
"Aku ingin berbicara denganmu, Aku tak ingin siapapun mengganggu atau mengawasiku saat aku berbicara denganmu."
"A-apa yang ingin kamu bicarakan Ray...?"
Tiba-tiba Ray duduk diatas ranjang lalu memanggil Amara.
"Amara... Kemari duduk dihadapanku."
Dengan senang hati Amara mendekati Ray. Amara tak takut dengannya. Amara malah merasa nyaman ketika bersama Ray.
Amara pun duduk diatas ranjang didepan Ray. Mereka saling berhadapan namun Ray meminta Amara agar dia berbalik badan.
"Jangan menghadap ke arahku, menghadaplah kedepan."
Amara tak menjawab apapun Amara langsung melakukannya.
Ray memeluk Amara dari belakang. Kedua tangan Ray tepat berada diperut Amara, Dan Ray menyandarkan kepalanya dipunggung atas Amara yang hampir dekat dengan leher Amara.
Amara terdiam ia tak mengeluarkan satu katapun dari mulutnya, ketika Ray memelukknya.
Suasana sangat sunyi diruang itu, karena ruangan itu kedap suara.
Tiba-tiba Ray meneteskan air matanya ketika memeluk Amara dari belakang. Amara pun tersadar jika Ray tengah menangis.
Amara dengan cepat memegang kedua tangan Ray yang memelukknya erat.
"Ray... Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Ray sama sekali tak menjawab, Ray malah semakin erat memeluk Amara. Entah apa yang membuat Ray selalu menteskan air mata setiap kali dirinya memeluk Amara dari belakang.
Entah apa yang Ray rahasiakan.
Ray semakin erat memeluk Amara bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
Padahal baru dua hari mereka bertemu kembali setelah tiga tahun tak bertemu, Tapi Ray terlihat begitu dekat dengan Amara.
Karena suara tangisan tersedu-sedu Ray semakin mulai terdengar oleh Amara. Amara pun mulai melepaskan kedua tangan Ray yang memeluknya begitu erat. Sontak Ray terkejut ketika Amara tiba-tiba melpaskan pelukannya.
Amara tiba-tiba berpindah tempat, Amara duduk disamping Ray tepat di atas ranjang.
Lalu Amara membaringkan tubuhnya sembari melebarkan tangannya.
"Kemari, tidurlah dalam pelukanku. Aku tidak tahu alasan kenapa kamu menangis setiap memelukku dari belakang. Tapi untuk malam ini aku tahu kamu pasti lelah, kemarilah Ray."
Ketika Amara mengatakan hal itu, Ray menggigit bibirnya dan menahan tangisannya.
__ADS_1
Amara menggenggam tangan Ray lalu menariknya perlahan agar Ray mau tidur dalam pelukannya.
"Kemarilah Ray..."
Dan akhirnya Ray membaringkan tubuhnya disamping Amara, Ray menyandarkan kepalanya dibahu Amara sehingga dagu Amara menempel dengan dahi Ray.
Satu tangan Amara mengusap kepala Ray dengan lembut dan tangan lainnya memeluk tubuh Ray. Sedangkan Ray memeluk Amara dengam kedua tangannya begitu erat sembari menutup matanya.
"Ray... Kenapa kamu sangat susah ditebak? Kemarin kamu bertemu kembali denganku lalu memelukku, tapi selang beberapa menit kau marah dan tak mau membawaku pergi." Kata Amara dengan suara pelannya.
Ray pun membuka matanya lalu merubah posisinya. Ray yang tadinya tidur menyamping sembari memeluk Amara, Kini Ray tidur telentang sembari menatap langit-langit kamar.
"Apa kamu ingin tahu kenapa aku seperti itu?"
"Hmm, Aku ingin tahu."
"Maka akan ku beritahu padamu sekarang. Apakah kamu pernah tidur dengan Dillon?"
Pertanyaan Ray yang begitu tiba-tiba tanpa basa basi membuat Amara terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Aku, tidur dengan Dillon. Siapa yang mengatakn hal seperti itu padamu Ray?"
"Dillon sendiri yang mengatakannya."
"Kamu tahu Ray, Hanya kamu orang pertama yang memelukku dan tidur seperti ini bersamaku. Kamu orang pertama yang membuatku nyaman, walau sebelumnya kamu selalu melukaiku."
"Apa kamu bilang? Aku selalu melukaimu, padahal kamu hanya dikurung selama dua minggu di ruang pribadiku, dan aku membelikan banyak pakaian, makanan sehari tiga kali bahkan tempat yang nyaman. Dan kamu masih berfikir aku terus melukaimu?"
"Baiklah aku terima semua itu, tapi ada satu yang tak bisa aku terima Ray."
"Apa, katakan padaku."
"Aku masih tidak bisa menerima hal ini. Ketika kamu mengurungku selama dua minggu, semua bungaku mati, karena aku tak merawat mereka. Dan sampai sekarang aku masih belum bisa melihat bunga-bunga itu lagi."
Ray tiba-tiba terbangun dari tempat tidurnya dan duduk menghadap Amara dengan tatapan serius.
"Katakan, Apa bunga favorite mu? Besok, aku akan ganti semua bunga-bungamu yang mati."
Amara tiba-tiba tersenyum lebar kepada Ray.
"Serius Ray, Kamu akan membelikanku bunga?" Kata Amara dengan senyum sumringah di wajahnya. "Jika benar kamu akan melakukannya, aku akan memberitahumu bunga favorite ku."
"Lalu apa bunga favorite mu, katakan sekarang. Karena aku berjanji akan membelikanya."
__ADS_1
"Sebenarnya bunga favorite ku adalah bunga Dandelions. Tapi karena aku sudah tak berharap lagi pada seseorang itu. Jadi, aku tak terlalu menyukainya lagi sekarang. Sekarang aku lebih suka bunga mawar merah, itu bunga favorit ku sekarang."
"Baiklah aku berjanji Amara. Tapi tunggu. kenapa kamu mengalihkan topik pembicaraanku. Sekarang kembali ke topik awal. Apa benar dengan ucapan Dillon itu, Apa kamu pernah tidur dengan Dillon?"
Amara terdiam, seperti tak punya jawaban untuk pertanyaan Ray itu.
"Ray percayalah, Semua yang dikatakan Dillon itu tak benar aku hanya bekerja disini, dan kamu tahukan aku sama sekali tak pernah bertemu dengan pria manapun disini aku tak pernah disentuh siapapun kecuali kamu dan..."
"Dan... Dan siapa, Apa ada pria lain?"
"Ya. Ned memelukku tadi, karena aku memintanya. Aku meminta Ned melakukan apapun padaku karena dia telah membayar sepuluh juta pada Dillon. Maafkan aku."
Amara menundukan pandangannya.
"Aku tidak tahu, Apa aku harus percaya padamu atau Dillon. Kakaku memelukmu itu adalah hal yang..."
Ray tak melanjutkan pembicaraannya, tapi tiba-tiba Ray memegang tangan Amara.
"Amara... Ayo kita pergi dari sini, Kemarin kamu memintaku menolongmu. Ayo kita pergi."
Ketika Ray mengajak Amara keluar dari tempat itu, Amara diam membisu.
"Amara... "
"Ray, Aku berubah pikiran, aku tidak bisa pergi dari sini."
"Kenapa Amara?"
"Aku tidak bisa memberitahumu."
"Bagaimana jika Dillon membiarkan pria-pria itu masuk kedalam ruangan ini, dan aku tak bisa membayangkan sesuatu terjadi padamu."
"Percayalah Ray, Dillon tak akan melakukan itu."
"Kenapa kamu percaya padanya, ada apa denganmu dan Dillon. Apa hubungan kalian?"
Amara tak menjawab apapun dan tiba-tiba Ray pergi meninggalkannya dengan kemarahan.
Amara hanya menatap Ray yang pergi meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Ketika Ray keluar dari ruangan itu, Ray tak langsung pulang. Ray singgah dahulu dilantai VIP yang disana ada penari Striptis. Ray memesan segelas irish bomb dan duduk dimeja yang sangat dekat dengan tempat dimana para penari striptis itu beraksi.
Ray sangat beruntung karena pertunjukan penari striptis itu baru saja akan dimulai.
Ketiga penari striptis itu muncul dengan pakaian berwarna merah yang terbuka.
__ADS_1
.