Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
55. Pasca Melahirkan.


__ADS_3

Budi keluar dari kamar mandi, ia nampak lebih segar karena baru selesai mandi. Di lihatnya Poppy sedang menggendong bayinya.


“Mamanya mandi dulu, biar seger. Sini anak sholeh sama Ayah dulu,” kata Budi lalu menghampiri Poppy.


Ketika Budi hendak mengambil bayi dari Poppy, ditahan oleh Poppy.


“Ayah sudah wudhu?” tanya Poppy.


“Sudah, sebentar lagi adzan magrib.”


“Jangan gedong bayi dulu nanti diompolin. Anak sholehnya nggak pakai pospak,” kata Poppy.


“Ya sudah, kalau nggak boleh gendong. Sekarang simpan dulu anak sholehnya, Mamanya mandi.”


“Bukannya nggak boleh, tapi gendongnya nanti kalau sudah sholat,” jelas Poppy.


“Iya, Ayah tau. Udah sekarang taruh dulu bayinya terus Mamanya mandi, udah itu makan. Tuh makan malamnya udah siap,” kata Budi dengan sabar.


“Siap ayah,” Poppy meletakkan bayi di box nya.


Lalu ia menganbil baju dari tasnya dan setelah itu ia masuk ke kamar mandi.


Budi menarik kursi ke dekat box bayi. Dipandanginya anak sambungnya. Bayi itu nampak nyenyak tidurnya. Dielus-elusnya pipi anak sholehnya, bayi itu tetap bergeming.


“Sehat selalu ya, Nak. Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang sholeh. Ayah sayang padamu,” dikecupnya pipi anak sholehnya. Seolah-olah mengerti apa yang dikatakan ayahnya, anak sholeh tersenyum ketika dikecup


ayahnya.


Tak lama terdengar suara adzan magrib.


“Ayah, sholat dulu,” lalu Budi beranjak dan mulai siap-siap sholat magrib.


Poppy keluar dari kamar mandi ketika Budi sedang berdoa. Ia berjalan menuju tempat tidur. Dilihatnya bayinya masih tidur.


Poppy mulai menyantap makan malamnya.


Budi baru saja selesai sholat, lalu mendekati istrinya dan duduk di sebelahnya.


“Makannya yang banyak. Jangan takut gendut. Yang penting anak sholehnya sehat,” Budi mengingatkan.


“Ayah nggak makan?” tanya Poppy.


“Ini baru mau pesan,” Budi menunjuk ke layar ponselnya.


“Ayah pesan apa?” tanya Poppy penasaran.


“Nasi goring kambing. Mama mau?” tawar Budi.


“Mau,” jawab Poppy dengan senang.


“Boleh, tapi jangan pakai pedas, ya. Kasihan anak sholehnya,” kata Budi.


“Iya, Ayah. Nggak apa-apa,” jawab Poppy.


Budi mulai memencet-pencet ponselnya.


“Sudah ayah pesankan,” kata Budi, lalu memasukkan ponselnya ke kantong celananya.


Poppy menyantap semua makanannya sampai habis, lalu meminum air putih yang disediakan.


Setelah itu ia menggendong bayinya untuk disusui. Bayi itu langsung melahap sumber ASI nya. Bayi itu terlihat seperti haus.


Budi menatap anak sholeh yang sedang minum ASI.


Dielus-elusnya pipinya yang tembem. Lalu Budi mendekati anak sholeh dan mengecup pipinya. Namun tiba-tiba Budi juga mengecup tempat penampung ASI anaknya. Poppy kaget, sontak Poppy memukul lengan Budi.


“Ayah, iiihhh nakal! Curi-curi kesempatan,” seru Poppy.


“Boleh atuh Mah. Kan sudah halal,” Budi protes.


“Tapi jangan curi-curi kesempatan,” kata Poppy.


“Iya deh, maaf,” akhirnya Budi mengalah.


Budi membuka ponselnya, ia membaca pesan seseorang.

__ADS_1


Budi langsung bangkit setelah membaca pesan dan langsung mengecup bibir istrinya.


“Ayah ke depan dulu, ya,” dan langsung berjalan ke pintu keluar.


“Ayah mau kemana?” panggil Poppy.


Budi membalikkan badan.


“Mau ambil nasi goreng. Sofyan Food udah ada di depan lobby rumah sakit,” Budi lalu keluar dari ruang inap Poppy.


Setelah dua puluh menit kemudian Budi datang dengan membawa banyak kantong belanja.


“Katanya mau ngambil makanan Sofyan Food. Tapi ini kok belanjaannya banyak sekali?” tanya Poppy dengan bingung.


“Setelah ambil Sofyan Food ayah ke ATM ambil uang. Ayah lupa dompet ayah kosong,” kata Budi.


“Dari ATM ayah mampir ke mini market beli susu UHT, air mineral dan camilan,” lanjut Budi lalu memberikan kantong plastik mini market


ke Poppy.


Poppy membongkar isi kantong plastik.


“Banyak sekali,” ujar Poppy.


“Biar Mama nggak kelaparan dan kehausan karena harus menyusui,” jawab Budi.


“Tadi ayah mau beli susu ibu menyusui. Tapi nggak ada air panasnya. Ayah ganti dengan susu UHT.”


“Iya nggak apa-apa. Terima kasih ayah,” Poppy mengecup pipi Budi membuat Budi kaget.


“Yang ini belum,” Budi menujuk bibirnya dengan senyuman jahil.


Poppy mengecup bibir Budi namun Budi langsung ******* bibir Poppy dan Poppy membalas ******* Budi. Budi menghentikan lumatannya dan memandang kekasih halalnya.


“Terima kasih sudah mau menjadi pendamping Aa,” bisik Budi.


“Poppy yang mestinya berterima kasih sudah mau menerima Poppy dan anak Poppy,” lirih Poppy.


Budi ******* sebentar bibir Poppy.


Poppy mendengar perkataan Budi langsung tersenyum.


“Kasihan, lapar, ya?” tanya Poppy sambil mengusap-usap punggung Budi.


Budi bangkit dari sebelah Poppy  menuju sofa. Ketika ia hendak mengambil makanan


tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar.


Budi membuka pintu Toriq sedang berdiri di depan pintu bersama anak kecil dan perempuan muda.


“Boleh kami menengok Poppy?” tanya Toriq dengan ragu.


“Oh, boleh silahkan masuk,” Budi mempersilahkan Toriq masuk.


Budi membereskan meja yang berantakan. Untung Poppy begitu mendengar ketukan pintu langsung memakai kerudung instant nya, jadi auratnya tidak terlihat Toriq.


Budi mempersilahkan Toriq duduk.


“Om, mana adek bayinya?” tanya anak kecil kepada Toriq.


“Oh…mau lihat adek bayi? Sini...,” Poppy memanggil anak kecil itu.


“Sama Mama lihatnya,” rajuk anak itu.


“Iya, Mama temani,” kata perempuan muda Itu lalu mengajak anak kecil itu mendekati box bayi yang berada di samping tempat tidur Poppy.


Ketika perempuan dan anak kecil itu sedang melihat anak sholeh, sementara Budi dan Toriq berbincang berdua.


“Budi, saya minta maaf atas semua yang terjadi,” ucap Toriq.


“Tidak apa-apa Toriq, memang semuanya sudah takdir harus begini,” jawab Budi.


“Saya dengar dari Reno, tadi sore kalian menikah,” kata Toriq.


“Ya, benar. Memang sudah niat saya akan menikahi Poppy setelah anaknya lahir,” jawab Budi.

__ADS_1


“Selamat, ya. Semoga sakinah, mawadah, warohmah,” ucap Toriq.


“Aamiin yra. Terima kasih,” kata Budi.


Toriq melihat ke arah box bayi terlihat keponakannya sedang asyik memandangi bayi yang sedang tidur.


“Rafa, sudah ya lihat adek bayinya. Sudah malam kita pulang dulu,yuk,” panggil Toriq.


“Nanti dulu,Om. Rafa masih mau lihat adek bayinya,” jawab Rafa.


“Boleh saya lihat bayinya?’ tanya Toriq.


“Silahkan,” jawab Budi.


Toriq bangkit dari tempat duduknya dan mendekati box bayi.


“Baby boy ya adek bayinya?” tanya Toriq kepada Rafa.


“Iya, lucu Om. Pipinya enut,” kata Rafa yang terus memandangi anak sholeh.


“Raf, kita pulang yuk. Sudah malam. Om dan Tantenya mau bobo,” ajak Toriq.


“Tapi pulangnya beliin baby boy ya, Om,” pinta Rafa.


“Kok mintanya sama Om? Mintanya ke Mama dong,” jawab Toriq.


“Aa,” perempuan itu melotot ke Toriq.


“Mama…Rafa mau baby boy,” pinta Rafa.


Perempuan muda itu menghela nafas mendengar permintaan Rafa.


Perempuan itu berlutut mensejajarkan diri dengan Rafa.


“Rafa, sekarang Rafa masih kecil jadi belum bisa punya adek bayi. Nanti kalau Rafa sudah besar Rafa boleh punya adek bayi. Om Toriq pasti akan memberikan Rafa adik bayi,” tutur perempuan muda itu.


“Benarkah Mama?” tanya Rafa dengan berbinar.


“Iya, tapi nanti mintanya ke Om Toriq, ya. Jangan minta ke Mama,” jawab wanita itu.


Budi dan Poppy kaget mendengar ucapan perempuan itu. Budi dan Poppy saling berpandangan saking kagetnya.


“Asyik punya adek bayi. Ayo Mama kita pulang,” ajak Rafa.


“Ayo Om, kita pulang.” Rafa menarik tangan perempuan muda itu dan tangan Toriq.


“Nanti dulu Rafa. Rafa belum pamit sama Om dan Tante,” ujar perempuan muda itu.


“Oh… iya. Rafa lupa,” kata Rafa lalu iya menghampiri Budi dan Poppy.


Rafa mencium tangan Budi dan Poppy.


“Om Tante, Rafa pulang dulu,ya. Assalamualaikum,” ucap Rafa.


“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Budi dan Poppy.


“Kami pamit dulu. Assalamualaikum,” ucap Toriq.


“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Budi dan Poppy.


Toriq dan perempuan itu beserta Rafa keluar dari kamar inap Poppy.


.


.


.


.


.


.


bersambungnya besok lagi.

__ADS_1


__ADS_2