
"Astaga Ray... K-kamu berhasil menemukan ratu bidadari itu?" Ucap Dillon dengan matanya yang terbelalak.
"Amara!"
Gerry lebih terkejut setelah tahu ratu bidadari itu adalah Amara.
"Tunggu, Amara? Dia bukan Amara dia Laluna." timpal Dillon.
Gerry pun berlari mendekati Amara yang tengah bersama Ray.
"Amara, Ya ampun. Kamu pergi kemana, aku merindukanmu Amara. Tunggu, Apa kamu bekerja disini? Dil kenapa kamu mepekerjakaan Amara ditempat seperti ini? Dia tak pantas bekerja ditempat seperti ini."
"Kenapa kamu memanggil dia Amara Ger, dia Luna bukan Amara."
"Apa maksudmu Dil, Dia Amara bukan Luna."
"Cukup Ger, aku ingin bertanya pada Dillon." potong Ray.
Ray pun pergi meninggalkan Amara, Ray pergi dengan Dillon menuju balkon untuk berbicara satu sama lain.
"Dil aku ingin berbicara denganmu." Ajak Ray pada Dillon.
Gerry menunggu bersama Amara di sofa kamar itu, Sedangkan Ray dan Dillon berada diatas balkon kamar.
"Ada apa Ray, Kenapa kamu hanya ingin berbicara berdua denganku?"
"Dil, tolong jawab dengan jujur dan beritahu aku semuanya tentang Amara, maksudku Laluna."
"Apa yang harus aku jelaskan dia hanya pekerja disini Ray, Dan kamu tahu, kamu adalah pelanggan pertama yang bisa menemukan Luna, Kedua penjaga itu harus aku pecat karena ceroboh."
Ucapan Dillon membuat Ray curiga.
"Apa maksudmu, aku pelanggan pertama yang bisa menemukan Luna dan penjaga itu harus dipecat. Apa maksudnya Dil?"
"Aku tak ingin menjelaskan ini, tapi karena kamu teman bisnisku. Aku akan membocorkannya, Berjanjilah padaku untuk tidak membocorkan pada orang lain."
"Baiklah aku berjanji. Tolong jelaskan padaku."
Dillon pun mulai menceritakan rahasia dua ruangan yang bernama paradise dan Hell itu pada Ray.
"Cepat ikuti aku." Ajak Dillon.
Dillon pun pergi menuju sebuah ruangan CCTV clubnya bersama dengan Ray.
Setibanya mereka disana, Dillon mulai menjelaskan bahwa kedua ruang paradise dan Hell itu baru berjalan satu bulan.
__ADS_1
"Lihat Ray sebenarnya kedua ruang paradise dan hell ini memiliki satu pintu yang saling terhubung. Dan didalam kedua ruang ini masing-masing memiliki satu kamera pemantau dan ada satu kamera pemantau lagi diantara dua pintu luar."
"Lalu untuk apa kamera itu?"
"Astaga masa kamu ngga ngerti, ini adalah cara yang curang tapi dengan senang hati aku memberi tahumu Ray, jadi tolong jaga rahasia ini demi clubku."
Dillon pun mulai menjelaskan kembali guna dari kamera-kamera pemantau itu.
"Lihat Ray, Kamera yang ada diluar kedua kamar ini untuk memberitahu Luna bahwa pelanggan itu memilih kamar paradise. Dan jika Luna ada diruang paradise dia akan segera berpindah tempat menuju ruang hell melalui pintu rahasia yang saling terhubung itu."
"Dan itu sangat menguntungkan Ray, mereka membayarku sepuluh juta demi memilih kedua ruangan ini, tapi sayang mereka semua selalu zonk. Mereka tak berhasil menemukan Luna, mereka hanya menemukan ruangan kosong."
"Dan malam ini kamu beruntung Ray, kamu berhasil menemukan Luna. Lihat si bajingan ini dia malah tertidur, seharusnya dia terus memantau." Ucap Dillon pada pekerjanya yang bertugas memantau kamera.
"Kenapa mereka mau membayar sepuluh juta demi memilih antara dua ruangan ini, kenapa mereka sangat bodoh?" Tanya Ray.
"Ya karena mereka dalam pengaruh alkohol, jadi mereka akan melakukan apapun."
"Sudahlah Ray sana nikmati malammu ini bersama Luna, Karena kamu beruntung malam ini, Aku akan biarkan kamu mencoba Luna dengan cuma-cuma malam ini. Karena kamu temanku."
Ucapan Dillon membuat Ray marah, Ray pun tiba-tiba memukul wajah Dillon, Sehingga Dillon terjatuh kelantai.
"Jaga ucapanmu itu brengsek!"
"Sialan kamu Ray! Aku pernah tidur dengannya!" Teriak Dillon.
Seketika langkah Ray terhenti dan kembali menghampiri Dillon.
"Apa maksudmu?"
"Aku bilang, Aku pernah menidurinya, Dia bahkan datang kepadaku seperti kupu-kupu malam, demi uang."
Tak lama pekerja Dillon yang memantau kamera pun terbangun karena suara pertengkaran antara Ray dan Dillon.
Ray pun memukul lagi Dillon tanpa henti, sehingga Dillon tak sadarkan diri. Setelah itu Ray langsung pergi menuju ruang paradise untuk menemui Amara dan Gerry.
"Ger, ayo kita pergi." Ajak Ray pada Gerry sembari membuang muka pada Amara.
"Dimana Dillon, Ray?"
"Tak penting, cepat kita pergi."
__ADS_1
"Ayo Amara kita pergi."
Ketika Gerry mengajak Amara. Ray menghentikannya.
"Tak perlu membawanya, dia bukan Amara, dia itu Luna, Dia Laluna Ger bukan Amara. Tak mungkin Amara bekerja ditempat seperti ini. Ger cepat siapakan mobil, ayo kita pulang."
"R-Ray..." Gumam Amara.
Gerry pun menurut dan percaya pada ucapan Ray, Gerry pergi lebih dulu untuk menyiapkan mobil.
Ketika Ray akan pergi, Amara memeluknya dari belakang.
"Ray... Ada apa dengamu, kenapa kamu pergi, kenapa kamu tak mau menolongku? Aku ingin pergi dari tempat ini."
"Sekarang aku tahu kenapa kamu merubah namamu menjadi Luna, kamu merubah namamu demi menutup identitasmu yang sebenarnya. Maafkan aku, karena bagiku kamu adalah Luna bukan Amara yang kukenal."
Ray pun pergi meninggalkan Amara dengan kemarahan dan jug kesedihan. Begitupula Amara, Amara menangis ketika Ray tak mau membawanya pergi.
Ketika diperjalanan pulang, Gerry bertanya pada Ray soal kejadian tadi di bar Dandelions milik Dillon.
"Ray, Jelas-jelas dia itu Amara, bagaimana mungkin dia bukan Amara. Kenapa kamu percaya jika dia itu Laluna."
Saat Gerry bertanya pada Ray, Ray malah melamun.
"Ray, Astaga aku sedang bertanya padamu. Tapi kamu malah mengabaikanku. Aku tahu kamu juga pasti sedang berfikir Laluna itu Amara-kan."
Ray tetap mengacuhkan Gerry.
Setelah tiga puluh menit lamanya diperjalanan, Ray dan Gerry tiba dirumahnya. tepat pukul satu malam.
"Ray aku balik duluan yah, salam buat Ned."
"Baiklah."
Ned sudah lama tak kembali ke London, Karena cedera di kepalanya membuat Ned harus beristirahat dengan waktu yang cukup lama. Dua tahun sudah Ned bekerja di perusahaan adiknya, Yang tak lain adalah Ray.
Ned diangkat menjadi wakil presiden perusahaan Ray.
"Ned, Aku pulang. Apa kamu sudah tidur?" Sahut Ray.
Karena tak ada jawaban Ray langsung mengecek kamar Ned yang ada dilantai bawah. Dan ternyata Ned sudah terlelap.
"Dia sudah tidur."
Walapun dulu Ned pernah mengatakan pada Ray bahwa dia menyukai Amara, Itu tak membuat Ray marah. Bahkan Ray mencari Amara selama tiga tahun lebih secara diam-diam demi Ned. Karena Ray sangat sayang pada kakaknya itu. Agar Ned cepat sembuh juga dari sakitnya.
__ADS_1
Ray pergi ke Atap sembari membawa secangkir kopi hangat. Ray menatap langit malam yang indah dengan taburan bintang-bintang. Ray mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, dan juga mencoba membuat pikirannya berfikir dengan jernih setelah kejadian di Bar Dandelions tadi.
"Aku senang bisa bertemu kembali denganmu Amara. Tapi sepertinya kamu menemukan versi terbaru dirimu Amara, versi yang sangat rumit dari sebelumnya."