
Ray!!!
Amara berjalan menuju danau sembari membawa makanan untuk sarapan.
Terlihat, dari jauh Ray sedang duduk bersandar di sebuah pohon di tepi danau sembari memejamkan matanya.
"Ray... Kenapa kamu tak kembali untuk sarapan? Karena kamu tak kembali ke atas, jadi aku membawa ini untukkmu."
"Seharusnya kamu tak perlu kemari."
"Kenapa?"
"Aku takut Ned akan cemburu."
"Ray aku tahu Ned menyukaiku, tapi aku tetap tak mempunyai rasa pada Ned. Aku menyukaimu Ray."
Ray tiba-tiba mengarahkan tangannya kewajah Amara dan mengelusnya perlahan.
"Kenapa Ray, apa kamu juga mencintaiku sama seperti aku mencintaimu? Aku masih tidak yakin dengan bisikanmu semalam."
"Aku juga tidak yakin dengan perasaanku, aku takut jatuh cinta, Aku takut kehilangan."
Amara hanya merespon perakataan Ned dengan senyuman manisnya.
"Baiklah, tak masalah. Ayo sarapan dulu Ray."
Di pagi hari yang indah dengan bau embun dari pepohonan yang segar membuat mereka semakin nyaman duduk di tepi danau.
Hari kedua mereka berlibur di vila lebih menyenangkan, Hari ini Gerry memberitahu mereka untuk bermain satu permainan yaitu hide-and-seek. Namun dengan satu syarat mereka harus bersembunyi di alam terbuka. Bukan didalam vila.
"Gimana kalian sudah siap bermain hide-and-seek on the forset?" Kata Gerry sumringah.
"Siap!!" Bonita berteriak menanggapi ucpaan kekasihnya.
"Tapi bagaimana kalo ada hewan buas disana? Aku tak ingin bermain." Sambung Sarah si penakut dan manja.
"Ga bakalan ada Sar, udah pokoknya disini itu aman, ga ada yang namamya hewan buas. Jika ada mungkin di danau itu sudah ada buayanya." Gerry membenarkan.
Akhirnya mereka semua berkumpul untuk melakukan permainan hide-and-seek didalam hutan, ketika wajah semua orang terlihat bahagia akan bermain didalam hutan. Wajah Ray tampak ketakutan. Ray teringat akan kejadian semalam, seseorang yang mencoba membunuhnya. Ya, si pria bertudung hitam itu.
Mereka mengundi siapa yang akan bermain sebagai penjaga terlebih dulu, ketika mereka melakukan pengundian. Nama Dillon keluar menjadi penjaga permainan.
"Dillon! Dil kamu yang jaga, kamu harus cari kita oke. Kita akan bersembunyi selama 30 menit. Jika sudah 30 menit kamu tetap tak bisa menemukan kami, kami akan keluar setelah 30 menit." Jelas Gerry pada Dillon.
"Tapi Ger, 30 menit itu terlalu lama." Timpal Amara
"Ga Luna, itu sebentar. Sudah ayo kita keluar dari vila dan bermain diluar."
Dillon akhirnya menjaga permainan, Dillon menutup mata lalu menghitung hingga sepuluh sembari menunggu mereka semua bersembunyi.
__ADS_1
1... 2... 3...
Mereka semua berlari masuk kedalam hutan untuk bersembunyi, Gerry berlari dan bersembunyi bersmaa Bonita dibalik pohon yang besar. Sarah mengikuti Ray yang mencoba bersembunyi sedangkan Ned dan Amara mereka berpencar entah kemana.
"Sarah, kenapa kamu mengikutiku?" tanya Ray sembari mencari tempat persembunyiaan.
"Ray, aku takut sendirian. Aku ikut bersembunyi denganmu saja ya."
Sarah tiba-tiba merangkul tangan kiri Ray.
Walaupun Sarah merangkul tangannya, Ray tak mencoba melepaskannya. Ray tampak biasa saja dan menganggap Sarah teman.
Ray berjalan kedalam hutan sembari mengedarkan pandanganya demi mencari tempat persembunyian yang aman.
Dan tak lama akhirnya Ray menemukan sebuah batu besar yang sudah berlumut, Ray dan Sarah bersembunyi dibalik batu itu.
"Aku rasa kita akan aman disini." ucap Ray dengan wajah datarnya.
Ketika Ray dan Sarah tengah bersembunyi dibalik batu, Sarah tiba-tiba mengajak ngobrol Ray.
"Ray, apa kamu sudah punya pacar?"
"Kenapa kamu bertanya hal itu?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja, kalo kamu tak ingin memberitahuku juga tak masalah si."
"Ya. dulu aku punya, tapi sekarang dia sudah pergi untuk selama-lamanya."
"M-maksudmu Ray? Dia, pacarmu sudah tiada begitu?"
"Ya, Bella bunuh diri, dengan meminum obat penenang yang melebihi dosis."
"Aku minta maaf Ray, aku lancang bertanya hal seperti ini. Tapi saat kamu mengucapkan nama Bella, aku jadi teringat temanku yang bernama Bella. Sudah sangat lama aku tak mendengar kabarnya. Oh iya apa nama kepanjangan Bella-mu?"
"Isabella." Jawab Ray "Memangnya kenapa?"
"Lalu siapa nama ayah Bella?"
"Pak Brian."
Setelah mendengar jawaban Ray, Sarah benar-benar terkejut.
"Hah, kamu serius Ray Bella udah engga ada dan dia kekasihmu?"
"Iya Sar, ada apa, Apa kamu mengenalnya?"
Sarah tiba-tiba menangis sembari menatap tajam Ray.
"Ray... Dia sahabatku sejak aku smp hingga sma, setelah beberapa tahun kami kehilangan kontak untuk berkomunikasi. Dan sekarang aku bertemu dengan kekasihnya namun tidak dengannya."
__ADS_1
"Jadi, kamu adalah teman Bella?"
"Iya Ray... "
Sarah tiba-tiba menangis dibahu Ray setelah mengetahui sahabatnya sendiri meninggal.
"Apa dia sakit Ray?"
"Tidak, dia sehat. Hanya saja dia sakit psikologisnya. Dia mempunyai depresi yang dia sembunyikan bertahun-tahun dariku dan juga semua orang."
Sarah menangis sejadi-jadinya, setelah tahu bahwa Bella meninggal karena bunuh diri.
Ray pun memberikan pelukan hangat pada Bella yang terus menangis di bahu Ray.
Ketika Ray sedang memeluk Sarah dibalik batu, Amara yang tak sengaja tengah mengganti tempat persembunyiannya. Melihat kejadian itu.
Amara akhirnya cemburu melihat Ray yang sedang berpelukan dengan Sarah.
Amara yang tadinya ingin bersembunyi, kini ia merubah niatnya. Amara tiba-tiba pergi menghampiri Dillon.
"Luna! Kamu tertangkap!" Teriak Dillon. Namun Amara mengabaiakannya. Amara langsung pergi menuju vila.
"Luna! Kamu mau kemana? Permainan Belum selesai." Dillon terus berteriak pada Amara. Namun usahanya gagal. Amara tetap tak mau mendengarnya.
30 menit sudah berlalu, permainan pun berakhir. Dillon tak bisa menemukan semua orang, Karena Dillon memang tak mau mencarinya, dia malas bermain hide-and-seek.
"Ah, kamu ga asik Dil," kata Gerry yang berjalan menghampirinya bersama dengan Bonita, Ned, Sarah dan Ray. "Kamu tak berusaha mencari kita. Aku lihat dari kejauhan kamu hanya bersandar di pohon."
"Iya, iya maafkan aku. Lagian aku malas bermain permainan seperti anak kecil ini. Kita kan sudah dewasa." cetus Dillon.
"Eh tunggu, dimana Luna? Kemana dia pergi?" tanya Ray dengan tatapan dinginnya.
"Iya kemana Luna pergi? Tadi dia bersembunyi bersamamu kan Ned." Sambung Gerry.
"Tidak, kami berpencar." Jawab Ned.
Wajah mereka semua mulai cemas terutama Ray dan Ned. Namun Dillon akhirnya memberitahu mereka jika luna pergi ke vila.
"Luna ada didalam vila, dia tadi tiba-tiba menampakan dirinya padaku dan pergi begitu saja."
Ray tiba-tiba berlari untuk menemui Amara.
Ned yang melihat Ray bertingkah seperti itu, memberikan tatapan tajam pada Ray.
"Sepertinya dia memang ingin bertarung denganku untuk mendapatkan Amara." Kata Ned dalam batinnya.
"Lihat, sepertinya Ray menyukai Luna."
"Benar Ger, Tapi bagaimana denganmu Ned? Bukannya kamu juga menyukai Luna." Sambung Dillon.
__ADS_1
Karena ucapan mereka, Ned tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan mereka.