Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 21


__ADS_3

"Ray, Luna Ayo kita berkumpul diba-wah..." Seru Ned yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu kamar Ray dan Amara.



Seketika Ned terdiam melihat Ray dan Amara yang tengah berpelukan.


"Ned..." Gumam Ray terkejut.


Ray dengan cepat melepasakan pelukannya dari Amara. Entah kenapa tiba-tiba Ray merasa bersalah ketika melakukan hal seperti itu dengan Amara didepan Ned sang kakak.


"M-maafkan aku. Aku menggangu kalian."


Seketika Ned pun pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ned!!!"


Ray memanggilnya namun Ned tak mau menjawabnya. Ray akhirnya mencoba untuk mengejar Ned, tapi Amara malah memegang tangannya.


"Ray! Kemana kamu akan pergi?"


"Lepasakan! Aku akan mengejar Ned."


Ketika Ray menyentak Amara, Amara langsung melepaskan tangannya dari tangan Ray. Dan membuang muka pada Ray.


Entah Ray tak merasa atau tak peduli pada Amara, Karena Ray langsung mengejar kakaknya yang tiba-tiba pergi begitu saja.


Ned berlari menuju danau yang ada didepan Vila. Dan Ray mengikutinya dari belakang.


Ned berdiri didepan danau, dan Ray menghampirinya.



"Ned! Ada apa denganmu?" Tanya Ray yang datang menghampirinya dari belakang. "Apa kamu cemburu?"


"Jika aku tidak cemburu, aku tak akan pergi begitu saja Ray." Jawab Ned sembari membalikan badannya kehadapan Ray.


"Aku sudah sering terluka karena kamu Ray. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Dan sekarang apa yang aku inginkan kamu menginginkannya juga?!"


Ucapan Ned membuat Ray marah, Ray memasang wajah brangasnya. Ray seperti si raja hutan yang diam dan mulai marah.


Ray menatap tajam mata Ned dan berjalan mendekatinya.



"Kamu pikir aku bahagia Ned? Mungkin yang kamu lihat dari adikkmu ini hanya covernya saja. Kamu tidak pernah bertanya tentang isinya padaku."


"Aku kehilangan kekasihku dan itu membuat psikologisku terganggu tapi aku mencoba menutupinya dari semua orang."


"Kenapa kamu malah bercerita hal seperti itu. Aku tidak bertanya tentang dirimu. Aku bertanya soal Amara, kamu telah mempermalukanku dihadapannya soal perasaanku. Aku menyukainya tapi kenapa kamu malah terus semakin dekat denganya?!"


Emosi Ned tiba-tiba meningkat begitu saja dan tak peduli dengan ucapan Ray sebelumnya, yang mengatakan bahwa psikologis Ray sedang terganggu. Padahal ucapan Ray itu adalah kejujuran yang terungkap begitu saja. Namun Ned tak merasa itu hal serius.


"Oke! Oke Ned! Jadi apa yang kamu inginkan sekarang? Kamu ingin kita bertarung demi wanita itu? Apa kamu lupa Ned, Akulah orang lebih dulu mengenal Amara." Ucap Ray dengan emosi yang sangat meningkat.


"Kamu menyentak kakakmu sendiri, Ingat Ray. Aku tak peduli siapa yang lebih dulu mengenalnya. Yang penting aku menginginkan Amara dan aku akan memenangkannya, Ingat itu."

__ADS_1


Ned pergi setelah mengatakan hal itu pada Ray, Namun langkahnya terhenti seketika, setelah mendengar apa yang dikatakan Ray.


"Brengsek kamu Ned." Ucap Ray pelan.


Ned pun marah dan memukulnya.


"Apa kamu bilang? Beraninya kamu mengatakan hal semacam itu pada kakakmu sendiri, Sialan."


Ray yang berdarah dibagian hidung karena pukulan Ned. Mencoba memukul balik Ned dibagian wajahnya.


BAMM!!!


Ray memukul balik kakaknya dengan penuh gairah.


"Oke sekarang akan aku tunjukan siapa pemenangnya, siapa yang akan mendapatkan Amara. Aku tak takut melawanmu Ned."


Pertengkaran mereka berdua diketahui oleh Amara yang sedang berada dikamar. Amara melihat mereka bertengkar didepan danau.



"Astaga Ray! Ned!" Teriak Amara yang melihat pertengkaran hebat mereka berdua dari jendela kamaranya.


Amara pun berlari dan memberitahu Dillon dan Gerry yang sedang bermain tenis meja didalam ruangan.


"Dillon! Gerry!"


Amara terus berteriak memanggil nama mereka berdua.


"Ada apa Luna? Kenapa kamu berteriak?"


"Dillon, Ray dan Gerry sedang bertengkar didepan danau."


Mereka akhirnya berlari menuju tepi danau untuk memisahkan Ray dan Ned yang bertengkar.


Butuh waktu hampir tiga menit bagi Dillon dan Gerry, untuk memisahkan mereka berdua dari pertengkarannya yang sengit.


"Ray!!! Cukup Ray! Ned! Cukup!" Teriak Gerry sembari mencoba memisahkan mereka berdua yang terus bertengkar.


Dillon memeluk Ned dan menariknya menjauh dari Ray begiutupula dengan Gerry ia memeluk Ray dan menariknya menjauh dari Ned.


Sedangkan Amara, ia hanya menangis dan bingung siapa yang harus ia dekati agar salah satunya tenang, Karena Ray dan Ned sama-sama seperti dua raja hutan yang sedang bertengkar.



Tak lama akhirnya Dillon dan Gerry berhasil memberhentikan pertengkaran antara Ray dan Ned. Mereka berdua langsung membawa Ray dan Ned masuk kedalam vila.


Wajah Ray dan Ned sama-sama lebam karena pukulan satu sama lain.



"Bonita, Tolong ambilkan p3k didekat dapur. Tadi aku melihat ada kotak p3k disana." Suruh Gerry pada kekasihnya Bonita.


"Baiklah akan ku ambilkan."


Setelah Bonita mengambilkan p3k, Bonita memberikan p3k itu pada Gerry. Namun Gerry malah memberikan kotak p3k itu pada Amara agar Amara yang membersihkan luka mereka.

__ADS_1


"Luna, kemari. Tolong bantu membersihkan luka mereka."


"Baiklah Ger."


Amara pun membantu membersihkan luka Ray sedangkan Gerry membersihkan luka Ned.


Ned semakin cemburu melihat Ray dibantu oleh Amara. Ned menatap tajam Ray yang ada dihadapannya.


"Kemari, biar aku membersihkan lukamu." Kata Amara sembari duduk disamping Ray.


Amara mulai membersihkan mulut Ray yang berdarah karena pukulan Ned.


Sshhh...


Ray merasakan sakitnya ketika Amara mencoba mengobati lukannya.


"Bisakah kamu mengobatiku pelan-pelan!"


Gumam Ray pada Amara.


"Aku sudah melakukannya dengan pelan.Tenanglah... "


****


Waktu makan malam pun tiba, mereka semua berkumpul didepan Vila untuk makan malam.


Ned terlihat sedang membakar daging bersama Gerry. Amara, Sarah dan Bonita mereka menyiapkan makanan dan piring-piring diatas meja.


Sedangkan Ray dan Dillon, entah kemana mereka berdua pergi.


"Ger! Dillon sama Ray kemana?" tanya Sarah pada Gerry.


"Waktu makan malam masih 30 menit mungkin mereka lagi cari angin." Jawab Gerry.


Amara tiba-tiba minta izin ke kamar mandi pada Sarah dan Bonita.


"Sarah, Bonita aku ingin ke belakang sebentar. Aku akan bantu kalian lagi nanti."


"Iya Lun tenang saja." Jawab Bonita dengan ramahnya. Sedangkan Sarah memberikan tatapan tak peduli padanya.


Amara pun pergi masuk kedalam vila, Amara yang seharusnya pergi ke kamar mandi, Ia malah pergi menuju kamarnya yang ada dilantai dua.


Amara langsung melihat kearah luar jendela kamar lantai dua. Amara mulai mengedarkan pandanganya kesetiap sudut tempat didekat vila itu.


"Kemana Ray pergi?" gumamnya.


Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam kamar mandi kamar, sehingga membuat Amara terkejut. Amara pun langsung membalikan badannya.



"Astaga!" teriak Amara ketika melihat yang keluar dari kamar mandi itu adalah Ray yang hanya memakai handuk. Amara langsung menutup matanya.


Mata Ray terbelalak ketika tahu Amara tiba-tiba ada dikamar tanpa bersuara.


"Amara," ucap Ray sembari berjalan mendekatinya. "Apa kamu ingat, ini seperti sebuah deja vu, dulu kamu melakukan hal seperti ini padakukan, kamu berganti pakaian didepan mataku. Sekarang apa kamu ingin melihatku berganti pakaian."

__ADS_1


"A-apa. Tidak aku tidak ingat."


Amara pun langsung berlari setelah Ray menggodannya. Ray memberikan senyuman smirk saat Amara berlari keluar dari kamar.


__ADS_2