Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 8


__ADS_3

Ray mengambil kotak P3K dalam sebuah laci dapur, lalu ia mendekati Amara yang sedari tadi duduk dilantai.


"Sini, duduk diatas ranjang ini, jangan duduk dilantai, itu dingin kamu bisa terkena biri-biri nanti. Lagi pula aku bukan majikanmu jadi kamu tak perlu duduk dibawah." Pinta Ray pada Amara, Lalu Amara pun duduk diatas ranjang bersebelahan dengan Ray.


Ray mencoba mengobati tangan Amara yang terluka, ia juga memberikan perban pada luka ditangan Amara. Sedangkan Amara ia terus memperhatikan wajah Ray yang begitu serius mengobati lukanya.




"Ray, apa wanita yang ada difoto itu adalah Bella?" Tanya Amara pelan. Namun Ray hanya bergumam mengiyakan pertanyaan Amara.


"Ketika aku melihatnya dia sangat cantik, bahkan karena saking cantiknya, dia benar-benar tak mirip denganku. Lantas apa yang membuatmu berfikir jika aku mirip dengan Bella?"


Ray pun melepaskan tangan Amara perlahan setelah ia mengobatinya. Ray hanya menghelas nafasnya dan tak menjawab pertanyaan Amara.


"Ray... Kenapa kamu diam saja?" Tanya Amara lagi dengan lirih.


"Sekarang setelah aku mulai baik dan tak marah padamu, kamu mulai seenaknya bertanya padaku, itu bukan urusanmu Amara. Dan besok ketika kamu bekerja jangan sampai kamu memberitahu Ned kalo kita berdua mengenal satu sama lain." Jawab Ray ketus. Dan Ray pun langsung meninggalkan Amara.


Ketika Amara sendirian, Amara menyadari jika Ray hanya akan luluh dengan ucapan yang lembut. Amara tersadar jika Ray harus diberikan banyak kasih sayang, seperti sebuah pelukan hangat untuk menenangkan hatinya dan juga pikirannya.


"Ini memang benar-benar terlihat seperti sangkar yang dibawahnya banyak sekali kotoran." Gumamnya.


****


Ray tiba dirumah malam itu, dan terlihat ayah, ibu dan Ned, sudah menunggunya dimeja makan untuk makan malam.


"Ray, kenapa kamu lama sekali? Cepat duduk ayo kita makan." Sahut ibunya dengan lembut.


Ray pun duduk bersebelahan dengan Ned.


"Besok kita pergi bersama-sama untuk berziarah pada Bella, oke Ray, Ned!" Ajak sang ibu pada kedua anak laki-lakinya itu.


"Iya bu, besok kita pergi bersama." Jawab Ned dengan senyuman lembutnya.


"Ned kamu tak bosan terus hidup sendirian? Cepat cari kekasih agar dia bisa selalu bersamamu dimana pun kamu berada." Sambung sang Ayah.

__ADS_1


"Iya Ayah aku mengerti maksud ayah, tapi sampai saat ini, Ned belum bisa menemukan wanita yang cocok hatinya dengan Ned."


Ketika Ayah, Ibu dan Ned sedang berbicara. Ray sama sekali tak memperhatikan pembicaraan mereka, Karena pikirannya sedang berada di tempat lain.


Dalam pikirannya Ray terus memikirkan perkataan Amara. "Benar juga, kenapa aku melampiaskan kemarahanku pada Amara, aku bahkan baru mengenalnya." Ucap batin Ray.


"Ray, kenapa kamu melamun cepat habiskan makanannya."Kata sang ibu.


"I-iya bu, maafkan aku." Jawab Ray terkejut.


"Ray ibu tahu kamu begitu kehilangan Bella. Tapi jangan sampai, kamu lupa mengurus dirimu sendiri."


"Benar Ray, dan kelihatannya setelah kepergian Bella kamu semakin murung, Ayah sedih melihatnya."


Setelah Ray mendengar semua ucapan orang tuanya, Ray sedikit risih. Ray pun pergi meninggalkan mereka bertiga menuju kamarnya.


"Ray! Kamu sangat tidak sopan." Ned marah ketika melihat Ray yang tiba-tiba pergi.


"Tak apa Ned, semua orang yang kehilangan kekasihnya kebanyakan akan bersikap seperti itu."


"Aku tahu bu, Tapi dia benar-benar tak sopan pada kalian berdua, aku akan menyusulnya dulu."


Tok! Tok! Tok!


"Ray buka pintunya." Sahut Ned didepan pintukamar Ray.


"Ada apa Ned, aku tak mengunci pintunya buka saja sendiri!" Jawab Ray dengan sahutannya.


Ned pun masuk kedalam kamar Ray, dan terlihat Ray tengah berganti pakaian.


"Ray... Sejak kapan kamu menjadi seseorang yang seperti ini? Kenapa Attitude-mu buruk seperti ini didepan ayah dan ibu?"


"Aku tahu kamu kehilangan Bella Ray, tapi ingat Ray. Kamu yang berasama Bella dan kamu yang tak bersama Bella, itu harus tetap sama, kamu harus tetap jadi dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba berubah menjadi orang lain, karena itu tak akan membuatmu nyaman."


Ned menasehati Ray dengan penuh keseriusan, namun Ray tetap keras kepala, dia tak mendengarkan pembicaraan Ned.


"Ray, apa kamu mendengar pembicaraanku?"

__ADS_1


"Ya. Aku mendengarnya, sudah hanya itu saja, Atau masih ada nasihat lagi Ned? Jika sudah aku akan pergi mandi."


Jawaban Ray membuat Ned marah, namun Ned tetap sabar menghadapi perilaku Ray yang sudah banyak berubah. Ned pun meninggalkan kamar Ray tanpa sepatah kata lagi.


****


Ray tengah membersihkan dirinya sembari berendam didalam bathub dengan air hangat.


Walaupun badannya segar namun pikirannya sama sekali tak segar.


Nasehat Ned, Ray sedang memikirkan nasehat dari Ned. Walaupun Ray terlihat menyepelekan nasehat Ned, tetapi sebenarnya Ray mendengarkannya dengan baik dan mengolah pembicaraan Ned lagi dalam pikirannya.


"Benar juga perkataan Ned, aku harus tetap jadi diriku sendiri. Tapi, Argh! Aku tidak bisa melupakan Bella, dia cinta pertamaku yang menemaniku sejak aku masih dibawah. Bagaimana bisa aku melupakannya. Setiap kali aku melihat Amara aku melihat Bella dalam dirinya."


Setelah Ray selesai membersihkan dirinya, Ray mengenakan pajama berwarna biru dan duduk diatas ranjangnya, seperti sudah menjadi kebiasaan Ray mengambil obat tidur dilaci tepat disamping tempat tidurnya.


"Haruskah aku meminumnya lagi?" Tanya Ray pada dirinya sendiri dengan satu butir obat tidur ditangannya.


"Kenapa aku bertanya, aku perlu meminumnya jika tidak aku tak akan bisa tidur." Ucapnya lagi.


Ray pun meminumnya dan langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya.


Keesokan harinya tepat pukul sembilan pagi Ray dan juga keluarganya pergi untuk berziarah ke makam Bella, Mereka berada dalam satu mobil yang sama dan Ned-lah yang mengemudi mobilnya.


"Ned haruskah kita berhenti sebentar untuk membeli beberapa bunga untuk Bella?" Tanya sang ibu yang duduk dikursi belakang bersebelahan dengan sang suami yaitu pak Dario.


"Baiklah aku akan berhenti sebentar ditoko bunga."


Setelah Ned dan ibunya membeli beberapa bunga untuk ditaburkan dimakam Bella. Akhirnya mereka pun tiba ditempat peristirahatan terakhir Bella.


Dan terlihat Ray berjalan paling belakang dengan wajah yang terlihat murung karena tak bisa menahan kesedihannya.


Mereka berdoa dihadapan Nisan Bella lalu menaburkan beberapa bunga diatas makam-nya.


"Bella... Kami merindukanmu, kenapa kamu pergi dengan cepat? Padahal ibu ingin sekali menggendong cucu darimu dan Ray." gumam ibu Ray.


Seketika ucapan ibunya membuat Ray tak tahan dengan air matanya. Ray pun berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari mereka. Ray mencoba menenangkan hatinya yang terluka.

__ADS_1



(Aku memilih Wonwoo sebagai Ray Dario, karena aku merasa dia sangat cocok dengan peran ini. Wonwoo juga termasuk dalam list Idol favorite Ty nuna hehe🤭)


__ADS_2