
Amara yang menyandarkan kepalanya dibahu Ned, membuat Ned merasa lebih tenang. Walau begitu tetap saja dalam pikiran Ned saat itu, hanya terlintas nama sang adik.
Ketika Ned tengah menyetir tiba-tiba handphone Ray yang diletakan di dashboard mobil, berdering.
Amara dengan cepat mengambil Handphone Ray dan melihat siapa yang menelepon Ray.
"Ned, I-ini ada telepon dari nomer yang tak dikenal. Haruskah aku mengangkatnya?"
"Apa itu nomer si peneror?"
"Aku tidak tahu."
"Coba angkat saja Ra."
Amara akhirnya menjawab panggilan dari nomer yang tidak dikenal.
"Halo..."
"Hallo, Pak Ray bagaimana dengan rapat senin nanti apa kau akan datang?"
"Oh maaf, Ray meninggalkan handphone-nya. Akan aku beritahu nanti."
Amara langsung mematikan handphone-nya setelah tahu yang menelpon Ray adalah teman bisnis Ray.
"Dia bukan peneror Ned, dia teman bisnis Ray."
"Ra coba kamu baca semua pesan yang dikirim oleh peneror itu pada Ray. Siapa tahu ada cara agar kita dapat menemukannya."
"Kenapa kita tak langsung menelpon saja nomer si peneror ini Ned?"
"Engga Ra, itu berbahaya. Aku takut sesuatu terjadi nanti pada Ray."
Amara akhirnya membaca semua pesan yang di kirim peneror itu pada Ray. Amara bahkan meneteskan air matanya dan tiba-tiba menangis.
"... Ra kamu kenapa?"
"Ned, Sekarang aku tahu kenapa Ray selalu menangis ketika dia memelukku. Aku rasa Ray benar-benar ketakutan dengan pesan ancaman ini."
"Apa Ray selalu memelukmu?"
"Ya, dia datang ke club Dandelions. Dan Ray selalu ingin memelukku dari belakang. Tapi aneh dia selalu menyembunyikan tangisannya dengan cara memelukku dari belakang. Dan aku rasa karena semua pesan dari si peneror itulah yang membuatnya ketakutan seperti itu."
"Kenapa Ray tak pernah memberitahuku soal ini semua... Bagaimana, apa kamu mendapatkan sesuatu dari pesan itu?"
"Ya, aku menemukan satu, dari banyaknya pesan ancaman itu. Lihat Ned peneror itu bilang kalo Ray sudah membunuh Bella."
__ADS_1
"Apa? Itu berarti semua ini ada hubungannya dengan orang-orang terdekat Bella. Orang yang mengenal Bella."
Ned menelepon Gerry untuk berkumpul dirumah Ray.
Hari mulai gelap akhirnya mereka semua tiba di rumah Ray tepat pukul delapan malam. Mereka semua memarkirkan mobilnya di depan rumah Ray.
Mereka berkumpul dan duduk bersama diruang keluarga sembari memikirkan cara agar bisa menemukan Ray yang hilang.
"Bagaimana Ray, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita pergi sekarang ke kantor polisi agar mereka melacak nomer si peneror itu?" Tanya Gerry.
"Tidak, percuma kita melaporkan pada polisi. Karena Ray hilang belum 24jam. Amara menemukan pesan dari si peneror itu. Si peneror itu berkata jika Ray telah membunuh Bella-nya. Itu berarti si peneror dekat dan tahu siapa Bella." Jelas Ned.
Semua orang terlihat bingung dan khawatir.
"Ned..."
"Iya, ada apa Sarah?"
"Bella temanku, Mungkin aku bisa membantu. Aku mengenal beberapa teman Bella."
"Oh iya, Jika peneror itu menyebut nama Bella dengan Bellaku. Apa kemungkinan besar dia itu seorang pria bukan wanita." Sambung Dillon.
"Benar, Sarah sekarang beritahu kami beberapa teman dekat Bella. Pertama kita harus lihat dari sosial media mereka terlebih dulu." kata Ned sembari mengambil laptopnya.
Mereka berkumpul bersama dan mencari tahu beberapa teman pria Bella. Sarah mencari tahu satu persatu sosial media teman Bella yang ia ketahui.
"Tak apa, kita pasti bisa menemukan Ray." sambung Ned.
Setelah beberapa jam mereka mencari akun sosial media teman Bella dan mencoba mengonteknya. Tetap saja tak ada yang tahu siapa pria yang menyukai Bella sejak dulu. Karena yang mereka tahu Bella tak pernah dekat dengan banyak pria.
Sarah mencoba menelpon satu temannya yang dekat dengannya dan Bella.
"Halo..."
"Hallo Sarah, ada apa?"
"Jo, Apa kamu tahu kalo Bella sudah tiada?"
"Hah. Kamu serius? Kamu ga boongkan Sar."
"Engga Jo, Jo aku ingin tahu, karena kamu dulu dekat dengan bella juga. Apakah kamu tau kalo ada seorang pria yang menyukai Bella?"
"Hah, Aku engga tau sama sekali Sar."
Tiba-tiba sambungannya terputus.
__ADS_1
"Jo... Hallo Jo, Astaga sepertinya tak ada sinyal karena tiba-tiba panggilanku dengan Jovan terputus." Ucap Sarah.
"Sudah, lebih baik kita lacak saja nomer telepon si penror itu kepada polisi. Besok kita kesana." Ucap Gerry.
"Tapi aku takut sesuatu terjadi dengan Ray."
"Ned, kamu tenang saja. Kami ada disini dan malam ini kita semua akan tidur disini. Kita tak akan pulang sebelum Ray ditemukan."
Akhirnya mereka semua bermalam dirumah Ray. Untuk menemani Ned. Namun tidak dengan Dillon. Dillon berpamitan lebih dulu karena ada pekerjaan mendadak yang harus dilakukan.
"Ned, aku minta maaf. Aku tak bisa bermalam disini karena ada pekerjaan mendadak dari kantor."
"Baiklah Dil, tak masalah."
Malam terasa begitu panjang bagi Ned, padahal ia hanya ingin pagi segera datang dan mencari kembali Ray. Dimalam pertama mereka tanpa Ray. Membuat suasana benar-benar terasa gelap. Mereka benar-benar kehilangan sosok Ray.
Setelah malam yang terasa panjang berlalu. Akhirnya pagi yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Ned pergi bersama Gerry dan Amara dengan mobilnya, menuju kantor polisi. Sedangkan Sarah dan Bonita menunggu mereka dirumah Ray.
Dalam perjalanan. Mereka bertiga begitu Serius, tak ada percakapan sama sekali.
"Ned kamu tidak lupa kan dengan handphonenya Ray."
"Aku tidak lupa Amara, aku membawanya."
"Amara?" Kata Gerry terkejut yang tengah duduk di depan kursi mobil disamping kemudi Ned. "Sebenarnya nama kamu itu siapa si Luna, Amara atau Laluna?"
Ned dan Amara sama-sama terdiam setelah Gerry bertanya namanya.
"Loh, ko kalian pada diem. Apa kalian berdua membohongiku?"
"Baiklah Ger, akan ku beritahu. Sebenarnya Aku memang Amara aku berpura-pura menjadi Luna dihadapan Dillon, karena ada satu hal yang harus aku sembunyikan dari Dillon, Maafkan aku."
"Astaga Amara, kenapa kamu berbohong padaku. Dan aku juga yakin kamu memang Amara, soalnya sifatmu sangat sama dengan Amara. Apa Ned dan Ray tahu soal ini?"
"Iya Ger, maafkan aku."
"Baiklah aku maafkan jangan lakukan hal seperti itu lagi padaku. Aku juga temanmu Ra."
"Tunggu, kamu bilang ada sesuatu antara kamu dan Dillon, memangnya apa hubunganmu dengan Dillon Ra? Kenapa kamu bisa bekerja dengannya? Kenapa kamu berpura-pura menjadi Luna didepan Dillon?"
Amara terkejut setelah Ned melontarkan pertanyaannya, Setelah Amara keceplosan. Dan akhirnya Ned menanyakan hal serius itu.
Karena mereka sudah tiba dikantor polisi. Amara akhirnya terselamatkan dari pertanyaan Ned, tentang hubungannya dengan Dillon.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, cepat aku turuan duluan yah." Kata Amara sembari turun dari mobil, menghindari pertanyaan Ned.