
Budi mengambil tissue yang berada di atas lemari dan memberikanya kepada Poppy. Kemudian Budi duduk di kursi dekat tempat tidur Poppy. Poppy mengambil tissue dan mengelap mukanya yang basah karena air mata.
“Saya atur tempat tidurnya ya, biar bisa duduk,” tawar Budi.
Poppy menjawabnya dengan mengangguk.
“Pusing, nggak?” tanya Budi dengan khawatir sambil memencet remot pengaturan bed. Ia takut kalau Poppy duduk akan merasa pusing. Apalagi tadi Poppy muntah-muntah terus.
Poppy menggelengkan kepalanya.
“Kalau pusing bilang, ya,” kata Budi.
Poppy mengangguk.
Budi kembali duduk di dekat Poppy.
“Ibu jangan menangis lagi. Kasihan Anak Sholeh kalau Mamanya menangis,” ucap Budi sambil memandang wajah Poppy yang sembab karena habis menangis. Ia begitu khawatir dengan keadaan Poppy yang begitu lemah.
“Gerakkan Anak Sholeh sekarang sudah mulai terasa,” kata Poppy sambil mengusap perutnya. Dari tadi anak di dalam kandungannya tidak bisa diam begitu mendengar suara Budi.
“Benarkah?” tanya Budi kaget.
“Tadi siang waktu Pa Budi nelepon, Anak Sholeh tidak bisa diam. Dia bergerak-gerak terus mendengar suara Pak Budi,” jelas Poppy sambil terus mengusap-usap perutnya.
“Kalau sekarang?” tanya Budi penasaran.
“Begitu mendengar suara Pak Budi dia bergerak-gerak. Sepertinya dia senang Pak Budi datang,” jawab Poppy.
“Assalamualaikum, Anak Sholeh,” sapa Budi pada bayi di kandungan Poppy.
“Waalacumcalam, Om,” Poppy yang menjawab dengan suara mirip anak kecil sambil senyum mendengar Budi mengajak anak yang di dalam kandungannya berbicara.
“Baik-baik saja di sana, ya Nak. Jaga Mama baik-baik. Jangan buat Mama sakit dan menangis,” nasehat Budi.
“Yang cuka bibim Mama menangis icu Om Budi, bukan acu,” protes Poppy dengan wajah cemberut.
“Iya Om yang salah. Om minta maaf,” jawab Budi.
Poppy melihat ke kantong plastik yang berada di meja dekat sofa.
“Pak Budi bawa apa?” tanya Poppy penasaran.
“Kue khas Bandung. Bu Poppy mau? Sebentar saya ambilkan,” jawab Budi sambil berdiri dan mengambil kantong plastik yang tadi dibawanya dan di dekatkan ke Poppy. Poppy membuka kantong plastik itu dan matanya terbelalak.
“Banyak sekali, Pak Budi,” seru Poppy.
“Untuk Ibu apa saja akan saya berikan,” kata Budi.
“Udah pinter ngegombal, ya?” cibir Poppy.
“Saya belajar ngegombal juga demi ibu Poppy, Mamanya Anak Sholeh,” jawab Budi tenang
Poppy tersipu malu.
“Ibu mau makan yang mana dulu?” tawar Budi sambil membukakan kantong plastik.
“Mau yang ini,” Poppy menunjuk bolu susu yang rasa coklat.
Budi mengeluarkan dus bolu susu dari kantong plastik dan menyimpannya di atas nakas. Ia meletakkan kembali kantong plastik yang berisi kue yang lain ke meja di dekat sofa.
“Sebentar dipotong dulu kuenya,” Budi memotong kue dengan pisau untuk buah.
“Nah ini kuenya,” kata Budi memberikan dus yang berisikan kue bolu susu yang sudah dipotong-potong.
Poppy mengambil satu buah kue yang sudah dipotong Budi.
__ADS_1
“Makannya sedikit-sedikit,” kata Budi sambil memperhatikan Poppy makan dengan pelan-pelan. Sampai tidak terasa Poppy menghabiskan satu potong kue habis dimakan Poppy tanpa harus dimuntahkan.
“Mau lagi? Poppy menganguk.
Busi menyodorkan kotak kuenya, ia membiarkan Poppy memilih sendiri potongan kuenya. Poppy mengambil potongan kue dan makan perlahan.
Sementara itu tanpa Poppy dan Budi sadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasi mereka.
“Bagaimana, Mel? Berhasil dimakan nggak kuenya?” tanya Bu Femi sambil berbisik.
“Dimakan, Ceu. Dan hebat tidak dimuntahin sama sekali,” jawab Bu Melly sambil berbisik.
Iva ikutan melihat ke kaca pintu ruang rawat inap Poppy.
“Tadi katanya nggak mau. Eh….sekarang dimakan. Dasar Teteh plin plan,” seru Iva kesal.
“Iva nggak kebagian dong,” Iva protes.
“Ssssstttt jangan keras-keras. Itu di meja masih banyak,” tegur Bu Femi menujuk ke meja sofa.
“Tapi Iva mau kue yang sedang dimakan Teteh,” Iva protes.
“Nanti minta ke Teh Poppy. Teteh nggak mungkin menghabiskan semuanya,” kata Bu Melly.
Sedangkan di belakang mereka bapak-bapak juga mengobrol.
“Sepertinya mereka harus segera di nikahkan, Poppy sudah nggak bisa jauh dari Budi. Dia ketergantungan sekali pada Budi,” kata Pak Brata.
“Sabar Brata. Budi itu pemuda yang baik, dia tau batasannya. Lagi pula Poppy dalam keadaan hamil. Belum bisa kita nikahkan. Nanti kalau cucu kita sudah lahir kita langsung nikahkan mereka. Kalau perlu kita gelar akad nikah di rumah sakit,” ucap Pak Rahadian sambil menepuk bahu besannya.
Ketika mereka masih memperhatikan interaksi Budi dan Poppy, ada suara yang memberi salam kepada mereka dari belakang.
“Assalamualaikum.”
Tiba-tiba mereka semuanya kaget.
Ternyata ada Pak Aep, Bu Tiara, Rima dan Reno.
“Pak Aep – Ibu Tiara apa kabar?” mereka menyambut kedatangan Pak Aep dan Ibu Tiara.
"Alhamdullilah, baik," jawab Pak Aep.
“Kalau ini siapa?” tanya Pak Brata menuju ke Rima.
“Itu Rima anak alm kakak saya,” jawab Pak Aep.
“Oh….saya kira kakaknya Budi?” ucap Pak Brata.
“Rima memang sudah seperti anak kami. Waktu orang tua dan suaminya meninggal mereka menitipkannya kepada kami,” ujar Pak Aep.
“Oh, pantesan sering ikut Pak Aep dan Bu Tiara,” kata Bu Melly.
“Rumahnya juga di samping rumah kami,” kata Bu Tiara.
“Oh…. begitu.”
“Poppy sering dibuatkan kue oleh Rima,” papar Bu Femi.
“Oh ya? kok saya nggak tau. Poppy nggak pernah cerita,” protes Bu Melly.
“Kuenya enak loh, Mel. Ceuceu pernah mencoba kuenya waktu di Bandung. Poppy dibawakan bekal kue yang banyak oleh Bu Tiara dan Rima,” kata Bu Femi.
“Tante juga mau coba kue buatan Rima,” pinta Bu Melly.
“Nanti akan Rima buatkan untuk Tante,” jawab Rima.
__ADS_1
Bu Melly menoleh ke Reno yang hanya diam saja di sebelah Rima.
“Abang…… kok bisa bareng sama Pak Aep dan Bu Tiara?” tanya Bu Melly.
“Tadi ketemu di depan, Ma,” jawab Reno yang masih berdiri di samping Rima.
“Aduh ini kita jadi ngobrol di tepan pintu. Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Bu Femi sambil membukakan pintu kamar rawat inap.
Bu Femi masuk ke dalam kamar rawat inap Poppy.
“Poppy, ini ada Ayah dan Mamanya Pak Budi,” ujar Bu Femi.
Budi menoleh ke belakang dan langsung bangun dan menghampiri kedua orang tuanya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Aep dan Bu Tiara.
“Waalaikumsalam,” salam balas Budi dan Poppy.
Budi mencium tangan Ayahnya.
“Kapan datang dari Bandung?” tanya Pak Aep sambil menepuk bahu anaknya.
“Belum lama Ayah,” jawab Budi.
Lalu beralih mencium tangan Mamanya.
“Sehat, Bud?” tanya Bu Tiara.
“Alhamdullilah sehat, Ma,” jawab Budi.
“Teh Rima,” sapa Budi.
Kemudian menghampiri Rima dan mencium tangan kakak sepupuhnya.
“Odie mana, Teh?” tanya Budi yang tidak melihat Odie bersama mereka.
“Ada di rumah ditemani Farhan dan Fadlan,” jawab Rima.
“Sama Farhan dan Fadlan?” tanya Budi sambil mengerutkan keningnya.
Ia teringat sewaktu Odie memasukkan pilus ke hidungnya, karena kekonyolan Farhan dan Fadlan.
“Tenang saja, Budi. Mereka tidak akan berani mengajari Odie yang tidak-tidak. Ayah sudah menegur mereka,” kata Bu Tiara.
“Ya, Ma,” jawab Budi pasrah.
Kemudian Bu Tiara, Pak Aep dan Rima menghampiri Poppy dan menyalami Poppy.
“Bagaimana keadaan Nak Poppy sekarang?” tanya Bu Tiara.
“Alhamdulilah sudah agak mendingan. Tadi sudah bisa makan kue tanpa dimuntahin lagi,” jawab Poppy.
“Syukurlah, kalau sudah agak mendingan. Tante nggak sempat membuatkan makan untuk Poppy. Tapi kebetulan tadi pagi Rima membuat puding banyak. Jadi tante hanya bawa puding,” kata Bu Tiara.
“Terima kasih tante. Jadi ngerepotin Tante,” ujar Poppy.
"Nggak ngerepotin kok."
Merekapun berbincang-bincang banyak hal. Dan tak terasa azan magrib berkumandang. Pak Aep dan keluarganya pamit pulang. Budi juga ikut pamit pulang. Ada perasaan lega karena Poppy sudah bisa makan walaupun sedikit demi sedikit.
.
.
.
__ADS_1
Ceuceu artinya kakak perempuan.