Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 26


__ADS_3

Amara akhirnya terbangun dari tidurnya.


"Ssh... Kenapa dingin sekali padahal aku memakai baju hangat." Kata Amara ketika terbangun dari tidurnya. Amara masih tak sadar jika baju hangat yang ia gunakan sudah tak menempel lagi di badannya. Hanya selimut saja yang masih menempel.


Amara bangun dari tempat tidur dan ia sadar, bahwa dirinya sudah tak berpakaian.


"Hah. Astaga a-apa yang terjadi?"


Amara mulai cemas.


"Apa yang terjadi semalam? Aku benar-benar lupa. Tapi aku sedikit ingat Ray menuntunku naik keatas kamar. Apa Ray, melakukan..."


"Akh! Tidak mungkin. Saat itu aku benar-benar mabuk. Apa Ray... "


Amara tiba-tiba tersenyum, karena Amara merasa Ray melakukan hal tak biasa tadi malam, Amara ingin mencari tahu sebuah jawaban namun Amara tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah akibat minum alkohol terlalu banyak, Amara berlari menuju kamar mandi.


"Akh, aku selalu muntah setiap kali aku meminum alkohol."


Amara membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya dengan mandi, Amara turun kelantai bawah dan terlihat Gerry, Dillon, Sarah dan Bonita masih tertidur.


"Astaga pasti mereka mabuk berat semalam."


Kata Amara sembari menggelengkan Kepalanya."Tapi dimana Ray dan Ned." Amara mulai bingung karena Ray dan Ned tak ada.


Amara keluar dari vila untuk mencium aroma pagi yang masih segar. Amara melihat kayu bakar Api unggun semalam yang sudah menjadi abu.


Amara tersenyum lebar, entah perasaan apa yang membuatnya merasa bahagia.


Ketika Amara tengah berada didepan vila. Amara melihat Ned tengah berenang di danau.


"Ned, kenapa dia berenang di danau pagi-pagi sekali." Gumam Amara.


Amara berjalan menghampiri Ned yang tengah berenang di danau. Ketika Amara berjalan, Amara terkejut kerena ia menginjak beberapa ubi yang berceceran didepan vila.


"Astaga, kenapa ubi ini berceceran disini? Siapa yang mencoba membakar ubi semalam? Perasaan mereka semua tengah mabuk."


Amara sedikit curiga, Namun Amara hanya membereskannya saja, dan menyimpannya diteras vila.


Amara kembali berjalan menghampiri Ned yang sedang berenang di danau.


"Hai Ned." Teriak Amara ditepi danau, sembari berjalan menghampirinya.


Ned benar-benar terkejut, Ketika Amara menghampirinya.


"A-Amara... Kenapa kamu kemari, Ada apa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bingung kenapa kamu mandi di danau pagi-pagi sekali, bukankah airnya dingin."


"Tidak, aku merasa segar."


Amara tersenyum dan duduk ditepi danau sembari melihat Ned yang berenang didanau. Ned merasa aneh kenapa Amara terus tersenyum seperti itu.

__ADS_1


"Apa dia ingat kejadian semalam?" tanya batin Ray. "Atau mungkin tidak?"


Walau begitu Ned merasa tenang, karena Ned rasa. Amara tak ingat apapun semalam.


"Hei..." panggil Ned sembari mencipratkan air pada Amara.


"Hei Ned, ini membuatku basah. Jangan cipratkan air danau padaku."


Walau Amara sedikit marah karena Ned mencoba mencipratkan air padanya. Amara tetap saja tersenyum karena suasana hatinya dalam keadaan bahagia.


"Kenapa kamu terus tersenyum? Kamu terlihat seperti orang gila."


"Apa kamu bilang! Orang gila? Rasakan ini Ned."


Mereka pun akhirnya main perang air, mereka saling mencipratkan air satu sama lain. Karena Amara sudah mandi, Amara takut ia akan kotor dan basah lagi. Jadi Amara berlari meninggalkan Ned menuju Vila.


Ned merasa bahagia setelah bercanda dengan Amara walau sebentar, Akhirnya Ned menyudahi berenangnya dan kembali ke vila.


Semua orang akhirnya bangun dan mereka belum sadar jika Ray menghilang. Amara, Bonita dan Sarah sedang menyiapkan sarapan, sembari menunggu para pria berkumpul setelah mereka mandi.


Ketika semua orang telah berkumpul dimeja makan, barulah mereka sadar Ray menghilang.


"Tunggu, tapi dimana Ray?" tanya Ned.


"Tunggu sebentar, mungkin dia ada dikamar, aku akan memanggilnya." Kata Amara.


Ketika Amara naik ke lantai dua dan mengecek seluruh kamar disana, Amara tetap tak menemukan Ray. Amara mulai cemas, ia berlari kelantai bawah untuk memberitahu semua orang jika Ray tak ada.


"Apa, lalu dimana adikku, aku benar-benar khawatir padanya."


Semua orang cemas, Dillon mencoba menelpon Ray namun tak bisa.


"Baiklah, sekarang kita harus berpencar. Ayo kita cari Ray dulu." kata Gerry.


Mereka berpencar mencari Ray diseluruh area vila.


Ned menuju area parkir, karena mungkin Ray sudah pulang duluan dengan mobilnya. Tapi ternyata Mobil Ray masih ada ditempatnya.


"Astaga, kemana anak itu pergi." ucap Ned khawatir dengan adiknya itu.


"Ned. Bagaimana, apa kamu menemukan Ray?"


tanya Amara.


"Mobil dia ada disini, tak mungkin dia pergi tanpa mobilnya."


"Bagaimana kalo kita cari kearah hutan." kata Amara cemas.


"Baiklah ayo kita cari kesana."


Ned pergi menuju hutan bersama Amara.

__ADS_1


Mereka terus meneriaki nama Ray.


Ray! Ray! Kamu dimana Ray!


Mereka tak berhenti berteriak memanggil nama Ray. Dan tiba-tiba Ned menemukan handphone Ray. Ya, handphone yang Ray buang saat peneror bertudung hitam itu mencoba menerornya.


"I-ini handphone Ray." kata Ned sembari mengambil handphone Ray.


Ned menyalakan handphone Ray yang masih menyala walau layarnya sudah pecah karena Ray melemparnya dengan kuat malam itu.


Ned ingin membuka hanphone Ray, namun baterai handphonenya lemah.


"Amara! Aku menemukan handphone Ray, tapi baterainya lemah. Kita harus mencharger dulu handphonya. Ayo kita kembali ke vila."


"Baikalah Ned."


Mereka semua berkumpul diruang tamu sembari menunggu handphone Ray menyala.


"Apa kalian ada yang ingat Ray pergi kemana semalam?" tanya Sarah.


"Bagaimana kita bisa ingat. Semalam kita semua mabuk. Aku bahkan tak ingat apapun karena minum terlalu banyak." Jawab Gerry.


"Ray sepertinya satu-satunya yang tak terlalu mabuk semalam, karena Ray hanya meminum dua gelas alkohol. Ray tak suka alkohol."


"Benar Ger, tak mungkin Ray pergi dalam keadaan mabuk." sambung Ned.


"Semalam, apa ada yang dari kalian mencoba membakar ubi?" Tanya Amara yang masih curiga dengan ubi-ubi yang berceceran dekat api unggun.


"Tidak," Jawab Dillon.


"Ya, aku juga tidak, memangnya kenapa Luna?" 


"Ger, pagi tadi aku melihat ubi-ubi berceceran didekat api unggun. Apa semalam Ray mencoba membakar ubi di api unggun?"


"Kamu serius Lun?"


"Iya Ger, aku serius. Kamu cek saja disana. Ada ubi disana."


"Tapi... Ada satu hal yang membuatku bingung. Sepertinya semalam Ray tidur dikamar bersamaku. Dia ada disampingku."


Saat Amara mengatakan hal itu, Ned tiba-tiba terdiam. "Oh jadi itu yang membuat Amara terus tersenyum. Amara merasa Ray-lah yang telah tidur bersamanya. Pantas saja dia tak merasa cemas." Ucap batin Ned.


"Sebenarnya aku mencemaskan satu hal."


"Apa Amara?, ekhm maksudku Luna. Apa yang kamu cemaskan Lun?" Tanya Ned.


"Apa kalian ingat saat Ned mengangkat panggilan dari handphone nya malam itu, Dia menjawab panggilan itu didalam hutan. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Karena aku curiga, aku menghampirinya, melalui pintu belakang vila malam itu. Dan saat aku menghampirinya, Ray sedang menangis ketakutan. Ray bilang ada orang bertudung hitam mencoba menembaknya."


"Dan malam itu juga, Ray berkata padaku. Ada seorang pria yang terus menrornya, dia berusaha membunuh Ray."

__ADS_1


__ADS_2