Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 37


__ADS_3

"... Selina."


"Ray... Aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku merasa nyaman disini bersamamu."


Ray merasa curiga dengan ucapan Selina yang merasa nyaman ketika bersama dengannya. Ray mencoba berfikir positif dan memeluk Selina kembali dengan pelan.


"Aku minta maaf, karena bertanya akan hal itu." ucap Ray pelan pada Selina.


Pada akhirnya Ray mendapatkan pekerjaan disana. Kini Ray bekerja disebuah peternakan sapi. Ia memberi makan sapi dan memeras susu sapi, Ray bahakan bertemu dengan orang-orang baik disana. Ray benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan uang.


Ray bekerja 3 kali dalam sehari ditempat kerja yang berbeda. Ray selalu pulang malam hari. Setiap harinya berjalan seperti itu.


Karena Selina tak sanggup melihat Ray bekerja keras seperti itu, Selina akhirnya mencari pekerjaan juga. Selina bekerja disebuah toko roti.


Lima bulan telah berlalu, Ray dan Selina membuka tabungan mereka yang mereka tabung selama mendapatkan gaji dari pekerjaan mereka.


"Wah akhirnya kita mendapatkan setengahnya. Sebentar lagi kita bisa pulang." ucap Ray pada Seliina sembari memegang uang yang sudah di hitung.


Dan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah  penginapan mereka. Ya itu adalah si pemilik rumah yang mereka gunakan. Ray dan Selina harus membayar setiap bulannya.


(Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Tapi Ty nuna menterjamhkan-nya menjadi Bahasa Indonesia)


"Apa kalian akan membayarnya untuk bulan ini?" Tanya seorang pria bertubuh jangkung yang tak lain si pemilik rumah penginapan.


"Ya, kami akan membayarnya untuk bulan ini."Jawab Ray.


"Oh ini saya membawa pakaian lagi yang tidak terpakai untukkmu Ray."


"Ya, terima kasih."


Selama Ray disana Ray selalu mendapatkan pakaian bekas dari sang pemilik penginapan. Dan Ray menerimanya, karena ia tak membawa pakaian.


Ketika Ray tengah berbicara dengan pria pemilik penginapan itu. Selina terus memperhatikan uang yang dikumpulkan oleh Ray dan dirinya.


Setelah Ray berbincang dengan pemilik rumah penginapan itu, Ray berbalik badan dan melihat Selina sedang memegang uang mereka yang sudah di hitung oleh Ray.


Selina...


Selina tiba-tiba terkejut setelah Ray memanggilnya.


"Oh, R-ray... Aku, aku sedang menghitung uang ini."


Ray hanya menganggukan kepalanya dan masuk ke kamarnya untuk merapikan pakaian bekas yang diberi oleh sang pemilik penginapan.


Walaupun hari-hari terasa berat bagi Ray. Ray tetap melakukanya, agar bisa kembali pulang dan berkumpul bersama dengan orang-orang yang ia cintai lagi dan memasukan Jovan kedalam penjara setelah Jovan mencoba membunuhnya.

__ADS_1


Kini sudah tujuh bulan berlalu, Ray mencoba membuka kembali tabungannya untuk memastikan. Namun ketika Ray membuka tabungannya dan menghitungnya, uang yang seharusnya bertambah kini semakin berkurang.


Ray benar-benar terkejut, Ray memanggil Selina yang tengah tertidur.


Selina!


Ray berteriak memanggilnya. Selina pun terbangun dan berlari menghampirinya.


"Ia Ray ada apa?"


"Selina, uang yang seharusnya sudah terkumpul banyak sekarang malah berkurang. Apa ada orang yang mencurinya?"


Selina tiba-tiba ia terdiam seperti seseorang yang ketakutan.


"Selina, aku bertanya padamu. Kenapa kamu diam saja?"


"Mana aku tahu Ray... Aku tak tak pernah membukanya."


Tiba-tiba Ray duduk disofa dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ray merasa lelah dan sakit hatinya setelah mengetahui uang yang telah ia kumpulkan untuk kemabali ke Indonesia menghilang separuh.


"Ray... Kita bisa mencarinya lagi." ucap Selina menghampiri Ray.


"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kita akan tinggal disini sedikit lebih lama lagi dan mencari uang untuk pulang ke indonesia."


Ray curiga dengan ucapan Selina yang berkata bahwa mereka harus tinggal lebih lama lagi disini. Sedangkan Ray banyak yang harus ia urus ketika ia tiba di Indonesia nanti.


"M-maksudku... "


"Selina. Apa kamu mengambil uangnya?"


"Hah, aku mencuri begitu maksudnya."


"Maaf aku curiga padamu, tapi keamanan disini sangat ketat dan 1% kemungkinan orang akan kehilangan harta bendanya. Aku minta maaf Selina, tapi aku ingin melihat kamarmu."


Ray yang merasa curiga pada Selina, dengan cepat menuju kamar Selina. Ray mencari kesetiap sudut kamar Selina yang cukup luas untuk menemukan uang tabungan-nya.


"Ray!!! Ada apa denganmu aku tak mengambilnya. Untuk apa aku mengambilnya!"


Ucapan Selina tak didengar oleh Ray. Ray tetap teguh pada pendiriannya, Ray percaya jika Selina yang mengambilnya.


Dan benar saja Ray menemukan uang tabungannya. Selina menyembunyikannya didalam koper.


Ray benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan Selina.


"... Selina. Ini apa, kenapa kamu mengambilnya tanpa sepengetahuanku. Aku tak masalah memberikannya untukmu, asal kamu berbicara terlebih dahulu padaku. Katakan kenapa kamu melakukannya?"

__ADS_1


"Ray... A-aku."


"Katakan Selina!" Sikap Ray yang kasar dan selalu meninggikan suaranya ketika marah kini muncul lagi.


"BAIKLAH!!" Selina meninggikan suaranya juga setelah Ray marah padanya.


"Baiklah... Akan ku beritahu. Aku tak bermaksud melakukannya, aku juga tak butuh uang itu. Aku menyembunyikannya agar kamu terus merasa kekurangan uang untuk kembali ke Indonesia. Agar kamu terus bekerja disini dan tinggal bersamaku."


"Apa maksudmu Selina?"


Selina mendekati Ray yang terlihat bingung dengan sikap dirinya.


Selina berjalan mendekati Ray sembari menetskan air matanya. Selina tiba-tiba memegang kedua tangan Ray.


"Ray... Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu untuk selamanya. Aku tak punya siapa-siapa lagi Ray. Tetaplah disini bersamaku."


Ucapan Selina membuat Ray benar-benar tak percaya. Karena selama ini Selina menganggap  Ray lebih dari teman.


"Jadi selama berbulan-bulan kita tinggal disini. kamu menganggapku lebih dari teman?"


"Iya Ray... Aku sudah menyelamatkan nyawamu. Sekarang kamu harus berbalas budi padaku kamu harus bayar semua itu dengan nyawamu. Aku ingin dirimu Ray."


Perlahan Ray berjalan mundur dari Selina. Ray masih tak percaya dengan ucapan Selina.


Tiba-tiba Ray berjalan ke arah dapur dan mengambil pisau.


"Ini ambilah pisau ini. Kamu ingin dibayar dengan nyawa lagi kan, sekarang bunuh aku."


"T-tidak, bukan itu maksudku Ray. Aku ingin kamu menghabiskan hidupmu denganku selamanya. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu."


"Selina... Kenapa kamu melakukan hal seperti ini, aku ingin menjadi temanmu untuk selamanya tidak lebih dari itu Selina."


"Selina, aku lelah disini aku benar-benar bekerja keras mengumpulkan uang itu untuk pulang ke Indonesia. Banyak yang harus aku perbaiki disana. Aku merindukan orang-orang yang aku sayang."


"Dan kamu malah menyembunyikan semua uang yang telah aku kumpulkan selama ini."


Ray tiba-tiba pergi ke kamarnya meninggalkan Selina dengan penuh kemarahan.


Ray!!!


Ray! Aku mencintamu Ray.


Aku tak punya siapa-siapa lagi didunia ini kecuali kamu Ray.


Selina terus berteriak dan menangis didepan pintu kamar Ray yang Ray kunci dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2