
Seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruang pribadi Ray ternyata Hugo, dia membawakan sarapan untuk Amara seperti biasa.
"Oh maafkan aku Ray, aku hanya ingin mengantarakan makanan ini untuk Amara."
Ucap Hugo terkejut karena melihat Ray ada didalam.
"Astaga, jadi Amara belum sarapan Hugo? dan perut dia masih kosong?"
"Iya Ray, lagi pula kenapa kalian minum alkohol pagi-pagi sekali?"
"Cepat simpan maknannya disini, dan kembali kebawah." Ucap Ray pada Hugo, lalu Hugo pun meninggalkan mereka berdua.
Ray cemas karena perut Amara masih kosong.
"Astaga... Aku harus bagaimana, aku memang selalu tak masuk akal ketika memutuskan sesuatu dalam emosi. Amara pasti akan sakit perut." Ucap Ray.
Ray pun mengangkat Amara yang tak sadarkan diri keatas ranjang dan menidurkannya disana.
Waktu menunjukan tepat pukul 10 pagi, seharusnya Ray kembali ke kantor untuk bekerja, tetapi Ray cemas dengan Amara. Jadi Ray memutuskan untuk cuti satu hari.
Ray duduk disofa tepat disebelah tempat tidur yang langsung menghadap kearah jendela.
Tak lama Ray tiba-tiba mengantuk lalu tertidur disofa, Mereka berdua sama-sama tertidur pagi itu.
Setelah waktu berjalan tepat pukul 12 siang Amara tiba-tiba terbangun kesakitan sembari memegang perutnya dengan wajah yang pucat, karena sejak pagi Amara belum makan apapun ia hanya meminum tiga gelas whiskey.
"Argh! Kenapa perutku sakit sekali. Argh!"
Ketika Amara terbangun dan terus berterIak kesakitan, Ray pun terbangun dan menghampirinya.
"Amara... "
"Argh! Ray perutku sakit sekali, rasanya seperti sedang diperas. Argh! Aku tak tahan."
gumam Amara sembari memegang perutnya dengan kedua tanganya.
Ray pun mengambil air hangat lalu memasukannya kedalam kantong kompres.
Ray mendekati Amara dan meletakannya diatas perut Amara, agar sakitnya sedikit berkurang.
"Amara, kamu mau makan? Pasti itu karena perutmu kosong." Tanya Ray.
"Tidak, aku tidak mau. Ini terlalu sakit Ray, aku tak sanggup, aku akan makan nanti."
Argh!!!
Amara terus merintih kesakitan dan itu membuat Ray benar-benar merasa begitu bersalah.
__ADS_1
Ray pun bingung, lalu Ray dengan cepat menelpon dokter pribadinya. Ray berlari kelantai bawah untuk memberitahu Hugo.
"Hugo! Hugo!"
"Ray, ada apa?"
"Hugo, cepat tunggu diluar, jika ada dokter pribadiku yang datang cepat bawa dia keatas."
"B-baiklah Ray."
Hugo menunggu dokter pribadi Ray didepan sedangkan Ray kembali ke atas untuk menjaga Amara yang sedari tadi kesakitan.
Ketika Ray masuk Amara tak ada diranjang, Amara ternyata ada di kamar mandi, Amara
muntah disana. Ray pun menghampiri Amara dan memegang rambutnya lalu mengusap-usap bagian punggung Amara perlahan.
Setelah Amara muntah begitu banyak, Amara duduk dilantai kamar mandi, karena Amara tak kuat untuk berdiri, Amara sangat lemas. Ray pun mengangkatnya dan membaringkannya lagi diranjang.
"Ray... Ini sangat menyakitkan. Kenapa kamu memberiku whiskey itu, aku tak bisa minum alkohol. Argh!" Rintih Amara dihadapan Ray.
Ray pun merasa bersalah, Ray mencoba meminta maaf. Tapi Dokter pribadinya sudah tiba dengan cepat dan membuat Ray tak berkesempatan untuk meminta maaf, Lalu Dokter pribadi Ray pun memeriksa Amara.
Setelah Dokter pribadi Ray memeriksa Amara, Dokter pribadi itu mengatakan bahwa, terjadi iritasi di dinding perut Amara dan terlalu banyak asam diperutnya.
Dokter pun memberikan beberapa obat dan menyarankan Amara minum banyak air putih.
Dan tidak disarankan untuk minum alkohol lagi.
Ray pun mencoba membuat Amara duduk.
"Sekarang kamu duduk dibelakang dia dan biarkan dia bersandar padamu."
Keadaan mulai canggung setelah Dokter pribadi Ray menyuruh Ray melakukan hal itu.
Ray tak mengelak, Ray menurut dengan perintah Dokter pribadinya. Lalu ia melakukannya. Setelah Ray melakukannya Dokter pribadi Ray tiba-tiba menarik tangan Ray dan meletakan kedua tangan Ray diperut Amara.
Amara pun terkejut setelah Ray meletkan kedua tanganya diperut Amara.
"Sudah tetaplah seperti itu, coba elus perlahan perut Amara sampai rasa sakitnya mulai hilang Ray. Saya pergi dulu, Cepat sembuh Amara."
"Terima kasih Dok."
Lalu Hugo mengantar kembali Dokter pribadi Ray menujun area parkir.
Amara yang tadinya canggung karena Ray memeluknya dari belakang sembari mengelus-elus perutnya. Kini Amara tak menghiraukannya lagi, karena Amara merasa nyaman dan rasa sakit diperutnya mulai hilang perlahan-lahan.
Amara tiba-tiba menyenderkan kepalanya kedada sebelah kanan Ray. Sedangkan kedua tangan Ray terus mengelus-elus perut Amara perlahan-lahan, disertai dengan pijatan kecil.
Ray seketika membeku sebentar, ketika Amara menyenderkan kepalanya didada sebelah kanan Ray. Ray tak marah lalu melanjutkan kembali memijat-mijat kecil, perut Amara. Karena ini semua salah Ray.
"Ray, ini mulai membaik sedikit, pijatan tanganmu diperutku membuat rasa sakitnya sedikit berkurang." Ucap Amara pada Ray sembari menutup matanya menikmati pijatan Ray.
"Berhentilah berbicara dan tidurlah, agar aku berhenti memijatmu setelah kamu tertidur."
__ADS_1
Cetus Ray pada Amara dengan dinginnya.
"Aku mohon sekali saja jangan kasar padaku Ray, bersikaplah lembut padaku. Aku tak suka laki-laki kasar, kasar dari ucapan maupun perkataan." Ucap Amara yang masih sedikit mabuk.
Tak lama Amara tertidur dipangkuan Ray, Ray tiba-tiba merasa nyaman ketika memeluk Amara dari belakang. Ray pun memandang wajah Amara yang tertidur dengan jarak yang sangat dekat.
"Maafkan aku, aku tak akan membuatmu minum lagi alkohol." Gumam Ray didekat telinga Amara yang sedang terlelap tidur.
Malam pun tiba Amara masih tertidur dipangkuan Ray, dan Ray juga tertidur sembari memeluk Amara dari belakang.
Dan tiba-tiba saja Ray terbangun karena handphone-nya berdering.
Ray pun melepaskan badannya dari Amara dan membaringkan Amara ditempat tidur.
"Halo Ned."
"Ray, kamu dimana? Kamu tak ada dikantor sejak pagi. Cepat pulang aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan hal penting."
"Baiklah, aku akan pulang."
Ray pergi meninggalkan Amara malam itu, dan pulang untuk menemui Ned kakaknya.
Ketika diperjalanan pulang, Ray terus memikiran momen ketika dirinya mengelus perut Amara.
"Astaga, kenapa aku tadi bermimpi, aku sedang mengelus perut Bella karena Bella sedang mengandung anakku." ucap Ray sembari memegang keningnya.
"Padahal kenyataanya aku sedang mengelus perut Amara yang sakit. Setiap kali aku dekat dengan Amara kenapa selalu terlintas Bella dipikiranku begitu saja."
Ya. Bella selalu terlintas dalam pikiran Ray, ketika Ray dekat dengan Amara. Bella cinta pertama Ray dan bagaimana bisa Ray melupakannya.
Ray pun tiba dirumah lalu disambut langsung oleh Ned.
"Ray! Cepat kemari, Aku ingin berbicara empat mata denganmu." panggil Ned yang sedang duduk disofa.
"Ada apa Ned?"
"Ray, aku akan tinggal disini selama beberapa bulan, mungkin satu bulan. Aku ingin bercuti, aku lelah dengan pekerjaanku."
"Astaga Ned, jadi ini yang ingin kamu bicarakan, Ah sudahlah aku akan tidur. Rumahku rumahmu juga Ned jadi tenang saja tinggalah disini sesukamu."
Ray pun pergi meninggalkan Ned dan langsung masuk ke kamarnya.
Ketika Ray masuk kamar, Ned tiba-tiba pergi dengan mobilnya.
Ray pun melihat Ned pergi dengan mobilnya dari balkon kamarnya.
"Kemana dia akan pergi?" Tanya Ray.
Ray tiba-tiba khawatir namun Ray malah langsung menelpon Gerry, bukan Ned.
__ADS_1