
Setelah semalam acara lamaran Poppy, pagi ini rumah Budi masih ramai oleh sanak saudara yang menginap. Mereka sengaja tidak pulang ke rumah mereka karena mereka mau mengikut acara lamaran Rima. Seperti pagi ini ketika Budi sudah siap berangkat ke kantor,
nampak di dapur para ibu-ibu sedang berkutat menyiapkan sarapan.
“Sudah mau berangkat ke kantor, Bud,” Mang Iman menghampir Budi dengan membawa secangkir kopi.
“Iya, mang,” jawab Budi.
“Kopi, Bud,” tawar Mang Iman.
“Terima kasih, mang. Ngopinya nanti saja di kantor,” jawab Budi.
“Sudah sarapan belum?” tanya mang Iman lagi.
“Belum. Sarapannya belum matang. Teh Rima masih masak,” jawab Budi.
Tiba- tiba terdengar suara orang berbicara di luar, sepertinya ada tamu yang datang.
“Budi….Budi …..ada yang cari tuh,” Uak Komar memanggil Budi dari pintu ruang tamu.
Budi langsung menghampiri Uak Komar.
“Ada apa, Uak?” Budi keluar dari rumah dan ia melihat Ilham ada di depan teras dengan membawa kantong plastic besar di kedua tangannya.
“Ilham, ada apa ke sini?” tanya Budi bingung.
“Disuruh ibu nganterin sarapan ke rumah Pak Budi,” jawab Ilham sambil menyerahkan kedua kantong plastik ke Budi.
“Di mobil masih banyak, pak,” Ilham kembali lagi ke mobil.
Budi menbawa kantong yang berisi sarapan ke dalam rumah.
“Farhan… Fadlan….. sini. Bantu Ilham ambil makanan di mobil,” panggil Budi dengan suara agak keras.
Tak lama kemudian datang Farhan dan Fadlan menghampiri Budi.
“Bantui Ilham bawa makanan di mobil,” perintah Budi.
Tanpa aba-aba Farhan dan Fadlan langsung keluar membantu Ilham.
“Ada apa, Bud?” Bu Tiara muncul dari dapur membawa sepiring pisang goreng.
“Ini apa, Bud?” Bu Tiara menunjuk plastik di atas meja.
“Sarapan dari Bu Poppy,” jawab Budi sambil mengambil pisang goreng di meja.
Farhan dan Fadlan datang membawa bungkusan plastik lalu meletakkannya di meja. Kemudian Farhan dan Fadlan keluar lagi menghampiri Ilham
“Budi di depan ada Ilham,” kata Pak Aep yang baru kembali setelah membeli koran.
“Iya. Di suruh Bu Poppy nganterin sarapan,” ujar Budi.
Farhan dan Fadlan datang lagi membawa bungkusan.
“Sudah habis, Dlan?’ tanya Budi.
“Sudah ini yang terakhir,” jawab Fadlan dengan nafas ngos-ngosan dan langsung selonjoran bersama Fardan di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Budi keluar rumah menghampiri Ilham.
“Pak Budi, saya pamit pulang dulu,” kata Ilham .
“Iya, terima kasih, Ham,” ucap Budi.
“Sama-sama, pak," balas Ilham.
“Assalamualaikum,” Ilham pergi meninggalkan rumah.
“Waalaikumsalam.”
Budi kembali masuk ke dalam. Lalu menelepon Poppy.
“Assalamualaikum, Bu Poppy.”
“Waalaikumsalam, pak.”
“Terima kasih kiriman sarapannya. Banyak sekali.”
“Itu bukan dari saya, tapi dari Bang Reno.”
“Pak Reno?”
“Kata Ilham dari ibu.”
“Bukan dari saya tapi Bang Reno yang menyuruh Ilham.”
“Tolong sampaikan teima kasih kepada Pak Reno.”
“Ya, nanti disampaikan.”
“Belum, sarapannya tadi belum mateng. Teh Rimanya masih sibuk di dapur bantuin mama.”
“ Ya sudah sekarang Pak Budi sarapan dulu.”
“Baik Bu Direktur. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Budi mengakhiri pembicaraannya.
“Teteh, kiriman sarapan itu bukan dari Bu Poppy, tapi dari Pak Reno,” Budi menghampiri Rima di dapur.
“Telefon Pak Reno, bilang terima kasih.”
“Iya nanti,” jawab Rima yang lagi sibuk di dapur.
“Uak- Bibi sarapan dulu. Itu ada kiriman sarapan dari calon suaminya Teh Rima,” kata Budi kepada uak dan bibinya yang sedang membantu Bu Tiara dan Rima berkutat di dapur.
“Ya, Bud. Terima kasih. Nanti lagi kagok, nih,” jawab uak-uak dan bibi-bibi.
“Budi nanti kalau berangkat ke kantor bawain sarapan buat Reva, Irma, Jaka dan sekuriti,” seru teh Rima dari dapur.
“Iya, teh. Nanti Budi bawain,” jawab Budi.
Budi cepat- cepat sarapan karena ia sudah harus ke kantor. Bu Tiara membawakan beberapa bungkus sarapan untuk Budi bagikan di kantor.
__ADS_1
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Ilham sudah berada di depan rumah Budi, disuruh Reno untuk mengantarkan sarapan pagi. Sama seperti hari yang kemarin Reno mengirim sarapan dalam jumlah sama seperti kemarin..
Padahal Rima sudah bilang kalau kiriman Reno itu kebanyakan. Itupun sampai dibagikan ke tukang becak, tukang sampah, satpam dan staf Budi di kantor. Dengan gemas Rima menelepon Reno.
“Asssalamualaikum.”
“Waaalaikumsalam sayang.”
“Abang, terima kasih atas sarapannya.”
“Sama-sama, sayang.”
“Tapi abang, itu teh kebanyakan. Kemarin kan Rima sudah bilang kalau sarapan yang abang kirim kebanyakan.”
“Sudah abang kurangi kok, cuma menunya abang tambah satu. Kalau kemarin menunya nasi kuning, bubur ayam dan lontong sayur, sekarang abang tambah ketoprak. Kan kalau di daerah Jawa Barat jarang yang jual ketoprak.”
“Rima tahu, bang. Tetap aja jumlahnya kebanyakan, abang.”
“Menurut abang jumlahnya pas. Ini kan hari libur Budi, Mang Aep, Fadlan dan Farhan ada di rumah. Jadi ada tidak usah takut akan terbuang percuma.”
“Iya deh, terserah abang aja.”
“Nah gitu dong, jangan marah-marah lagi. Nanti cantiknya luntur,”
“Udah ah, bang. Rima mau beberes dulu. Assalamualaikum abang.”
“Waalaikumsalam, sayang.”
Rima mengakhiri pembicaraannya.
“Sudah jangan khawatir, teh. Ada dinas kebersihan,” kata Fadlan sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri dan ke arah Farhan lalu menggerak-gerakan alisnya.
“Hati-hati kebanyakan makan ntar sakit perut,” Budi yang kebetulan lewat memberi peringatan.
“Nggak bakalan Aa, kita mah sudah kebal,” jawab Fadlan.
“Iya nggak, Han?” seru Fadlan kepada Farhan.
“Iya,” jawab Farhan yang sedang makan sambil main game di ponsel.
"Terserah kalian," Rima pergi melanjutkan pekerjaannya di dapur.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sorry kemarin mata author ngak bisa di ajak kompromi, ngantuknya minta ampun. Jadi up nya cuma bisa 1 aja.