Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 9


__ADS_3

Ned menghampiri Ray, yang sedari tadi menjauh dari nisan Bella.


"Ray, Aku tahu kamu sedih setiap kali datang lagi kesini. Tapi, Ayolah jangan seperti itu lagi mulai sekarang. Sekarang kamu harus fokus mendoakan Bella setiap kali datang kesini, jangan mencoba menjauh." Ucap Ned sembari memegang pundak Ray.


"Ya Ned, Aku akan mencoba merubah diriku, Sekarang aku sedih karena, Ibu mengatakan hal seperti itu. Dia berkata bahwa dia ingin sekali menggendong cucu dariku dan Bella."


"Aku tahu Ray, Sekarang tolong maafkan ibu, sudahlah cepat kita kembali kesana mendoakan Bella."


"Baiklah."


Ned berhasil membujuk Ray yang murung dan sedih setiap kali datang kepemakaman Bella.


****


Setelah berziarah ke makam Bella, Ray yang seharusnya segera menuju kantor, Ia malah pergi ke DSC entah apa yang membuat Ray ingin sekali pergi kesana.


Sesampainya Ray di DSC, Disana sudah terlihat dibagian depan restoran masih belum buka dan hanya ada beberapa pekerja restoran saja yang sudah mulai bersiap-siap.


Ray selalu menyapa kembali setiap kali para pekerjanya menyapa dirinya. Ray bahkan melebarkan senyumannya, Dan terlihat dari luar Ray sangat ramah dan seperti tak ada masalah dalam pikirannya, padahal dalam pikirannya banyak sekali tekanan.



Ray berjalan langsung menuju pintu Club DSC yang ada didalam dapur. Dan sama saja disana tak ada siapapun bahkan Hugo pun belum tiba disana. Ray dengan cepat mengambil Cardlock yang ada didalam laci Bar Hugo untuk membuka pintu ruang pribadinya, yang didalamnya ada Amara.


Ketika Ray akan menuju lift, Ray menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri botol-botol alkohol. Lalu Ray mengambil beberapa minuman yang harganya sangat mahal.


"Akh... Aku tidak tahu jenis dan nama minuman ini, karena aku jarang meminumnya. Haruskah aku mengambil semuanya?" Gumam Ray sembari mengambil beberapa botol minuman keras.


Setelah Ray mengambilnya hingga kedua tangannya penuh dengan botol alkohol. Ray dengan cepat memasuki lift dan pergi keruang pribadinya.


Ketika Ray membukanya terlihat Amara tak ada dikamarnya, seketika Ray pun terkejut dan memanggil-manggil namanya.



"Amara ... Amara ... "


Namun tak ada sahutan, dan ternyata Amara sedang mandi, karena suara air terdengar begitu keras dari arah kamar mandi. Ray pun menghela nafasnya.

__ADS_1


"Astaga, aku pikir dia lepas." Ucap Ray sembari melihat ke arah pintu kamar mandi.


Ray menyimpan beberapa botol alkohol yang ia bawa diatas meja dekat dapur. Ray menyiapkan satu gelas dan menuangkan minuman itu pada gelasnya. Namun Ray sama sekali tak meminumnya, dia hanya menuangkannya saja sembari memperhatikan minuman beralkohol itu.


Ketika Ray tengah memperhatikan minuman beralkohol, Dalam gelas kaca yang bening itu. Tiba-tiba Amara keluar dari kamar mandi hanya dengan handuknya. Seketika Ray yang melihatnya terdiam.


Amara tak sadar jika Ray ada didapur tengah duduk memperhatikannya. Amara langsung berganti pakaian dihadapan Ray dengan posisi yang membelakangi Ray.


Dan pada akhirnya Ray melihat Amara sedang berganti pakaian. Ray sama sekali tak mengalihkan pandanganya dari Amara karena Ray masih sangat terkejut dengan apa yang tengah dilakukan Amara.



Amara memakai satu persatu bagian dari bajunya hingga seluruh badannya tertutup. Lalu setelah Amara memakai pakaiannya Amara mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah didepan jendela agar tersorot oleh cahaya matahari.


Semua yang tengah dilakukan oleh Amara membuat Ray sangat terpesona. Bahkan Ray menelan ludahnya perlahan ketika melihat Amara.



Amara pun membalikan badannya dan terkejut ketika melihat Ray sedang duduk dimeja makan dapur sembari memperhatikannya.


"R- Ray... "


Amara pun berjalan menghampirinya dan marah kepada Ray.


"A-apa kamu melihat semuanya? Apa kamu melihat apa yang sedang aku lakukan Ray?"


Ray sama sekali tak menjawab pertanyaan Amara, Ray terus diam sembari menatap matanya.


"Ray, sejak kapan kamu disini?" Tanya Amara lagi.


"Sejak kamu mandi, dan aku melihat semua yang kamu lakukan barusan. Sudahlah cepat duduk disini, aku ingin kamu minum disini."


Amara terdiam lalu menyilangkan kedua tanganya didepan dadanya, disertai dengan tetesan air dari rambutnya yang masih basah.


Amara berjalan mundur perlahan, menjauh dari Ray dengan tatapan kosongnya. Karena Amara masih shok dengan apa yang berusan saja terjadi.


"Tidak... Itu tidak mungkinkan Ray, Aku tidak ingin orang lain melihat tubuhku lebih dulu. Tubuhku ini hanya untuk cinta terakhirku, bukan kamu Ray." Ucap Amara dengan air mata yang mulai mentes perlahan.

__ADS_1


Ray pun terdiam, karena sebenarnya di dalam hatinya, Ray juga merasa bersalah. Namun Ray tak mau menampakan rasa bersalahnya dihadapan Amara, Ray malah cuek dan tampak biasa saja.


"Kamu itu terlalu over Amara, cepat duduk disini aku ingin kamu minum semua minuman ini."


"Apa kamu bilang? Sekarang kamu menyuruhku meminum semua minuman beralkohol itu. Aku tak mau Ray aku bukanlah wanita murahan."


Ray pun marah setelah mendengar Amara yang tak mau mengikuti perintahnya. Ray berdiri dengan menggebrak meja, lalu menghampiri Amara dengan penuh kemarahan.


Amara langsung menundukan pandanganya ketika Ray menghampiri dirinya dengan penuh kemarahan.


Setelah Ray mendekati Amara, Ray langsung mengangkat tubuh Amara dan membawanya ke meja makan.


"R-Ray! Lepaskan aku!"


Ray pun mendudukan Amara dikursi dan memberinya segelas whiskey.


"Minum ini, aku hanya ingin kamu meminumnya, aku tak akan melakukan apapun padamu. Dan kejadian tadi itu hanyalah sebuah kecelakaan, dan aku tak bermaksud melihat tubuhmu itu." Ucap Ray perlahan dihadapan wajah Amara.


"Kenapa kamu ingin aku meminum ini? Apa kamu telah mencampurkan sesuatu di dalam minuman ini?"


"Jangan fitnah dulu, cepat minum saja. Lagi pula aku hanya mencintai Bella, dan aku tak menyukaimu. Jadi untuk apa aku melakukan hal semacam itu demi melakukan hal buruk kepada tubuhmu itu Amara."


Amara pun terdiam, lalu meminum segelas whiskey yang diberikan oleh Ray.


Ketika Amara meminum Whiskey, Ray sama sekali tak meminumnya. Itu adalah hal yang aneh, padahal Ray-lah yang sedang banyak pikiran dan seharusnya Ray yang meminumnya tapi Ray malah memberikan whiskey itu pada Amara.


Setelah Amara minum tiga gelas whiskey yang dituangkan Ray, Amara pun mulai tak sadarkan diri, Amara mulai mabuk.


Amara bahkan meminta satu gelas whiskey lagi pada Ray. Namun Ray mengambil gelas Amara dan menjauhkan beberapa whiskey itu darinya.


"Sudah. Kamu sudah sangat mabuk, aku tak ingin memberimu lagi whiskey." Ucap Ray pada Amara.


Ray melipatkan tangannya dan duduk sembari memperhatikan Amara yang tengah mabuk dihadapannya. Bahkan Ray memberikan senyuman tipis ketika melihat Amara mabuk.



Dan tiba-tiba saja seseorang masuk kedalam ruangan pribadi Ray.

__ADS_1


__ADS_2