
Baru saja Ray memejamkam matanya, tak terasa pagi pun tiba, Ray terbangun karena terdengar suara kicauan burung dan sorotan cahaya matahari yang masuk ke sela-sela lubang gedung itu. Ya karena Ray tertidur saat dini hari, sehingga tidurnya terasa sebentar.
Waktu terus berjalan dan Ray tertidur kembali. Hingga tak terasa malam datang lagi. Sejak pagi si pria tudung hitam itu belum kembali kegedung, Ini sudah malam dan Ray mulai merasa lapar dan juga haus.
"Argh... Perutku sakit sekali. Aku benar-benar lapar." Rintih Ray sembari menundukan wajahnya.
Dan tiba-tiba diluar sana terdengar suara mobil yang mendekat. Ya, siapa lagi jika bukan si pria tudung hitam itu. Pria itu kembali dengan pakaian biasa dan memakai jaket kulit berwarna hitam. Ia membawa beberapa makanan.
"Oh... Aku bersyukur sekali kamu belum mati kelaparan Ray. Ini waktunya makan malam. Aku hanya akan memberimu makan saat malam saja." Ucap pria itu sembari memberikan beberapa makanan kepada Ray.
Tiba-tiba seseorang masuk berlari menghampiri pria itu.
"Pak Jo... " ternyata ia seorang perempuan dengan pakaian yang rapih dan memakai baju hangat tebal. Wanita itu berjalan menghampiri pria tudung hitam dengan panggilan Pak Jo.
Ketika perempuan itu masuk, perempuan itu benar-benar terkejut melihat Ray diikat merentang seperti itu.
"Selina, cepat kemari. Aku mengajakmu datang kemari untuk memerintahmu."
"S-siapa dia Pak Jo?"
"Kamu ga perlu tahu. Yang penting kamu lakukan apa perintah bosmu dan tutup mulutmu. Jangan bocorkan ini semua pada orang lain."
"B-baiklah Pak Jo."
"Cepat suapi di makan, aku sudah menyiapkan makanannya. Aku tak ingin melepaskan ikatan tanganya, jadi aku menyuruhmu menyuapi dia Selina."
Wanita yang bernama Selina itu akhirnya duduk dihadapan Ray dan menyuapi Ray makan.
Karena Ray tak tahan dengan rasa laparnya, Ray membuka mulutnya ketika Selina memberinya beberapa sendok nasi.
Selina seakan terpesona dengan ketampanan Ray, Selina terus memandanganya hingga Ray tersadar jika Selina terus memandangnya.
Ray terlihat biasa saja ketkika Selin terus memandangnya. Ray benar-benar fokus makan.
"Heii..." panggil Ray pelan.
"I-iya, ada apa?" Jawab Selina gugup, karena sedari tadi Selina terus memandang Ray.
__ADS_1
"Tolong jangan beri aku nasi terus, berikan aku juga laukknya." Ucap Ray.
"Oh. Baiklah, maafkan aku."
Tiba-tiba si pria tudung hitam yang dipanggil Pak Jo itu mendapatkan panggilan ketika ia sedang asik bermain game.
"Argh!! Kalahkan jadinya! Ada apa dengan Sarah kenapa dia menelpon."
Ketika pria yang dipanggil Pak Jo itu mendapatkan panggilan. Ray benar-benar terkejut karena ia menyebut nama Sarah.
"Sarah.... " Ucap batin Ray curiga, sembari menatapnya dengan tajam.
Ray berhenti mengunyah, untuk mendengar pembicaraan si pria tudung hitam itu.
"Apa, Bella tiada... Halo Sar... Sarah Halo, maafkan aku sepertinya tak ada sinyal."
Tuttt... Tuttt...
"Sarah ini merepotkan saja."
"Kenapa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Oh aku baru ingat. Kamu juga baru berteman dengan Sarahkan. Aku melihat kalian di Vila."
"Kamu mengenal Sarah."
"Ya, Ray kenapa? Kamu kagetkan. Tapi tenang saja aku tak pernah memberitahu perasaanku tentang Bella pada siapapun."
"Aku yakin Sarah akan tahu jika aku ada disini. Teman-temanku akan datang kesini."
"Cih... Berharap sekali mendapat pertolongan dari mereka. Sudah Selina cepat beri dia makan lagi."
"Baik pak Jo."
Akhirnya Ray tahu jika si tudung hitam itu bernama Jovan, ia berteman dekat dengan Bella dan Sarah sejak dulu.
Setelah Ray tahu jika Jovan dekat dengan Sarah, Ray mulai sedikit tenang. Kini ia hanya perlu berfikir dengan pintar bagaimana caranya agar ia lepas dari Jovan yang mencoba membunuhnya.
Sudah tengah malam, Jovan pergi bersama dengan sekertarisnya Selina. Mereka pergi setelah memberi makan Ray.
Walau perut Ray sudah kenyang. Ray tetap tak bisa tertidur karena terus memikirkan cara agar bisa keluar dari gudang itu.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, sudah empat hari Ray terikat digedung itu. Walau Ray sedang disandra oleh Jovan. Ray tetap bisa mendapatkan makanan dan pergi ke kamar kecil dengan pengawasan dari Jovan, yang selalu mengarahkan tembakan ke kepala Ray, ketika Ray ingin pergi ke kamar kecil.
Kini ada empat orang penjaga, satu persatu dari mereka menjaga disetiap sudut gedung tebengkalai itu.
Malam ini tepatnya pukul delapan malam di hari keempat, Jovan kembali lagi bersama Selina dengan membawa makanan untuk Ray seperti biasa.
"Hng... Astaga kenapa hari ulang tahunku terasa lama sekali padahal hanya tiga hari lagi, tapi rasanya seperti satu tahun. Aku sudah tidak sabar menembak Ray." Ucap Jovan yang sedikit menakutkan. Bahkan Selina sekertarisnya saja benar-benar tak percaya dengan ucapan bosnya.
"Selina! Cepat beri makan anak itu. Osh, lihat dia benar-benar bau badan sudah empat hari dia tak mandi. Selina tunggu disini, aku akan membeli perlatan mandi dan kaus untukknya."
"Baik pak Jo."
Jovan pergi menuju mall, membeli baju dan peralatan mandi untuk Ray yang badannya sudah bau karena empat hari tak mandi. Ya, bagaimana bisa Ray mandi dan membersihkan dirinya. Tangan dan kakinya terikat semua oleh tali. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi saja, Ray harus dijaga dengan empat penjaga, dan juga Jovan.
Selina menyuapai Ray yang sudah lelah terikat, dengan pakaiannya yang lusuh. Bahkan pergelangan tangan Ray yang terikat tali sudah benar-benar memerah.
"Selina... " Panggil Ray lemah.
"Iya ada apa?"
"Aku mohon tolong lepaskan ikatan ini."
"Apa, Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Jika aku melakukan itu, aku akan mati, Jovan akan membunuhku."
"Apa Jovan mengancammu?"
"Ya, Dia mangancamku. Lagi pula aku sama sekali tak mengenalmu, untuk apa aku membantumu aku tak ingin ikut campur dengan urusan kalian."
Ray menghela nafasnya dan membuang muka pada Selina. Saat Ray melakukan itu pada Selina. Tiba-tiba wajah Selina murung, Selina tiba-tiba merasa iba pada Ray.
Setelah makan selesai, Selina duduk di sebuah box besar sembari menunggu Jovan tiba. Selina terus memandang Ray yang benar-benar terlihat berantakan.
Ray yang terdiam tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada Selina yang terus menatapnya. Selina pun terkejut setelah tahu Ray menatapnya balik. Selina dengan cepat memalingkan pandanganya dari Ray.
Dan akhirnya Jovan datang dengan membawa tas belanjaan dari mall.
"Selina, kamu benar-benar setia pada bosmu. Kamu tidak mencoba melepaskannya. Sebelumnya aku berfikir jika aku meninggalkanmu disini, kamu akan tergoda olehnya karena dia tampan. Dan melepaskannya. Dan ternyata tidak." Kata Jovan sembari berjalan menghampiri Selina.
Selina hanya memberikan senyuman palsu pada bos-nya itu.
"Pengawal! Cepat kemari, bantu aku melepaskan ikatanya dan bawa dia ke kamar mandi gudang untuk membersihkan badannya." Teriak Jovan pada pengawalnya.
__ADS_1
Akhirnya ke empat pengawal berbadan besarnya datang dan melepaskan ikatan Ray. Mereka membawa Ray masuk kedalam kamar mandi gudang. Agar Ray bisa membersihkan badannya. Namun Ray benar-benar terlihat lemah, kakinya lemas hingga kakinya menggantung terseret, saat kedua pengawal Jovan membawanya.
Karena Ray benar-benar terlihat lemah. Dan kemungkinan tidak bisa membersihkan badanya sendiri. Jovan akhirnya memanggil Selina untuk membantu membersihkan badan Ray.