Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 16


__ADS_3

"Ray, Cepat bangun!" Sahut Ned.


Pagi ini Ned sedang menyiapkan dua cangkir kopi untuk dirinya dan juga Ray, sebelum mereka berangkat bekerja.


Tak lama Ray turun dari lantai dua kamarnya menuju dapur untuk sarapan.


"Apa ini? Apa ini teh hangat lagi? Aku kan sudah bilang padamu Ned aku tak ingin minum teh dipagi hari."


"Astaga. Jangan suuzon dulu Ray, lihat aku membuatkanmu secangkir kopi sekarang."


Ray pun langsung menyeruput secangkir kopi buatan kakaknya.


"Ned, kenapa kamu belum bersiap-siap? Apa kamu tak akan pergi ke kantor?"


"Oh iya Ray, hari ini aku harus cek kerumah sakit. Dan sepertinya setelah cek cederaku ini, Aku tak akan minum obat lagi."


"Astaga, aku lupa. Baiklah akan kuantar."


"Ah tak perlu, aku sudah berjanji dengan Gerry. Aku akan pergi dengannya. Kamu urus saja pekerjaanmu itu. Agar tak terlalu menumpuk."


"Baiklah, hati-hati."


Hari ini Ned tak bisa pergi ke kantor, karena ia harus cek cedera dikepalanya. Dan mungkin ini adalah hari terakhir dia pergi kerumah sakit. Dan setelahnya ia tak perlu lagi minum obat.


****


Hari ini Ned pergi ke rumah sakit bersama dengan Gerry, Ned berangkat kesana menggunakan mobil Gerry dan Gerry-lah yang mengemudinya.


"Oh iya Ned, Semalam ketika aku pergi bersama dengan Ray menuju Club Dandelions milik Dillon. Disana ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Amara. Kamu masih ingat Amara-kan Ned?"


"Amara... Kamu serius Ger?"


"Iya, Aku serius Ned, Dan aku rasa dia memang Amara, Tapi Ray bilang dia Laluna. Aku sangat yakin Laluna itu Amara."


"Malam ini bisakah kita pergi kesana lagi Ger? Aku ingin memastikan jika itu benar Amara atau bukan."


"Oh iya aku lupa, kalo kamu itu suka sama Amara. Baiklah akan ku antar kesana malam nanti."


Ketika Gerry berkata bahwa Ned menyukai Amara, seketika Ned tersenyum lebar hingga giginya yang rapih terlihat begitu jelas.


Tak lama Ned dan Gerry tiba dirumah sakit.


Dan hasil akhirnya, memperlihatkan bahwa cedera di kepala Ned sudah sembuh total, dan Ned tak perlu lagi kembali kerumah sakit.


"Akhirnya aku bisa hidup tanpa obat-obatan rumah sakit lagi. Aku sudah lelah dan bosan dengan bau obat itu." kata Ned dengan penuh kebahagian yang tampak diwajahnya.


"Sekarang kamu tinggal cari calon pendampingmu Ned."


"Aku tidak tahu Ger, Sebelum aku menemukan orang yang benar-benar aku cintai, Aku akan fokus dulu pada karirku lagi sebagai model."

__ADS_1


"Baiklah, lakukan apa yang kamu mau Ned," Ucap Gerry sembari merangkul bahu Ned. "Tapi ingat Ned, Jangan sampai kamu terluka lagi."


Ned tersenyum karena Gerry memberikan kata-kata yang hangat padanya.


Tak terasa malam pun tiba dengan cepat. Dan malam ini tepatnya pukul sembilan malam Ned sudah bersiap-siap bersama Gerry, untuk pergi menuju club Dandelions milik Dillon.


Mereka pergi dengan mobil mereka masing-masing tanpa sepengetahuan Ray.


"Ned kenapa Ray belum pulang?" Tanya Gerry sebelum mereka masuk kedalam mobil mereka masing-masing. "Biasanya dia pulang dengan cepat kan Ned."


"Entahlah Ger, mungkin Ray lembur malam ini. Cepat kita pergi."


Mereka berdua akhirnya pergi menuju club Dandelions milik Dillon. Ned mengikuti mobil Gerry dari belakang.


Setibanya mereka di Club Dandelions milik Dillon. Tepat ketika Ned dan Gerry ada didepan pintu masuk tiba-tiba seorang wanita yang tak lain adalah Sarah, ia menabrak Ned, sehingga segelas wine yang ia pegang tumpah ke jaket kulit Ned.



Argh!


"M-maafkan aku, Aku tidak sengaja. Cepat kemari aku akan membersihkannya," kata sang Sarah sembari memegang tangan Ned dan menariknya. "Sekali lagi aku minta maaf, Aku akan membersihkannya."


Namun Ned melepaskan genggaman tangan Sarah yang mencoba menariknya, Ned memberikan tatapan sedikit marah pada Sarah karena mencoba memegang tanganya dan menariknya.


"Kenapa? Aku hanya ingin membersihkan wine yang tumpah itu. Aku ingin membawamu ke meja Bar untuk meminta tisu." Ucap Sarah kepada Ned, ketika Ned melepaskan tanganya dari genggaman tangan Sarah.


"Tak perlu, Aku bisa membersihkannya sendiri," Kata Ned dengan tatapan marahnya.  Namun Sarah kekeh dan memegang kembali tangan Ned. "Tak perlu memegang tanganku! Aku sudah memaafkanmu. Aku tak suka orang lain menyentuhku."


"Jika kamu tak mau disentuh oleh wanita, Kenapa kamu datang ke Club? Dasar manusia aneh." Cetus Sarah.


Sarah akhirnya pergi meninggalkan Ned dan Gerry.


"Ned kenapa kamu lebay banget si, Ini club jadi kamu ga perlu selebay itu jika ada wanita yang tiba-tiba menyentuhmu."


"Baiklah, Aku hanya tidak suka ketika orang lain tiba-tiba menyentuhku."


"Tapi tunggu, Ned... Sepertinya wanita tadi itu Sarah. Dia penari Striptis di club ini. Kemarin aku melihat dia menari di tiang besi sana."


"Sudah ayo tunjukan dimana kamu menemui Amara kemarin, Maksudku Laluna wanita yang sangat mirip Amara itu."


Gerry pun membawa Ned menuju lantai VVIP.


Ketika mereka tiba disana wajah Ned benar-benar terkejut melihat lantai VVIP club Dandelions itu, Mimik wajahnya sama dengan mimik wajah Gerry saat pertama kali ia masuk.


"Kamu terkejutkan Ned melihat lantai VVIP ini, Dillon emang bener-bener penuh dengan seni hidupnya."


"Astaga semua pekerja disini perempuan dan yang datang kebanyakan laki-laki, kenapa mereka semua menggunakan warna merah?"


"Entahlah yang tahu hanya Dillon."

__ADS_1


Ned dan Gerry langsung berjalan menuju ruang paradise dan Hell.


"Kemarin malam aku bertemu dengan wanita yang aku rasa itu Amara disini Ned. Diruang Paradise."


"Jadi tunggu apalagi ayo kita masuk Ger."


Ketika Gerry akan membuka pintu ruang paradise, tiba-tiba Dillon datang dari belakang dan memanggilnya.



"Gerry, Ned. Apa yang sedang kalian lakukan?" Sahut Dillon sembari berjalan menghampiri Gerry dan Ned. "Apa yang sedang kalian berdua lakukan? Kamu tidak bisa masuk begitu saja."


"Dillon, ada apa dengan wajahmu? Apa kamu sudah bertengkar?" Tanya Gerry ketika melihat Wajah Dillon penuh dengan memar dibagaian bawah matanya.


"Astaga apa kamu tidak tahu Ger, Kemarin malam Ray memukuliku. Sialan Ray. bisa-bisanya dia pukul teman bisnisnya sendiri."


Ned mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Dillon.


"Apa kamu serius Dil, Ray melakukan itu padamu? Tapi hal apa yang membuat Ray melakukan itu padamu?"


"Aku lelah menjelaskannya, Tanya sendiri nanti pada Ray, Apa yang telah dia lakukan padaku. Oh iya, apa yang kalian lakukan? Apa kalian ingin bertemu ratu bidadari?"


"Ya Dil, Ned ingin menemuinya."


"Ger kamu-kan tahu, tak semua ruangan itu ada ratu bidadarinya. Hanya ada satu diantara dua ruangan ini. Kalian juga harus bayar sepuluh juta padaku sebelum masuk, karena ini tak gratis."


"Apa?! Apa kamu sudah Gila Dil, Itu artinya kamu sama saja seperti menjual manusia." Ucap Gerry marah.



Karena pembicaraan Gerry dan Dillon lama, Ned tiba-tiba menerobos salah satu pintu itu. Ned menerobos pintu yang bertuliskan Hell.


Ketika Ned masuk, Ned benar-benar terkejut karena diruangan itu memang benar ada wanita yang sangat mirip dengan Amara.


"Amara..." Gumam Ned.




Dillon dan Gerry pun akhirnya mengikuti langkah Ned.


"Astaga Luna! Kenapa kamu tak segera berpindah tempat keruang Paradise. Kenapa kamu diam saja." Ucap Dillon marah sembari mendekati Luna yang tak lain adalah Amara.


"M-maafkan aku Dillon, Aku tidak tahu akan ada yang masuk, Aku tak mendapatkan intruksi dari earphoneku ini." Jawabnya ketakutan.


Ned berjalan mendekati Amara.


"Amara, kamu itu Amara-kan bukan Luna, aku masih ingat wajahmu. Aku Ned Amara, kakak Ray. Apa kamu mengingatku?"

__ADS_1


"Astaga ada apa dengan kalian semua, Kemarin Ray dan Gerry yang mengira Luna ini Amara, sekarang kamu Ned. Siapa si Amara itu hah. Dia LALUNA bukan Amara."


__ADS_2