
Setelah Pak Aep memperkenalkan keluarga inti dan keluarga besarnya, kini giliran Pak Brata memperkenalkan keluarganya.
Dimulai dengan memperkenalkan istrinya Bu Melly, kemudian ia memperkenalkan Reno.
“Ini anak sulung saya Reno usianya hampir 35 tahun. Reno dokter spesialis bedah syaraf. Reno masih bujangan tapi sekarang ia sudah menemukan tambatan hatinya."
“Dan anak bungsu saya Poppy.”
“Iva tolong ajak teh Poppy ke sini,” kata Pak Brata ke Iva.
Iva pun masuk ke dalam memanggil Poppy. Tak lama kemudian Iva datang sambil menuntun Poppy.
“Sini, Pop. Duduk di dekat mamih dan mama,” panggil Pak Brata.
Keluarga besar Budi tercengang melihat seorang wanita cantik dengan perut yang sudah membesar dan menggunakan baju yang senada dengan Budi.
“Ini Poppy anak bungsu saya. Suaminya sudah meninggal 4 bulan yang lalu karena sakit kanker,” kata Pak Brata.
Terdengar suara bisik-bisik di keluarga Budi. Tapi Pak Aep tidak menghiraukanya.
Setelah itu Pak Brata memperkenalkan keluarga yang lainya.
Yang terakhir Pak Brata memperkenalkan keluarga Pak Rahadian.
“Ini Pak Rahadian dan Bu Femi, orang tua mendiang suami Poppy.”
Pak Brata juga memperkenalkan Dicky dan Ani.
“Ini putra sulung Pak Rahadian, namanya Dicky dan istrinya Ani. Mereka datang jauh dari Singapura.”
“Putra Pak Rahadian yang kedua adalah almarhum Rangga. Dia adalah mendiang suami Poppy.”
“Dan ini putri bungsu Pak Rahadian, namanya Iva. Dan ternyata Iva ini adalah teman SMA Farhan dan Fadlan.”
“Wah ……. Pak Aep ternyata dunia itu sempit, ya. Siapa tau suatu hari nanti Pak Rahadian dan Pak Aep akan menjadi besan,” canda Pak Brata.
“Nggak mau!!!!!!” Iva protes.
“Va, benci dan cinta itu beda-beda tipis,” goda Reno.
“Ogah!!!!” Iva memasang muka cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ya mungkin sekarang belum mau, mungkin suatu hari nanti jadi mau,” kelakar Pak Brata.
“Iiiihhh….. om!” Iva bangun dari kursinya lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pak Brata memperhatikan sambil geleng-geleng kepala.
“Ivanya marah,” kata Pak Brata sambil nyenyir.
Kini giliran Budi menyampaikan maksud kedatangannya.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,” Budi mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,”semua yang hadir menbalas salam Budi.
“Maksud saya datang ke sini bersama orang tua dan keluarga besar saya adalah untuk meminang putri dari Pak Brata dan Bu Melly yang bernama Bu Poppy Putri Brata untuk menjadi istri saya,” ungkap Budi.
Mendengar ucapan Budi, Poppy tertunduk malu.
Pak Brata memandang ke Poppy.
“Bagaimana Poppy? Apakah Poppy menerima pinangan Budi?” tanya Pak Brata.
Poppy mengangkat wajahnya. Terlihat Budi sedang memandanginya dengan perasaan harap-harap cemas.
Poppy menoleh ke Pak Brata.
“Iya papa, Poppy terima pinangan Pak Budi,” jawab Poppy.
“Alhamdullilah,” semua yang hadir mengucap rasa syukur.
“Terima kasih. I love you,” Budi mengatakannya dengan gerakan bibir.
Poppy bersemu merah karena malu.
“Karena sudah menerima pinangan Budi, panggilannya diganti dong jangan Pak Budi lagi. Kayak di kantor aja. Ganti dengan Akang Budi atau Aa Budi,” protes Pak Brata.
“Cie….cie…. Aa. Aa Budi,” ledek Reno membuat Poppy menjadi malu dibuatnya
Kini saatnya memasangkan cincin tanda pinangan telah diterima. Bu Tiara memasangkan cincin ke jari manis Poppy. Serta penyerahan seserahan dari pihak keluarga Budi kekeluarga Budi. Bu Tiara sendiri yang menyerahkan kotak berisi perhiasan emas kepada Bu Melly.
Setelah penyerahan seserahan semua tamu di persilahkan untuk menikmati santap malam. Semua orang menghampiri ke tempat hidangan yang disediakan. Tinggal Poppy dan Budi berdua di tempat itu. Budi mendekati Poppy dan menyerahkan buket bunga kepada Poppy.
“Terima kasih,” ucap Poppy.
“Ibu cantik sekali malam ini,” puji Budi.
“Terima kasih,” ucap Poppy sambil tersipu malu.
Menoleh ke sana kemari seperti mencari seseorang.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, ya,” Budi keluar menghampiri seseorang. Tak lama kemudian ia datang bersama dengan Fadlan yang membawa kamera.
“Kita di foto dulu.”
Budi berdiri berdampingan dengan Poppy dengan pandangan menghadap ke kamera.
Fadlan sedang mengarahkan kameranya ke arah Budi dan Poppy kemudian diturunkan lagi kameranya dengan tatapan kecewa.
“Aa… dipeluk dong Teh Poppynya,” protes Fadlan.
“Huss…. belum jadi mahrom, nggak boleh peluk-peluk,” seru Budi.
Fadlan langsung mengarahkan kameranya sambil memberikan aba-aba. Setelah melihat hasilnya cukup memuaskan mereka menghentikan sesi pemotretannya.
“Terima kasih, Fadlan,” ucap Poppy.
“Sama-sama, teh,” kemudian Fadlan meninggalkan kedua sejoli itu.
“Kita makan dulu, bu,” Budi mengajak Poppy ke tempat hidangan yang disediakan.
Terlihat suasana kekeluargaan tercipta diantara mereka semua. Reno yang sedang berbicara dengan Rima, sedangkan Odie sedang asyik berputar-putar mengelilingi Reno dan Rima. Iva, Farhan dan Fadlan duduk berjejer sambil asyik bermain game di ponsel. Pak Aep, Pak Brata, Pak Rahadian dan Dicky terlihat sedang berbicara berempat. Entah apa yang mereka bicarakan. Uak Komar terlihat sedang berbincang-bincang dengan sesepuh dari keluarga Pak Brata. Bu Femi, Bu Melly dan Bu Tiara terlihat serius sedang membicarakan sesuatu. Sedangkan Budi dan Poppy sedang asyik berdua menikmati makan malamnya
berdua.
Setelah mereka selesai makan malam Pak Aep dan keluarga besar pamit untuk pulang. Terlihat Reno yang nampak enggan melepas Rima untuk pulang.
“Sudah abang, besok-besok ketemu lagi,” kata Bu Melly yang meihat anak sulungnya masih memandangi mobil yang membawa Rima pergi. Bu Melly merangkul Reno dan mengajaknya masuk ke dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Niatnya mau crazy up sehari 3 bab, karena novel kelas teri ini sedang diobservasi untuk bisa dikontrak.
__ADS_1
Tapi kita lihat saja nanti sanggup ngak crazy up 3 bab dalam sehari.