
Disaat Ray pergi meninggalkan mereka terlebih dulu menuju Vila, Ned tiba-tiba menawarkan bantuan pada Amara yang berpura-pura menjadi Luna.
"Luna kemarikan kopermu biar aku yang bawa." Kata Ned sembari mengambil koper milik Amara.
"Tak perlu Ned, aku bisa membawanya sendiri." Tolak Amara.
Tiba-tiba Dillon menatap mata Amara dengan tajam, dan seketika Amara tampak takut dan merasa terancam dengan tatapan Dillon itu.
Amara pun akhirnya meng-iyakan tawaran Ned untuk membawa kopernya. Namun tiba-tiba Sarah memotong pembicaraan mereka.
"Jadi nama kamu Ned?" Kata Sarah sembari memegang tangan Ned. "Dil dia pria yang saat itu tak sengaja aku tabrak dan menumpahkan wine dijaket nya. Tapi dia malah menyentakku saat aku membantu membersihkannya."
"Ned apa itu benar?" Tanya Dillon
"Ya benar, aku tak marah padanya juga. Jadi jangan memperpanjang masalah. Tapi kenapa kamu selalu memegang tanganku?" Jawab Ned sembari melepaskan tangan Sarah yang memegang tanganya.
Ned pun tiba-tiba pergi membawa koper Amara menuju Vila.
"Luna, ikuti Ned kenapa kamu diam disini?"
Ucap Dillon sembari menggelengkan kepalanya.
Amara pun berjalan menuju vila dibelakang Ned.
"Kenapa si cowo yang satu itu, Maksudku Ned itu, kenapa dia menyebalkan sekali." Cetus Sarah dengan wajah cemberutnya kepada Dillon.
"Udah jangan cari masalah sama mereka, dan satu lagi biarkan Luna bersama dengan Ned. Biarakan mereka dekat satu sama lain. Aku rasa Ned menyukai Luna. Dibandingkan Ray."
"Oh jadi nama pria yang kaya kulkas itu Ray. Astaga dia itu tipe aku Dil, tolong comblangin aku dengannya ya Dil please... "
"Kamu nyuruh bos-mu ini comblangin kamu sama orang pemilik perusahaan Dario. Ah engga banget, pasti kamu bukan tipenya Ray."
"Dasar reseh."
Sarah pun pergi menuju Vila begitupula dengan Dillon.
Vila disana sangat mewah walaupun terletak didalam hutan.
"Wow Vila ini sangat indah, seperti didunia dongeng." Kata Amara ketika masuk kedalam Vila.
"Baguskan Amara, Maksudku Luna."
"Iya Ned, ini sangat indah."
__ADS_1
Ketika Amara masuk, Amara mengedarakan pandangan kesetiap ruangan. Amara mencari-cari dimana Ray berada.
"Dimana yang lain? Ayo kita berkumpul untuk membagi kamar. Karena disini hanya ada empat kamar." Ucap Gerry sembari membawa sebuah kain penutup mata.
"Tunggu jadi hanya ada empat kamar?"
"Iya Ned, kita harus melakukan pembagiaan kamar agar lebih seru."
Semua orang akhirnya berkumpul Gerry membagikan kain penutup kepada semua orang yang ada disana.
"Ini pakai penutup mata ini, lalu berpelukanlah dengan satu orang. Maka kamu akan menjadi teman sekamar." Kata Gerry sembari membagikan penutup mata.
"Ger, aku tak mau melakukannya. Aku akan tidur disofa."
"Apaan si Ray, ga asik banget jadi orang. Udah pake dan cari pasangan yang pengen jadi teman sekamar."
Gerry akhirnya turun tangan dan memakaikan kain penutup mata itu pada Ray.
Setelah mereka memakainya, permainan pun dimulai. Mereka mulai mencari pasangan mereka agar bisa sekamar.
Namun kecurangan pun terjadi Gerry membuka sedikit penutup matanya dan langsung berlari ke arah Bonita. Dan memilih Bonita sebagai pasangannya. Dillon yang tak tertarik dengan permainan ini diam-diam membuka penutup matanya. Dan menonton mereka semua.
Sedangkan Ned dia berpasangan dengan Sarah. Ned sudah senang duluan dan dia pikir wanita yang ia temukan adalah Amara padahal dia bukan Amara tetapi Sarah.
Permainan pun berakhir mereka membuka tutup mata mereka masing-masing.
Gerry kegirangan setelah berpasangan dengan Bonita walau dia tahu dia sendiri curang.
Berbeda dengan Ray, ia terkejut setelah tahu yang mendekatinya itu adalah Amara. Sedangkan Ned dan Sarah sama-sama memasang wajah cemberut dan seakan tak mau saling berpasangan.
"Ish kenapa harus dia sih!" Cetus Sarah pada Ned.
"Kamu pikir, Aku juga mau sama kamu apa! Enggak, lebih baik aku tidur disofa." Balas Ned dengan memasang wajah jutek.
"Apaan si kalian lebay banget. Udah lakuin aja jangan ada yang tidur di sofa, itu berarti Dillon yang akan tidur sendiri." Sambung Gerry.
Tiba-tiba Ned memukul Gerry karena ucapannya.
"Ni anak, punya masalah apa si hah."
__ADS_1
Plak! Plak!
Ned memukul pantat Gerry dengan sepatunya.
"Argh! Iya iya, Sorry Ned!" Teriak Gerry kesakitan.
Ketika Ned dan Gerry sedang bertengkar, Ray berjalan menuju lantai dua menuju salah satu kamar. Amara mengikutinya dari belakang sembari membawa kopernya, karena ia tahu ia sekamar dengannya. Ketika mereka berdua naik kelantai dua Ned dan Dillon memperhatikan mereka dengan begitu serius.
"Ish, Seharusnya aku yang satu kamar dengan Ray bukan si Laluna itu." Cetus Sarah.
Ray tahu jika Amara berjalan mengikutinya dari belakang sembari kesusahan membawa kopernya.
Ray memilih satu kamar diantara dua kamar yang ada dilantai dua, Ray memilih kamar yang lebih luas dengan jendela yang cukup lebar, Amara pun masuk juga.
"Wah... Pemandangan dari kamar ini lebih indah daripada di kamarku." Kata Amara sembari mengedarkan pandangannya. "Danau didepan sana sangat indah, Rasanya ini seperti sedang berbulan madu."
Diam-diam Ray tersenyum mendengarAmara yang berbicara asal. Dan Amara akhirnya memergoki Ray yang sedang tersenyum sembari menatapnya dari belakang.
Karena Amara malu, Amara bepura-pura sibuk memasukan baju-bajunya dari koper kedalam lemari.
Tiba-tiba Ray membaringkan tubuhnya diatas ranjang sembari menatap ke langit-langit atap.
Ray terlihat seperti banyak pikiran.
Amara tahu jika Ray tengah melamun,Karena Amara juga memperhatikannya.
"Apa yang sedang dipikirkan Ray?" Tanya Amara dalam hatinya.
"Ray... Boleh aku bertanya padamu?" Tanya Amara yang berdiri disamping ranjang, yang sedang ditiduri oleh Ray.
"Hmmm." Gumam Ray.
"Aku ingin minta maaf, karena tempo hari aku membuatmu marah, karena aku tak mau pergi denganmu dari club Dillon. Karena ada satu hal yang membuatku tertahan disana Ray... Aku juga minta maaf karena berpelukan dengan kakakmu dan membuatmu cemburu."
"Apa, Cemburu? Aku sama sekali tak cemburu Ra," Kata Ray berpura-pura menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. "Memangnya apa yang membuatmu tertahan di club Dillon? Apa hubunganmu dengan Dillon?"
"Sungguh aku belum siap memberitahumu, aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu Ray. A-aku... Aku..."
Tiba-tiba Amara menangis, lalu Ray pun menarik tangannya dan memelukknya. Amara tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Ray pun memelukknya lebih erat lagi.
Ray terus mengelus-elus kepala Amara yang menangis dalam pelukannya.
"Baiklah, aku akan menunggu penjelasanmu apa hubunganmu dengan Dillon."
__ADS_1
Ray yang selalu bersikap dingin dan cuek, sekarang ia berbicara lembut pada Amara.
Dan Tiba-Tiba saja seseorang masuk tanpa mengetuk pintu dan memergoki Ray dan Amara yang tengah berpelukan.