Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
30. Teman Lama.


__ADS_3

Setelah Ferdinan pergi, Poppy dan Budi beserta para staf juga pergi meninggalkan tempat. Selama di mobil Budi hanya diam tidak banyak omong. Pandangannya tertuju ke luar kaca samping.


“Pak sekarang kemana?” tanya Jaka yang sedang menoleh ke belakang.


Budi yang sedang melihat keluar tidak menjawab apa-apa.


“Kita cari masjid untuk sholat magrib. Sepertinya sudah adzan magrib,” Poppy yang menjawab pertanyaan Jaka.


“Mesjidnya dimana, bu?” tanya Jaka.


“Coba kamu cari pakai map. Cari masjid terdekat saja,” perintah Poppy.


“Baik, bu.”


Poppy mengirim pesan ke ponsel Budi.


Bu Poppy : Pak Budi masih marah?


Tak lama kemudian terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Budi. Budi membacanya.


Pak Budi : Nggak, saya tidak marah.


Terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Poppy.


Bu Poppy : Cemburu?


Poppy mengirim pesannya. Sambil melirik ke ponsel Budi.


Pesan Poppy cuma dibaca tapi tidak dibalas oleh Budi.


Poppy mengetik pesan sambil senyum-senyum sendiri.


Bu Poppy : Tapi saya senang Pak Budi cemburu, itu tandanya Pak Budi cinta sama saya.


Poppy mengirim pesan lagi. Sama seperti tadi hanya dibaca tapi tidak dibalas.


Budi cuma melirik sekilas ke Poppy.


Bu Poppy : Udah ah jangan pasang muka dingin begitu. Kasihan tuh Jaka dan Ilham tidak tahu jalan nanti kita  nyasar ke Garut.


Poppy mengirim lagi pesannya sambil melirik ke ponsel Budi.


Budi menoleh ke Poppy. Poppy memberikan senyum semanis mungkin ke Budi. Lalu Budi ikut tersenyum sambil mengangguk.


Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah masjid.


Jaka seperti biasa turun lebih dahulu dan membukakan pintu di sebelah Budi.


Budi turun dan membantu Poppy turun dari mobil.


“Terima kasih,” ucap Poppy sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Merekapun beriringan berjalan menuju ke masjid dan berpisah di batas suci.


Setelah sholat mereka kembali ke mobil.


“Jaka sekarang kita cari makan,” kata Budi.


“Pada mau makan apa?” tanya Budi.


“Baso yang enak,” celetuk Reva.


Jaka menoleh ke belakang.


“Baso melulu,” protes Jaka.


“Iiihhh tadi siang kan makan nasi,” elak Reva.


Budi beralih ke Poppy, “Ibu mau makan apa?”


Poppy berpikir sejenak.


“Baso deh,” jawab Poppy.


“Horeee kita makan baso,” teriak Reva kegirangan.


Jaka menoleh ke belakang, “Husss berisik.”


“Biarin weeeekkkk,” Reva meledek ke arah Jaka.


“Iya nggak apa-apa.”


“Jak, coba kamu map Baso Pesona di jalan Dalam Kaum,” perintah Budi.


“Baik, pak.”


“Jaka kamu harus hafal jalan-jalan di Bandung. Nanti kita akan sering ke Bandung,” papar Budi.


“Baik, pak.”


Mobil pun melaju sesuai dengan arahan map. Karena hari kerja jalanan nampak ramai. Setelah dua puluh menit diperjalanan akhirnya mereka sampai juga ke tempat ysng dituju.


“Ayo bu, kita turun,” ajak Budi.


Poppy turun dari mobil dengan dibantu Budi. Lalu mereka masuk ke dalam restaurant. Restaurant nampak ramai sepertinya banyak orang yang baru pulang kantor mampir ke sini. Seperti di meja yang agak pojok nampak sekelompok laki-laki dan perempuan yang masih menggunakan seragam kantor sedang makan bersama.


Seperti biasa Budi menarikkan kursi untuk Poppy duduki. Setelah mereka duduk, datanglah pelayan yang membawakan daftar menu.


“Reva, kamu yang nulis pesanan,” ujar Budi.


Lalu Reva mengambil kertas untuk menulis pesanan mereka. Ketika Reva menulis pesanan, seorang perempuan memakai seragam kantor yang super seksi menghampiri Budi.


“Budi, ya?” tanya perempuan itu.

__ADS_1


Budi menoleh ke perempuan itu sambil mengerutkan dahinya.


“Gue Tina, teman kuliah loe masa nggak kenal sih?” protes perempuan itu.


Budi berpikir sebentar.


“Oh iya, gue ingat. Apa kabar?” tanya Budi tanpa menyalami Tina.


“Kabar gue baik. Elo kerja di sini?” tanya Tina.


“Nggak. Gue kerja di Tangerang Selatan,” jawab Budi.


“Terus loe lagi dinas di sini?” tanya Tina penasaran.


“Calon istri gue mau ngebangun hotel dan resto di Bandung,” jawab Budi cuek.


“Oh ya? Mana calon istri loe?” tanya Tina sambil melirik ke arah Poppy dan Reva.


“Nih kenalin calon istri gue.Namanya Poppy. Owner hati gue,” Budi mengulurkan tangannya ke Poppy.


“Oh ini,” kata Tina dengan nada sinis.


Mata Tina melotot melihat perut Poppy yang membuncit.


“Ini calon istri? bukan istri?” tanya Tina bingung.


“Belum bisa jadi istri, belum masa iddha,” jawab Budi dengan tenang.


“Oh…..,” Tina cuma beroh ria.


Tiba-tiba teman Tina memanggail Tina sehingga Tina kembali ke mejanya. Sehingga Budi dan Poppy bisa melanjutkan pesan makanannya. Ternyata pelayanan di Baso Pesona ini cukup cepat, dalam hitungan beberapa menit pesanan mereka datang. Merekapun makan dengan tenang.


Tina dan teman-temannya telah selesai makan, sebelum pulang Tina menghampiri Budi.


“Bud, gue duluan, ya. Elo kapan balik ke Tangerang Selatan?” pamit Tina.


“Gue pulang besok siang,” kata Budi.


“Oke sampai ketemu di reuni kampus, ya Bud,” kata Tina lalu melenggang keluar dari rumah makan.


Poppy menghentikan makannya dan menoleh ke Budi.


“Pak Budi mau reuni?” tanya Poppy.


“Nggak tau, nggak ada yang kasih kabar,” jawab Budi.


Poppy masih memandangi Budi.


“Jangan khawatir, kalau reuni sudah pasti saya mengajak ibu,” Budi berusaha menenangkan Poppy.


Poppy membalas dengan senyuman. Mereka melanjutkan makannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka langsung kembali ke hotel. Budi takut Poppy kecapean kalau mereka mampir kemana-mana.


__ADS_2