
Setelah sejam menunggu akhirnya lengkap sudah pembukaan sepuluh. Bu Femi dan Bu Melly yang menemani Poppy melahirkan. Ternyata anak sholeh memang sudah tidak sabar melihat indahnya dunia dan bertemu dengan Mama dan orang yang selalu memanggilnya anak sholeh yaitu Om Budi. Tanpa harus menunggu waktu lama terdengarlah suara tangisan bayi. Semuanya mengucapkan Alhamdullilah.
Seorang bayi laki-laki berkulit bersih menangis dengan kencangnya.
“Owa…owa….owa…..”
Suster membawa bayi itu keluar untuk diadzankan.
“Keluarga Ibu Poppy,” panggil suster.
Semua yang sedang menunggu berdiri.
“Siapa yang akan mengadzankan?” tanya suster.
Budi menghampiri suster.
“Saya yang akan mengadzankan bayi ini,” jawab Budi.
Dengan hati-hati Budi menggendong bayi merah itu.
“Assamualaikum anak sholeh,” ucap Budi.
Dikecupnya kening bayi itu dengan penuh rasa haru dan bahagia.
Sesudah itu barulah Budi mengadzani bayi itu. Setelah diadzankan diberikan kembali bayi tersebut ke suster. Tanpa terasa air mata mengalir, Budi merasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
Setelah bayi diadzani terlihat Pak Rahadian memanggil Dimas, ada sesuatu yang sedang mereka bicarakan. Tidak ada satupun orang yang mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dimas mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruang tunggu tempat bersalin.
Tak lama kemudian Bu Femi dan Bu Melly keluar dari kamar bersalin. Semua orang yang menunggu menanyakan keadaan bayi dan ibunya. Karena sewaktu diadzani mereka hanya bisa melihatnya sebentar.
“Bayinya sedang diperiksa oleh dokter anak,” kata Bu Melly.
“Ini semua gara-gara si Sontoloyo Toriq,” seru Pak Brata.
“Sudahlah, Pah. Ini memang sudah takdir anak Poppy akan lahir hari ini,” kata Bu Melly.
“iya, tapi kan kasihan dia harus lahir dalam keadaan prematur,” protes Pak Brata.
Pak Rahadian menghampiri Pak Brata dan menepuk bahunya.
“Brata kita doakan saja cucu kita dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan suatu apapun,” kata Pak Rahadian.
Tak lama Poppy keluar dengan menggunakan kursi roda. Poppy akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Budi dan semua orang yang menunggu Poppy mengikuti dari belakang.
Poppy ditempatkan di kamar VVIP sesuai dengan permintaan Pak Rahadian. Dengan alasan mereka bisa menengok Poppy dengan leluasa.
Pak Aep, Bu Tiara dan Rima mengucapkan selamat kepada Poppy atas kelahiran putra pertamanya.
“Mau dikasih nama siapa?” tanya Rima kepada Poppy.
“Belum tahu, Teh. Biar kakeknya aja yang memberi nama,” jawab Poppy.
“Waduh….. karena lahirnya mendadak jadi belum ada persiapan nama,” kata Pak Brata.
__ADS_1
“Kang, cucunya mau dikasih nama siapa?” tanya Pak Brata kepada Pak Rahadian.
“Terserah calon ayahnya saja,” jawab Pak Rahadian.
Semua orang menoleh ke arah Budi. Budi bingung mau jawab apa.
“Belum tau mau dikasih nama siapa,” jawab Budi.
“Tuh kan kita semua belum punya persiapan nama bayi, karena mendadak lahirnya. Ini semua gara-gara si Borokokok Toriq dan Reno,” ujar Pak Brata.
“Kok Reno sih yang disalahin?” Reno protes.
“Kalau kamu tidak mengundang si Borokokok yang bakalan begini jadinya,” seru Pak Brata.
“Sudah semuanya sudah terjadi. Sekarang beri Budi waktu untuk memberi nama anak sholehnya,” kata Pak Rahadian.
“Bud, tugas kamu memberi nama anak sholeh. Papih tunggu sebelum aqiqah anak sholeh harus sudah diberi nama,” kata Pak Rahadian.
“Iya, Pih,” jawab Budi.
“Urusan nama sudah beres. Tinggal satu lagi urusan yang belum beres,” kata Pak Rahadian.
“Apa tuh, Kang?” tanya Pak Brata penasaran.
“Kita tunggu Dimas datang,” kata Pak Rahadian.
Tak lama kemudian Dimas datang.
“Assalamualaikum,” ucap Dimas.
Dimas masuk ke dalam kamar diikuti seseorang dari belakang.
Seseorang memakai kemeja batik.
Dimas mendekati Pak Rahadian.
“Pak, penghulunya sudah datang,” bisik Dimas.
Pak Rahadian menghampiri Pak Penghulu.
“Silahkan duduk Pak Penghulu. Maaf saya mendadak memanggil bapak ke sini,” kata Pak Rahadian.
Mendengar nama penghulu semua orang menjadi kaget, terutama Budi.
“Tidak apa-apa Pak Rahadian. Memang ini sudah menjadi kewajiban saya,” kata Pak penghulu.
“Mana calon mempelai prianya dan calon mempelai wanitanya?” tanya Pak Penghulu.
“Bud, sini Bud,” panggil Pak Rahadian,
Budi menghampiri Pak Rahadian.
“Ini calon mempelai pria,” Pak Rahadian menepuk punggung Budi.
__ADS_1
“Dan yang sedang berbaring di tempat tidur itu calon mempelai wanitanya,” Pak Rahadian menunjuk ke Poppy.
Semua orang di ruangan itu diam mendengar pembicaraan Pak Rahadian dan Pak Penghulu.
“Bisa kita mulai sekarang, Pak?” tanya Pak Rahadian.
“Pih, tunggu sebentar. Ini maksudnya Budi akan dinikahkan dengan Poppy sekarang?” tanya Budi yang masih bingung.
“Iya. Kenapa? Kamu nggak mau?” Pak Rahadian balik bertanya.
“Mau, Pih. Mau banget. Hanya saja Budi belum mempunyai maharnya,” jawab Budi.
“Mahar tidak harus besar atau mahal. Bisa dengan uang seadanya di dompet atau bisa dengan cara hutang dulu,” kata Pak Penghulu.
Budi membuka dompetnya.
“Di dompet saya hanya ada lima ratus ribu rupiah,” kata Budi lalu mengeluarkan uang yang ada.
“Tidak apa-apa, yang penting ada maharnya,” kata Pak Penghulu.
“Tunggu sebentar saya tanya Poppy dulu mau tidak dia diberi mahar hanya lima ratus ribu rupiah,” kata Budi.
“Silahkan,” ucap penghulu.
Budi menghampiri Poppy.
“Poppy, kita akan menikah sekarang. Poppy keberatan tidak jika kita menikah sekarang?” tanya Budi.
“Poppy tidak keberatan, A,” jawab Poppy.
“Sekarang masalahnya maharnya belum ada karena ini sangat mendadak. Aa hanya ada uang lima ratus ribu di dompet, nggak apa-apa kalau Aa hanya memberi mahar hanya uang sebesar lima ratus ribu?” tanya Budi lagi.
“Tidak apa-apa. Poppy tidak keberatan,” jawab Poppy.
“Alhamdullilah jika Poppy tidak keberatan. Kalau begitu kita bisa menikah sekarang,” ucap Budi.
“Iya, A,” kata Poppy.
.
.
.
.
.
.
siapa yang mau bantu kasih nama anak sholeh?
silahkan komen, ya.
__ADS_1
ditunggu sampai tgl 29 Oktober jam 9.00