
Delapan bulan kemudian...
"Bagaimana jika nanti anaknya laki-laki, kita beri nama dia Harry." Ucap Gerry sembari melihat dafar nama dalam buku milik Amara.
"Kenapa harus Harry sayang?" tanya Bonita yang duduk disebelahnya.
"Karena aku suka Harry Potter. Aku pasti akan Sering main dengannya nanti."
"Kenapa jadi kamu yang pilih nama anaku Ger, Kamu buat aja sana sama Bonita." Sambung Ned yang menghampiri Gerry dan Bonita yang tengah duduk disofa.
Ned terlihat mendorong Amara yang duduk di kursi roda. Perut Amara sudah membesar karena sudah 8 bulan.
"Kalian berdua terlihat serasi. Bulan-bulan kemarin kalian terlihat sangat canggung. Apa yang membuat kalian terlihat romantis seperti ini?" Tanya Bonita dengan senyumannya.
Namun pertanyaan Bonita membuat Ned dan Amara malah semakin canggung dan bingung siapa diantara mereka yang harus menjawabnya.
"Kemari duduk disini Ayah dan ibu-mu akan segera datang Ned." Ucap Gerry pada Ned jika Ayah dan Ibu-nya akan datang.
"Kenapa mereka tak memberitahuku Ger?"
"Ish! Gerry, kamu harusnya tutup mulut ini kan surprise. Kenapa kamu membocorkannya!" Bonita menepuk-nepuk bahu Gerry yang keceplosan.
Argh argh! I'iya maafkan aku.
Baru saja mereka membicarakan Ayah dan Ibu Ned. Ayah dan Ibu Ned tiba-tiba datang dan membuat semua orang terkejut tak percaya.
Wahhh! Semoga mereka panjang umur.
Terlihat Ayah dan Ibu Ned membawa banyak barang bawaan.
Pagi semuanya!
Sapa Ayah dan Ibu Ned.
"Kenapa kalian tak memberitahuku jika kalian akan datang?" ucap Ray sembari memeluk kedua orang tuanya.
"Amara... Bagaimana kamu sehatkan nak?"
"Yah bu, Aku sehat. Lihat ibu bawakan banyak peralatan bayi untukkmu nanti. Bagaimana dengan hasilnya? Apa bayinya perempuan atau laki-laki?"
"Kami tak meminta dokter untuk memberitahunya, Kami ingin benar-benar mengetahuinya nanti setelah ia lahir."
"Baiklah Ned, yang penting semuanya berjalan lancar."
"Bu... Bagaimana? Ada kabar apa tentang Ray? Apa ada yang tahu dengan keberadaan Ray?"
Amara tiba-tiba menanyakan hal itu, hingga suasanya berubah menjadi kesedihan.
"Tidak nak, Ray masih belum ditemukan. Sudah delapan bulan lamanya. Dia masih belum ditemukan."
Ketia semua orang tengah berkumpul, tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu dan berdiri didepan pintu dengan senyuman.
__ADS_1
"Apa kabar?"
Ray!!!!
Semua orang terkejut melihat Ray yang tiba-tiba berdiri didepan pitntu. Gerry, Ned berlari menghampiri Ray,.bahkan mereka berdua menangis sembari memeluk Ray.
"Ray!!" ibu Ray dan ayahnya berlari menghampiri Ray dan memeluknya dengan tangisan. Tak lupa Ray juga memeluk Bonita temannya.
Amara tak bisa berdiri dari kursi roda karena perutnya yang besar membuatnya takut jatuh. Amara benar-benar masih tak percaya Ray sehat dan kembali kerumah dengan selamat. Amara mentesekan air matanya.
Ray masih belum sadar jika Amara tengah duduk di kursi roda, Amara terlihat menutupi tubuhnya dengan selimut sehingga perutnya yang besar karena sedang hamil tak terlihat.
Setelah Ray berpelukan dengan kedua orang tuanya. Ray mulai tersadar jika ada Amara yang tengah menangis duduk di kursi roda.
Amara... A-ada apa dengamu.
Ray berjalan perlahan sembari menghampiri Amara, Ray tersenyum bahagia sembari menteskan air mata bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Amara.
Ray...
Amara memanggilnya perlahan dan dengan cepat Ray memelukknya.
"Aku sangat merindukanmu..." bisik Ray ditelinga Amara.
Mereka berdua berpelukan begitu lama sehingga Ned yang melihatnya merasa cemburu.
"Ray... Jangan memelukknya terlalu lama. Amara sedang hamil, sebentar lagi kamu akan mendapatkan keponakan." kata sang ibu.
Amara seperti tak tahan menahan tangisnya, Amara bingung apa yang harus ia katakan pada Ray.
"Bu... Apa maksudmu?"
"Ray, Amara sedang hamil. Lihat perutnya sudah membesar, keponakanmu ada disana diperut Amara."
Ibu Ray tiba-tiba mengambil selimut yang menutupi perut Amara.
Setelah selimut itu dibuka, Ray benar-benar terkejut, matanya berkaca-kaca. Karena Ray merasa tak percaya, Ray memegang perut Amara perlahan.
"Sebentar lagi Ned akan mempunyai seorang anak Ray."
"N-Ned... D-dia anak Ned Bu?"
"Iya Ray."
"Amara, katakan padaku ini semua bohongkan. Aku sedang bermimpi kan?"
"Aku minta maaf Ray, Semua ucapan ibumu benar. Aku sudah menikah dengan Ned."
Ray mundur perlahan dan menatap semua orang dengan tatapan kecewa dan marah.
"Selama aku hilang, kalian malah mengadakan acara pernikahan dan tak mencariku? Jika akan seperti ini, lebih baik aku benar-benar mati ditangan si psikopat itu. Aku kecewa padamu Ned."
__ADS_1
"Ray, kami semua mencarimu. Semua ini adalah kecelakaan." kata sang ibu sembari menghampiri Ray dan memeluknya.
"Ada apa dengamu Ray?"
"Aku akan jujur sekarang. Aku mencintai Amara Bu, dan Ray tahu itu."
Ray benar-benar marah besar, dan semua orang hanya bisa diam.
"Apa, kamu menyukai Amara Ray?"
"Ya, aku mencintainya bu."
Ray tiba-tiba pergi ke kamarnya, yang ada dilantai dua. Ketika Ray masuk kedalam kamarnya terlihat dikamarnya banyak sekali baju Amara dan perlengkapan bayi.
Setelah Ray menatap semua itu, Ray tiba-tiba mengambil kunci mobilnya dari dalam laci. Ray mengganti pakaiannya dan tiba-tiba Ray pergi keluar.
Ray! Ray!
Semua orang memanggil Ray yang tiba-tiba pergi. Namun Ray mengacuhkan mereka semua. Ray pergi membawa mobilnya yang lain.
"Kalian tenang saja, aku akan mengejarnya."
Ucap Gerry sembari berlari menuju mobilnya untuk mengejar Ray.
Ray membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan penuh kemarahan. Ray membawa mobilnya ke arah club miliknya yaitu DSC.
Setelah Ray sampai disana, semua orang menyambutnya. Karena semua orang disana tahu Ray hilang dan sekarang Ray kembali. Semua orang bersorak sorai dan memeluk Ray karena Ray kembali. Ray hanya tersenyum kecil setelah semua orang di clubnya menyambutnya dengan penuh suka cita.
Ray berjalan ke arah meja Hugo.
"Ray! Aku senang kamu kembali!"
"Thanks Hugo, bisakah kamu memberikan aku sebotol whiskey?"
"Tentu, akan ku buatkan."
Tiba-tiba Gerry datang dari belakang menghampiri Ray.
"Ray..." panggil Gerry sembari duduk dikursi sebelah Ray.
"Ada apa denganmu? Kamu baru kembali dan kami merindukanmu Ray, kami benar-benar mencarimu tanpa henti."
Ray diam saja dan tiba-tiba Ray naik ke ruang pribadinya membawa sebotol whiskey dengan lift. Gerry mengikutinya dari belakang. Walaupun Ray mengacuhkannya.
Ketika mereka tiba diruang pribadi Ray, barulah Ray bertanya pada Gerry.
"Ger, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi dengan jujur kepadaku?"
"Ya, aku akan menjelaskannya padamu, tapi kamu tak mau mendenger temanmu sendiri ini. Dengar baik-baik aku akan jelaskan semuanya."
Gerry mulai menjelaskan semua kejadian selama Ray menghilang.
__ADS_1