi.
“Senang melihat calon suami ketakutan
menghadapi calon mertua?” protes Budi.
Poppy masih saja tertawa sambil menggeleng-geleng kepala.
“Muka Pak Budi lucu kalau ketakutan,”
jawab Poppy sambil menahan ketawa.
“Sudah ah, jangan ketawain lagi. Ini sudah malam sudah waktunya bumil tidur,” tegur Budi.
“Baik, Pak Budi. Selamat malam,” Poppy meninggalkan kamar Budi kembali ke kamarnya.
“Selamat malam,” balas Budi.
Keesokan harinya mereka check out dari hotel jam setengah sepuluh. Sengaja mereka tidak check out pagi-pagi karena menunggu toko kue B***** buka. Budi membeli dua buah bolu gulung untuk Pak Rahadian dan dua buah bolu gulung untuk Pak Brata. Untuk Ilham, Reva dan
__ADS_1
Jaka masing-masing mendapatkan satu buah bolu gulung. Serta tidak lupa untuk Irma sekertarisnya yang cerewet juga mendapatkan satu buah bolu gulung yang dititipkan ke Reva. Budi juga tidak lupa membeli oleh-oleh untuk keluarganya.
“Nanti kita tambahkan dengan parcel buah. Tapi belinya di Jakarta saja,” kata Budi sambil membayar kue.
“Nggak usah ditambah parcel buah, kue juga sudah cukup,” Poppy protes.
“Nggak enak, masa ke rumah calon mertua bawanya cuma kue saja,” ucap Budi.
“Boleh, tapi parcel buahnya yang kecil saja, ya. Jangan yang besar,” usul Poppy.
“Lihat saja nanti, bagusnya bagaimana,” jawab Budi sambil mengajak Poppy keluar dari toko kue.
“Ada yang mau dibeli lagi nggak? Buat bekal,” tanya Budi ketika di dalam mobil.
Poppy menggelengkan kepalanya.
“Kue dari tante Tiara juga masih banyak,” kata Poppy.
Mereka langsung menuju ke Tangerang Selatan. Beruntung di jalan tidak macet, jam setengah satu mereka sampai di Rangga’s Hotel & Resto. Jaka dan Reva turun di sana.
Poppy dan Budi sholat dzuhur di mushola resto. Setelah selesai sholat Budi dan Poppy langsung ke rumah Pak Rahadian di Jakarta. Sebelumnya mereka mampir dulu ke toko buah untuk membeli parcel buah. Sampai di rumah Pak Rahadian jam dua kurang.
“Assalamualaikum,” Budi dan Poppy mengucapkan salam bersamaan ketika masuk ke dalam rumah Pak Rahadian.
“Waalaikumsalam,” Pak Rahadian membalas salam mereka.
“Eh…Poppy-Budi kenapa sudah sampai? Ini baru jam dua kurang. Mamih belum selesai masak,” kata Pak Rahadian.
“Silahkan duduk dulu. Mamihnya Poppy masih di dapur.”
Budi menyimpan parcel dan kue di atas meja.
“Terima kasih, Budi. Padahal nggak usah repot-repot bawa oleh-oleh,” ucap Pak Rahadian.
“Poppy, coba kamu panggil mamih di dapur,” seru Pak Rahadian.
Poppy langsung ke belakang rumah.
Dengan deg-degan Budi mengutarakan niatnya untuk menemui Pak Rahadian.
“Pak, saya mohon ijin untuk melamar Poppy menantu bapak.”
“Budi, Rangga anak saya sudah tiada. Dan saya tidak berhak untuk menghalang-halangi Poppy untuk menikah lagi. Satu pesan saya, saya titip Poppy dan cucu saya untuk kamu jaga, lindungi dan kamu bahagiakan,” Pak Rahadian menatap Budi.
__ADS_1
“Baik pak, akan saya lakukan semampu saya,” ucap Budi.
“Saya pegang janjimu anak muda.”