
...AGATHA SA**RAH**...
3 tahun kemudian....
Para pria yang berada di Bar berteriak kencang setelah melihat wanita penari striptis yang berpakaian terbuka menari indah ditiang besi.
Wanita penari Striptis itu bernama Sarah, Hampir 2 tahun Sarah bekerja di club Dandelions. Sarah menari hanya 3 menit dengan diirngi music Tropical yang terdengar luxury.
Tiba-tiba ada tiga pria dengan pakaian kulit berwarna hitam, dan ikatan jam mewah ditangan kirinya. Berjalan masuk kedalam club Dandelions. Mereka bertiga langsung duduk dikursi VIP lantai dua.
"Bagaimana dengan clubku? Kamu baru pertama kali datang kesini kan Ray, bahkan diclub-ku yang baru jalan 3 tahun ini menyajikan wanita penari Striptis." Ucap seorang pria kepada Ray.
Ya, ketiga pria itu adalah Ray, Gerry dan sang pemilik club Dandelions bernama Dillon.
Dillon adalah teman bisnis Ray dan Gerry, Dillon mempunyai club yang bernama Dandelions yang menyediakan pertunjukan tari Striptis di dalamnya. Dillon baru pertama kali membawa Ray dan Gerry ke clubnya, karena sebelumnya Ray selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Berapa banyak wanita penari Striptis yang bekerja disini?" Tanya Gerry pada Dillon.
"Ada 3 penari disini, Dan yang paling terkenal ya, dia Sarah. Dia sangat cantik, Anggun. Bahkan beberapa pengusaha menginginkan Sarah menjadi kekasihnya. Tapi Sarah benar-benar sangat jual mahal."
"Lalu mana kedua penarimu? Aku ingin melihat mereka juga menari."
"Oke, akan kutunjukan pada kalian kedua wanita penari itu."
Dillon pun memerintahkan pada pekerja Barnya agar kedua wanita penari striptis lainya menari setelah Sarah.
Ketika Gerry asik minum whiskey dan menonton tarian Striptis Sarah bersama Dillon, Ray hanya diam dengan tatapan dinginnya dibar itu. Ya, Semakin kesini Ray semakin banyak diam. Bahkan sudah 3 tahun berjalan Ray tetap seperti itu, Diam dan diam.
Tak lama, Akhirnya kedua wanita penari Striptis itu naik ke atas panggung dan menarikan tarian striptis dengan penuh keanggunan. Gerry menikmatinya tapi tidak dengan Ray, Bagi Ray itu tidak menarik.
"Ray ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak menikmati ini? Jika kamu masih kurang menikmati ini, lebih baik ayo kita pergi ke lantai tiga, disana masih ada satu pertunjukan." Ajak Dillon pada Ray.
Ray pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mengikuti Dillon dan Gerry dari belakang menuju lantai tiga dengan sebuah lift.
"Pokoknya pertunjukan dilantai tiga ini lebih menarik dan juga, Sedikit mahal. Aku yakin kamu akan menikmati ini Ray." Ucap Dillon dengan senyuman smirknya.
Mereka bertiga pun tiba dilantai VVIP club Dandelions, ketika Ray dan Gerry masuk suasananya benar-benar berubah, tak sama dengan lantai dua.
"Astaga, Dil apa kamu sudah gila? Ada apa dengan semua pekerja wanita ini." Ucap Gerry karena saking terkejutnya dengan lantai tiga VVIP club Dandelions itu.
__ADS_1
Mata Gerry benar-benar terbelalak melihat sekelilingnya sedangkan, Ray dia selalu tampak biasa saja dengan tatapan dinginnya dan wajahnya yang datar itu.
Ya semua pekerja club VVIP itu wanita, mereka semua berparas cantik bak seorang model, mereka melayani dan mengantar minuman kesetiap pelanggan VVIP. semua wanita itu berbaju merah, tak ada satupun pekerja wanita yang memakai warna lain selain Merah.
Disana tersedia banyak sekali ruanngan khusus. Namun ada 2 ruangan yang saling berdampingan bernama Paradise dan Hell.
Dillon mengajak Gerry dan Ray menuju ruangan itu.
"Paradise, Hell, apa maksudnya ini Dil?"
"Ger, ini itu ruangan yang sangat mahal. Kamu akan melihat ratu bidadari didalamnya, Dan ratu bidadari itu hanya ada satu diantara 2 ruangan ini. Jika kamu berhasil kamu akan melihat ratu bidadari itu."
Tiba-tiba Dillon dan Gerry saling berhadapan dan memberikan kode satu sama lain.
Gerry dan Dillon langsung mendorong masuk Ray kepintu yang bertuliskan Paradise.
Lalu mereka berdua mengunci pintu itu dari luar.
"GoodLuck Ray! Temui bidadari itu, kami mau minum dulu." Teriak Gerry.
Gerry!!! Dillon!!!
Ray berteriak sembari mengetuk-ngetuk pintu yang terkunci itu dari dalam.
"Ada apa dengan mereka berdua?" Gumam Ray.
Ray terkejut karena wanita yang Dillon maksud sebagai
Bidadari itu adalah Amara.
"Amara..."
Mata Ray terbelalak, Ray terdiam dan tak percaya jika wanita yang ada dihadapannya itu adalah Amara. Wanita yang sudah tiga tahun lebih ia cari.
Ray berjalan perlahan mendekati Amara dengan tatapan dinginnya.
Namun ketika Ray berjalan mendekatinya, perlahan Amara mundur, Hingga ia tak bisa mundur lagi karena ada tembok dibelakangnya.
"Amara... Apa kamu mengingatku?"
"Aku bertanya padamu, Apa kamu mengingatku?"
Ray bertanya padanya namun Amara hanya terus menatap mata Ray.
__ADS_1
"Aku bukan Amara."
"Bukan Amara, lantas siapa kamu. Jika kamu bukan Amara?"
"Aku Luna, Namaku Laluna."
"Aku tahu kamu berbohong, Aku masih mengingat wajahmu."
Ray benar dan dia tak berhalusinasi, Wanita itu memang benar Amara. Namun Amara berbohong pada Ray.
"Jangan bohong padaku Amara, aku tahu itu kamu, kamu sangat menyukai bunga, dan selalu berpenampilan anggun. Lihat bahkan kamu menggunakan jepit rambut berbentuk bunga. Aku masih ingat wajahmu."
Amara pun terdiam setelah Ray menjelaskan bahwa dirinya memang benar Amara.
Tiba-tiba Amara mendekati Ray. Amara mengalungkan kedua tanganya dileher Ray. Seketika Ray pun terkejut. Wajah mereka berdua sangat dekat bahkan hidung Ray menyentuh dahi Amara, karena saking dekatnya jarak mereka.
"Apa yang kamu lakukan Amara?" Tanya Ray pelan.
"Ray... Aku memang Amara, Tapi tolong untuk saat ini jangan panggil aku Amara, panggil aku Luna, Jika kamu mau, tolong peluk aku Ray."
"Apa maksudmu Amara?"
"Ray tolong, lakukan saja!"
Amara menncoba menggoda Ray dengan tiba-tiba memeluknya karena ada satu kamera yang sedang memantaunya.
Amara memaksa Ray kembali untuk memeluknya, Ray pun dengan cepat melepaskan tangan Amara yang mengalung dilehernya. Lalu Ray membalikan badan Amara dan langsung memeluk Amara dari belakang.
Ray menyenderkan kepalanya dibahu Amara dengan kedua tangannya yang memegang erat perut Amara.
Amara pun terkejut hingga kedua telapak tangannya mendingin.
Tiba-tiba Amara merasakan tetesan air yang jatuh di bahunya. Ya, itu adalah tetesan air mata Ray. Ray tiba-tiba menangis tanpa suara.
"R-Ray..."
Amara memanggilnya namun Ray tak menjawabnya. Amara pun memegang perlahan tangan Ray yang memeluknya erat.
"Bagaimana mungkin kamu bukan Amara, bahkan ketika aku memelukmu dari belakang. Aku bisa merasakan bahwa itu kamu." Bisik Ray ditelinga Amara.
Ray pun melepaskan pelukannya dari Amara lalu membuat Amara menghadap padanya.
"Amara, Kemana kamu pergi? Tiga tahun sudah aku mencarimu. Kemana kamu pergi?"
"Kenapa kamu bekerja disini? Kamu lebih memilih dikurung disini dan disentuh oleh banyak pria dibandingan hidup denganku."
"Ray... Hentikan, kamu tidak tahu apa saja yang telah terjadi padaku, jadi jangan salah menilaiku. Dan satu lagi, aku bukan seorang pelacur. Aku bahkan tak pernah disentuh pria lain, Dan satu-satunya pria yang menyentuhku dan berani memelukku hanya kamu Ray, Hanya kamu yang aku izinkan."
Tiba-tiba saja pintu terbuka Gerry dan Dillon terkejut setelah melihat Ray sedang bersama ratu bidadari itu.
__ADS_1
Ray dan Amara pun sama-sama terkejut melihat mereka yang tiba-tiba masuk.