Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
28. Poppy.


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya Poppy diperbolehkan pulang oleh dokter. Kali ini ia tidak minta dijemput oleh Budi. Poppy minta dijemput mamih mertuanya Bu Femi. Sengaja ia tidak minta dijemput Budi karena ia ingin berziarah ke makam suaminya Rangga. Sekarang Poppy duduk berdua dengan


mertuanya di makam Rangga. Ia mendoakan suaminya. Setelah berdoa ia mengajak bicara suaminya, seolah suaminya bisa mendengarkan apa yang ia bicarakan.


“Akang, sekarang anak sholeh kita sudah besar dan tumbuh sehat. Ia sudah bisa bergerak dan menendang-nendang. Bahkan ia seperti bisa merespon jika Poppy ajak bicara," kata Poppy sambil mengusap-usap perutnya.


“Akang, Poppy minta restu untuk menikah lagi dengan Pak Budi. Kemarin Pak Budi melamar Poppy. Sebenarnya Poppy bingung terima atau tidak lamaran Pak Budi, tapi anak sholeh kita ini begitu memihak pada Pak Budi. Bahkan sebutan anak sholeh Pak Budi yang berikan,” kata Poppy panjang lebar sambil terisak-isak dan air matanya mengalir.


Bu Femi terdiam mendengar curahan hati Poppy.


“Akang, walaupun Poppy memiliki someone new, tapi akang selalu ada dihati Poppy,” Poppy mengusap batu nisan suaminya.


Lalu Poppu menoleh ke mertuanya.


“Hayu mih, kita pulang,” ajak Poppy kepada mertuanya.


“Kapan Pak Budi melamarmu?” tanya Bu Femi.


“Kemarin mih, sewaktu Poppy dirawat,” jawab Poppy.


“Dan apa jawabanmu kepada Pak Budi?” tanya Bu Femi.


“Poppy tidak jawab apa-apa, mih. Poppy sadar dengan status dan keadaan Poppy. Tapi Pak Budi tetap akan minta ijin kepada papih dan akan melamar Poppy kepada papa,” jawab Poppy.


“Kapan itu, Pop?’


“Sepulang kami dari Bandung, mih. Kami harus ke Bandung dulu karena janji bertemu dengan arsitek yang akan mendesign hotel dan resto.”


“Apakah mamih menentang hubungan Poppy


dengan Pak Budi?” Poppy balik bertanya.


“Tidak sayang,” Bu Femi mengusap punggung Poppy.


“Mamih doakan yang terbaik untukmu dan anak sholeh kalian,” ucap Bu Femi.


“Terima kasih, mih,” Poppy memeluk Bu Femi.


Bu Femi melepaskan pelukannya.


“Ayo sayang kita pulang. Sebentar lagi sinar matahari akan terik, nanti kamu sakit lagi,” ajak Bu Femi.


“Ayo, mih,” Poppy dan Bu Femi berdiri.


“Assalamualaikum,” salam mereka sambil  meninggalkan makam Rangga.


*****


Beberapa hari setelah kepulangan Poppy dari Rumah sakit, Budi mengajak Poppy ke Bandung. Kali ini mereka tidak hanya pergi berdua, mereka membawa assisten dan sekertaris mereka yaitu Jaka dan Reva.


Mengetahui Reva ikut ke Bandung, Irma jadi uring-uringan.


“Reva, elo mah enak jalan-jalan terus sama Bu Poppy. Nah gue bagian jaga kadang terus,” Irma protes.

__ADS_1


“Gue kan kerja, Irma,” elak Reva.


“Elo kerja ape? Tuh yang kerja paling Pak Budi sama Jaka. Nah loe sama Bu Poppy paling cuma duduk-duduk manis ngelihatin Pak Budi dan Jaka,” sindir Irma.


“Iiiihhh gue kerja bagian megangin payung Bu Poppy keliling lokasi. Kan sekarang pertemuan dengan arsitek dan yang menentukan konsepnya Bu Poppy. Jadi Bu Poppy bakalan berjalan keliling lokasi sambil menunjukkan bagian ini mau dibangun apa, terus disebelah sana mau dibangun apa. Begitu,” terang Reva.


“Elo kata siapa?” tanya Irma penasaran.


“Ya, kata guelah. Menurut gambaran gue bakalan seperti itu,” jawab Reva tenang.


“Mana di Bandung ada baso yang enak, kesukaan Bu Poppy,” seru Irma.


“Baso enak? Elo kata siapa?” tanya Reva penasaran.


“Tuh kata Jaka. Dia pernah di ajak Pak Budi ke sana,” jawab Irma.


“Hengngng, Pak Budi mah tidak adil. Tukeran napa sekali-sekali saya jadi sekretaris Bu Poppy, Reva jadi sekertaris Pak Budi. Jadi kalau Bu Poppy keluar kota saya ikut,” omel Irma.


Budi yang sedang di dalam ruangannya mendengar ada ribut-ribut di luar, tapi dia membiarkan saja. Dia tau Irma sedang uring-uringan.


“Pak Budi itu ada ribut-ribut di luar, saya lihat dulu,” kata Jaka yang hendak membukakan pintu.


“Nggak usah, Jak. Biarin aja itu paling Irma lagi ngomel pengen ikut ke Bandung,” ujar Budi.


“Biarin, diemin aja. Jangan ditanggapi kalau Irma lagi uring-uringan.”


******


Keesokan harinya mereka pergi ke Bandung. Mereka mnggunakan mobil  MPV premium milik alm Pak Rangga. Sengaja Budi memilih mobil itu agar Poppy merasa nyaman selama di perjalan.


“Bawa supir, ya Bud?” tanya Reno melihat Ilham sedang memanaskan mobil.


“Iya, pak. Saya cape sekali, takut nggak konsentrasi menyetirnya,” jawab Budi yang terlihat lelah sekali.


“Pasti sibuk sekali, ya Bud? Mestinya bos tinggal duduk-duduk aja menyuruh anak buah bekerja, ” seru Reno.


“Semuanya juga sibuk kerja, pak,” jawab Budi.


Reno melihat bawaan Budi banyak sekali.


“Itu pasti bekal untuk Poppy, ya?” tanya Reno menunjukkan ke tas-tas kain yang Budi taruh di dekat tempat duduk Poppy.


“iya, pak. Biasa dari Mama dan teh Rima,” jawab Budi.


“Ada titipan untuk saya nggak dari Rima?’ tanya Reno.


Budi berpikir sejenak.


“Nggak ada, pak. Teh Rima tidak bicara apa-apa,” jawab Budi.


“Bud…,” panggil Reno.


“Iya, pak.”

__ADS_1


“Minggu depan saya akan melamar Rima,” kata Reno.


Budi terkejut mendengar ucapan Reno.


“Teh Rima sudah tau kalau Pak


Reno akan datang melamar?” tanya Budi.


“Sudah, saya sudah bilang ke Rima. Dan dia diam saja tidak bicara apa-apa,” jawab Reno.


“Mama dan ayah juga tidak mengatakan apa-apa,” kata Budi.


“Sepertinya Rima belum bilang ke orang tua Budi. Coba Budi yang bilang ke orang tua Budi kalau saya mau melamar Rima,” suruh Reno.


“Baik pak, akan saya sampaikan,” jawab Budi.


“Apa yang mau disampaikan?” tanya Poppy tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.


“Minggu depan Pak Reno mau melamar teh Rima,” jawab Budi.


Poppy memandang wajah kakaknya.


“Selamat, bang. Akhirnya abang menemukan tambatan hati,” kata Poppy sambil memeluk kakaknya.


“Kamu Bud, kapan melamar Poppy?” tanya Reno.


Budi memandang ke arah Poppy lalu pandangan mereka bertemu. Budi tersenyum ke Poppy.


“Insya Allah sepulangnya kami dari Bandung saya akan melamar Poppy,” jawab Budi dengan mantap.


“Yah, kalau begitu bentrok dong,” Reno protes.


“Pak Reno yang duluan saja melamar teh Rima. Saya masih harus minta ijin ke Pak Rahadian dan ibu Femi,” kata Budi.


“Oke,” ujar Reno.


“Ibu sudah siap? Kita berangkat sekarang,” ajak Budi.


“Loh, mana Jaka dan Reva? Mereka belum datang?’ tanya Poppy yang memandang ke sekeliling dan tidak melihat kedua pegawainya itu.


“Oh… mereka menunggu di kantor, bu. Sekarang kita mau jemput mereka,” jawab Budi.


Budi membantu Poppy masuk ke dalam mobil. Lalu ia menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Poppy.


“Ibu sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan?” tanya Budi sekali lagi.


“Tidak ada yang ketinggalan,” jawab Poppy.


Kemudian Budi menutup pintu mobil. Dan mobilpun meluncur di jalan raya.


“Ilham kita ke kantor dulu, jemput Jaka dan Reva,” ujar Budi.


“Baik, pak,” jawab Ilham.

__ADS_1


Setelah menjemput Jaka dan Reva


mereka langsung menuju ke Bandung.


__ADS_2