
Budi baru saja pulang sholat subuh di masjid bersama dengan ayah dan adik-adiknya. Ketika ia hendak naik ke kamar tidurnya ayahnya memanggilnya.
“Budi ayah mau bicara,” ucap Pak Aep.
Budi mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar lalu duduk di samping ayahnya.
“Ada apa ayah?”
Pak Aep memandangii putra sulungnya.
“Ayah ingin tahu sebenarnya apa hubunganmu dengan Poppy?” tanya Pak Aep.
“Maksud ayah?” pertanyaan ayahnya membuat Budi kaget.
“Ayah melihat hubunganmu dengan Poppy bukan sekedar hubungan atasan dengan bawahan.”
Budi diam dia tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunduk.
“Jika hanya karena rasa kasihan, ayah minta jangan kamu teruskan hubunganmu dengan Poppy.” Ucap Pak Aep.
Budi mengangkat wajahnya dan memandang wajah ayahnya dengan raut wajah yang sulit dimengerti.
“Poppy itu memerlukan seorang pendamping yang menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hati. Bukan orang yang hanya sekedar kasihan padanya,” kata Pak Aep.
“Coba kamu rasakan jika ada orang yang melamar teh Rimamu hanya karena rasa belas kasihan bukan karena mencintai tetehmu. Pasti kamu tidak akan terima orang yang seperti itu untuk menjaidi suami teh Rima,”
“Begitupun juga Poppy. Jangan kamu mainkan perasaan dia hanya karena kamu kasihan padanya,” lanjut ayah.
Budi memandang ayahnya.
“Budi menyayangi dan mencintainya, ayah. Rasa cinta dan sayang seorang pria kepada seorang wanita. Bukan rasa kasihan seorang bawahan kepada atasannya, ayah,” jawab Budi yang mencoba untuk meyakinnkan ayahnya.
“Bagus itu baru laki-laki,” puji Pak Aep.
“Bagaimana dengan anak di dalam kandungannya? Apakah kamu menerimanya?” tanya Pak Aep sekali lagi.
“Budi menyayangi anak sholeh seperti anak Budi sendiri,” jawab Budi.
“Anak sholeh?” Pak Aep mengerutkan keningnya karena bingung.
“Budi menamakan janin dalam kandungan Poppy dengan nama anak sholeh. Karena nama itu doa. Budi mengharapkan ia menjadi anak yang sholeh jika ia lahir nanti.”
“Ayah tidak menyangka kamu berpikiran sedewasa itu Budi,” ujar Pak Aep dambil menepuk bahu anaknya.
“Berapa usia Poppy?” tanya Pak Aep.
“Dua puluh Sembilan tahun. Lebih tua dua tahun dari Budi,” jawab Budi.
“Apa kamu tidak keberatan dengan perbedaan usia kalian?” tanya ayah sekali lagi.
“Tidak ayah, Budi sama sekali tidak keberatan,” jawab Budi.
“Bagus. Sudah sana kamu siap-siap dulu, nanti kesiangan berangkat ke kantornya,” kata Pak Aep sambil berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
“Ayah,” panggil Budi.
Pak Aep menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Budi.
“Apakah ayah merestui hubungan kami?” tanya Budi dengan harap-harap cemas.
Pak Aep hanya menganggukkan kepalanya.
“Alhamdullilah,” seru Budi dengan wajah senang.
“Tapi…..kamu harus minta restu kepada Pak Rahadian dan Pak Brata. Buktikan bahwa kamu itu serius kepada menantu dan anak mereka. Mengerti?” tegas Pak Aep.
“Mengerti ayah, terima kasih,” Wajah Budi berseri-seri mendengar jawaban ayahnya.
Dengan semangat Budi menaiki tangga meuju ke kamarnya, bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Walaupun Budi sebagai pimpinan bukan berarti dia bisa seenaknya berangkat kesiangan. Ia harus memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.
******
Budi melangkah masuk ke dalam kantornya. Nampak para cleaning service sedang bersih-bersih.
__ADS_1
“Selamat pagi Pak Budi,” sapa para cleaning service.
“Pagi…..,” jawab Budi dengan ramah.
Budi memasuki ruangan tempatnya bekerja. Nampak beberapa dokumen sudah menumpuk di mejanya. Seperti biasa ia menyalakan computer terlebih dahulu, lalu menyalakan pendingin ruangan. Setelah itu barulah ia mulai
bekerja. Ia mulai membuka berkas-berkas yang menumpuk di atas dan membacanya satu persatu.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu.
“Masuk,” jawab Budi.
Seorang laki-laki muda berpakaian office boy masuk ke dalam ruangannya.
“Pak Budi mau minum apa?” tanya office boy.
“Kopi seperti biasa,” jawab Budi.
“Baik, pak,” kata office boy lalu menutup kembali pintu ruang kerja Budi.
Namun tak lama kemdian pintu ruangannya ada yang mengetuk lagi.
“Masuk,” seru Budi.
Pintu terbuka nampaklah duo ceriwis Irma dan Reva.
“Selamat pagi, Pak Budi,” sapa Irma dan Reva.
“Pagi,” jawab Budi.
“Pak, bagaimana keadaan Bu Poppy sekarang?” tanya Reva.
“Sudah agak mendingan, sudah bisa makan sedikit-sedikit,” jawab Budi.
“Alhamdullilah. Soalnya kemarin waktu baru masuk rumah sakit semua yang dimakan dimuntahkan kembali. Sampai lemas badannya,” terang Reva.
“Iyalah, sekarangkan pawangnya udah pulang. Jadi sudah bisa makan,” ujar Irma tanpa berdosa.
“Tuh buktinya begitu Pak Budi pulang semua masalah bisa diselesaikan dengan baik,” terang Irma.
Budi cuma geleng -geleng kepala mendengar celotehan bawahan.
Budi mengambil kantong plastik di atas meja.
“Ini oleh-olehnya. Sana kembali kerja!” perintah Budi.
“Asyik….. terima kaih Pak Budi,” ucap Irma dan Reva.
Irma mengambil oleh-olehnya dan kemudian keluar dari ruangan Budi.
Setelah Irma dan Reva pergi, Budi melanjutkan pekerjaannya.
Ponselnya berdering, tertera nama Bu Poppy dilayarnya.
“Assalamualaikum, bu.”
“Waalaikumsalam, Pak Budi.”
“Bu Poppy sudah sarapan belum?”
“Sudah, tapi sedikit.”
Terdengar suara ketukan pintu.
“Sebentar bu, ada yang mengetuk pintu.”
Budi menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Masuk,” seru Budi.
Pintu dibuka, nampaklah office boy membawa kopi dan. menaruhnya di meja.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Budi.
“Sama-sama, pak,” office boy keluar dari ruangan Budi dan menutup ruangan Poppy.
“Hallo, bu,” Budi melanjutkan pembicaraannya melalui ponsel.
“Tadi siapa?”
“Tadi office boy, bawa kopi pesanan saya.”
“Sepertinya kopi enak, ya? Saya jadi mau kopi.”
“Boleh, tapi nanti kalau anak sholeh sudah lahir.”
“Iiihhh segala macam tidak boleh. Pak Budi pelit.”
Terdengar suara Poppy yang kesal.
“Kan demi kesehatan ibu dan bayi. Nanti kalau anak sholeh sudah lahir boleh mencoba kopi sedikit-sedikit.”
“Ya deh.”
Suara Poppy masih terdengar kesal.
“Ibu sama siapa di kamarnya? Ada yang menemani nggak?”
“Ada Upi. Tadi malam Ilham mengantar Upi ke rumah sakit. Sekarang Upinya saya suruh pulang dulu ambil baju bersih.”
“Jadi sekarang ibu sendiri?”
“Iya.”
“Saya suruh Reva nemani ibu, ya.”
Budi khawatir.
“Nggak usah, pak. Nanti kalau perlu apa-apa tinggal panggil suster.”
“Nanti kalau ada apa-apa telepon saya, ya.”
“Iya. Pak Budi kapan ke sini?”
“Kenapa kangen, ya?”
“Iiihhh ge-er.”
“Mau dibawain makanan apa?”
“hhmm apa, ya?”
Poppy berpikir sebentar.
“Mau siomay.”
“Oke, nanti pas makan siang saya bawakan siomay. Sudah dulu, ya. Saya kerja dulu. Nanti kalau nggak kerja kasihan anak sholeh dan mamanya.”
“Iya, deh. Assalamualaikum,” Poppy menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Budi dan menutup teleponnya.
Budi melanjutkan pekerjaannya. Tepat pukul sebelas Budi menghentikan pekerjaannya. Ia membawa laptop dan beberapa berkas yang akan ia kerjakan di rumah sakit untuk menemani Poppy.
Sebelum ke rumah sakit, ia mampir dulu membeli siomay di tempat langganan mamanya. Lalu langsung ke rumah sakit. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit ponselnya bordering. Budi mengabaikan dering ponselnya karena ia sedang menyetir. Namun dering ponselnya tidak berhenti. Terpaksa Budi menepikan mobilnya dan menjawab telepon.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Pak Budi bisa ke sini? Ada Kevin di sini. Saya takut nanti Tantri menyusul kemari.”
Ada nada ketakutan dari suara Poppy.
“Saya ke sana sekarang. Kalau Kevin atau Tantri membuat ulah, panggil suster atau buat keributan agar suster atau sekuriti datang. Saya
sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit. Assalamualaikum.”
__ADS_1
Budi melanjutkan perjalannya dan melaju dengan cepat.