
Ketika Budi hendak menggendong Poppy, Rima melihat air yang mengalir dari kaki Poppy.
“Budi, air Bud,” kata Rima sambil menunjuk ke ujung kaki Poppy.
“Ketuban Poppy kemungkinan pecah,” kata Rima.
Melihat air yang terus menerus mengalir dari kaki Poppy membuat Budi tambah panik.
“jangan panik, Budi harus tenang. Kasihan Poppy kalau Budi ikutan panik,” kata Rima.
Budi melihat Poppy sudah meringis kesakitan.
“Jangan setir mobil sendiri. Suruh Farhan atau Fadlan yang menyetir.”
“Sekarang langsung ke UGD rumah sakit terdekat. Kita ketemu di sana,” kata Rima.
“Iya, Teh.”
Budi langsung menggendong Poppy.
Sambil berjalan ia berteriak memanggil-manggil Farhan, Fadlan dan Ilham.
“Fadlan, Farhan, Ilham siapkan mobil!!!!!” teriak Budi.
“Sabar sayang, sabar nak. Ayah sedang berusaha membawa Mamahmu ke rumah sakit,” kata Budi yang terus berjalan sambil menggendong Poppy.
Poppy terus meringis menahan sakit di dalam gendongan Budi.
Namun di belakang Budi nampak Dimas berlari menyusul Budi.
“Pakai mobil saya, saya antar,” kata Dimas yang berusaha mensejajari Budi.
Untung mobil Dimas mudah ditemukan dan tidak terhalangi oleh mobil lain. Sehingga dengan mudah mereka membawa Poppy ke rumah sakit.
Sementara itu di Ballroom hotel tempat pesta resepsi pernikahan Reno.
Nampak Pak Brata sedang memarahi Reno dan Toriq.
“Kalian berdua harus bertanggung jawab atas kejadian ini,” kata Pak Brata dengan marah.
“Kok Reno sih, Pa? Ini semua salah Toriq,” Reno protes.
“ Toriq yang salah. Dia itu terlalu terobsesi sama Poppy,” lanjut Reno.
“Kamu tahu darimana tentang Poppy?” tanya Pak Rahadian kepada Toriq.
“Saya dulu sering melihatnya ketika suaminya dirawat di rumah sakit tempat saya bekerja. Tidak taunya dia adiknya Reno,” jawab Toriq
dengan tenang.
“Sewaktu saya menyampaikan niat saya ke Reno, ia mengatakan kalau adiknya sudah memiliki kekasih dan mereka akan menikah setelah anaknya lahir,” kata Toriq.
“Mulai detik itulah saya berniat untuk membuat hubungan mereka putus sehingga Poppy bisa menikah dengan saya.”
“Dan Poppy malah ketakutan didekati sama elo. Dia mengira elo tuh sycophant,” kata Reno.
__ADS_1
“Pokoknya kalian berdua harus minta maaf pada Poppy dan Budi. Gara-gara kalian cucu Papa harus lahir sebelum waktunya,” kata Pak Brata.
“Resepsi kita bubarkan saja. Kita semua ke rumah sakit,” kata Pak Aep.
Dan mereka semua setuju jika resepsi dibubarkan. EO ditugaskan untuk menutup acara resepsi.
Sedangkan kedua mempelai beserta keluarga bergegas ke rumah sakit tempat Poppy dirawat.
Sementara itu di rumah sakit Budi sedang menunggu Poppy yang sedang diperiksa oleh dokter jaga.
“Keluarga Ibu Poppy,” panggil dokter.
“Saya dok,” Budi menghampiri dokter tersebut.
“Bapak suaminya?” tanya dokter itu.
“Bukan, saya tunangannya,” kata Budi.
“Mari ikut saya,” dokter itu mengajak Budi masuk ke dalam ruangan UGD khusus untuk bersalin.
“Duduk, Pak.”
“Ibu Poppy mengalami pecah ketuban, sehingga mau tidak mau bayinya harus dilahirkan,” dokter menerangkan kasusnya Poppy.
“Bagaimana keadaan bayinya?” tanya Budi dengan cemas.
“Bayinya dalam keadaan sehat. Denyut jantungnya bagus. Kita tunggu dokter spesialis kandungannya datang. Mudah-mudahan pembukaannya terus bertambah sehingga Ibu Poppy bisa melahirkan normal,” kata dokter memberikan penjelasan.
“Lakukan saja yang terbaik untuk tunangan saya dan bayinya,” kata Budi.
“Boleh saya menemui tunangan saya?” tanya Budi.
“Silahkan, Pak.”
Budi menghampiri Poppy yang sedang berbaring tempat tidur di UGD ruangan bersalin.
Wanita menahan rasa mulas pada perutnya.
“Hai…..,” Budi tersenyum melihat kekasihnya.
Wanita itu tersenyum sambil meringis.
“Sakit?” tanya Budi.
“Sangat,” jawab Poppy.
“Sabar, ya. Sebentar lagi kita bisa melihat anak sholeh kita,” kata Budi memberikan semangat pada Poppy.
“Sehat, ya nak. Mama dan Ayah sangat menantikan kehadiranmu,” bisik Budi kepada anak sholeh.
Terdengar suara hak alas kaki menuju ke bangsal tempat Poppy dirawat. Nampak Bu Tiara dan Bu Melly yang masih menggunakan pakaian kebaya menghampiri mereka.
“Bagaimana keadaan Poppy?” tanya Bu Melly.
“Bayi harus dilahirkan. Sekarang sedang menunggu dokter spesialis kandungannya datang,” kata Budi.
__ADS_1
“Udah pembukaan berapa?” tanya Bu Tiara.
“Pembukaan tiga,” jawab Poppy dengan nada lemah.
“Mudah-mudahan pembukaannya cepat dan tidak harus dicesar,” kata Bu Tiara.
“Aamiin,” ucap Bu Melly, Poppy dan Budi.
Terdengar suara agak berisik di sebelah. Sepertinya ada yang datang.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik memakai jas putih datang menghampiri Poppy. Di belakangnya diikuti suster dan dokter jaga.
Di name tag nya tertulis dr. Citra, SpOG, M.Kes, MHKes.
“Ibu Poppy bagaimana keadaan ibu sekarang?” tanya dokter Citra itu sambil membaca rekaman medis milik Poppy.
“Sayang sekali masih kurang bulannya. Yang ditakutkan organ tubuhnya belum kuat. Coba kita lihat sudah pembukaan berapa,” dokter Citra menggunakan sarung tangan.
Budi cepat-cepat membalikkan tubuhnya memunggungi Poppy. Bagaimanapun ia belum diperbolehkan untuk melihat.
“Wah cepat, ya sudah pembukaan tujuh. Oke kita tunggu sampai pembukaan sepuluh, ya. Sambil menunggu dokter spesialis anak datang,” lalu dokter Citra keluar dari ruangan.
“Bud, kamu ganti baju dulu biar nyaman menunggunya. Farhan sudah membawakan baju ganti,” kata Bu Tiara.
“Iya, Mah. Nanti saja,” jawab Budi.
“Udah biarkan saja, besan. Mungkin Budi tidak mau jauh-jauh dari Poppy,” Bu Melly mengajak Bu Tiara keluar.
Sekarang gantian Bu Femi yang masuk ke UGD.
Diusap-usapnya kerudung Poppy.
“Sakit sayang?” tanya Bu Femi.
Poppy mengangguk.
“Wayahna sing sabar, ya. Jadi ibu memang penuh perjuangan. Tapi perjuangannya akan berbuah manis. Nanti Poppy pasti merasakan,” ucap Bu Femi.
(Wayahna sing sabar : harus menerima dengan sabar)
“Iya, Mih,” kata Poppy dengan lemah.
.
.
.
.
.
.
to be continued
__ADS_1