
Budi menghampiri Pak Rahadian dan Pak Penghulu.
“Poppy tidak keberatan jika maharnya hanya uang lima ratus ribu rupiah,” kata Budi.
“Kalau begitu ayo kita mulai akad nikahnya,” ujar Pak Rahadian.
“Sebentar, Pih. Budi atur dulu meja dan kursinya,” kata Budi.
“Ya sudah, kamu atur dulu,” kata Pak Rahadian.
Budi mengatur kursi dan meja untuk akad nikah.
“Pak Rahadian apa kita nggak ada saksi dari pihak rumah sakit?” tanya Pak Aep.
“Oh…iya, saya hampir lupa. Sebentar saya cari suster dan dokter yang mau menjadi saksi pernikahan,” kata Pak Rahadian.
Kemudian ia beranjak keluar dari kamar inap Poppy. Setelah beberapa menit kemudian Pak Rahadian datang bersama seorang suster dan seorang dokter jaga.
“Ini dokter dan suster yang menjadi saksi dari pihak rumah sakit,” kata Pak Rahadian.
“Ayo kita mulai ijab kobulnya,” kata Pak Rahadian yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahkan Budi dengan Poppy.
Pak Brata menjabat tangan Budi dan dimulailah ijab kobul, sampai akhirnya semua orang yang menyaksikan akad nikah Budi dan Poppy
mengatakan SAH.
“Alhamdullilah hirobbil alamin,” ucap semua orang.
“Selamat Budi, kamu sudah sah menjadi suami Poppy,” kata Pak Rahadian sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung belakang Budi.
“Terima kasih, Pih,” ucap Budi.
“Jaga Poppy dan anaknya baik-baik,” pesan Pak Rahadian dengan terharu.
“Baik, Pih. Akan Budi jaga dengan baik,” janji Budi.
Kemudian Bu Femi mendekati Budi, lalu memeluknya.
“Budi, Mamih titip Poppy dan cucu Mamih. Jangan sampai disia-siakan,” kata Bu Femi sambil menangis.
“Mamih tenang saja. Budi tidak akan menyia-nyiakan Poppy dan cucu Mamih,” jawab Budi.
Sekarang giliran Budi mnghampiri Pak Brata dan mencium tangannya.
“Papa titip anak Papa dan cucu Papa. Untuk Budi jaga dan bimbing dengan baik,” nasehat Pak Brata sambil menepuk bahu Budi.
“Baik, Pa. Budi janji akan Budi jaga dan bimbing dengan baik.” jawab Budi.
Budi menghampiri Bu Melly dan mencium tangannya.
“Budi, Mama titip Poppy dan cucu Mama. Sayangi cucu Mama seperti anak Budi sendiri,” kata Bu Melly.
“Iya, Mah. Budi janji akan selalu menyayangi anak sholeh,” janji Budi.
Sekarang Budi beralih ke orang tuanya.
Budi mencium tangan Pak Aep.
“Sekarang kamu sudah menjadi suami dan ayah. Ayah harap kamu bisa membimbing keluarga kecilmu dengan baik,” nasehat ayah.
“Iya, ayah,” jawab Budi dengan terharu.
Lalu Budi mencium tangan Bu Tiara.
“Mama,” kata Budi.
“Ah…. anak Mama sudah dewasa. Sudah punya istri dan anak. Mama harap kamu bisa memperlakukan mereka dengan baik,” pesan Bu Tiara.
“Iya, Mah. Budi akan selalu ingat pesan Mama,” kata Budi.
Rima dan Reno menghampiri Budi.
__ADS_1
“Selamat, Bud. Akhirnya menikah. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah,” ucap Rima.
“Terima kasih, Teh.”
“Selamat Bud, akhirnya menyusul juga. Maafkan Abang, kalau Abang punya salah dengan Budi,” kata Reno.
“Terima kasih, Bang. Abang tidak punya salah apa-apa sama Budi. Ini semua memang sudah harus terjadi. Tidak ada yang harus kita sesali,” ucap Budi.
“Terima kasih, Budi,” Reno memeluk Budi.
“Sama-sama, Bang.”
Setelah Reno melepaskan pelukannya, Budi menghampiri Poppy.
“Assalamualaikum kekasih halal Aa,” ucap Budi.
“Waalaikumsalam Aa,” jawab Poppy.
Budi mengulurkan tangannya dan Poppy menyambut dengan mencium tangan Budi.
Lalu Budi mendekati Poppy dan mencium kening Poppy begitu dalam.
Terdengar suara batuk yang di sengaja .
“Ehm..ehm…ehm…,” Farhan dan Fadlam pura-pura batuk.
Tapi tidak dengan Iva.
“Pak Budi…..disini masih ada yang masih jomblo,” protes Iva.
Iva baru datang bersama Fadlan, Farhan dan Odie.
Mendengar perkataan Iva, Budi dan Poppy menjadi malu. Karena mereka menjadi tontonan semua orang yang berada di ruangan ini.
“Jangan panggil Pak Budi lagi. Panggil Akang Budi atau Aa Budi atau Abang Budi,” tegur Bu Femi.
“Panggil Aa Budi aja biar sama dengan Farhan dan Fadlan,” kata Iva.
Karena acara akad nikah telah selesai Pak Penghulu pamit pulang.
“Nanti surat-suratnya diurus Dimas. Budi cukup fokus ke Poppy dan bayi kalian,” kata Pak Rahadian.
“Iya, Pih. Terima kasih, Budi jadi merepotkan Papih,” ucap Budi.
“Tidak usah sungkan Papih tidak merasa direpotkan, kok,” kata Pak Rahadian.
Tiba-tiba suster datang sambil mendorong box bayi.
Sontak semua orang menjadi senang melihat bayi mungil yang baru lahir.
“Wah…lagi banyak tamu. Bayinya mau disusui dulu,” kata suster.
Mendengar perkataan suster semua orang jadi kecewa karena tidak bisa menggendong anak sholeh.
Suster mendorong box bayi ke dekat Poppy.
“Disusui dulu bayinya, ya Bu,” kata suster sambil menutup tirai pembatas.
Lalu suster menggendong bayi untuk diberikan ke Poppy.
Dengan hati-hati Poppy menggendong bayinya. Suster membantu mengatur posisi agar bayi bisa disusui dengan nyaman. Setelah itu barulah Poppy menyusui bayinya.
“Suster bagaimana dengan keadaan anak kami?” tanya Budi.
“Alhamdullilah sehat, Pak. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Makanya bisa disusui di kamar.”
“Kalau harus dirawat di incubator nggak bisa disusui di kamar. Ibunya yang harus menyusui di ruang bayi,” kata suster.
Budi menganguk mengerti.
“Saya tinggal, ya Pak. Nanti kalau sudah menyusuinya pencet saja tombol ini,” suster menunjukkan tombol yang menempel.di dinding.
__ADS_1
“Suster, bayinya boleh tidur di sini?” tanya Poppy.
“Boleh kalau ada yang membantu mengurusnya,” jawab suster.
“Ada suami saya yang membantu saya,” kata Poppy.
“Ya, boleh. Saya permisi dulu, Bu Pak,” pamit suster lalu pergi keluar dari kamar.
Setelah suster pergi para nenek menghampiri Poppy.
“Ada nggak ASI nya?” tanya Bu Melly.
“Ada Mah, ini anteng ngenyot-ngenyot terus,” jawab Poppy.
“Aa, tolong telepon Upi suruh siapin baju Poppy dan baju bayi. Nanti diambil sama Ilham,” kata Poppy kepada Budi.
Budi mengambil ponsel Poppy dari dalam tas lalu menelepon Upi.
Tak lama kemudian Budi menutup teleponnya.
“Budi, baju Budi sudah dibawa sama Farhan,” kata Bu Tiara.
“Terima kasih, Mah,” ucap Budi.
Tak lama kemudian bayi pun tidur dengan lelap karena sudah kenyang. Poppy memasukkannya ke dalam box bayi.
Karena bayi sedang bobo, akhirnya semua orang di ruangan itu pamit pulang.
Sebelum pulang Farhan menghampiri Budi.
“Aa, ini kunci mobilnya. Tas Aa Farhan taruh situ,” Farhan menunjuk kearah pojok ruangan dekat pintu masuk.
“Terima kasih, ya Farhan,” ucap Budi.
“Sama-sama A,” balas Farhan lalu pergi meninggalkan kamar inap Poppy.
Setelah semua pergi, tinggallah Poppy dan Budi bersama dengan bayi mereka.
“Aa mandi dulu, ya. Badan Aa lengket semua,” kata Budi.
“Atau mau Poppy yang mandi duluan?” tawar Budi.
“Aa aja dulu. Baju Poppy masih belum datang,” jawab Pppy.
Tapi ternyata orang yang ditunggu akhirnya datang. Ilham datang membawa baju Poppy dan bayi.
“Terima kasih, Ham,” ucap Budi ketika Ilham menyimpan tas Poppy dan Tas bayi diatas meja.
Lalu Ilham menyerahkan kunci mobil Poppy ke Budi.
“Pak, ini kunci mobil ibu,” kata Ilham.
“Bawa lagi ke rumah, Ham. Saya ada mobil,” kata Budi.
“Kalau begitu saya pamit pulang Bu Pak,” pamit Ilham.
“Ya, terima kasih, Ham,” ucap Budi.
Ilhampun meninggalkan kamar inap Poppy.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Udah nikahnya. Tinggal kawinnya, masih lama harus puasa 40 hari. Tapi nggak bakalan diceritain karena author paling ngak bisa bercerita yang begituan. Serasa menceritakan kegiatan di kamar sendiri. 🤭.