
"Dengar Ray, saat kami semua mabuk di vila setelah bermain Jenga. Tepat dimalam kamu diculik si tudung hitam itu, Ray benar-benar mabuk dan Ray datang ke kamar Amara dan melakukannya. Amara juga sempat marah bahkan selama dia hamil dia benar-benar canggung dengan Ned, bahkan Amara dulu lebih sering tidur dikamarmu dibanding Ned suaminya."
"Apa! Ned yang melakukannya. Jadi Amara hamil diluar nikah?"
"Dan kamu tahu Ray, Dillon itu adalah kakak tiri Amara, ibunya Amara menikah dengan Ayahnya Dillon. Dan satu lagi yang membuatku terkejut adalah. Nama Amara memang Laluna, Amara yang berbohong pada kita jika nama dia Amara padahal nama aslinya memang Laluna."
Ray masih speechless dengan penjelasan Gerry.
"Jika Amara tak segera menikah dengan Ned, kasian Amara Ray, perutnya semakin membesar, dan orang-orang akan bertanya siapa ayah dari anaknya."
"Tapi aku juga sakit hati Ger, aku mencintainya."
"Jika kamu mencintainya, kenapa kamu tak segera mengungkapkan perasaanmu pada Amara dengan cepat dari dulu."
"Ya aku memang bodoh. Aku terlalu mengulur-ulur waktu."
"Sekarang giliranmu Ray, katakan padaku apa yang terjadi denganmu selama kamu hilang?"
Ray akhirnya mau menceritakan segalanya pada Gerry, apa yang telah terjadi dengannya.
Seteleah Ray menjelaskan segalanya pada Gerry. Gerry tiba-tiba langsung mengecek tangan Ray yang terluka akibat ikatan, dan sampai sekarang lukanya masih membekas. Orang-orang tak bisa melihatnya karena Ray menutupinya dengan jaket.
"Astaga, aku minta maaf Ray, aku teman dekatmu tapi aku tidak pernah bertanya apa yang sedang kamu alami."
"Tak masalah Ger, lagi pula aku benar-benar menyembunyikan segalanya dari semua orang."
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, mereka bersulang dengan gelas yang sudah terisi whiskey.
"Jadi situdung hitam itu bernama Jovan, saat itu memang Sarah pernah menelponnya Ray, setelah beberapa hari tiba-tiba Sarah juga di ikuti oleh si tudung hitam itu."
"Jadi Jovan sudah tau rumahku?"
"Ya Ray, dia sudah tahu rumahmu. Dan Jovan pasti ada disekitaran kita. Kita harus bertanya pada Sarah dimana rumah Jovan."
"Lalu, dimana Selina sekarang dia wanita yang menyelamatkanmu dan membawamu ke Selandia kan?"
"Aku pergi diam-diam, Dia benar-benar baik. Tapi ternyata dia menyukaiku, dia terus mengambil uang hasil dari kerja kerasku dan menyembunyikan-nya dariku. Padahal uang itu untukku dan juga Selina pulang ke Indonesia."
"Kenapa dia melakukan itu Ray?"
"Dia ingin tinggal disana lebih lama denganku, tapi aku tak bisa. Jadi aku pergi diam-diam dan menyisihkan separuh uangnya untuk Selina. Jadi dia juga bisa pulang ke Indonesia sesuka hatinya."
Gerry sempat bingung jika Ray tak bawa apapun saat ke Selandia Baru, bagaimana Ray bisa masuk ke negara lain tanpa passport.
"Kamu menggunakan passport siapa Ray?"
__ADS_1
"Kakak laki-laki Selina, Kakaknya pergi meninggalkan Selina dan kedua orang tua Selina sudah tiada."
Tiba-tiba Gerry mendapatkan panggilan dari Bonita ketika mereka asik mengobrol.
"Halo Bonita, ada apa?"
"Ger cepat pulang, Amara kesakitan sepertinya dia akan melahirkan."
"Apa melahirkan, bukannya baru delapan bulan."
"Ish! Cepat kemari."
Tutt tutt tutt
Bonita menutup panggilannya.
"Apa Amara akan melahirkan?" Tanya Ray yang tiba-tiba panik.
"Sepertinya begitu Ray. Ray ayo kita temani Amara."
Ray dan Gerry dengan cepat berlari menuju parkiran dan pulang kerumah untuk melihat keadaan Amara.
Setibanya Ray dan Gerry dirumah, terlihat Amara tengah menangis kesakitan didalam kamar Ned.
Ray melihat Ibu dan kakaknya berada disamping Amara. Ned memegang tangan Amara dengan erat sedangkan ibunya mengelus perut Amara.
"Kenapa kalian tak memanggil dokter!!" teriak Ray hingga membuat semua orang terkejut.
"Ray tenang. Kami sudah memanggil dokter Amara akan baik-baik saja!" Teriak sang Ayah.
Amara yang tahu Ray datang, memanggil namanya walaupun ia tengah berada dalam kesulitan.
Ray... Ray...
Gumam Amara memanggilnya. Ray dengan cepat menghampiri Amara.
"... Ra kamu akan baik-baik saja."
"Ray, maafkan aku."
"Hei hei, Sstt jangan meminta maaf. Aku mengerti perasaanmu."
Amara tiba-tiba melepaskan genggaman tanganya dari Ned dan memeluk Ray. Ned merasa kecewa namun ia tak bisa berkata-kata lagi. Ray hanya diam ditempat.
Semua orang benar-benar merasa tak percaya Amara akan berpelukan dengan Ray, Dan tak lama dokter pun tiba. Seorang dokter perempuan dan kedua susternya.
__ADS_1
Ray dan Ned berada disamping Amara yang tengah melahirkan diusia kandungan Amara yang hampir sembilan bulan.
Ray dan Ned sama-sama mendampingi Amara saat itu. Setelah perjuangan hidup dan mati Amara untuk melahirkan. Kini Amara mempunyai seorang putra dari Ned. Bayi itu keluar dengan selamat dengan tangisannya.
Semua orang mulai masuk kembali ke kamar untuk melihat si jabang bayi.
Ibu dari Ray dan Ned tersenyum bahagia setelah melihat cucu pertamanya telah lahir. Tak lama kedua orang tua Amara juga tiba bersama dengan Dillon setelah Gerry menghubungi mereka.
Bayi yang kecil itu dengan pelan diletakan di dada Amara oleh sang dokter.
Amara tersenyum bahagia begitupula dengan Ned. Tapi Ray sama sekali tak tersenyum, Ray merasa ini semua hanya mimpi.
****
Malam pun tiba semua orang masih berkumpul di rumah Ray. Amara duduk disofa sembari mengais putranya yang masih merah dan belum diberi nama.
"Ned, sekarang saatnya untuk memberi putramu nama. Apa kamu sudah menyiapkannya?" tanya sang Ayah.
"Ya, aku sudah menyiapkan nama untuk putraku." Jawab Ned yang duduk disebelah Amara.
"Aku memberinya nama, Niki."
Semua orang tersenyum setelah Ned memberi nama Niki pada putra pertamanya.
Ray tiba-tiba naik keatas kamarnya. Ray menutupi kesedihannya setelah ia melihat kini Amara dan kakaknya sudah berkeluarga.
Satu minggu sudah berlalu, semua sudah berjalan normal. Ned masih tinggal dirumah Ray bersama dengan Amara dan putranya Niki.
Selama satu minggu setelah Amara melahirkan, Amara masih tak tidur satu kamar bersama dengan Ned. Amara tidur berdua bersama dengan putranya.
Suatu pagi dihari senin, Ray tampak tengah duduk diruang makan. Ray tengah sarapan seorang diri.
Tiba-tiba Amara keluar dari kamarnya dan menghampiri Ray yang sedang berada diruang makan.
"Pagi Ray... " kata Amara yang sedikit canggung.
Walau Amara sudah menyapanya Ray tetap tak mau menjawabnya. Ray malah cuek kepada Amara.
"Apa kamu ingin sarapan? Akan ku siapkan roti, atau kau ingin jus apel?"
Ray tetap tak mau menjawab, Ray hanya memakan sepotong apel yang ia kupas sendiri. Percakapan mereka terdengar oleh Ned yang tidur di kamar tamu.
Ned keluar dari kamar tamu dan menghampiri mereka berdua yang ada diruang makan. Tiba-tiba Ray pergi setelah Ned menghampirinya.
Ray benar-benar mengacuhkan Ned dan Amara.
__ADS_1
Ray dengan cepat pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya.